
"Bunda? Ayah?" Tanya Anya setelah mendengar pintu dibuka.
***
"Kamu sakit apa dek?" Tanya Ririn.
"Mau ke rumah sakit dek?" Tanya Anton.
"Gak. Ini cuman sakit biasa kok, mules dikit." Jawabnya melepaskan Kompresan dari perutnya.
"Bunda sama semuanya mau pulang sekarang." Ucap Ririn.
"Emm baiklah. Anya nganterin bunda sama yang lainnya ya." Ucap Anya ingin beranjak.
"Tidak perlu." Jawab Anton. "Kita pakai pesawat kok, jadi bisa cepet nyampe." Jelas Anton.
"Emm begitu. Anya anterin kalian sampe ke bandara aja?" Tanya Anya.
"Tidak perlu, saya akan mengantarkan semuanya." Jawab Bagas.
"Lebih baik pake taxi atau sopir saja nak Bagas. Jika dibolehkan, karena Anya pasti butuh ditemani." Ucap Anton.
"Emm memangnya tidak apa-apa?" Tanya Bagas tak enak.
"Tentu saja. Kami sangat senang disambut dengan sangat baik, dan diantarkan pula dengan pelayanan yang sangat baik pula." Ucap Ririn.
"Baiklah saya akan mengantarkan ke depan." Ucap Bagas.
"Dan sebaiknya kalian, panggil Bagas saja. Saya sudah memintanya beberapa menit yang lalu. Tetapi, kalian tetap saja memanggil saya nak Bagas." Pinta Bagas.
"Baik nak, eh baiklah Bagas." Ucap Ririn kemudian.
Bagas tersenyum mendengarnya.
"Anya boleh ikut kan?" Tanya Anya kemudian.
"Tidak usah." Tolak Bagas.
"Sampai depan kan dekat." Ucap Anya.
"Hmm. Baiklah." Jawab Bagas pasrah.
Bagas menggandeng Anya. Anya berjalan lambat dan hati-hati. Seperti baru melahirkan, pasalnya Anya selalu merasa nyilu di awal haid.
"Assalamualaikum." Ucap semuanya memasuki mobil. Bagas menyiapkan 3 mobil besar dan supirnya masing-masing. Supir pribadi Bagas.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Anya dan Bagas. Setelah menyalami tangan keluarganya Anya.
***
Bagas membopong tubuh Anya. "Tuan?"
"Diam, kamu jalan lambat sekali. Saya lelah." Jawab Bagas. Anya hanya terdiam.
Bagas membawa Anya ke kastil kecil, ruangan tersembunyi lainnya. Dan dilihatnya bangunan dengan arsitektur Aesthetic yang klasik.
Dengan beberapa nuansa yang kuno, dilihatnya beberapa peralatan yang antik dan unik.
Caffe kuno itu, berada di lantai 1. Arsitektur kuno, campuran bernuansa Indonesia dan luar negeri.
"Tuan ini!" Ucap Anya terhenti.
"Caffe kuno dan kastil kuno." Jawab Bagas tersenyum.
__ADS_1
"Tuan memiliki ini sudah lama?" Tanya Anya.
"Ya. Selera kamu, sama dengan saya. Tetapi, hanya kamu yang mengetahuinya. Karena saya enggan membicarakan soal seni." Jawab Bagas.
"Ini tempat rahasia saya yang lainnya, berada di lantai 1." Jelas Bagas lagi.
"Jadi tempat ini sudah ada sejak lama?" Tanya Anya kagum.
"Tentu saja. Tetapi, hanya saya yang mendatanginya seorang. Kamu teman pertama yang mendampingi saya." Jelas Bagas.
"Suatu kehormatan bagi saya." Ucap Anya duduk di kursi tinggi yang kuno dengan ukiran yang indah.
"Tuan suka motor Vespa?"
"Hmm, kenapa?"
"Anya suka sekali motor Vespa. Seperti seni menurut saya."
"Betul sekali."
"Mau pesan apa?" Tanya Bagas menyodorkan buku menu. Dengan bahan kanvas dan ukiran tinta yang indah. Di sampingnya terlukis bulu merak. Penanya pun dari bulu merak yang indah.
"Ah tuan. Ini sangat indah."
"Saya ada menu terbaik, saya tahu kamu sama seperti saya. Tidak menyukai kopi. Tetapi, kopi ini ada sejak dulu."
"Dan sangat harum, kopi barista yang dibuat sendiri. Dengan rempah-rempah alami dari zaman kuno. Yang direnovasi menjadi lebih modern." Ucap Bagas.
"Ternyata tuan, memiliki sisi yang bisa disebut seni ya." Ucap Anya tersenyum.
"Kamu meremehkan saya lagi." Ucap Bagas kecewa.
Bagas tersenyum dan masih cekatan menyiapkan kopi.
