Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 44 - Tak Bisa Berjalan


__ADS_3





"Hah? Besok? Saya tak yakin bisa berdiri apalagi berjalan esok pagi." Jawab Anya lemas.


Bagas tersenyum smrik.


***


Adzan subuh terlah berkumandang, Anya terbangun.


"Bang, bangun. Kita sholat subuh berjamaah. Atau abang ke masjid." Anya berusaha membangunkan Bagas, yang masih terlelap.


"Emm iya Gel. Abang udah bangun, tapi jangan lupa mandi dulu. Semalam kita gak langsung mandi wajib kan?" Jawab Bagas mengingatkan.


"Hmm.. assiiiissshhh.." Ringis Anya.


"Kenapa?" Tanya Bagas khawatir.


"Sakit bang, saya gak bisa jalan."


"Sini abang gendong!" Tawar Bagas.


"Gak usah, pasti berat." Tolak Anya.


"Kita mandi bersama lagi baby." Goda Bagas.


"Ihh abang, saya sakit kan gara-gara abang. Masa mau bikin tambah sakit?" Keluh Anya.


"Jadi kamu gak ikhlas?" Tanya Bagas kesal.


"Ya bukan gitu, ikhlas kok. Ikhlas banget malah, cuman ya sekarang waktunya gak pas." Jawab Anya gugup.


"Kan abang cuman ngajak mandi, gak macem-macem." Ucap Bagas.


"Emm bantu saya aja bang, terus nanti mandinya masing-masing kan ini mau mandi wajib. Tar yang ada aneh-aneh lagi, gak kelar-kelar mandinya." Pinta Anya.


"Hmm baiklah." Jawab Bagas pasrah.


Setelah Anya dan Bagas mandi wajib, mereka sholat subuh berjamaah. Anya tak menyangka seorang Bagas, CEO yang sangat dingin dan cuek. Ternyata pinter menjadi imam, bahkan pinter mengaji Al-Qur'an.


"Kamu masih gak percaya Gel?" Tanya Bagas, usai sholat dan membaca Al-Qur'an.


"Mengenai apa?" Tanya Anya.


"Saya juga beribadah. Dan sedikitnya paham mengenai sholat dan baca Al-Qur'an." Jelas Bagas.


"Emm sedikit kaget sih bang, tapi alhamdulilah banget." Jawab Anya tersenyum.


"Emm.." Bagas mengangguk dan mencubit hidung Anya.


"Saya cuti selama seminggu atau bisa diperpanjang sampai dua minggu. Kamu ingin honeymoon kemana?" Tanya Bagas menuruni tangga, bersama Anya di sampingnya.


"Emm Anya sih mau ke Bali, Jogyakarta, Korea Selatan." Jelas Anya.


"Emm baiklah, saya tambah ke Lombok, Prancis, dan Italia." Jawab Bagas.


"Kenapa banyak sekali bang?" Tanya Anya.


"Tidak masalah, bahkan nanti setiap minggu. Kita liburan." Jelas Bagas santai.


"Gimana kalo kita ke Arab Saudi? Kita haji bang?" Tanya Anya berbinar.


"Boleh sekali, kita daftarkan dulu. Kebetulan 3 bulan lagi bulan haji." Jawab Bagas.


"Tapi, bukannya harus menunggu ya bang?"


"Banyak uang, dapat merubah yang tak mungkin." Jelasnya.


***


Bagas menyiapkan segalanya untuk honeymoon, mengelilingi Indonesia dan luar negeri.

__ADS_1


Dengan orang yang terkasih membuatnya tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama.


Terlebih Bagas jarang sekali liburan bersama keluarganya. Waktu yang dia habiskan hanyalah bekerja.


Mereka berangkat honeymoon ke Bali. Setelah itu, Bagas kembali bekerja dan menggelar festival babak kedua.


Di Yogyakarta, mengingat Anya ingin sekali honeymoon di sana.


