
Di dalam kamar Bellina, ia menumpahkan kekesalannya dengan mengacak-ngacak tempat tidur juga meja riasnya. Padahal, ia sangat berharap sepasang suami istri itu memberikan uang seperti biasanya untuk ia belanjakan bersama sang mama, tetapi kali ini ia tidak menghasilkan apa-apa.
Bellina mengambil secarik foto usang yang ia simpan rapi di dalam tumpukan bajunya, di sana ada sesuatu yang bisa menekan Tuan Dean agar memberikan uang padanya dengan cuma-cuma.
Seringai jahat di wajah itu nampak jelas, ia juga tidak bisa dibodohi oleh sepasang suami istri itu. "Maafkan aku, Paman. Jika kamu tidak bisa memberikan uang secara cuma-cuma padaku dengan cara halus, aku terpaksa melakukan ini padamu," gumam Bellina sambil menatap secarik foto usang itu.
Setelah puas menghancurkan isi kamarnya, Bellina terpaksa harus membereskan kembali kamarnya agar ia tidak dicurigai oleh sepasang suami istri yang merupakan orang tua dari sepupunya itu.
"Akh, s*al ...." Bellina terus mengumpati dirinya yang sudah menghancurkan isi kamarnya sendiri. "Harusnya tadi aku tidak perlu menghancurkan isi kamar ini."
Seusai membereskan kamarnya, Bellina tertidur karena kelelahan, sedangkan orang tua Filia membiarkan anak dari kakaknya itu tertidur hingga menjelang malam. Semua itu mereka lakukan karena mengetahui jika Bellina sangat tidak suka dibangunkan oleh orang lain.
Saat waktu malam tiba, Bellina keluar dari kamarnya dengan berpakaian yang minim, kedua orang tua Filia sebenarnya merasa risih karena melihat pakaian Bellina yang seperti orang kekurangan bahan, tetapi percuma juga untuk ditegur, gadis itu selalu mengatasnamakan fashion yang ia puja, setiap kali Bellina ditegur oleh sepasang suami istri itu, setiap kali itu pula mereka selalu mendapatkan masalah yang dibuat oleh Bellina. Jadi, mereka memilih untuk membiarkan Bellina melakukan apapun yang dia mau.
"Bell, kamu mau pergi ke mana malam-malam begini dengan pakaian seperti itu?" tanya Nyonya Rini saat melihat Bellina yang melewati ruang keluarga.
"Hmmm, anu ... itu, Ma. Aku ... aku ada janji dengan teman, dia akan membantuku untuk memulai kembali bisnis yang tadi siang aku bicarakan," jawab Bellina dengan gugup sambil menatap ke arah lain karena tidak berani untuk menatap langsung Nyonya Rini.
Nyonya Rini mendelik tidak suka mendengar jawaban keponakannya. "Bell, Mama tidak masalah jika kamu ingin keluar saat ini. Tapi, bisakah kamu mengganti pakaian dengan yang lebih layak dan lebih nyaman untuk dipandang?"
Bellina memutar bola matanya dengan malas, ini sudah kesekian kalinya kedua orang tua itu menegurnya atas pakaian yang ia kenakan. "Ayolah, Ma. Aku nyaman dengan pakaian seperti ini. ini fashion, Ma. harus berapa kali Aku mengatakan hal ini?" Bellina muak karena terus-menerus ditegur dengan masalah yang sama.
Nyonya Rini dan Tuan Dean menggeleng pelan saat mendengar jawaban yang dilontarkan oleh keponakannya. Mereka tidak tahu lagi harus menegur Bellina dengan cara seperti apa agar merubah cara berpakaiannya.
"Bell, Mama dan Papa menegur kamu seperti itu karena kami menyayangimu. Kami tidak ingin sesuatu hal buruk menimpamu," ucap Nyonya Rini menghampiri keponakannya.
__ADS_1
"Ma, aku bukan Filia yang menjadi wanita lemah. Lagi pula, aku hanya bersenang-senang dengan temanku saja," jawab Bellina acuh dan segera berlalu dari sana sebelum Nyonya Rini sampai di depannya.
Nyonya Rini dan Tuan Dean menggeleng pelan saat melihat keponakannya yang bersikap seperti itu pada mereka.
"Ma, sepertinya Bellina dan Filia benar-benar jauh berbeda," ujar Tuan Dean pada istrinya saat keponakan mereka sudah tidak ada di sana.