Beberapa menit kemudian...
"Ini!" Ucapnya menyodorkan secangkir kopi, cangkir dengan nuansa yang kuno.
"Rasa kopi yang ini, tidak terlalu pekat. Tapi, tidak terlalu ringan. Tetapi harumnya yang nikmat, membuat saya bisa meminumnya sesekali." Jelas Bagas antusias.
"Emm terima kasih tuan." Jawab Anya menghirup udara kopinya.
"Cobalah!" Ucap Bagas tersenyum.
Mereka pun menyeruput kopinya bersama. Tak lupa, mereka bercerita sambil bercanda bersama.
"Angel! Kita tidur di sini saja. Ada kamar kecil di belakang." Ucap Bagas, setelah puas bercerita ke sana kemari.
"Emm benarkah?" Tanya Anya senang.
Mereka pun masuk ke kamar yang sederhana, dengan sentuhan arsitektur yang indah dan langka.
Bagas memeluk Anya. Mereka tidur di dalam selimut yang sama.
"Tuan kita belum menikah. Lepaskan!" Pinta Anya.
"Ssssstttttsss..." Bisik Bagas.
"Argh geli!"
Bagas tak sabar dan mencium dan mengigit kecil, telinga dan leher Anya. Ketika Anya sudah terlelap. Bagas juga mencium bi*ir Anya dengan sangat lihai.
Anya diberikan sedikit obat tidur dan pereda nyeri. Agar tidur yang nyenyak, tetapi tak berniat melakukan hal yang lebih. Bagas justru terpancing dengan naluri kejantanannya.
__ADS_1
Merekapun tidur siang di kastil dekat caffee.
***
Sorenya mereka terbangun. Dan melakukan aktivitas santai, seperti mandi dan nonton televisi.
Pagi menyambut*
Matahari sudah menyapa dengan senyuman yang indah. Memberikan cahaya dan kehangatan. Beberapa orang masih terlelap tidur.
Beberapa orang terganggu dengan cahayanya. Dan beberapa orang sudah melakukan aktivitas. Adapun orang yang berjemur matahari, untuk kesehatan tubuhnya.
"Vian, lu bisa ke rumah gue gak? Bawa berkas yang udah gue tanda tangani semuanya ke kantor. Lusa kerja sama gue antar negara, akan dimulai."
"Puncak dari festival acara untuk kebersihan lingkungan dimulai." Jelas Bagas.
"Ya gue paham, lusa praktek dari kerja sama kita kan. Praktek sehari-hari yang harus diterapkan."
"Dan minggu depan, pembentukan barang yang akan dijual diberbagai negara. Yang diciptakan asli dari produk Indonesia." Tambah Vian.
"Iya Lo harus hatam. Sebelum ke inti dari pembuatan barang tersebut. Kita juga harus menerapkannya di kehidupan sehari-hari." Jelas Bagas.
"Lu gak akan ke kantor?" Tanya Vian mengalihkan pembicaraan.
"Malem gue ke sana. Mau lembur dan cek beberapa, lu temenin gue. Sekarang gue mau istirahat, dan nyiapin bahan untuk presentasi di Festival." Jawab Bagas.
"Okay, gue otw ke rumah lu!" Jawab Vian, kemudian menutup teleponnya.
"Angel! Udah mendingan hm?" Tanya Bagas melihat Angel yang sudah membuka matanya, namun enggan beranjak.
"Sudah lebih baik tuan." Jawab Anya.
"Kamu yakin gak perlu ke dokter?" Tanya Bagas khawatir.
"Setiap pms saya terkadang begini tuan." Jelas Anya.
"Perempuan hebat ya." Ucap Bagas, mengelus rambut Anya.
"Tentu saja. Perempuan itu kuat, gak lemah. Buktinya bisa mengandung, melahirkan, menyusui. Dan bisa mengurus rumah, suami, anak. Belum tiap bulan pms. Juga bisa bekerja mencari nafkah." Jelas Anya.
"Hmm kamu benar. Kita tidur lagi bagaimana?" Ajak Bagas.
"Tuan gak kerja?" Tanya Anya.
"Sore saya mau nyiapin teori buat presentasi di acara festival lusa. Dan malam saya akan ke kantor untuk lembur." Jelas Bagas.
"Tuan, bolehkah saya ikut berpartisipasi?" Tanya Anya antusias.
"Diacara festival?"
"Iya."
"Tentu saja kamu harus ikut!" Jawab Bagas.
"Saya juga ingin menjadi panitia di festival itu tuan." Pinta Anya.
"Serius?" Tanya Bagas tak percaya.
"Iya tuan."
"Baiklah. Saya akan menyiapkan dulu, posisi yang cocok untuk kamu. Besok saya kasih." Jawab Bagas.
"Terima kasih tuan." Ucap Anya tersenyum.
"Sama-sama."
***
__ADS_1