
"Membuat kesalahpahaman ini, memperkeruh keadaan saja." Ucapnya menyesal.
***
"Non Anya mau apa? Biar bibi buatkan." Ucap bi Inem ramah.
"Tidak bi, saya cuma mau bantu bibi masak. Gak apa-apa kan?" Tanya Anya memastikan.
"Jangan non, bibi gak mau non dimarahin nanti." Tolak bi Inem.
"Lebih baik, non jalan-jalan saja kalo bosen." Ucap yang lainnya.
"Ia non, daripada berabe nantinya." Tambah yang lainnya.
"Tenang aja. Tuan sedang bekerja. Jadi, dia tidak akan melihat saya di sini." Ucap Anya yakin.
Semuanya ART Bagas. Membelalakkan matanya kaget. Anya mengerutkan keningnya tak paham.
"Kalian kenapa?" Tanya Anya.
"It-itu.." Ucap ART Bagas kaku.
"Jadi, sekarang kamu sudah ingin melawan saya?" Tanya Bagas. Yang berdiri di belakang Anya.
Anya membalikkan tubuhnya terkejut. "Tuan?" Tanya Anya. "Sejak kapan-"
"Sejak tadi. Kamu sengaja membuat semua pekerja saya, untuk melawan saya begitu?" Tanya Bagas.
"Tentu saja tidak. Coba jelaskan, dimana letak kesalahan saya. Jika saya melakukan kegiatan untuk membantu orang?" Jawab Anya. Kemudian membalikkan pertanyaan pada Bagas.
"Tidak salah. Ini rumah saya, dan pelaturan sepenuhnya milik saya. Jadi, itu yang membuat kamu salah!" Jelas Bagas tak ingin kalah.
"Baiklah." Jawab Anya mengalah.
"Ikut saya!" Ucap Bagas, menarik pelan lengan Anya.
"Kemana?"
Hening....
Mereka tiba di ruang kerja Bagas. Bagas mengembalikan proposal milik Anya. Setelah membaca dan memahami isinya.
"Tuan sudah membacanya?"
"Iya."
"Lalu, tuan menolaknya?" Tanya Anya menelisik.
"Tidak."
"Tuan menerimanya?"
"Tidak."
"Lantas?" Tanya Anya tak mengerti.
"Kamu boleh membawanya. Dan mempresentasikan hasilnya pada saya, di kantor hari ini." Jawab Bagas.
"Tuan serius?"
"Iya. Kapan saya bercanda?"
__ADS_1
"Baiklah tuan. Dengan senang hati." Jawab Anya antusias.
"Kamu sudah mempersiapkannya?" Tanya Bagas khawatir.
"Tentu saja. Saya selalu membacanya, hingga saya memahaminya. Saya sudah lama mempersiapkannya. Ketika tuan memberitahu saya akan diadakan festival babak 2." Jelas Anya tersenyum senang.
"Baiklah bagus. Semoga berhasil." Ucap Bagas.
***
Bagas dan Anya memutuskan sarapan. Setelah bergelut dengan beberapa perdebatan kantor.
"Jika sudah selesai. Mari kita berangkat ke kantor!" Ucap Bagas.
"Sudah tuan."
"Gog... gog.. gog...." Suara gonggongan anjing terdengar mendekati Bagas.
Anjing kecil yang manis. Berwarna putih kekuningan.
"Feontan?" Tanya Bagas menangkap anjing tersebut, lalu memeluknya.
"Aaarrrgghhh..." Anya berteriak kaget. Ketika dia di samping Bagas.
"Kamu takut pada anjing?" Tanya Bagas.
"Iya, saya trauma. Ketika masih SD, pernah dikejar-kejar anjing." Jelas Anya.
"Em begitu. Tetapi, ini anjing kesayangan saya. Tentu saja pasti berada di dekat saya." Jelas Bagas.
Anya tersenyum dan mengusap anjing yang berada di pelukan Bagas. "Jika anjing ini, yang manis dan lucu. Lain cerita, saya menyukainya." Jelas Anya.
Anya tersenyum. "Mungkin dia menyukai saya." Ucap Anya.
Bagas membiarkan Anya menggendong Feontan. Agar melihat seberapa nyamannya Feontan di dekat Anya.
Ternyata, Feontan memang menyukai Anya. Dan menerima setiap perlakuan lembut darinya.
"Sejak kapan, tuan memilikinya? Sepertinya saya baru pertama kali melihatnya." Tanya Anya kemudian.
"Sudah sangat lama. Bahkan ketika ibunya masih ada, ibunya Feontan telah meninggal. Begitu pula dengan ayahnya. Dahulu ada kecelakaan mobil, yang tak sengaja menabrak mereka. Untungnya, Feontan tidak ikut menyebrangi jalan tersebut." Jelas Bagas.
