
Filia menatap sedih ponsel yang baru saja ia gunakan untuk menelpon kedua orang tuanya, ia tidak mengerti kenapa orang tuanya bisa sampai semarah itu padanya. Padahal saat kedatangannya bersama Gryson ia sudah menceritakan semuanya, tetapi Mama Rini dan juga Papa Dean lebih percaya pada perkataan Bellina.
FLASHBACK ON
Setelah beberapa jam berlalu dari saat terakhir kali Filia mengirim pesan kepada Mama Rini, akhirnya sambungan telepon Filia pun diterima oleh mamanya, saat itu Filia sangat bahagia karena telah beberapa hari ini ia tidak bisa menghubungi orang tuanya itu.
"Halo, Ma," ucap Filia saat sambungan teleponnya diterima oleh mamanya.
"Ada apa Filia? Bukankah Mama sudah mengatakan padamu, saat ini Mama sedang sibuk. Lagipula kamu sudah menikah, harusnya kamu tidak perlu lagi menghubungi kami." Terdengar suara Mama Rini di sana seperti orang yang enggan untuk menerima telepon darinya.
Sejenak hati Filia merasa sakit karena mendengar perkataan mamanya yang seperti itu, ia hanya sedang rindu pada kedua orang tuanya. Apakah salah jika dirinya menelpon mereka, meskipun dia sudah menikah tidak seharusnya Mama Rini memperlakukannya seperti itu.
"Lia hanya rindu Mama dan Papa, bagaimana kabar kalian saat ini?" tanya Filia sambil menahan nafasnya agar tidak terdengar isakan kecil di seberang sana, karena sebenarnya saat ini ia sudah sedang menangis.
"Kami di sini baik-baik saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan kami lagi," jawab Mama Rini sedikit menurunkan intonasi suaranya. Filia sendiri tidak bisa menebak apa yang sebenarnya dipikirkan oleh pemerintah saat ini.
"Syukurlah jika kalian baik-baik saja, Lia senang mendengarnya," ucap Filia dengan suara tertahan. Ia sedikit menjauhkan teleponnya agar bisa kembali bersuara biasa saat sedang berbicara dengan mamanya.
"Tentu saja kami akan baik untuk saat ini, karena biang keroknya sudah tidak ada di rumah kami." Mama Rini kembali berucap seperti menyinggung Filia.
Mendengar ucapan mamanya, Filia mengernyitkan keningnya ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan sang mama. "Maksud Mama apa? Lia tidak mengerti, siapa yang menjadi biang kerok?"
Terdengar suara hembusan nafas yang kasar dari seberang sana, Filia bisa menebak jika mamanya sedang kesal. "Tentu saja kamu yang menjadi biang kerok keluarga ini. Jika bukan kamu siapa lagi? Bahkan Bellina juga mengatakan jika kamu yang memilih untuk pulang sendirian saat itu."
Air mata Filia tidak lagi bisa dibendung, ia menangis tertahan mendengar ucapan mamanya yang mengatakannya sebagai biang kerok.
__ADS_1
"Ma, bukankah saat itu aku sudah menjelaskan masalahnya pada kalian? Aku di jebak, Ma. Kenapa kalian masih menyalahkanku? Jika kalian tidak percaya padaku tanyakan saja pada Bellina yang saat itu bersamaku," ucap Filia sudah disertai air mata yang mengalir deras di pipinya.
"Jangan coba-coba untuk menyalahkan orang lain, Filia! Kami tdak pernah mengajarkan mu seperti itu! Harusnya kamu bisa berpikir dan memperbaiki diri, bukan hanya bisa menyalahkan orang lain atas kesalahan yang sudah kamu perbuat," sahut Papa Dean yang ikut mendengarkan percakapan istri dan anaknya.
"Kenapa kalian tidak percaya padaku? Aku adalah putri kalian ...! Kenapa aku tidak bisa mengenali kalian lagi?" tanya Filia. Ia benar-benar sudah tidah mengenali kedua orang tuanya saat ini.
"Satu hal yang perlu kamu ingat, putri kami tidak akan pernah membuat orang tuanya malu hingga sampai ke tulang-tulangnya ...!"
