
"Gue mo gendong satu ya!" Ucap Calvin mengendong Michaell.
***
Calvin dan Vian tidur di lantai 9. Mereka beda kamar, tentu saja mana mau mereka sekamar di rumah yang memiliki banyak kamar ini.
"Tok tok tok." Tiba-tiba Vian mengetuk pintu kamar yang ditempati Calvin.
"Hmm.." Calvin merasa terganggu dan terbangun.
"Jam berapa ini?" Tanya Calvin melihat jam di nakas.
"Buset, mau ngapain tuh orang ketuk pintu jam segini." Ucap Calvin lagi.
"Calvin! Buka dulu bentar." Ucap Vian.
"Ngapa?" Tanya Calvin membuka pintu dan bersandar ke samping pintu yang sudah dibuka.
"Pinjem handphone Lu!" Pinta Vian.
"Hah? Lo ngebangunin gue cuma mau minjem hp?" Tanya Calvin kesal.
"Iya, ini bisnis. Dan hp gue lowbat tadi pas gue masih sibuk kerjain kerjaan kantor di laptop." Jelas Vian.
"Kok minjem hp gue?" Tanya Calvin.
"Banyak bacot lu. Ya kali gue pinjem punya si Bagas? Mau diamuk apa? Mana di kamarnya sekarang ada istri dan anak-anaknya, gimana kalo mereka juga ikut bangun?" Kesal Vian.
"Nih!" Ucapnya menyodorkan hp nya pada Vian.
"Dari tadi kek!" Ketus Vian.
"Eh lo mo kemana?" Tanya Calvin.
"Balik kamar lah, yakali gue nelpon depan lo!" Ucapnya acuh.
"Awas aja buka-buka hp gue!" Ucap Calvin memberi peringatan.
"Ahh... Pasti ada macem-macemnya nih!" Tebak Vian.
"Gak usah kepo!" Kesal Calvin.
"Iya, elah sama temen pelit amat."
"GPL!"
"Hah?"
"Gak pake lama belet!"
"GPLB dong harusnya!" Ulang Vian.
"Hilih... Lu yeh ngejawab mulu!"
Sedangkan di kamar, Vian menghubungi pihak katering dan pihak dekorasi.
"Hallo pak, saya ingin membooking katering untuk bulan depan!" Ucap Vian.
"Hallo mbak, iya saya ingin membooking untuk dekorasi mewah di pinggir pantai Ancol. Bulan depan ya mbak. Atas nama Bagas Khristal Jaya." Ucap Vian di panggilan yang berbeda.
"Udah beres, pekerjaan kantor pun beres. Besok urus pekerjaan baru sepertinya." Ucap Vian bermonolog.
"Tok tok tok."
"Baru aja mau tidur. Pasti si Vian." Ucap Calvin.
"Bagas?" Tanya Calvin setelah membuka pintunya.
"Gue gak bisa tidur, temenin gue main game yuk di lantai satu sambil ngopi!" Ajak Bagas.
"Gue ngantuk mo tidur." Jawab Calvin malas.
"Ahh sebentar aja!"
"Yaudah, ajak Vian gak?" Tanya Calvin.
"Iya dong, tapi dia udah selesai belum ya sama kerjaannya?"
"Mana gue tahu, ketuk aja tuh pintu kamarnya!" Saran Calvin.
__ADS_1
"Vian? Tok tok tok."
"Iya, eh Bagas lu belum tidur?" Tanya Vian.
"Iya, gue susah banget mo tidur. Main game sambil ngopi yuk!" Ajak Bagas.
"Emang lo suka kopi"? Tanya Vian.
"Gak."
"Terus?" Tanya Vian.
"Kan kalian berdua ngopi, gue mah nyoklat!" Jawab Bagas.
"Yaudah deh yuk. Eh lu emang gak ngajak main istri Lu?" Tanya Calvin sedikit menggigit bibir bawahnya.
"Lu mah yeh, mesum mulu." Ucap Vian.
"Gak apa-apa eh, kan mereka udah sah."
"Gak, gue udah main tadi. Terus Angel nya tidur, dan gue masih belum ngantuk. Mana anak gue udah pada tidur, jadi bosen." Jelas Bagas.
"Rutinitas lo emang beneran main tiap hari ya?" Tanya Calvin penasaran.
"Kepo banget lu, urusan rumah tangga gue?" Jawab Bagas.
"Ah skip aja kalo gitu." Ucap Calvin kesal.
"Iya, emang rutinitas. Kecuali kalo dia menstruasi sama nifas. Ngapa emang?" Jawab dan tanya Bagas.
"Gak apa-apa, gue cuma nanya." Jawabnya santai.
Mereka pun main game, sambil ngopi, nyoklat, dan ngemil.
Tiba-tiba Bagas merasakan mual. Dia berlari ke toilet, dan memuntahkan isi perutnya di wastafel.
"Huekk... Hueekk.."
"Bagas!" Teriak Vian dan Calvin khawatir.
"Gue makan apa ya? Kok udah sebulan ini gue mual-mual, muntah, pusing, lemes. Yakali gue ngidam." Ucap Bagas bermonolog.
Bagas pun keluar dari kamar mandi.
