
"Grys, kamu yakin untuk berkunjung ke Negara I?" tanya Nyonya Mona. Ia merasa heran karena anaknya tiba-tiba meminta dia untuk pulang ke Negara I dengan alasan ingin mengunjungi Rachel.
"Kenapa Mama terlihat enggan seperti itu?" tanya Gryson saat melihat raut wajah Nyonya Mona yang sedikit kusut.
"T–tidak, Grys. Mama tidak apa-apa." Nyonya Mona berusaha untuk kembali bersikap seperti biasa lagi dan menetralkan laut wajahnya yang sempat tegang.
Setelah kemarin Gryson memeriksakan kondisinya sendirian, sikap pria itu sedikit berubah. Nyonya Mona sempat bertanya tentang kemungkinan ingatan Gryson yang sudah kembali, tapi anaknya itu hanya menjawab dengan gelengan samar.
Kenapa sikap Gryson sedikit berubah? Tidak mungkin jika amnesianya sudah sembuh, batin Nyonya Mona sambil terus memperhatikan Gryson yang sedang memakan sarapannya. Ya, tidak mungkin secepat itu Gryson sembuh, sambungnya lagi.
Gryson menyadari jika mamanya memperhatikan gerak-gerik dia sedari tadi, tapi dia memilih untuk berpura-pura tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh sang mama tentangnya.
"Grys, Mama tidak yakin jika kamu sudah diperbolehkan naik pesawat. Apa lagi jalan yang kita tempuh akan memakan waktu yang cukup lama, apa itu tidak berbahaya untuk kesehatanmu?" tanya Nyonya Mona lagi, ia masih berusaha untuk menghentikan niatan Gryson.
"Aku yakin, Ma. Sekarang aku sudah sehat," jawab Gryson tanpa menghentikan kegiatan yang sedang menikmati sarapannya.
Jawaban Gryson semakin membuat Nyonya Mona khawatir, tanpa sadar ia semakin menunjukan rasa gelisahnya di depan sang anak.
"Apa Mama baik-baik saja?" tanya Gryson saat melihat mamanya yang banyak gerak karena gelisah.
Pertanyaan Gryson membuat Nyonya Mona tersentak, bahakan ia tidak sengaja menjatuhkan garpu yang sedang dipegangnya. "Mama ... Mama baik-baik saja, Grys. Sungguh."
Gryson memicingkan matanya, ia sadar jika sang mama kini tengah berusaha menutupi kegelisahannya. Akhirnya Gryson pun memilih untuk diam dan tidak banyak berbicara lagi.
***
__ADS_1
Di tempat lain, Nyonya Ellena sedang berusaha bersembunyi lagi dari kejaran anak buah Tuan Dean yang sebelumnya sudah mengetahui tempat persembunyiannya. Ia berlari dan bersembunyi di sebuah gedung tua yang sudah lama terbengkalai, itu adalah tempat di mana para anak buahnya bersembunyi.
"Si*l, kenapa sekarang jadi begini? Bagaimana bisa mereka mengetahui persembunyianku?" tanya Nyonya Ellena sambil mencoba mengatur nafasnya yang masih terengah-engah akibat berlari kencang. "Aku harus segera mencari tempat persembunyian lain yang aman untuk sekarang. Pers*tan dengan anak idiot itu, biarkan saja dia teluntang-lantung di jalanan. Aku tidak peduli lagi," sambungnya sambil memerhatikan kawasan gedung tua itu.
Nyonya Ellena membekap mulutnya saat ia mendengar segerombolan orang-orang yang sedang berlari ke arah di mana dia sedang bersembunyi. Kuharap mereka tidak menemukanku, batinnya.
"Cari ke semua penjuru tempat ini, pasti dia sedang bersembunyi di sekitaran sini!" perintah salah satu pria yang kini sedang berdiri sambil berkacak pinggang, tepat di belakang persembunyian Nyonya Ellena.
"Baik, Tuan," jawab para pria yang merupakan bawahannya.