Bagas berencana setelah menyelesaikan festivalnya, dia tidak akan kembali ke Jakarta. Dia akan melanjutkan honeymoon mereka yang tertunda.


"Sayang, honeymoon kita lanjut ya. Festival babak kedua kan di Yogyakarta." Ucap Bagas tersenyum manis.


"Emm gak akan ganggu kerja, kan bang?" Tanya Anya.


"Gak dong, apalagi tema kali ini itu usulan dari kamu Gel." Jawab Bagas tersenyum.


Anya mengangguk sambil tersenyum senang.


Festival babak kedua selesai diselenggarakan, Bagas dan Anya pun selesai dengan honeymoon mereka.


Bukan hanya mengelilingi Indonesia tetapi juga luar negeri.


***


3 bulan kemudian


Anya menjadi sekretaris Bagas, yang awalnya hanya ingin balas dendam.


Bagas kini terjebak dalam hubungan yang sangat serius. Hingga mereka memutuskan untuk menikah.


Bagas kini sedikit berubah, dulu dia sangat dingin dan tegas. Sekarang dia lebih asyik mengadakan liburan tiap tahun bersama karyawannya.


"Bang, memangnya dulu gak ada liburan akhir tahun? Bersama karyawannya Abang?" Tanya Anya penasaran.


"Ada. Tapi tidak terjadwal, dan saya tidak pernah ikut." Jelas Bagas.


"Kenapa? Kenapa abang gak ikut?" Tanya Anya.


"Meskipun libur. Saya tetap sibuk bekerja, dulu bagi saya tidak ada tanggal merah. Setiap hari saya selalu bekerja. Meskipun di rumah." Jelas Bagas santai.


"Itu artinya abang gak pernah istirahat dong?"


"Maksud saya, jalan-jalan atau liburan sama keluarga?" Tanya Anya.


"Ohh itu, emm keknya gak deh. Karena saya jarang ngabisin waktu bareng keluarga." Jawab Bagas mengingat.


"Kalo nanti liburan sama karyawan kantor, abang mau ajak keluarga?" Tanya Anya berharap.


"Ajak kamu doang. Nanti lain waktu, kita liburan bareng keluarga. Keluarga saya dan keluarga kamu. Biar lebih enak liburannya." Jelas Bagas.


Anya tersenyum senang.


Di sisi lain, semua karyawan sudah berkumpul untuk perjalanan ke Lombok. Itu adalah usulan Bagas, Anya sangat menyetujuinya.


Dan dia meminta pendapat kepada semua karyawan yang ikut. Dan semuanya setuju.


"Kalian hati-hati ya! Saya pakai mobil pribadi." Ucap Bagas pada semua karyawannya.


"Baik tuan!" Jawab semua karyawan serempak.


"Vian! Ayo." Ajak Bagas pada asisten pribadinya.


"Ayo tuan!" Jawab Vian menunggu Bagas berjalan di depan.


Bagas mengandeng Anya, dan berjalan di depan. Sedangkan Vian berjalan di belakang mereka.


"Vian, kamu langsung ke kursi depan aja. Biar saya yang membuka pintu mobilnya." Ucap Bagas.


"Baik tuan." Jawab Vian.


"Ayo sayang, masuk!" Ucap Bagas pada Anya.


Anya pun naik. Dan disusul dengan Bagas yang duduk di sampingnya. Sedangkan Vian duduk di depan sebagai supir.


"Vian beritahu saya setelah sampai di bandara. Saya tutup yah, ntar kamu ngintip lagi kalo gak ditutup." Jelas Bagas.


"Baik tuan." Jawab Vian. "Lagian, siapa yang mau ngintip orang bercinta. Ogah kali Gas gue." Batin Vian bermonolog.

__ADS_1


Bagas memulai aksinya setelah menutup celah kursi depan dan kursi belakang.


"Baby..." Ucap Bagas dengan suara baritonnya yang seksi.


