
"Bagus!" Ucap Rara dan Bima kompak.
***
"Tuan?" Tanya Anya tak percaya.
Bagas hanya memberika ekspresi. Seakan mengatakan "Why not?" Dengan mengerutkan halisnya dan mengangkat satu halisnya.
"Besok kalian tunangan! Mamah dan papah aja yang urus!" Ucap Rara.
"Asalkan mamah dan papah tidak mengundang kolega dan tamu, selain keluarga Bagas dan Anya!" Pinta Bagas tegas.
"Emm baiklah." Ucap Rara tersenyum senang.
"Mah, mamah benar-benar niat ya menghias rumah ini?" Tanya Bagas melihat sekeliling rumah orang tuanya dihias indah.
"Tentu saja. Agar kamu percaya." Jawab Rara.
"Kalian gunakanlah tempat ini untuk pemotretan besok, sebelum tunangan. Mamah dan papah sudah menyiapkan beberapa tempat out door dan in door." Ucap Bima.
"Benar-benar tidak bisa dipercaya. Kalian sangat berniat untuk melakukan ini." Ucap Bagas.
"Tentu saja, semua itu demi kamu Gas." Ucap Rara.
"Baiklah. Kali aja ini Bagas mengalah, dan mengikuti semua keinginan kalian. Tetapi, jika tidak ada kemajuan dalam hubungan ini. Jangan salahkan Bagas, jika Bagas membatalkan pertunangan ini ke depannya." Jawab Bagas dingin.
Anya menatap kosong, pernikahan yang dia impikan bukan jalan seperti ini.
"Akhirnya anak ku sudah tumbuh menjadi pria dewasa, yang memiliki cinta yang begitu tulus. Meskipun, tanpa ia sadari." Batin Rara tersenyum haru.
***
"Tuan! Saya punya permintaan." Ucap Anya setelah sampai di rumah Bagas.
Kini mereka berada di kamar. Setelah mandi dan bersantai.
"Hmm?"
"Saya tahu benar, kita tunangan bukan atas dasar cinta. Tetapi, ini adalah satu langkah menuju pernikahan. Meskipun, saya juga mengerti sejak awal tidak ada embel-embel untuk ke jenjang pernikahan." Jelas Anya terhenti.
Hening....
"Tetapi, bolehkah saya mengajukan pertanyaan?" Tanya Anya kemudian, setelah matang memikirkan segalanya.
"Ya?"
"Saya ingin, kita memiliki komitmen. Meskipun, kita tahu ini tunangan untuk klarifikasi rumor itu." Jelas Anya serius.
"Ya, katakan!" Ucap Bagas dingin, tidak ingin bertele-tele.
"Saya ingin, selama kita bertunangan. Diantara kita tidak ada yang berselingkuh, di depan ataupun di belakang." Pinta Anya pasti.
"Hah?" Respon Bagas tak percaya.
"Iya tuan. Maukan?" Tanya Anya polos.
Bagas tersenyum gemas. "Kheemm.."
Kemudian Bagas mencubit pipi chubby Anya.
"Arrgghh.. tuan?" Tanya Anya tak mengerti.
Bagas tersadar dan melepaskan tangannya di pipi Anya. Lalu, memasang wajah dinginnya lagi.
"Baiklah." Jawab Bagas singkat.
"Tuan, saya serius. Saya tahu ini bukan hubungan atas dasar cinta. Tetapi, saya ingin kita saling terbuka satu sama lain. Kita saling jujur, percaya, dan terjalin komunikasi yang baik. Jika ada kesalahpahaman."
__ADS_1
"Tanpa diminta kita harus menjelaskan apapun yang terjadi itu, dan saya juga ingin kita tidak menutupi perasaan ataupun pemikiran yang tidak-tidak. Ya, saya tahu kita hanyalah-" Jelas Anya terpotong.
"Ssssttsss..." Bagas membekap mulut Anya dengan jari telunjuknya.
"Saya mengerti! Jadi kamu tidak perlu menjelaskannya lagi. Saya, sama dengan kamu sangat menghargai sebuah hubungan dan kebersamaan. Meskipun terlihat dingin." Jelas Bagas tersenyum tipis.
"Ah... Baiklah." Jawab Anya melepaskan jari Bagas.
"Emm ada lagi yang mengganjal?" Tanya Bagas, melihat Anya hanya menundukkan kepalanya.
"Tuan yakin?" Tanya Anya menatap wajah Bagas.
"Hmm?"
"Mengapa tuan menyetujui pertunangan dengan saya?" Tanya Anya tak mengerti.
"Karena saya tidak ingin menikah dengan Mela." Jawab Bagas dingin.
***
"Hanya karena itu?" Tanya Anya kecewa.
"Hmm?"
"Ah. Baiklah." Jawab Anya yang ingin beranjak.
Bagas menahan tangannya. Kemudian menarik pinggang Anya ke dalam dekapannya. Bagas menarik tekuk leher Anya. Dan mencium bi*ir Anya lembut dan lihai.
Anya yang terkejut, hanya terdiam membeku. Sambil membelalakkan matanya tak percaya.
