Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 74 - Partytime


__ADS_3

"Yaudah lusa kita ke Jakarta. Lagi pula, urusan saya udah selesai di Lombok."


***


Keesokan harinya.


Anya dan Shinta jalan-jalan sore. Karena mereka ingin menikmati keindahan Lombok, sebelum kembali ke Jakarta.


Bagas, Vian dan Calvin masih di hotel. Main game sekalian jagain anak-anak. Mereka rencananya malam nanti mau jalan-jalan keliling kota.


"Kak Anya, Shinta denger kak Anya hamil?" Tanya Shinta.


"Hmm. Rencananya sih ini si bungsu. Kita juga emang sengaja jarak anak 20 bulan semua." Jelas Anya.


"Keren sih kak, sampe bisa terwujud semua gitu."


"Alhamdulillah memang rezekinya."


"Oh iya, Shinta sama Calvin minggu depan tunangan?" Tanya Anya.


"Iya kak, do'ain ya kak." Jawab Shinta malu-malu.


"Semoga lancar sampai hari-h ya."


"Aamiin kak."


"Oh iya, kakak mau ke toilet dulu. Kamu pesenin makan sama minumnya ya." Pinta Anya.


"Iya kak. Mau pesen apa?"


"Pizza, burger, bibimbap, es krim sama jus kiwi aja."


"Seriusan kak? Banyak banget? Eh lagi ngidam ya?"


"Gak ngidam kok. Kakak laper banget. Mungkin aja jadi laper mata liat menu ini." Jelas Anya.


"Ya udah kak, gak apa-apa yang penting abis."


"Iya. Yaudah kakak ke toilet ya."


Beberapa menit kemudian. Pesanan sudah berjejer rapi di meja, dan Anya pun kembali dari toilet.


"Wah pas banget yah." Ujar Anya.


"Iya kak, yuk makan!" Ajak Shinta.


Setelah selesai makan, Anya dan Shinta memutuskan untuk menaiki sepeda dan mengelilingi pantai Lombok.


"Capek nih kak. Kita pulang aja yuk!" Ajak Shinta.


"Yaudah yuk."


***


Malam harinya, semuanya jalan-jalan di kota Lombok. Bermain dan jajan. Karena esok hari mereka akan kembali ke Jakarta.

__ADS_1


"Anya mau ke toilet dulu ya bang. Titip anak-anak." Ucap Anya.


"Mau dianter?" Tanya Bagas santai.


"Ya gak usah."


"Yakin?" Goda Bagas.


"Tau ah." Anya pun pergi meninggalkan Bagas.


Sesampainya di toilet, Anya masuk dan buang air kecil. Kemudian Anya mencuci tangan di wastafel dan membasuh muka sambil bercermin sebentar.


Ketika Anya ingin kembali. Tiba-tiba ada yang menarik tangannya.


"Agggrhhh... Siapa kamu?" Tanya Anya terkejut.


"Kamu tidak mengenalku?" Tanyanya.


"Sama sekali tidak." Ucap Anya menepis tangannya, yang sedari tadi ia cekal.


"Anya!" Panggil pria tersebut.


Anya menghentikan langkahnya. "Aku kangen. Lama tidak bertemu!" Ujarnya mendekati Anya.


"Siapa kamu sebenernya?" Tanya Anya lagi.


"Aku tidak akan mengatakannya. Aku ingin kamu yang mengingatnya sendiri." Ujarnya.


"Jika tidak ada yang ingin kamu katakan, aku pergi." Ucap Anya berniat meninggalkan pria tersebut.


"Apa? Katakan secepatnya!" Pinta Anya kesal.


"Baiklah. Ikut aku kalo begitu!" Ajaknya mencekal lengan Anya lagi.


"Lepas! Aku sama sekali tidak tahu siapa kamu, dan tidak ingin ikut denganmu!" Ucap Anya menepisnya.


"Anya. Secepat itukah kamu melupakan aku?" Tanya dia lagi.


