Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 87 - Epilog


__ADS_3


"Nanggung bunda. Minimal tujuh hari." Rengek Marchell.


***


"Kalian tahu gak, cuaca di sana dingin banget loh." Ucap Anya masih fokus memasukan pakainya ke koper.


"Tahu Bun. Dinginnya enak. Sejuk, adem, seger gitu. Beda sama dingin kalo lagi kenceng angin atau hujan." Jawab Marchell.


"Oh iya. Kita pernah ke Lembang ya." Ucap Anya baru ingat.


"Ya Bun." Tanya Michaell lagi.


"Sebenarnya ini masih Lembang, perbatasan Bandung."


"Seminggu campingnya!" Ulangnya.


"Gak bisa sayang. Selain kalian harus sekolah, yang lainnya harus kerja." Jelas Anya.


"Yang ikut siapa aja emang bunda?" Tanya Marchell.


"Bunda, ayah, kalian berlima, Vian, Sati sama anaknya, Shinta, Calvin, omah, opah, nenek, kakek, om Roni, tante Rosi. Siapa lagi ya? Udah keknya segitu." Jelas Anya sambil mengingat.


"Wah rame banget dong bunda?" Tanya Michaell.


"Iya dong."


"Mending seminggu aja Bun, biar lebih seru." Ulang Marchell.


"Iya, tahu nih bunda." Kesal Michaell.


"Kalian jangan egois. Pikirin ayah, kakek, om Calvin, om Vian, dan yang lainnya. Mereka harus kerja." Ulang Anya.


"Yaudah Bun. Kami ngikut aja." Akhirnya.


"Nah gitu dong!" Ucap Anya mengusak-ngusak kepala keduanya.


***


Mereka pun sudah sampai di Bandung. Hutan Pinus, mereka sudah selesai memasang tenda.


Anya dan Sati berdua di dalam tenda bersama Farhaell dan Justin anaknya Vian dan Sati.


"Usianya beda sebulan ya?" Tanya Anya.


"Iya."


"Kakak denger, lahir prematur ya?" Tanya Anya.


"Iya kak." Jawab Sati sedikit binggung.


Mereka ingin menutupi masa lalunya. Mungkin sampai selamanya.


"Kamu pake dot apa ASI?" Tanya Anya.


"Dua-duanya bisa kak. Kalo kakak?"


"ASI. Semua anak kakak, gak ada yang mau sama dot, meskipun susunya ASI kakak. Tapi, kalo sedang darurat bisa." Jelas Anya.


"Oh iya kak. Kakak mau gak minum jamu ini?"


"Jamu apa itu?" Tanya Anya memegang sebotol jamu.


"Ini ampuh kak buat memperlancar ASI. Sati aja yang awalnya dikit banget, bisa jadi banyak kak." Jelas Sati.


"Oh gitu. Tapi ASI kakak banyak Sat." Jawab Anya.


Sati mengangguk. "Beda-beda ya kak."


"Soalnya tiap hari ada bayi besar yang nyedotin sampe deres." Ucap Anya penuh makna.


"Ohh... Hahah kakak." Sati jadi malu sendiri mengerti maksud Anya.


"Hehe... Anak-anak udah pada tidur kita keluar yuk!" Ajak Anya setelah membaringkan Farhaell.


Sati pun membaringkan Justin. Mereka keluar dan membantu memasak untuk makan siang. Mereka sengaja datang pagi buta. Agar lebih cepat memasang tenda.


"Udah siap. Yuk makan!" Ajak Anya pada semuanya.


Semua pun makan bersama. Dengan nikmat sambil bersanda gurau.


***


Tibalah sore hari. Dimana para pria mencari ranting untuk kayu bakar. Dan para wanita, memasak untuk makan malam. Sedangkan anak-anak sibuk bermain dan sibuk dengan dunianya sendiri.

__ADS_1


"Anya? Kamu rencana mau punya anak lagi gak?" Tanya Calvin yang mendekati Anya, Rosi, Sati, dan Shinta.


"Gak, kenapa?" Jawab Anya.


"Kirian masih mau, mungkin aja kalian mau buat sampe masa monopose." Ucap Calvin tanpa filter.


"Ihhh kamu gak sopan ya nanya nya!" Ucap Shinta menyenggol lengan Calvin keras.


"Ih sayang, aku kan cuma nanya aja. Maaf ya Anya, kalo kesinggung!" Ucapnya.


Bagas, Roni dan Vian masih sibuk menyalakan api ungun.


"Hmm.." Respon Anya malas.


Calvin pun pergi membantu yang lainnya.


"Kak maafin kak Calvin ya." Ucap Shinta sungkan.


"Hmm. Gak apa-apa, dia udah biasa kek gitu." Jawab Anya mengusap punggung Shinta.


"Kakak denger Shinta lagi hamil ya?" Tanya Anya.


"Iya kak, udah tiga bulan." Jawab Shinta.


"Wah sama dong." Ucap Rosi.


"Kak Rosi tiga bulan juga?" Tanya Anya.


"Iya Nya. Kakak baru check up lagi sebelum camping kemarin." Jelasnya.


"Wah bisa-bisa lahirannya juga bareng nih." Kagum Anya.


"Aamiin ya." Ucap Sati.


"Anya sama Sati gak mau nambah lagi apa?" Tanya Rosi.


"Anya kan emang mau lima anak, bang Bagas juga sama." Jelas Anya.


"Sati masih kecil anaknya kak." Ujar Sati.


"Ih gak apa-apa. Kak Anya aja selisih anaknya 20 bulan semua." Ucap Shinta.


"Kalo aku sama kak Vian, maunya sih nanti kalo udah lima tahunan minimal." Jelas Sati.