Bagas melepaskan ciumannya. "Angel?!" Tanya Bagas melambai-lambaikan tangannya ke mata Anya.
Anya tersadar. "Hmm?" Respon Anya syok.
Jatung keduanya berdegup kencang, terutama Anya yang merasakan hal itu pertama kali. Ciuman pertamanya sudah direnggut Bagas. Dan kini, hanya Bagas yang menciumnya tanpa izin.
Tetapi, semua itu hanyalah rekayasa, semua wanita itu hanyalah wanita bayaran Bagas. Dia sama sekali belum pernah menyentuh perempuan manapun selain Anya.
Dia tidak tertarik dengan hal yang tidak menghasilkan uang, dan menguras tenaga juga hati. Bagas sering digoda oleh wanita bayarannya.
Bahkan pernah beberapa kali dia digoda oleh karyawannya sendiri. Terutama sekertaris pribadinya, yang selalu Bagas pecat. Setelah menggodanya.
Membuat Bagas tak betah, memiliki sekertaris pribadi. Padahal sekertaris sangatlah dibutuhkan, oleh perusahaan.
***
Anya wanita pertama yang Bagas sentuh. Dan yang lebih anehnya, naluri Bagas mengatakan cinta dan candu pada Anya.
"Angel?" Tanya Bagas.
"Hah? Iya tuan?"
"Kamu kenapa? Syok?" Goda Bagas tersenyum.
"Hah? Emm tidak. Ya, mengapa tuan melakukan itu?" Jawab Anya gugup.
"Kheemm..." Bagas hanya tersenyum, dan meninggalkan Anya. Bagas berbaring di ranjangnya. Menatap laptop. Dan memeriksa pekerjaannya.
"Aish... Sialan. Mengapa aku hanya diam, seperti orang bodoh saja." Ucap Anya kesal.
Sedangkan Bagas tersenyum bangga. Tanda kemenangan.
"Dreettt drettt.." Ponsel Bagas bergetar.
"Hallo? Vian, lu dimana? Eh iya, besok gue tunangan-" Jelas Bagas terhenti.
"Turun!"
__ADS_1
"Hah?"
"Gue ada di bawah. Turun sekarang!" Pinta Vian mematikan teleponnya.
Bagas turun, Anya merasa penasaran. Akhirnya mengikuti Bagas.
Ternyata Vian tidak sendiri. Dia membawa Roni Anggala. Kakak kandung Anya Prinsiska Angella.
"KAKAK!" Teriak Anya berlari mendekati Roni.
"Anya!" Ucap Roni berbalik.
"Ngapain kakak ke sini?" Tanya Anya takut.
Bagas memberikan kode pada Vian. Mengapa dia membawa kakak Anya ke rumahnya. Vian mengajak Bagas ke taman belakang, untuk menjelaskan semuanya.
***
Taman belakang POV*
"Lu ngapain bawa kakaknya Angel?" Tanya Bagas to the point.
"Lu kira dia bakalan diem apa? Gue sama anak-anak lagi kumpul. Roni kan sahabat gua." Jawab Vian kesal.
"Terus?"
"Dia dapet telepon dari nyokapnya. Mengenai tunangan dadakan itu. Lu tahu gak, Roni gak tahu kalo Anya kerja sama lu. Dia juga gak tahu apa pekerjaan Anya. Dan dia juga heran Anya tidak pulang beberapa Minggu ini." Jelas Vian.
"Yang lebih parahnya lagi, dia mendapatkan kabar dadakan begini. Kemarin-kemarin dia juga ngeintrogasi gue." Jelas Vian serius.
"Soal apa?"
"Rumor itu. Gue capek-capek jelasin. Kalo Anya sekertaris pribadi lo. Ya, meskipun dia kurang percaya. Eh lu, malah umumin mau tunangan segala." Jelas Vian kesal.
"Lebih parahnya gue tahu dari Roni? Kenapa lu gak mikir dulu, bagaimana ke depannya?"
"Vian lu banyak bacot ya! Gue juga bakalan jelasin, tapi lu tiba-tiba dateng gak diundang. Pake bawa kakak ipar gue lagi." Jelas Bagas kesal.
"Apa? Jelasin semuanya!" Pinta Vian tak sabar.
Bagas menjelaskan semuanya. Dan Vian mengerti.
"Terus setelah semua ini mereda. Lu bakalan putusin Anya?" Tanya Vian kemudian.
"Gua juga belum tahu. Gua lagi mikirin apa yang terjadi aja. Untuk ke depannya ya gimana nanti!" Jawab Bagas menerka.
"Gak bisa gitu, lu juga harus pake logika. Kalo sekarang aja seribet ini, gimana nanti?!" Ucap Vian memperingati.
"Udahlah lu terlalu ikut campur urusan gue. Kalo gue minta lu untuk bantuin gue, baru lu boleh berkomentar sesuka lu!"
"Sekarang ini, gue cuman mau mererai semuanya. Paham?" Jawab Bagas meninggalkan Vian.
***
Visual🌺🌺🌺🌹🌹🌹
__ADS_1