Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 15 - Pemandangan Kota Di Malam Hari


__ADS_3

"Airnya hangat, sangat pas untuk kita!" Ucapnya mengeluarkan suara erotisnya.


***


Anya berjalan ke arah shower di sebelahnya, membuka pintu kaca. Lalu menutup gardengnya, agar Bagas tidak melihatnya.


Sebelum Anya mengunci pintunya, Bagas sudah lebih cepat masuk dan mengunci pintu, mereka berdua sekarang berada di dalam shower.


"Baby! Jika ingin menggunakan shower yang ini katakan saja! Ingin lebih terlihat bukan?" Ucapnya erotis.


Namun Anya, sudah tidak bisa kemana-mana. "Buka baju mu!"


"Tapi."


"Oh ingin saya yang membukanya?" Bisik Bagas, segera membuka baju Anya paksa. Dengan tangannya yang ia cekal.


"Tuan mengapa anda selalu memaksa saya?" Tanyanya memberontak.


"Karena kamu tidak pernah menuruti perintah saya!" Jawab Bagas kesal.


"Baby! Maukah kau layani saya?" Bisik Bagas nakal.


"Tidak tuan."


"ANGEL! SABUNI SAYA, GOSOK SEMUA TUBUH SAYA, DAN LAYANI SAYA!" Teriaknya kehabisan emosi.


Anya memundurkan tubuhnya, kaget. Bagas yang berusaha menahannya, takut jika Anya terbentur gagang shower. Namun, tanpa sengaja menyalakan shower dan membasahi tubuh mereka.


Bagas mematikan shower nya dan menarik Anya untuk keluar dan masuk ke bath tub.


Anya duduk di pinggiran bath tub, menggosok tubuh Bagas pelan. Bagas menyalakan lilin aromaterapi. Anya sangat menyukai aromanya dan indahnya pemandangan ini, bagai pengantin baru.


"Masuk!" Ucap Bagas.


Anya pun hanya bisa menurut, jika tidak ingin dipaksa atau disiksa.


"Saya akan menggantikan kamu, untuk menggosokkan tubuh mu!"


"Tidak tuan, saya bisa sendiri." Tolaknya takut.


"Tidak ada lagi kata bantahan!"


Bagas memakai kimono handuk mandi, dan memberikannya yang lain pada Anya. Anya memakainya dan merasa sedikit tenang.


"Sebaiknya, setiap hari kita mandi bersama yah!?" Ucapnya menakuti Anya. Anya hanya menatapnya tak percaya.


Bagas tersenyum smrik. Dan memperhatikan raut wajah Anya, Anya yang sudah tidak tahan segera keluar dan memasuki lemarinya. Lalu, mengunci ruang gantinya agar Bagas tidak bisa masuk.


"Ah sialan, kenapa aku selalu kalah." Ucap Anya menangis dalam diam.


Anya memilih baju yang paling tertutup, hanya piyama yang bisa dia pakai. Diikatnya sekuat tenaga, tali yang berada di samping pinggangnya. Anya ingin memakai tanktop, tapi Bagas tidak menyediakan untuknya. Hanya ada hotpants. Untuk menjadi penghalangnya.


"Jika saja aku boleh membawa baju ku!" Ucapnya kesal.


***


Bagas menunggu dan melihat Anya berpakaian yang senada dengannya. Membuatnya ingin menggodanya, pasalnya warna yang mereka pakai sama, yaitu abu-abu muda. Dengan model piyama tali.


Bukan sebuah kebetulan, semua ini adalah takdir. Meskipun, Bagas membeli piyama tali berwarna abu-abu muda yang sama.


Alias couple, yang seharusnya digunakan oleh pengantin baru.

__ADS_1


Awalnya memang Bagas iseng, ingin membuat Anya baper. Namun ternyata, dialah yang menjadi baper sendiri.


Senyum-senyum sendiri, karena malu. Tetapi, di depan Anya dia harus memasang wajah maskulinnya.


"Wah pilihan yang bagus!" Ucap Bagas menggoda Anya.


Anya melirik pakaian yang ia kenakan, lalu terkejut dan melihat ke arah Bagas.


"Sial niatnya agar tidak terlalu terbuka, tapi malah sama dengannya!" Batinnya.


"Tidak apa. Sama bukan berarti jodoh kan?" Lajut Bagas menggoda Anya.


"Em iya tuan." Jawab Anya santai. "Tetapi, sepertinya tuan yang merencanakan ini?" Tuduh Anya.


"Memang ia, saya sengaja membeli piyama couple. Tetapi, saya sama sekali tidak merencanakan menggunakannya bersama di waktu yang sama." Jelas Bagas dingin, tetapi jujur.


"Em. Baiklah." Jawab Anya acuh, dan segera berbaring di ranjang.


"Aishh.. sial. Seharusnya gue yang bersikap dingin seperti itu." Ucap Bagas pelan.


"Hmm.." Anya tersenyum penuh kemenangan.


***


Bagas dan Anya tertidur pulas, mereka sangat lelah. Tanpa disadari, mereka saling memeluk satu sama lain. Pasalnya Bagas dan Anya tidak bisa tidur tanpa memeluk sesuatu.


Karena guling yang menghalangi mereka terjatuh, tanpa disadari mereka saling memeluk.


