
Bagas tetap mencium bibi* Anya dan lehernya. Bagas hampir mebuka bajunya Anya, namun...
"Tok tok tok."
***
"Aishh... Sialan!" Ucap Bagas melepaskannya Anya dan membuka pintu.
Anya merasa lega, dan membenahi pakaiannya.
"Em terima kasih." Ucap Bagas pada pelayan tersebut.
"Anya, mari kita makan malam!" Ajak Bagas.
Bagas menyiapkan semuanya di balkon kamar hotelnya. Melihat pemandangan kota di malam hari, membuat Anya merasakan tenang dan nyaman.
Mereka menikmati keindahan dan menikmati santapan lezat bersamaan.
"Tuan ini alkohol kah?" Tanya Anya.
"Iya."
"Saya tidak boleh meminumnya." Ucap Anya menyimpan gelas itu kembali.
"Ini, jus strawberry." Ucap Bagas menyodorkan gelas lain.
"Terima kasih tuan." Ucap Anya. Bagas hanya mengangguk.
"Tuan, menurut pendapat tuan. Apakah pemandangan kota di malam hari itu indah?"
"Iya lumayan." Jawab Bagas melihat ke sekeliling.
"Tuan lebih suka pemandangan kota atau pantai itu?" Tanya Anya mengarahkan pandangan Bagas.
"Keduanya."
"Kenapa?" Tanya Anya.
"Entahlah."
"Saya akan menjawab pertanyaan itu, untuk tuan." Ucap Anya.
"Emm baiklah."
"Apa tuan tidak penasaran, dengan tanggapan saya?"
"Apa?"
__ADS_1
"Karena malam lebih indah daripada siang. Pemandangan kota di malam hari lebih menenangkan pikiran. Lampu-lampu dan kemerlip bintang menghiasi kota di malam hari terasa indah dan membuat kita bernostalgia."
"Begitu pula dengan pantai, desiran ombak dan hembusan angin. Juga pantulan bulan, yang membiasi air laut membuat kita semakin tenang dan betah berada di sana berlama-lama. Bintang dan bulan menjadi teman dan penghias di malam hari." Jelas Anya tersenyum tenang.
Bagas mendengarnya dengan tenang. Dan akhirnya tersenyum manis pada Anya.
"Ah tuan. Senyuman itu!" Ucap Anya kaget.
Bagas seketika memasang wajah dinginnya lagi.
"Hmm.. tuan tersenyum lagi, saya sangat menyukai senyum manis tuan." Ucap Anya, dan memalingkan wajahnya sambil melahap satu sendok es krim penutup.
Bagas tersenyum, dan memperhatikan raut wajah Anya yang salah tingkah. Tetapi, tetap biasa saja.
***
Setelah mereka menyelesaikan dinner mereka, mereka menyempatkan nonton Tv bersama dan memakan pop corn.
"Tuan film apa ini?" Tanya Anya was-was.
"Ya, nikmati saja." Jawab Bagas tersenyum smrik.
Dan tibalah dibagian utamanya. Dimana kedua tokoh utama berciuman dan bercinta dengan sangat panas. Membuat keduanya berkedut nikmat.
Anya merasa tak nyaman. "Tuan mengapa tuan menonton film seperti itu?" Tanya Anya salah tingkah.
"Tidak."
"Lalu, apa yang sedang kamu tahan?" Tanya Bagas melihat Anya duduk tak nyaman.
"Ah sudahlah, lebih baik saya tidur." Ucap Anya berniat bediri.
Namun Bagas menahannya, dan mengunci tangan Anya. Bagas mulai mencium Anya, pelahan ke leher dan semakin bawah.
"Aghhh.. tuan! Hentikan!" Ucap Anya memegang kepala Bagas. Dengan kedua tangannya.
"Saya tahu, kamu pun menginginkannya." Ucap Bagas yang bibirnya masih menempel di da*a Anya.
"Tidak, lepaskan saya!"
***
Bagas hampir melakukannya. Namun, dia teringat dengan niatnya. "Gas lu kenape sih? Ingat, jangan masuk ke dalam jebakan lu sendiri!" Batin Bagas menghentikan aksinya.
Anya yang menangis dalam diam pun tersadar, dan duduk di samping Bagas. Membenahi pakaiannya.
Ketika Anya beranjak Bagas menahannya. "Kita nonton horror! Filmnya sudah selesai." Ajak Bagas agar tak canggung.
__ADS_1
"Emm.." Jawab Anya mengangguk.
Film pun dimulai yang berjudul *Dreadout*
Anya terbiasa dengan film horror dan tak terkejut sedikit pun, berbeda dengan Bagas yang mudah terkejut. Bagas dan Anya saling mempengaruhi, dimana Anya takut ketika tangtangan real life. Sedangkan Bagas, takut dengan tangtangan film.
"Aaaaggghhhhhhhhhh.." Bagas berteriak dan memeluk Anya.
Anya hanya menertawakannya. "Tuan takut?"
"Tidak." Jawabnya kembali duduk normal.
"Aiiisshhh.. mengapa film seperti itu sangat mengejutkan, lebih baik film hantu barat." Ucap Bagas kesal.
"Em hantu Indonesia lebih serem dan bikin tegang." Jelas Anya antusias.
"Aaaaaahhhhhhh..." Bagas berteriak dan meloncat ke arah Anya. Anya yang ikut terkejut, justru ikut memeluk Bagas.
Saling bertatapan dan membeku. "Ehemm mengapa tuan terus berteriak? Membuat saya terkejut saja!" Ucap Anya melepaskan pelukannya.
"Ah saya hanya kaget!"
Mereka menonton dan fokus, sambil memakan pop corn. Dan meminum coklat panas.
"Aggghhhh.." Bagas bersembunyi di balik punggung Anya.
"Hei tuan!"
"Ehemm.. hanya terkejut."
Film pun tamat. Tetapi Anya justru tertidur pulas, film ini sudah beberapa kali ia tonton. Saking sukanya terhadap film bergenre horror Indonesia. Dan dialognya yang beberapa berbahasa Sunda, menampilkan fiksi aksi dari sebuah game.
Yang sangat Anya sukai, bergenre horror, action, petualangan dan berbagai genre yang mengurus otak. Tetapi, anehnya Anya lebih sering menonton yang bergenre romantis.
Bagas yang tidak tega membangunkannya, kemudian menggendong Anya ke ranjangnya. Dan tidur bersama di atas ranjang yang sama.
Bagas memeluk Anya dari belakang, mencium bau tubuh Anya yang wangi kalem dan yang khas.
***
Visualš
__ADS_1