Anya mendengarkannya serius. "Sayang sekali. Lalu, bagaimana keadaan Feontan setelah orang tuanya meninggal?"
"Dari bayi, saya merawatnya. Dia pernah terjatuh dari pohon yang sangat tinggi. Dan kakinya mengalami cedera yang serius. Saya membawanya dan merawatnya di rumah sakit hewan. Tepatnya di Inggris." Jelas Bagas lagi.
"Sekarang apakah dia sudah baik-baik saja?" Tanya Anya yang setia menggendong Feontan.
"Tentu saja. Maka dari itu, dia bisa menemui saya lagi." Jawab Bagas.
"Sekarang. Apakah dia akan dibawa ke kantor?" Tanya Anya.
"Dia harus istirahat. Lain kali, kita boleh membawanya ke kantor. Bahkan jalan-jalan, sekarang kita masukkan dia ke kamar kecilnya." Jelas Bagas.
"Dimana?"
"Di lantai 7. Dia memiliki kamar kecil, bersama orang tua nya dulu. Dia sangat pintar dan mudah mengerti, dengan apa yang kita ajarkan padanya. Maka dari itu, rumahnya selalu bersih, rapi, dan wangi." Jelas Bagas.
"Baiklah ayo!"
__ADS_1
***
Setelah menyelesaikan urusan Feontan. Bagas dan Anya berangkat ke kantor. Meskipun sedikit terlambat, namun meeting tetap dilaksanakan dengan tepat waktu.
Semua karyawan yang berpartisipasi, ikut meeting. Vian mendampingi Bagas.
"Okay semua sudah menyampaikan presentasi, dari isi proposal yang kalian buat. Ide kalian memang cemerlang. Dan kami sangat menghargai jerih payah kalian, untuk menyiapkan segalanya."
"Dengan partisipasi yang sangat tinggi. Saya mengucapkan terima kasih banyak, dan kami akan segera memutuskan ide siapa yang kami terima." Jelas Vian, ingin segera menyelesaikan meeting tersebut.
"Tunggu!" Ucap Bagas.
"Ada apa tuan Bagas?" Tanya Vian.
"Ada satu lagi, yang belum menyampaikan presentasi." Jelas Bagas.
"Siapa?"
"Anya Prinsiska Angella!" Ucap Bagas bangga.
Anya tersenyum, dan beranjak dari kursinya. Dia segera maju ke depan. Dan mengambil alih.
Layar Infokus yang masih menyala. Dan dia terus memjiat tombol, untuk memindahkan beberapa hasil resetnya. Sambil terus fokus menjelaskan, isi dari proposalnya.
"Untuk mengurangi limbah sampah. Kita juga, tidak boleh melupakan mengenai pemanasan global yang semakin meningkat." Jelas Anya. Di pertengahan presentasinya.
"Kita adakan film layar lebar. Yang mengajarkan betapa pentingnya, bagi kita untuk menerapkan hidup sehat dan bersih."
"Dengan membuang sampah pada tempatnya, dan bisa menjualnya pada perusahaan Dream Khristal Jaya bukan?"
"Selain itu, kita harus menerapkan hidup tertib. Dengan tidak menggunakan berbagai alat elektronik yang berlebihan." Jelas Anya.
"Seperti menggunakan hp lebih dari satu, mengganti hp setahun sekali atau bahkan setahun dua kali. Padahal hp kita masih bisa dimanfaatkan."
"Itu sangat mempengaruhi pemanasan global. Terlebih email yang menumpuk tak pernah dihapus bertahun-tahun lamanya." Jelas Anya.
"Mulai saat ini, bukan hanya sampah yang harus kita manfaatkan. Tetapi, alat elektronik dan teknologi lainnya."
"Yang mesti kita manfaatkan, dan kurangi keborosan terhadap apa yang seharusnya tidak perlu kita pakai." Jelas Anya.
"Sekian presentasi yang saya tuturkan. Mohon maaf bila banyak kesalahan dan kekurangan."
"Saya masih belajar dalam hal ini. Terima kasih atas perhatiannya." Jelas Anya menyudahi presentasinya.
Semua karyawan tepuk tangan kagum. Begitu pula dengan Bagas dan Vian. Mereka tidak menyangka sama sekali, jika Anya bisa secerdas dan berani ini.
"Saya sudah memutuskan." Ucap Bagas. "Ide yang saya ambil, adalah ide dari Anya Prinsiska Angella." Ucapnya tersenyum.
"Kita bisa membuat alat untuk pengurangan pemanasan global, selain upaya yang dilakukan untuk menguranginya." Jelas Bagas kemudian.
Semua karyawan tertegun kaget. Pertama kalinya Bagas tersenyum tulus. Di depan mereka. Namun, satu persatu karyawan tepuk tangan. Untuk kemenangan Anya.
Anya tersenyum tak percaya.
***
Visual🌸🌸🌸
__ADS_1