Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 37 - Masa Lalu Anya


__ADS_3

"Ikut saya!" Ucap Bagas menarik kasar tangan Anya.


***


"Pak Bagas, izinkan saya menjelaskan. Anya tidak salah, saya yang memeluknya. Anya adalah adik kelas dan sahabat saya sejak di SMK." Ucap Boni menjelaskan.


"Saya tidak ingin tahu semua itu, yang saya tahu. Kalian bukannya bekerja, malah mesra-mesraan." Ucap Bagas kesal.


"Hukuman bagi kamu adalah, selama 7 hari lembur tidak boleh pulang, dan tidak ada hari libur. Hingga Minggu depan, bonus tidak ada!" Ucap Bagas marah. Dan kalang kabut.


Bagas lalu pergi, meninggalkan Boni. "Tuan! Saya tahu saya salah, tapi dengarkan saya dulu!" Ucap Anya memohon.


"Tidak perlu kamu jelaskan, semuanya sudah jelas. Pantas saja, dari pertemuan pertama. Kamu dan Boni terasa ada yang aneh. Ternyata kalian pacaran?" Tuding Bagas.


"Kak Boni adalah kakak kelas, sekaligus sahabat bagi saya. Kita baru ketemu lagi, setelah hari itu. Saya juga tidak ingin dipeluk, tapi kak Boni sedang menceritakan masa lalu kita."


"Yang diam-diam kita tahu, tetapi karena saling menjaga perasaan. Kita memilih diam. Dan dia sedang melepaskan rindu. Tuan mengertilah." Jelas Anya meneteskan air matanya.


Karena takut, untuk menghadapi hukuman keras yang selalu dia dapatkan. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan Bagas. Entah itu Anya yang salah. Atau mood Bagas yang tidak baik.


Bagas membawa Anya ke dalam ruangan yang tidak diketahui siapapun, di lantai 1. Bagas tidak ingin mendengarkan Anya, dan diam seribu bahasa.


"Tuan, saya tahu kak Boni adalah masa lalu saya. Tetapi, percayalah tidak ada hubunga spesial di dalamnya. Selain sebatas sahabat." Jelas Anya lagi.


"Apa ada persahabatan antara perempuan dan laki-laki?" Tanya Bagas kesal.


"Kami bertiga bersahabat, saya, kak Boni, dan Soraya. Kak Boni dan Soraya pernah menjalin hubungan pacaran, dan setelah itu persahabatan kami semua hancur."


"Bukan karena saya, mencintai kak Boni. Tetapi, karena sudah tidak ada lagi hubungan sehat di antara kami." Jelas Anya.


"Saya yang memulai mengenal kak Boni, karena kami pernah se-Smp juga. Tetapi, kami kenalan saat di SMK. Saat mpls, dia menjadi panitia di sekola. Saat itu, saya menanyakan mengenai kak Diki masa lalu saya." Jelas Anya terhenti.


"Dari sana kami dekat, dan menjadi sahabat. Tentu saja, sahabat saya Soraya. Murid baru di kelas saya, saya ajak berkenalan dengan kak Boni. Dan kami bertiga menjadi sahabat. Sebelum kak Boni dan Soraya pacaran." Jelas Anya lagi.


"Cerita seperti di novel atau drama begitu? Saya harus mempercayainya?" Tanya Bagas masih kesal.


"Tentu saja, cerita seperti itu memang ada tuan." Ujar Anya.


"Lalu jika benar, mengapa kamu dan Boni seperti yang pacaran? Kalian berkhianat?" Tanya Bagas.


"Kak Diki adalah sahabat ka Boni, Soraya adalah sahabat saya. Saya yang membuat semuanya saling mengenal, namun kak Diki terlalu pendiam. Sehingga, hanya kita yang sering berkumpul dan main." Jelas Anya.


"Oh jadi kamu berkhianat dari Diki, dengan Boni sahabatnya. Dan Boni berkhianat dengan kamu, dari Soraya sahabat kamu?" Tebak Bagas.


"Bukan seperti itu, justru terbalik. Sebelum saya berhasil pacaran dengan kak Diki, Soraya justru menghubunginya."


"Dan mendekatinya, karena hubungan anatara mereka tidak ada rasa canggung. Karena dari awal bukan cinta, tapi berubah menjadi nyaman. Yang membuat Kak Diki menjahui saya, tuan." Jelas Anya sabar.


"Kami hanya dekat, dan hampir pacaran. Saya yang mencintai lebih dahulu, dan saya yang mendekatinya lebih dulu." Jelas Anya.


"Dia adalah cinta pertama saya. Dan pertama kalinya, ada yang merespon sebaik itu. Sebelumnya, hanyalah cinta monyet dan sesaat yang pernah saya jalani. Dan tidak ada komunikasi di dalamnya, karena saya selalu memilih mencintai dalam diam." Jelas Anya lagi.


"Lalu, dengan Diki?"

__ADS_1


"Dia pertama dan terakhir, bagi saya berbuat nekad dan bodoh begitu." Jawab Anya.


"Jadi Soraya mengkhianati Boni, dan Diki mengkhianati kamu begitu?" Tanya Bagas memperjelas.