"Abang! Sekarang kan lagi di jalan. Tar kedengeran lagi ama Vian!?" Tolak Anya halus.


"Tenang aja Baby, dia gak denger. Tuh telinganya pake earphone." Jelas Bagas yang mulai merapatkan wajahnya ke wajah Anya.


Ketika bibirnya menyentuh Anya. Tiba-tiba..


"Bang, buka.." Ucapnya berusaha membuka jendela dan memalingkan wajahnya dari Bagas.


"Huekk.."


"Huekkk.."


"Huueekk.."


Anya mengeluarkan isi perutnya ke luar jendela mobil, yang sudah dibukakan oleh Bagas.


"Vian! Berhenti!" Pekik Bagas syok melihat Anya yang muntah.


Vian pun seketika menginjak rem dadakan. Kepala Anya hampir membentur kursi depan. Untunglah Bagas cepat menempelkan tangannya ke kening Anya.


"Hati-hati dong Vian!" Ucap Bagas sedikit berteriak.


"Maaf tuan, saya kaget tadi." Jawab Vian yang kaget, karena menyuruhnya menghentikan mobil tiba-tiba.


Anya membuka pintu mobilnya dan keluar. Dia muntah di pinggir jalan, beruntung perjalanan mereka hanya perkebunan teh. Bagas mengikuti Anya, dan memijat tekuk Anya.


"Kamu masuk angin sayang?" Tanya Bagas khawatir.


"Gak tahu nih, apa saya salah makan yah?"


"Kamu emang tadi sarapan apa sayang?" Tanya Bagas.


"Cuman sandwich fruit sama susu full cream." Jelas Anya mengingat.


"Oh iya, tadi kan sarapannya sama saya. Selain itu, gak makan apa-apa lagi?" Tanya Bagas menelisik.


"Gak bang." Jawab Anya lemas.


"Yaudah mau ke dokter?" Tanya Bagas khawatir.


"Gak usah, sekarang udah gak mual kok. Cuman tadi saya tiba-tiba mual, pas abang mau cium saya tuh. Keknya gara-gara itu deh bang!" Jelas Anya.


"Kok kamu nyalahin abang sih?" Ucap Bagas tak terima.


"Bukan nyalahin bang, tadi saya muntah pas abang nempelin bibirnya ke saya kan?" Jawab Anya mengingat.


"Yaudah maafin abang deh, tapi tadi malem sama subuh gak apa-apa tuh." Jelas Bagas.


"Gak tahu ah, udah yuk masuk. Kasian Vian!" Ajak Anya.


"Sama Vian aja kamu peduli, sama saya? Malah nyalahin penyebab kamu muntah." Ucap Bagas cemburu.


"Ya ampun abang, udah gede juga. Masih aja marah gak jelas." Balas Anya.


"Ya jelas marah lah yang, kamu sih." Ucap Bagas merajuk.


"Yaudah deh, sekarang ayo masuk. Tar lanjut lagi di dalem." Ajak Anya santai.


"Apa yang dilanjut sayang?" Tanya Bagas antusias.


"Ngobrolnya. Yakali bercinta." Jelas Anya mendahului Bagas.


"Nyonya gak apa-apa?" Tanya Vian khawatir.


"Udah dibilangin panggil Anya aja Vian." Jelas Anya.


"Eh iya Nya, kamu gak apa-apa?" Tanya Vian lagi.


"Gak apa-apa. Kayaknya cuman masuk angin biasa. Tapi nanti di depan kalo ada rujak berhenti dulu ya. Tiba-tiba saya pengen yang asem-asem. Tapi, rujak jambu kristal juga gak apa-apa." Jelas Anya.


"Oke Anya." Ucap Vian.


"Kamu kayak yang ngidam aja. Ini kan banyak tuh makanan buat di jalan." Jelas Bagas.

__ADS_1


"Gak ada yang seger-seger itu bang."


***


__ADS_2