"Katakanlah dengan jelas! Agar aku tidak bingung harus bersikap seperti apa pada pria yang asing bagiku!" Ucap Anya dengan nada sinis.


"Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan kamu, di Lombok. Sungguh itu di luar nalar ku, tetapi aku sangat senang."


"Maafkan kesalahan ku dulu, aku menyesal tidak menghargai ketulusan mu!"


"Aku sama sekali tidak mengerti. Suami dan anak-anak ku sedang menunggu ku. Jadi lebih baik kamu katakan secepatnya, aku tidak mau membuang waktu." Tegas Anya.


"Aku tidak menyangka, kamu banyak berubah. Bukan hanya paras dan penampilan mu yang semakin cantik."


"Tapi, sikap dingin mu membuatku seribu kali menyesal telah mengabaikan perasaan mu dulu." Jelasnya.


"Baiklah. Anggap saja aku mengenalmu di masa lalu, dan kenapa sekarang kamu menemuiku lagi? Untuk menebus kesalahan mu di masa lalu?" Tanya Anya.


"Aku tidak bisa menebus kesalahan ku, tapi aku bisa memperbaiki hubungan kita di masa kini." Ujarnya.


Anya mendengus kesal. Sebab ia tidak mengingat siapa pria ini sebenarnya.

__ADS_1


Di sisi lain, Bagas mulai gusar. Dia sangat khawatir Anya belum juga kembali.


"Duh Angel kok lama ya. Dia mandi apa semedi?" Tanyanya.


"Susul aja, gue yang urus anak-anak." Ujar Vian.


"Iya kak, Shinta bantu juga jagain anak-anak." Tambah Shinta.


"Buru sono susul, daripada dia diculik om-om." Ujar Calvin asal.


Shinta menyenggol lengannya. "Jangan gitu!"


"Apa sih sayang?" Goda Calvin.


"Khemmm.." Vian melirik sinis Calvin.


"Yaudah, gue mau susul. Jagain bentar ya!" Bagas pun menyusul Anya.


Di sisi lain, Anya dipaksa ikut dengan pria tersebut.


"Sudah sampai." Ujarnya.


"Tempat apa ini?" Tanya Anya.


Vila tua yang terkesan angker tak berpenghuni. Membuat Anya mengurungkan niatnya, untuk ikut. Terlebih Anya dipaksa untuk ikut dengan pria tersebut.


"Jangan bilang. Kamu kak Diki?" Tanya Anya spontan.


"So true." Ucapnya santai.


"Gak mungkin, kalo emang iya kamu kak Diki yang dulu aku kenal. Gak mungkin kamu duluan nyamperin aku, dan ngajak aku ke sini." Jelas Anya.


"Anya. Aku sudah berubah. Kamu pikir setelah bertahun-tahun lamanya. Aku masih Diki yang dulu?"


Anya masih membisu. "Kamu saja sudah berubah drastis. Lalu, mengapa aku tidak bisa berubah?" Tanya Diki.


"Aku tidak peduli. Kita sudah akhiri, ralat kamu sudah akhiri itu sejak lama. Tepat setelah aku lulus uji kompetensi."


"Dan aku rasa, tidak ada hubungan apa-apa lagi di antara kita." Ujar Anya berniat meninggalkan Diki.


"Anya. Aku mohon, mengertilah! Dulu aku dan kamu masih labil, terlebih kita belum sukses dan bekerja untuk menjalin sebuah komitmen." Jelasnya.


"Dulu ataupun sekarang. Aku tidak pernah bisa mengerti jalan pikir kamu. Ya, seperti yang kamu katakan dulu."


"Kita berbeda, pola pikir kita tak sama. Jadi, aku harap kamu bisa paham. Bahwa, kita sudah selesai." Ujar Anya menahan emosi.


"Tolong Anya, tolong beri aku kesempatan."


***


Visual🌾🌾🌾



Diki.

__ADS_1



__ADS_2