"Iya tuan, tapi itu hanyalah masa lalu. Saya seharusnya tidak menjelaskan semuanya pada tuan." Jawab Anya.


"Lalu?"


"Tapi, saya juga tidak tahu. Bagaimana caranya membuat tuan mengerti, selain saya sedikit menjelaskan masa lalu saya." Jawab Anya.


"Meskipun cerita yang kamu ceritakan kebenaran, hukuman tetap hukuman. Saya tidak pernah becanda dan mengingkari janji saya bukan?" Ucap Bagas.


Bagas menarik tangan Anya , ke dalam ruangan setelah keluar dari lift.


***


"Bruuuuuuukkkkk..."


Bagas melepar Anya ke atas kasur. Anya tersungkur tak berdaya, dia hanya menunduk dan diam.


"Menurutmu, hukuman apa kali ini yang pantas untukmu?" Bisik Bagas di telinga Anya.


Anya ngeri mendengarnya, hingga bulu kuduknya berdiri semua. "Tuan...."


"Ssstttttssss...." Bagas menghentikan Anya berbicara, dengan menaruh telunjuknya di bibir Anya. Sambil menatap tajam pada Anya.


"Kamu pikir, bisa negosiasi? HAHAHA... Tidak semudah itu, urusan hukuman. Hanya milikku!" Ucapnya tajam.


"Gleg..." Anya menelan ludahnya kasar.


"Tuan, saya bisa jelaskan. Saya memang salah, tapi saya sudah menolaknya." Ujar Anya.


"Menolak? Menolak apa? Ajakannya untuk berpelukan? Atau datang ke wisudanya?" Tanya Bagas.


"TUAN?" Tanya Anya tak percaya, Bagas mengetahuinya.


"Iya? Saya memang sudah mendengarnya, apa dia berani meminta izin pada saya? Jika ia, akan saya pastikan dia dipecat, dan tidak akan bisa bekerja di manapun itu." Jelas Bagas geram.


"Tuan, saya mohon. Jangan lakukan itu, saya berjanji tidak akan menemaninya." Ucap Anya memohon dan menggenggam kaki Bagas.


Bagas tersenyum smrik, penuh kemenangan. "Akhirnya, kamu patuh pada ku. Sepenuhnya." Ucap Bagas penuh penekanan.


"Hah? Saya tidak dengar?" Tanya Bagas lagi.


"Saya. Saya berjanji, tidak akan menemaninya." Ulang Anya menahan air matanya.


Anya sudah berjanji pada dirinya, agar tidak mudah menangis.


"Baiklah. Tapi, hukuman mu belum saya beri. Jadi, mari kita lakukan secepatnya." Ucap Bagas dingin.


Bagas berusaha mencium Anya, namun Anya menolak dan menghindar.


"Anya? Kamu harus memuaskan saya. Jadi, apa kamu berhak menghentikan saya?" Tanya Bagas kesal.

__ADS_1


"Tuan. Hukuman apapun, selain bercinta." Balas Anya tanpa melihat Bagas.


"Lihat saya! Saya kurang tampan? Kaya? Terkenal? Pintar? Seksi? Atau apa? Katakan, saya kurang apa?" Tanya Bagas penuh penekanan, saking kesalnya pada Anya.


"Tidak tuan, meskipun manusia tidak ada yang sempurna. Tapi, bagi saya tuan sangat sempurna." Ujar Anya, menatap Bagas.


"Lantas?" Tanya Bagas emosi.


"Saya, tidak bisa melakukannya sebelum menikah." Ujar Anya memalingkan wajahnya dari Bagas.


"Jadi, saya harus menikahi kamu?" Tanya Bagas.


"Iya."


"Eh bukan, tidak." Jawab Anya salah tingkah.


Bagas tersenyum, dan menahan tawanya. Melihat Anya yang salah menjawab, dan membuatnya salah tingkah.


"Iya?" Tanya Bagas.


"Tidak."


"Tidak?" Tanya Bagas.


"Bukan tuan." Jawab Anya.


"Bukan?" Tanya Bagas.


Bagas terus menggoda Anya, gemas dengan tingkah laku Anya.


"Iya, bukan begitu. Maksud saya, saya akan melakukannya dengan suami saya nanti. Tidak dengan siapapun, selainnya." Jelas Anya kemudian.


"Ah, begitu. Jadi, kamu tidak ingin menjadi istri saya?" Tanya Bagas kesal.


"Tidak." Jawab Anya cepat.


"Bukan, bukan tidak. Saya tidak pantas.. yeah itu maksud saya tuan." Jawab Anya cepat, membenarkan perkataannya.


"Hmm... Kalo begitu, segera memantaskan diri. Untuk bersanding dengan saya." Ujar Bagas.


"Saya bukan tidak berminat, tapi. Saya hanya ingin, menjadi diri sendiri tuan. Tidak ingin menjadi orang lain, atau memaksakan diri menjadi seperti apa yang tuan inginkan." Jelas Anya.


"Ah benar begitu?"


Bagas mendekati Anya, namun Anya terus menghindar.


***


Visual🌷🌷🌷



__ADS_1



__ADS_2