"Tentu saja mereka berbeda, Pah. Jangan pernah membandingkan Bellina dengan anak kita Filia. Jelas mereka jauh berbeda." Nyonya Rini pergi dari ruang keluarga itu dan meninggalkan suaminya sendirian.
Ya, mereka sangat berbeda, batin Tuan Dean.
Nyonya Rini masuk ke kamarnya dan mencoba untuk menghubungi sang menantu, Gryson. Ia sangat merindukan anak perempuannya itu. Nyonya Rini sedikit mengernyitkan keningnya kalau mendapati Gryson yang tidak juga menjawab teleponnya.
Tumben sekali Gryson tidak bisa dihubungi? Apakah mereka baik-baik saja? Mungkinkah terjadi sesuatu pada mereka berdua? Tidak, aku tidak boleh berpikiran buruk seperti itu. Tapi, ini memang tidak biasa, Gryson tidak menjawab panggilanku, batin Nyonya Rini, ia sangat merasa cemas pada anak dan menantunya itu.
***
***
Pagi menjelang, sepasang suami istri yang tadinya tertidur lelap, kini mulai kembali menarik kesadaran mereka dari alam mimpi.
"Pagi sayang," sapa Gryson saat ia membuka matanya dan melihat sang istri sedang menatap dirinya.
"Pagi juga, Mas," jawab Filia tersenyum hangat.
"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Gryson yang mengetahui kejadian kemarin dari salah satu pengawalnya. Ia menempatkan salah satu pengawal bayangan untuk terus mengawasi keadaan istrinya. Ia khawatir jika mamanya kembali melakukan tindakan buruk pada Filia.
__ADS_1
"Perasaanku sudah lebih baik sekarang, Mas."
"Syukurlah. Jika lain kali ibu mengajakmu lagi, sebaiknya kamu tolak saja. Aku tidak mau kejadian kemarin terulang lagi."
"Baiklah. Maaf karena sudah membuatmu khawatir," ucap Filia sambil mengeratkan pelukannya pada sang suami.
"Tidak apa-apa. Wajar saja jika kau khawatir padamu, itu tandanya aku menyayangimu."
Pagi itu mereka habiskan dengan bercengkrama di atas tempat tidur, sebelum akhirnya Gryson harus bangkit karena harus bekerja kembali di perusahaannya.
Filia dengan telaten menyiapkan semua kebutuhan suaminya. Setelah selesai, ia segera melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi mereka berdua. Meskipun ia belum benar-benar bisa memasak, tetapi jika hanya memanggang roti dan membuatkan kopi, dirinya sudah bisa melakukan hal itu.
Gryson tersenyum saat mendapati sang istri yang sedang mengaduk kopi untuknya. Ia menghampiri Filia dan mengecup sekilas sisi kepala istrinya sebelum duduk di salah satu kursi meja makan yang ada di sana.
"Kamu sudah lebih pandai membuat kopi sekarang," puji Gryson saat iya menerima secangkir kopi dari Filia.
"Terima kasih, Mas. Aku masih harus perlu banyak belajar," jawab Filia sambil ikut duduk di sana.
"Aku minta maaf karena belum sempat mengajarkanmu memasak kembali," sesal Gryson. Padahal yang sangat ingin melakukan hal itu. Baginya, memasak bersama pasangan adalah hal yang paling menyenangkan disaat waktu lelah atau bosan melandanya, tetapi untuk sekarang hal itu belum bisa mereka lakukan karena jadwal kerja Gryson yang masih berantakan dan belum tertata kembali.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti, pasti kamu juga sangat menginginkan hal itu. Kamu yang sabar, ya. Mudah-mudahan masalah yang sedang yang terjadi di perusahaan segera terselesaikan," ucap Filia sambil menggenggam tangan suaminya.
"Terima kasih karena sudah mau mengertikanku, sayang. Aku bersyukur karena mempunyai istri cantik dan pengertian sepertimu." Gryson mengecup tangan Filia sekilas.
Filia menunduk malu saat menerima perlakuan sang suami yang begitu manis terhadapnya. "Aku juga bersyukur karena mempunyai suami yang baik dan perhatian sepertimu."
__ADS_1
Gryson tersenyum mendengar ucapan istrinya. Pagi itu terasa sangat tenang karena Nyonya Mona tidak datang ke rumah mereka. Sepasang suami istri itupun melanjutkan sarapan pagi mereka dengan bahagia dan diiringi sedikit candaan sebelum akhirnya Gryson harus berangkat ke kantornya.