Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 33 - Perfect


__ADS_3

"Sesuai kontrak. Karena kamu, sama sekali belum habis kontrak!" Ucap Bagas.


***


Terik sinar matahari pagi, yang kedatangannya membawa kehangatan. Dan menyilaukan mata siapa saja.


Semua kolega Bagas pulang ke Jakarta. Bagas dan beberapa rekan kantornya masih setia di Bali. Bagas memberikan kelonggaran untuk beberapa karyawannya yang ikut. .


"Angel!" Panggil Bagas.


"Iya tuan?" Sahut Anya.


"Kamu lelet banget si!" Kesal Bagas.


"Maaf tuan, ini barangnya banyak banget." Ucap Anya membawa beberapa belanjaan Bagas.


"CEPAT!" Ucap Bagas berteriak.


Anya buru-buru dan sedikit berlari, alhasil semua barang Bagas berserakan. Karena terlepas dari genggaman Anya.


"Bruuuuuuukkkkk..."


"Isssshhh.. gak becus ya, cuma bawa barang doang?" Tanya Bagas kesal, dan melihat beberapa belanjaannya terjatuh.


"Tuan kan tahu, saya masih agak kesakitan." Jelas Anya.


"Oh jadi mau leha-leha begitu?" Tanya Bagas.


"Tentu saja tidak." Bela Anya.


"Ambil semuanya!" Seru Bagas kesal.


Anya mengambil semua barang Bagas, dengan kedua tangannya. "Semalam saja dia lembut. Sekarang kek singa lagi." Batin Anya.


"Kamu emang bego apa polos sih? Udah lelet, gak bisa kerja. Ini malah kayak orang blo'on berdiri di sana!?" Ucap Bagas dingin.


Kemudian dia menarik tangan Anya kasar, Anya bahkan tidak bisa mengaduh sakit. Ataupun memberontak, saking takutnya dengan Bagas, kala itu.


Bagas melempar Anya ke ruangan yang tidak ada penerangan sama sekali. Meskipun di siang hari, ruangan itu sangat gelap gulita.


"Saya akan hukum kamu, agar kamu bisa lebih gesit lagi dalam bekerja!" Ucap Bagas dingin.


Sebelum pergi meninggalkan Anya. Dia memperingatkan Anya beberapa hal.


"Dan yeah, ruangan ini kedap suara. Selain tanpa penerangan. Jadi, daripada menghabiskan suara dan tenagamu. Lebih baik diam dan jalani saja hukuman dari saya!" Ucap Bagas kembali berbalik, mendekati Anya. Sebelumnya dia berniat, untuk meninggalkan Anya.


Anya memeluk lututnya, dan menatap kosong pada apapun yang tak bisa dia lihat di ruangan itu. Terlebih lagi ketika pintunya di tutup. Tidak ada cahaya yang masuk sedikitpun.


"Ahh.. lengkap sudah penderitaan ini. Aku yang bahkan sebelum dilahirkan, sudah mendapatkan penderitaan demi penderitaan. HAHA.." Ucap Anya meratapi nasibnya.


"Mengapa, mengapa tidak ada yang berpihak? Orang tua, keluarga, kerabat, sahabat, teman, cinta? Haha cinta apalagi itu, yang selalu saja gagal dalam memulai." Ucapnya meneteskan air matanya.


Tak terasa beberapa jam berlalu..


Anya yang awalnya bersandar pada dinding sambil memeluk lututnya. Kini membaringkan tubuhnya, dan tetap memeluk kedua lututnya.


"Krukkk... krukkk.. krukkk.."


Perut Anya terus mengeluarkan suara. Anya belum sempat sarapan, terlebih semalam dia juga tidak makan malam. Dan Bagas tiba-tiba mengajak Anya berbelanja jam 5 pagi, setelah Anya sholat subuh dan mandi.

__ADS_1


Karena hanya Anya lah, yang bisa Bagas jadikan pelampiasan.


POV beberapa jam yang lalu*


Semua karyawan menundukkan kepalanya pada Bagas. Meskipun Bagas memakai pakaian santai. Dan meskipun di luar kantor, karyawannya tetap sopan.


Bagas mengenakan kemeja panjang putih yang digulung, dan kedua kancing atasnya yang dibuka. Celana pants pendek putih. Sandal casual, dan memakai kacamata hitam.


Untuk menghindari wartawan yang selalu mengintainya. Meskipun ia sedang berlibur, terlebih di sini sedang ada festival semalam.


Fashion Bagas, membuatnya semakin tampan dan keren. Anya memakai pakaian senada, memakai dress putih di atas lulutnya. Memakai topi, dan kacamata hitam yang diperintahkannya. Meskipun begitu, auranya masih sangat mempesona.


Mereka pasangan yang sangat serasi, namun dipertemukan di kondisi yang tidak tepat.


Ketika Anya dan Bagas melewati beberapa orang asing, karyawan dan para pelayan di sana. Melihatnya takjub dan jatuh hati pada mereka.


POV ruangan gelap*


Sementara itu, Anya hanya bisa menahan lapar dan dahaganya. Dia hanya tertidur, untuk bisa bertahan lebih lama lagi. Entah sampai kapan dirinya terus dikurung di sana.


Rembulan malam pun, sudah menyinari gelapnya malam. Namun, sinarnya tak mampu menembus ke dinding ruangan yang Anya singgahi saati ini.


Angin berhembus semakin kencang. Membuat Anya semakin kedinginan.