"Tapi Pa–"
Tut ... tut ... tut ....
Belum sempat Filia menjawab ucapan papanya, sambungan telepon itu sudah diputuskan dari sana.
"Harus seperti apa lagi aku menyakinkan kedua orang tuaku? Kenapa mereka tidak mempercayaiku lagi? Kenapa Bellina melakukan semua ini padaku? Aku tidak pernah mempunyai salah apa-apa padanya, bahkan aku juga selalu bersikap baik padanya, tapi kenapa dia menusukku dari belakang seperti ini?" gumam Filia sambil menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya.
Saat ia masih sedang menangis, tiba-tiba bel rumah berbunyi nyaring dan menghentikan tangis Filia. Ia pun segera berlari ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, agar terlihat lebih segar dan menghilangkan jejak bekas air matanya.
Setelah memastikan wajahnya terlihat baik-baik saja ia pun segera menghampiri pintu itu dan membukanya.
CEKLEK
Belum reda sesak yang ada dalam dada Filia, kini ia sudah disuguhi mertuanya yang datang mengunjungi rumahnya. Nyonya Mona menatap penampilan Filia dari atas sampai bawah dengan tatapan sinis dan juga seringai tipis di wajahnya. Sebagai tanda menghormati orang tua, Filia mempersilakan Nyonya Mona untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Mama, silakan masuk," ucap Filia sambil membukakan pintu rumahnya lebar-lebar.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih ada di rumah?" tanya Nyonya Mona pada Filia saat ia sudah memasuki rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
"Maksud Mama?" tanya Filia tidak mengerti.
Nyonya Mona memutar bola matanya malas. "Harusnya kamu itu tahu diri! Sekarang Gryson sudah tidak bekerja lagi di perusahaan. Sebagai istri yang baik, kamu harus membantu Grys untuk bekerja. Jangan hanya bisa bermalas-malasan di rumah."
Filia tidak mengetahui apa-apa tentang suaminya yang sudah tidak bekerja di perusahaan mendadak terkejut, ia tidak mengetahui tentang semua itu.
"A–apa? Sejak kapan Mas Grys tidak bekerja di perusahaan?" tanya Filia pada mertuanya.
Nyonya Mona menunjukkan seringai tipisnya, ia sudah mengira jika anaknya itu tidak akan jujur pada Filia, maka dari itu ia yang akan mengatakannya dan menyalahkan Filia atas pengunduran diri Gryson dari perusahaan itu.
"Huh ...! Sebagai istri, ternyata kamu tidak benar-benar dianggap istri olehnya. Bahkan ia tidak mengatakan yang sejujurnya padamu. Akh, aku lupa ... tentu saja dia tidak akan berkata jujur karena dia tidak benar-benar menganggap aku sebagai istrinya," ucap Nyonya Mona memanas-manasi menantunya.
Filia tidak memikirkan ucapan Nyonya Mona yang merendahkan dirinya sebagai istri, dia hanya menyayangkan Gryson tidak jujur mengatakan yang sebenarnya terjadi padanya.
Kenapa dia tidak berkata yang sebenarnya padaku? Apa dia menjaga image-nya agar tidak turun di mataku? Padahal jika dia berkata jujur, aku bisa berusaha untuk mencari pekerjaan dan membantunya, batin Filia sambil menatap ke sembarang arah.
Nyonya Mona tersenyum tipis saat melihat Filia yang hanya diam saja, ia mengira jika menantunya itu sakit hati karena tidak dianggap oleh suaminya.
"Baiklah, nanti aku bisa mempersiapkan surat-surat untuk kelengkapan mencari pekerjaan. Seperti yang Mama katakan, aku harus berusaha untuk membantunya," jawab Filia yang menyetujui perkataan mertuanya.
Meskipun sebenarnya ia tidak terlalu mengerti, kenapa Gryson memilih keluar dari perusahaannya? Bukankah perusahaan itu sedang sibuk-sibuknya?
Banyak lagi yang akan ditanyakan oleh Filia pada suaminya itu, tapi saat ini ia harus menghadapi mertuanya dahulu.
__ADS_1