Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 10


__ADS_3

Sepeninggalan Gryson, Filia segera membaringkan dirinya di kasur single yang ada di ruangan kerja itu. Namun, sudah setengah jam berlalu sejak ia ditinggal sendirian di sana, matanya tidak juga untuk terpejam, akhirnya Filia pun memilih untuk bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar menuju ruang kerja suaminya.


Filia berjalan-jalan di sana dan mengelilingi setiap sudut ruangan itu, hanya saja ia tidak berani jika sampai menyentuh meja kerja suaminya, meskipun perasaan penasaran itu ada, tapi dia masih menghormati privasi suaminya.


Saat ia sedang asyik melihat-lihat semua hal yang ada di sana, tiba-tiba pintu ruangan kerja suaminya itu terbuka lebar dan menampilkan wanita paruh baya yang ia kenal sebagai ibu dari suaminya.


"Apa yang kamu lakukan di ruangan anakku?" tanya Mamanya Gryson yang bernama Nyonya Mona.


Meskipun terkejut, Filia tetap menghampiri, memberi salam dan menjabat tangannya. Ia tetap bersikap baik meskipun tahu sejak awal Mama mertuanya itu tidak menyukainya.


Ya, iyalah, mana ada orang tua yang mau memberikan anak kesayangannya pada wanita yang ia temui malam hari dan itu terjadi di sebuah klub malam, bahkan mereka bertemu dan langsung dinikahkan hari itu juga, begitulah fikiran Filia. Maka dari itu ia pun memaklumi sikap yang ditunjukkan oleh Mama mertuanya dan tidak terlalu dimasukkan ke hati olehnya.


"Saya diminta oleh Tuan Gryson untuk menunggu beliau di sini," jawab Filia lancar.


Mama mertuanya itu menatap Filia dengan sinis ia benar-benar tidak menyukai gadis yang dinikahi oleh anak kesayangannya itu. Apalagi saat ia mengetahui jika mereka bertemu di sebuah klub malam, dia sempat marah dan tidak merestui pernikahannya, sebelum akhirnya ia terpaksa karena sang suami yang sudah membujuknya.


"Kamu tidak perlu menunggu lagi di sini. Pergi dari ruangan anakku sekarang juga!" usir Nyonya Mona sambil menunjuk ke arah pintu yang masih terbuka lebar.


Tanpa membantah apa-apa, Filia pun menuruti keinginan mertuanya itu untuk segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Baik, saya permisi." Filia pun pergi dari sana tanpa menengok lagi ke belakang.


Nyonya Mona sangat tidak menyukai menantunya itu, ia bahkan sampai berharap jika suatu saat nanti anak serta menantunya itu bercerai, karena ia sendiri pun sudah memiliki calon menantu idamannya.


Bagaimanapun caranya, aku harus membuat gadis kecil itu pergi sendiri dari sisi Gryson. Nyonya Mona bertekad untuk memisahkan mereka berdua dan mendekatkan kembali calon menantu idamannya pada sang anak.


Filia berjalan keluar dari ruangannya itu sambil menunduk, ia sama sekali tidak tertarik pada semua yang ada di gedung itu, tapi saat ia melewati sebuah ruangan, telinganya pun merasa penasaran karena ia begitu mengenal suara itu.


"Harusnya kamu bisa mencegah dia supaya tidak kabur. Bukannya malah menerima uang dari pria itu!" geram seorang gadis muda yang Filia ketahui itu adalah suara Bellina, sepupunya sendiri.


"Untuk apa Bellina ada di perusahaan Tuan Gryson?" tanya Filia pada dirinya sendiri sambil terus menatap dari celah pintu ruangan yang tidak tertutup itu.


Aku harus mencari tahu, sebenarnya apa yang sudah terjadi saat ini, batin Filia bertekad.


Setelah beberapa saat kemudian, Filia pun memilih pergi dari sana dan meninggalkan tempat itu. Ia akan mencari tahu semuanya, termasuk sangkut paut Bellina dengan semua hal yang sudah terjadi padanya.


Saat sudah berada di luar perusahaan, Filia pun berusaha mencari mobil yang mengantarkannya tadi, tapi setelah ia mencari-cari selama sepuluh menit, sopir beserta mobil itu pun tidak kelihatan.


"Aduh, bagaimana caranya aku pulang? Aku tidak mungkin mengganggu Tuan Gryson yang sedang meeting," gumam Filia merasa bingung sendiri.

__ADS_1


Setelah beberapa saat terdiam, ia pun akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki dan mengingat semua arah jalan yang ia lewati tadi. saat ini ia sama sekali tidak memegang uang sepeserpun, ponsel juga ia tidak punya.


Siang ini panas lumayan terik, meskipun tadi pagi sempat mendung. Filia tidak begitu mengingat nama gedung apartemen Gryson, tapi ia yakin jika ia mengingat suasananya.


Mudah-mudahan saja aku tidak sampai kesasar, gumamnya lagi sambil terus melangkah diantara banyaknya kendaraan yang berlalu lalang di jalan itu.


Terkadang ia sedih saat mengingat perlakuan kedua orang tuanya yang seakan sudah tidak mempedulikannya lagi, sudah tiga hari ini Filia selalu berusaha untuk menghubungi mereka, tapi mereka selalu saja ada alasan untuk menolak panggilannya.


Padahal saat Filia masih tinggal di sana, ia begitu di manjakan oleh orang tuanya itu. Sambil melangkah, Filia terus memikirkan kejadian yang saat ini menimpanya, menurutnya semua itu sangat janggal.


Apa dugaan ku benar? Jika selama ini Bellina tidak menyukaiku? Lalu untuk apa dia berpura-pura baik dan manis saat di depanku? Kalau di ingat-ingat, aku juga tidak memiliki masalah apa-apa dengannya, batin Filia terus bergumam. Sampai akhirnya ia tiba di sebuah taman kota, ia pun mengingat-ingat, belokan mana yang harus ia lalui, sedangkan di sana ada tiga tikungan.


"Setelah ini jalan mana yang harus aku ambi?" tanya Filia pada dirinya sendiri, sambil jari tangannya terus bergerak-gerak untuk memilih jalan yang benar.


"Akh, aku kesal! Kenapa ingatanku jelek sekali? Jalan pulang pun sampai tidak ingat!" racau Filia sambil sesekali menghentakkan kakinya ke tanah untuk melampiaskan kekesalannya.


Setelah beristirahat cukup lama, Filia pun kembali lanjutkan langkahnya dan mencari jalan pulang sendiri. Biar bagaimanapun dia harus tetap berusaha dulu. Inilah akibatnya jika dia menjadi anak rumahan, tinggal di kota itu selama tiga tahun terakhir pun dia tidak tahu arah dan jalan, kecuali jalan yang dulu ia sering lewati antara sekolahan dan rumah.


Saat ia hampir menyebrang, tiba-tiba ada mobil berhenti tepat di depannya dan menampilkan seseorang dari dalam mobil itu. "Ayo pulang."

__ADS_1


__ADS_2