Anya hanya memakai dress pendek di atas lutut. Membuatnya semakin kedinginan, Anya memeluk tubuhnya sendiri.


"Krekeettt..."


Bagas membuka pintu perlahan, ada rasa bersalah yang mendalam. Dia sudah menyelesaikan masalah di kantornya. Dan dia teringat, Anya yang dikurung dan belum makan sama sekali.


Bagas membawa lampion antik, yang sangat ia sukai. Namun, Bagas tidak melihat keberadaan Anya.


Kemudian, matanya tertuju pada pojok ruangan. Anya meringkuk di sudut ruangan itu, membaringkan tubuhnya, sambil memeluk kedua lututnya.


"ANGEL!" Teriaknya pada Anya.


Anya yang lemas, tidak memiliki tenaga sedikitpun. Anya bahkan tidak bisa bangun, apalagi menjawab Bagas.


Bagas sangat takut, melihat Anya seperti itu. Takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Anya.


"Bagaimana kalo dia meninggal?" Ucapnya pelan.


Bagas segera mendekati Anya, dan menyimpan lampionnya di samping mereka. Bagas menyentuh kulit Anya yang sedingin es, dan membiru. Bagas juga melihat wajah Anya yang pucat, dan matanya yang sayu.


Terlebih luka-luka kemarin malam masih belum kering.


"Angel! Bangun!" Ucap Bagas menggoyangkan tubuh Anya.


Tidak ada respons, namun Anya mendengar suaranya. Saking takutnya, Bagas segera mengecek urat nadi di pergelangan tangannya, dan di leher Anya.


Lalu, memeriksa hembusan nafas dari hidungnya. Semuanya melemah, dan yang terpikir oleh Bagas hanyalah nafas buatan.


Bagas membaringkan tubuh Anya dengan benar, dan memberikan nafas buatan padanya. Anya yang menyadarinya ingin memberontak, namun tidak bisa karena dia tidak memiliki kekuatan. Bagas memberikan nafas buatan hingga 5 kali kepadanya.


Hingga ketika Bagas ingin melakukannya lagi, Anya memangilnya lemah.


"Tuan hen-hentikan!" Ucapnya lemah.


Kemudian Bagas menghentikan aksinya. Dia segera membopong tubuh Anya keluar dari sana. Dan membawanya ke kamar utama.

__ADS_1


Bagas menyiapkan sop jando, tumis sayuran dan roast beef. Dia pandai memasak. Namun, jarang sekali karena sibuk. Terlebih, dia tidak suka masakan rumah. Sebelum mengenal Anya.


Kini dirinya sudah terbiasa dengan masakan rumah, dan sering memakannya dengan Anya. Bahkan saat ini, pertama kalinya dia memasak lagi. Terlebih ini adalah masakan rumah.


Bagas menyenderkan tubuh Anya ke pinggir ranjangnya. Dia membawa nampan, yang terisi penuh. Dengan berbagai makanan dan minum.


"Angel makanlah!" Ucapnya menyuapi Anya lembut.


Anya pun melahapnya perlahan. "Tuan? Apa tuan baik-baik saja?" Tanya Anya setelah mengunyah makanannya.


"Ya! Harusnya saya yang bertanya demikian!" Ucap Bagas kesal.


"Saya melihat mood tuan, tiba-tiba buruk tadi subuh." Ucapnya.


"Maafkan saya, telah menjadikan kamu pelampiasan."


"Hmm.." Anya mengangguk.


Bagas terus menyuapi Anya. Tubuh Anya sudah tidak dingin, namun berubah menjadi panas.


"Angel kamu demam! Kita ke dokter ya?" Tanya Bagas khawatir.


"Tidak perlu tuan." Tolak Anya.


"Ini makan buah-buahan. Agar cepat sehat!" Ucap Bagas menyuapi Anya beberapa buah-buahan.


Anggur, jeruk, kiwi, stawberry dan pisang. "Tuan sudah makan malam?" Tanya Anya.


"Sudah."


***


"Angel. Saya akan menjelaskan semuanya." Ucap Bagas kemudian.


"Menjelaskan apa tuan?"


"Saya mendapat kabar dari kantor, bahwa kerja sama dengan Client saya ada kendala. Bukan kolega saya yang ikut festival. Tetapi, Client saya. Padahal semuanya sudah hampir selesai. Dan sudah di titik akhir." Jelas Bagas.


"Sekarang bagaimana? Sudah diatasi?" Tanya Anya.


"Sudah, saya memberikan beberapa laporan lewat email. Dan ternyata hanya sebuah kesalahpahaman saja." Jelas Bagas.


"Ah syukurlah."


"Saya menyesal, karena terlalu emosi. Saya menghukum kamu tanpa sebab." Ucap Bagas menyesal.


"Tuan menghukum saya, karena kerja saya yang kurang cekatan. Dan saya juga mengerti, mengenai surat kontrak kita. Jangan terlalu merasa bersalah dan menyesal. Ini belum sebanding." Jelas Anya.


Bagas memeluk Anya. "Apapun itu, ini memanglah kesalahan saya. Maafkan saya Angel!" Ucap Bagas lembut.


"Iya tuan, saya sudah memaafkan tuan. Saya juga menyesal tidak memuaskan tuan." Jawab Anya tersenyum lemah.


"Kamu ingin memuaskan saya?" Tanya Bagas tersenyum nakal.


"Tidak." Jawab Anya, yang tahu maksud Bagas.


"Baiklah ayo tidur." Ucap Bagas kemudian.


***

__ADS_1


Visual🪷🪷🪷



__ADS_2