
Akhirnya mereka pun melakukan perjalanan dari Lembang ke Jakarta.
***
4 bulan kemudian
"Sayang, saya ada proyek di Lombok. Kamu dan anak-anak mau ikut?" Tanya Bagas.
"Kita ikut aja sayang, setiap kamu pergi ke luar kota. Kita kan pasti ikut." Jawab Anya.
"Ya udah sayang, saya akan mengatur pesawat pribadi untuk perjalanan kita." Jelas Bagas.
"Siapa aja yang ikut?" Tanya Anya.
"Vian sama Calvin ikut." Jelas Bagas.
"Calvin ikut?" Tanya Anya.
"Iya, dia ikut berpartisipasi sayang. Dia kan punya perusahaan juga, milik ayahnya." Jelas Bagas.
"Oh baiklah sayang."
"Emm Calvin itu seumuran sama siapa sih sayang?" Tanya Anya.
"Seumuran sama saya. Kenapa sayang?"
"Em gak apa-apa. Cuma penasaran." Jawab Anya.
"Btw Richaell setahun kan sayang?" Tanya Bagas.
"Iya sayang, lusa." Jelas Anya.
"Kita rayakan aja di Lombok. Sekalian saya kan mau adakan festival." Jelas Bagas.
"Apa tidak terlalu meriah sayang, kalo dibarengin sama festival kantor?" Tanya Anya.
"Gak apa-apa sayang."
"Em baiklah."
***
Mereka pun sampai di Lombok. Mereka istirahat di hotel karena perjalanan lumayan melelahkan.
"Sayang, besok festival nya?" Tanya Anya, mereka sedang rebahan di kasur yang empuk dan besar.
"Iya sayang, besok juga ulang tahun Richaell." Jawab Bagas bangun, mendekati anaknya yang terlelap tidur.
"Kamu yakin sayang?"
"Apa?"
"Besok ngerayain ultah nya bareng sama festival kantor?" Tanya Anya.
"Yakin dong sayang, kamu kayaknya masalah banget deh."
"Bukan gitu sayang, kemarin pas ngerayain ultah M² kan sederhana, pas sekarang kelewat mewah. Anya ngerasa terlalu berlebihan juga gak baik." Jelas Anya.
"Berlebihan?"
"Ya gak terlalu mewah gitu sayang, sampe urusan pribadi dan pekerjaan disatuin?"
"Itu kan festival, bukan lebih ke pekerjaan juga. Seperti refreshing aja gitu, pesta kantor. Sekalian anak pemilik kantor ulang tahun."
"Ya dirayain aja sayang, justru menghemat budget. Bukannya wajar ya?"
__ADS_1
Anya berpikir sejenak, memang wajar dan sangat wajar malah. Karena Bagas CEO, dan Richaell yang sedang ulang tahu.
"Maaf sayang, sepertinya saya berlebihan dengan pendapat barusan." Ucap Anya.
Bagas memeluk Anya, kemudian mengacak-acak rambutnya.
"Wajar sayang, kamu kan tidak terlalu ingin kemewahan. Tapi, kamu juga harus terbiasa dengan semua ini. Kita kan sudah lama bersama, tentu tidak asing bukan dengan hal semacam ini?"
Anya mengangguk. "Ya sudah, yuk tidur. Istirahat." Ajak Bagas.
***
Festival pun sudah dimulai. Anya dan anak-anak sangat menikmati pesta tersebut.
"Shinta? Calvin?" Tanya Vian.
"Kakak?" Tanya Shinta kaget.
"Kalian lagi ngapain?" Tanya Vian.
"Kita pacaran." Jelas Calvin singkat.
"APA?!" Teriak Vian kaget.
"Gak usah kaget begitu, lagian kita juga udah lama kok." Jelas Calvin.
"Sayang, jangan to the points dong. Kita harus jelasin pelan-pelan!" Tegas Shinta melepaskan pelukannya dari tangan Calvin.
"Kak, maaf ya. Shinta gak maksud buat nutupin ini, Shinta juga baru tahu kalo kak Calvin ini, sahabat kakak pas kita kemarin ke Lembang." Jelas Shinta hati-hati.
"Apa? Terus kenapa gak langsung bilang sama kakak?" Tanya Vian.
"Kita kemarin kan liburan, jadi kita nunggu free aja dan waktu yang pas. Seperti sekarang ini kak." Jelas Shinta.
"Tentu saja." Jawab mereka kompak.
"Calvin lo kan kerja di sini? Malah pacaran sama adek gue!"