"Iya juga, bagus itu. Agar bisa mendidik anak, tanpa harus pusing. Soalnya, kalo Anya sama Bagas tuh mereka orang tua hebat. Multitalenta dalam segala bidang. Termasuk berumah tangga." Ujar Rosi.


"Bener loh kak, kalo menurut aku pribadi kak Anya sama kak Bagas tuh inspirasi." Jelas Shinta.


"Setuju. Aku dulu, gak yakin bisa nikah sama kak Vian. Tapi, karena ketulusannya. Akhirnya aku menikah, dan melihat kalian berumah tangga dengan rukun. Semakin yakin dengan pilihan ku." Tambah Sati.


"Kalian ini, lama-lama aku terbang nih." Ucap Anya.


"Hahaha..." Semuanya tertawa.


***



"Cium dulu!" Pinta Bagas.


Anya pun mencium pipinya, Bagas.



Malam hari.


Langit hitam, diterangi oleh cahaya rembulan. Ditemani oleh bintang-bintang yang kemerlip indah. Suara jangkrik terus bersahutan. Embun pun mengendap di luar tenda.


Sejuk yang menyeruak masuk ke dalam tubuh. Anehnya dingin ini sangat dinikmati, sejuk dan segar. Membuat siapa saja ingin berlama-lama di sini.


"Enak juga marshmello bakar ini." Ucap Shinta.


"Iya, kak Anya juga biasanya gak terlalu suka marshmello. Tapi yang ini suka." Jawab Anya.


"Rosi gak suka." Ucap Rosi.


"Sati juga."


"Wah selera kalian." Ucap Shinta.


"Mending jagung bakar nih!" Ucap Roni yang sedang membakar jagung.


"Nah kalo itu suka!" Ucap Rosi dan Sati.


"Wah selera kita sama!" Ucap mereka kompak lagi.

__ADS_1


"Wah wah ..." Kagum Anya.


"Udah. Couple kalian!" Ucap Shinta.


Bagas memainkan gitar sambil bernyanyi. Anak muda semuanya bernyanyi, bersama anak-anak. Sedangkan yang tua melihat saja sambil sesekali ikutan bernyanyi.


"Menurut mu apa benar..." Anya bernyanyi dengan suara merdunya.


Rayuan perempuan gila. Yang sedang ramai diperbincangkan. Terlebih Anya suka dengan jenis lagunya. Dari berbagai jenis lagu, yang paling ia sukai adalah jenis lagu ini.


Walaupun terdengar seram, dan menurut Anya mirip dengan ost pengabdi setan. Lagu ini sangat enak didengar. Seperti tahun enam puluhan. Namun, sangat cocok juga didengarkan di zaman manapun.


"Sunday, Monday.."


Anya dan Bagas menyanyikan lagu Seven Jungkook yang baru liris. Setelah itu lagu BTS Dynamite.


"I'm sorry don't live me-"


Sati dan Shinta menyanyikan lagu love is gone.


"Tak segampang itu, ku mencari penganti mu.."


Sedangkan Roni dan Rosi menyanyi lagu tak segampang itu. Dan masih banyak lagi lainnya yang mereka nyanyikan.


Setelah makan malam dan memakan beberapa cemilan. Dan bersenang-senang. Mereka pun masuk ke tenda.


***



Esoknya.


Pagi yang cerah dan hangat, mereka lakukan untuk jalan santai. Kota Bandung memang tempat yang menjadi candu untuk terus bernostalgia di sana.


"Kalian gak apa-apa jalan pagi?" Tanya Rara pada Rosi dan Shinta.


"Gak apa-apa Tante." Jawab mereka.


"Iya, sebaiknya istirahat saja." Tambah Ririn.


"Mereka kuat." Jawab Roni.


Mereka pun berhenti di warmindo. "Yakin mau makan mie?" Tanya Roni khawatir.


"Iya, makan yang lain aja." Sambung Vian.


"Masa pagi makan mie?" Tanya Bagas.


"Tahu nih. Selera kalian berbahaya." Tambah Calvin.


"Yaudah, kita makan bubur ayam. Terus abis itu mie." Ucap Anya.


"Ada-ada aja kamu mah!" Ucap Bagas.


"Daripada gak sarapan sama sekali?" Balas Anya.


"Yaudah, gitu aja." Balas Roni.


Merekapun menikmati sarapan bubur dan makan mie setelahnya. Meskipun dirasa kenyang. Namun, enak juga untuk dinikmati.


Siangnya mereka menyeduh kopi dan coklat panas. Di tenda. Setelah pulang jalan santai.


"Rasanya seru ya, bisa kemah begini." Ujar Marchell.


"Iya, Michaell jadi betah."


"Rachell juga. Mana adem lagi."


"Kalian tuh dimana-mana betah!" Ujar Bagas mengelus kepala Rachell.


"Ih ayah!" Rengeknya.


Merekapun sangat menikmati berkemah tersebut. Sampai rasanya ingin waktu berhenti saja. Dan mereka bisa menikmati momen itu, selamanya.


Hari yang indah ini. Membuat Anya tersenyum haru. Lorong waktu, mengantarkannya pada kebahagiaan ini. Lorong yang seperti terowongan, yang tak terlihat ujungnya.


Waktu yang membawanya sampai ke detik ini. Anya sangat bersyukur semua penderitaanya bisa terobati perlahan. Dengan kebahagiaan yang Bagas berikan. Dan Tuhan kasih, kelima buah hati yang membuatnya sangat sempurna ini.


***



🦋Tamat🦋


See you next time yah. Tunggu karya aku selanjutnya.

__ADS_1


thanks for reading🍁🍁🍁


__ADS_2