Dan mengira itu adalah guling, yang selalu memberikan kehangatan pada mereka ketika tertidur pulas.


Anya merasa tenggorokannya kering.


"Emm.."


"Wah ternyata jatoh." Ucap Anya, setelah melihat dua guling tergeletak di lantai.


Anya pun melepaskan pelukan Bagas pelan, dia mengambil guling dan menggantikannya. Bagas seketika memeluk guling itu.


Anya berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum, dia lupa membawanya semalam sebelum tidur.


"Aissshh... Sial, hampir aja gue melek tadi. Untung dia gak nyadar gue juga kebangun sama ulahnya." Ucap Bagas setelah Anya keluar kamar.


Di dapur Anya meneguk habis minumnya, dia berencana membawa minumnya ke atas. Tiba-tiba dari belakang...


"Emm kamu pembantu baru yah? Kok bisa seseksi dan secantik ini sih?" Ucap pria asing memeluk Anya dari belakang.


"Emm lepasin! Kamu siapa?" Ucap Anya memberontak. Dan hampir berteriak.


"Kamu gatau siapa aku?" Tanya pria asing itu.


"Gak." Jawab Anya setelah berbalik dan melepaskan pelukannya.


"Kenalin gue-" Ucapnya terpotong.


"Ada apa ribut-ribut?" Tanya Bagas dingin.


Dia baru sampai, dan melihat Calvin memeluk Anya. Ingin sekali dia marah dan memukul Calvin, tapi apalah daya. Egonya lebih besar, terlebih Calvin adalah sahabat Bagas dari orok.


"Gas! Lu kebangun? Ini siapa? Pembantu baru Lo ya, cakep banget sih. Buat gue ajalah!" Ucapnya berturut-turut.


"Apaan sih Lo! Gak usah sok tahu, lagian sejak kapan lu dimari? Tahu darimana rumah gue?" Jawab Bagas sewot.

__ADS_1


"Gue baru meluncur dari Inggris, eh tahunya lu kagak ada di apartemen lu yang biasa. Karena hp lu susah dihubungi, gue panggil si Vian lah asisten lu. Untung dia nyaut." Jelas Calvin.


"Aissshh... Gue harus beli rumah rahasia lagi. Udah terlalu banyak yang tahu rumah gue yang ini." Ucapnya kesal.


"Emangnya siapa aja yang tahu?" Tanya Calvin penasaran.


"Bonyok, Vian, Lu!" Jawab Bagas malas.


"Halah cuman berempat."


"Tetep aja, gue ga bisa tenang. Kalo pengen sendiri." Ucap Bagas lesu.


"Eh siapa sih nama kamu?" Tanya Calvin mengacuhkan ucapan Bagas.


Anya hanya menatap tajam.


"Elah nih dedemit, ga bisa liat yang bening dikit." Ucap Bagas.


"Bagus Anya, kamu memang harus mengabaikannya!" Batinnya. "Tapi, pakaian itu. Seharusnya hanya diperlihatkan untuk ku seorang!" Batinnya kesal.


"Calvin! Lebih baik lu pulang aja ke rumah lu. Atau ke apartemen gue, jangan di sini." Ucap Bagas kemudian, sedikit kesal.


"Kenapa? Ahh ga bisa ganggu lu yang enak-enak ya?" Goda Calvin nakal.


"Pergi Sono!" Ucap Bagas marah.


"Gak, gue mau kenalan dulu sama nih cewe!" Ucapnya membelai dagu Anya. Anya yang risih menepis tangan Calvin.


"CALVIN!" Teriak Bagas.


***


"Gas, lu apaan sih ini udah malem. Iya, iya gue pulang. Tapi, siapa dia?" Ucap Calvin kaget, tetapi tetap menuturkan kata-katanya berturut-turut.


"Dia pacar gue!" Ucapnya tanpa basa-basi.


Sontak Anya kaget dan menatap Bagas tak percaya.


"Ohhh... Pantesan lu ngamok. Tapi, sejak kapan tu si junior aktif? Lu kan gak pernah pacaran seumur hidup lu, jangankan pacaran. Dideketin cewe aja mabret.. hahaha.." Jelasnya tertawa.


"Udah sono pergi, bukan urusan Lo juga junior gue aktif atau pasif!" Jawab Bagas ngasal.


"Ah elahh. Baru aja dapet mangsa baru, eh pacar sohib." Ucap Calvin kecewa.


"Gue jitak lu lama-lama." Ucap Bagas ingin mendekati Calvin.


Calvin segera pergi, padahal dia baru saja sampai beberapa menit yang lalu.


Bagas menarik kasar tangan Anya, Anya yang terkejut tubuhnya diseret pun tak dapat memberontak.


"Tuan ada apa?" Tanya Anya tak mengerti.


Bagas memasang wajah yang mengerikan, yang pernah dia tunjukan. Bagas merampas gelas yang dipegang Anya dan melemparkannya.


Anya terkena serpihan kaca, hampir saja mengenai matanya. Untungnya dia menutup matanya, alhasil kelopak matanya berdarah. Dan dibeberapa bagian tangannya terluka.


***


VisualšŸ¦‹


CalvinšŸ–¤

__ADS_1




__ADS_2