"Udah kelar kok kerjaan gue. Lagian sekarang tinggal menikmati pesta."
Vian mendengus kesal.
"Gue juga mau lamar Shinta minggu depan. Dan gue ajak ke Lombok buat have fun sebelum tunangan." Jelas Calvin.
"Apa?"
"Kak, aku sengaja mau bilang ke kakak. Pas tahu kakak sama kak Bagas ke Lombok juga, tapi sebelum jelasin kakak udah liat kita duluan." Ujar Shinta.
"Terus?" Tanya Vian.
"Kami harap kakak ngerti. Kita udah pacaran lebih dari lima tahun kak, waktu Shinta masih di Singapura." Jelas Shinta.
"APA?" Tanya Vian meninggikan suaranya.
"Tenang bro. Gue gak akan langkahin lo kok, gue dan Shinta bakal tunggu lo nikah dulu, ya meskipun mungkin aja tunangannya duluan kita." Ucap Calvin santai.
"Gue sebenernya gak rela, Shinta adek gue sama lo. Tapi, gue juga lebih gak rela menghancurkan kebahagiaannya."
"Gue tahu lo dari lama, bagaimana lo sering mempermainkan hati cewek. Tapi, gue percaya sama lo."
"Dan gue harap lo bisa jaga kepercayaan gue!" Ujarnya serius.
"Makasih bro, gue sama lo kan jadi makin deket, entar kita jadi ipar." Ucapnya merangkul Vian.
Tiba-tiba Bagas datang bersama M²."
__ADS_1
"Ada apa nih?" Tanyanya menghentikan langkahnya ketika melihat Calvin merangkul Vian.
Vian melepaskan rangkulannya. "Gak apa-apa, yok kita ke sana. Pestanya udah dimulai dari tadi." Ajak Vian tak ingin menjelaskan.
Mereka pun berjalan ke arah panggung, tempat utama pesta festival tersebut.
"Loh loh kok gandengan?" Tanya Bagas melihat Shinta dan Calvin sangat dekat.
"Kita udah lama pacaran, dan mau tunangan btw." Jelas Calvin santai sambil tetap berjalan.
"Wah serius? Sejak kapan?" Tanya Bagas.
"Ya lebih lima tahun lah. Pas Shinta masih di Singapura." Jelas Calvin.
"Wah gue ikut bahagia yah."
"Makasih bro."
***
Pesta pun sudah selesai. Semuanya kembali ke hotel masing-masing. Anya, Bagas, Vian, Shinta, dan Calvin juga anak-anak bermain di pantai untuk menghilangkan penat.
"Sayang. Kamu sakit?" Tanya Bagas pada Anya.
"Enggak, cuman kecapekan kali. Oh iya, Anya punya sesuatu buat abang." Ucap Anya mengeluarkan sesuatu dari tas nya.
"Coklat?" Tanya Bagas setelah mendapatkan sesuatu yang Anya maksud.
"Hmm.. makanlah!"
Bagas pun membuka bungkus coklat tersebut. Tiba-tiba terjatuh sesuatu. "Testpack?" Tanya Bagas mengambilnya.
Anya tersenyum sambil mengelus perutnya. "Kamu hamil sayang?" Tanya Bagas girang.
Anya mengangguk. "Sejak kapan?" Tanya Bagas.
"Anya gak tahu, tadi pagi Anya cek. Dan hasilnya positif." Jelas Anya.
"Ayo kita ke dokter!"
"Besok aja. Atau nanti aja di Jakarta. Lagian Anya juga gak apa-apa." Jelas Anya.
"Tapi kamu gak mual sama pingsan seperti sebelumnya?" Tanya Bagas.
"Iya, Anya juga bingung. Tapi, pernah sekali Anya mual sama pusing. Terus gak ngidam kayak biasanya." Jelas Anya.
"Justru malah saya yang sering mual dan muntah di pagi hari sebelum kerja, ditambah pas lembur saya pingsan."
"Belum lagi, saya sering mau makanan atau sesuatu yang aneh-aneh. Masa iya, yang ngidam saya?"
"Bisa jadi. Temen Anya, katanya suaminya yang ngalamin morning sickness, ngidam dan lainnya pas istrinya hamil."
"Justru istrinya biasa aja, malah kayak gak hamil. Normal gitu, gak ada ngidam, mual, muntah, pusing dan hal lainnya yang dialami ibu hamil." Jelas Anya.
"Yaudah lusa kita ke Jakarta. Lagi pula, urusan saya udah selesai di Lombok."
***
Visual🌨️🌨️🌨️
__ADS_1