"Lo gak apa-apa kan?" Tanya Vian.
"Gue cuma salah makan aja. Yuk lanjut." Jawab Bagas santai.
Beberapa jam kemudian.
"Udah jam 3 subuh nih, gue ngantuk!" Ucap Calvin meninggalkan kedua temennya.
"Gue juga." Ucap Vian menyusul Calvin naik lift.
"Tunggu gue, gue juga mau tidur." Ucap Bagas menyusul.
***
Pagi harinya, Anya memandikan si kembar.
"Wah ponakan om, ganteung banget!" Ucap Calvin melihat M² masih pake handuk.
"Siapa dulu ayahnya!" Ucap Bagas bangga.
Calvin hanya mendesis sebal.
"Mau pakai baju aneh lagi?" Tanya Bagas.
"Gak aneh, ini tuh lucu!"
"Tahu nih Bagas, masa baca ucul gitu disebut aneh!" Tambah Calvin.
Satu bulan kemudian*
"Sayang kita mau kemana sih? Pake baju couple segala?" Tanya Anya.
Bagas, Anya dan kedua anaknya memakai baju couple.
__ADS_1
"Lihat nanti saja." Jawab Bagas mengecup kening Anya.
Setelah sampai di pantai. Anya membelalakkan matanya, melihat betapa indah ukiran bunga yang menyambutnya. Dan beberapa meja, dia pun dibuat kagum dengan meja yang paling indah.
"Bagaimana sayang? Bagus bukan?" Tanya Bagas.
"Tentu saja." Jawab Anya.
Acara pun dimulai*
Bagas memotong kuenya dan memberikan suapan pertama pada Anya. Semua orang bertepuk tangan meriah. Tak lupa, Bagas menyuapi Marchell dan Michaell.
Ketika Anya ingin menyuapi Bagas, tiba-tiba.
"Emm bentar sayang..." Ucapnya membekap mulutnya, dan memuntahkan isi perutnya ke belakang panggung yang kosong.
Semua orang kaget dan khawatir. "Sayang? Kamu kenapa?" Tanya Anya khawatir dan mendekati Bagas.
Kedua anaknya di handle oleh Vian. Anya membantu Bagas , memijat tengkuknya. Dan memapah Bagas ke kursi.
Anya memberikan air hangat, dan meminta pelayannya untuk membuatkan teh manis.
"Kamu kenapa sayang? Kok saya lihat sering muntah." Tanya Anya.
"Gak tahu sayang, sudah dua bulan saya begini. Saya harus segera periksa nih." Jawab Bagas lemas.
Setelah Bagas kembali fresh. Acara pun dilanjut.
Tibalah di akhir acara*
Bagas mempromosikan produk barunya, yaitu pakaian anti virus. Dia menunjukkan berbagai macam model dan menjelaskan kegunaannya lewat layar infocus.
Kado yang Bagas dapatkan, memang bukan kaleng-kaleng. Dia mendapatkan dari keluarganya, sahabatnya, dan rekan kerjanya.
Semua orang sudah pulang. Dan tersisa Anya, Bagas, dan kedua anaknya. Vian menunggu di dalam mobil. Sedangkan Calvin sudah pulang duluan.
"Sayang, sebenarnya saya tidak apa-apa kamu tidak memberi kado. Tetapi, saya merasa aneh jika itu memang benar." Ucap Bagas pada Anya.
Mereka duduk di pinggir pantai, duduk di pasir bersama kedua anaknya yang masih senang bermain di sana.
"Hmm.." Anya tersenyum dan mengusap juga menggenggam tangan Bagas.
"Ini kado spesial untuk kamu!" Ucap Anya memberikan kado persegi panjang kecil.
"Apa ini?" Tanya Bagas.
"Buka lah!"
"Test pack?"
"Sayang?" Tanya Bagas yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Hhmmm." Anya tersenyum, Bagas spontan memeluk Anya.
"Kamu hamil lagi?" Tanya Bagas memastikan.
"Iya sayang, kamu senang bukan?" Jawab Anya mengangguk dan tersenyum.
"Tentu saja. Nak, Marchell, Michaell kalian akan punya adik." Teriak Bagas senang.
"Sayang, yuk pulang. Kasian Vian dari tadi nungguin." Ajak Anya.
"Sayang, saya masih senang dan ingin menghabiskan waktu di sini." Ucap Bagas memeluk erat tubuh Anya.
"Kasian Vian sayang." Ucap Anya.
"Yasudah, ayo kita pulang." Ajak Bagas.
"Sayang, kamu sempat-sempatnya bisa USG tanpa saya?" Tanya Bagas di dalam mobil. Vian kaget mendengarnya.
"Iya sayang maaf ya, setelah saya memeriksa hasilnya pakai test pack. Saya ingin memastikannya ke dokter, sekalian USG. Agar tahu kesehatan bayi kita." Jelas Anya.
"Anya, kamu sedang hamil lagi?" Tanya Vian mendahului Bagas.
"Iya Vian, alhamdulilah." Jawabnya sambil mencium Marchell yang berada di pangkuannya.
"Selamat ya, semoga bayi kalian sehat." Ucap Vian.
__ADS_1
"Aamiin, makasih Vian."
***