Jantung Nyonya Ellena semakin berdetak kencang kala para anak buah itu mulai berpencar. Ia semakin merapatkan tubuhnya ke dinding dan berharap jika mereka tak melihatnya.
Tak lama setelah kepergian para anak buah yang berpencar, pria itu kembali menerima panggilan telepon dari tuannya.
"Maaf, Tuan. Kami kehilangan jejaknya dan saat ini kami sedang berusaha untuk mencari keberadaanya lagi. Saya yakin Nyonya Ellena belum pergi jauh," ucap pria itu sambil menatap ke sekeliling tempatnya berdiri.
" .... "
" .... "
"Ya, Tuan. Saya me–"
'Srek'
Suara asing terdengar sangat menarik perhatiannya, hingga pria itu menghentikan perkataannya dan memutuskan sambungan telpon itu segera, ia berjalan dengan mengendap-endap menuju asal suara.
__ADS_1
'Grep'
Tangannya segera mencekal tangan seseorang yang sadang ia incar. "Anda mau lari kemana lagi, Nyonya?" tanya pria itu dengan menatap tajam buronannya.
"Lepas! Aku tidak mau ikut denganmu. Lepaskan aku?!" Nyonya Ellena berusaha berontak saat tangannya di cekal oleh seorang pria yang ia ketahui adalah salah satu anak buah Tuan Dean.
"Saya tidak akan melepaskan Anda, Nyonya!" ucap pria itu seraya tersenyum sinis pada wanita yang menjadi buronannya.
"Tidak. Aku tidak mau ikut kalian! Lepaskan aku," teriak Nyonya Ellena sambil mencoba untuk memberontak dari cengkraman pria yang sedang memeganginya itu.
"Cih, lepaskan?! Saya tidak akan pernah melepaskan Anda. Anda harus ikut bersama saya untuk mempertanggungjawabkan masalah yang sudah Anda buat selama ini!" ucap pria itu dengan nada yang cukup tinggi, sehingga membuat nyali Nyonya Ellena menciut, ia tak berani membantah pria yang kini mulai menggusurnya.
Si*l, kenapa aku bisa ceroboh seperti tadi? Sia-sia aku berlari sejauh ini, jika akhirnya tertangkap juga, batin Nyonya Ellena yang kesal sendiri.
"Hey, tidak bisakah kamu sedikit bersikap lembut pada seorang wanita?" sergah Nyonya Ellena saat tubuhnya di dorong untuk masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka menemui Tuan Dean.
"Anda bukan majikan saya, Nyonya. Jadi, saya tidak perlu memperlakukan Anda dangan lembut," jawab pria itu acuh dan tak mengindahkan ocehan wanita paruh baya yang sedang bersamanya.
"Awas saja kalian! Aku tidak akan melupakan perbutan kalian terhadapku kali ini, suatu saat nanti aku akan membalas semua perlakuan buruk kalian." Nyonya Ellena akhirnya kembali mengalah setelah dan diam setelah mobil yang ia tumpangi mulai jalan. Namun, sebelum mobil meninggalkan pelataran itu, Nyonya Ellena sempat membuka kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya sesaat hanya utuk bersiul.
"Apa yang Anda lakukan, Nyonya?" tanya pria di sebelahnya, ia berusaha untuk membenarkan kepala Nyonya Ellena agar kembali masuk ke dalam mobil.
"Lepaskan aku!" Nyonya Ellena kembali meminta untuk dilepaskan setelah beberapa saat lalu dirinya tenang. Ke**napa mereka tidak datang juga? Padahal aku sudah memberikan kode pada mereka untuk membuntuti dan menyelamatkanku dari mobil ini, batin Nyonya Ellena sambil sesekali melihat ke arah belakang mobil. Namun, ia tidak melihat mobil manapun mengikutinya.
"Anda tidak perlu mengharapkan kedatangan mereka, Nyonya. Kami sudah membekuk semua anak buahmu. Jadi, kali ini Anda tidak bisa lari lagi," ucap pria itu, saat menyadari jika Nyonya Ellena tadi sempat memberikan kode pada anak buahnya yang ia kira masih berada di pelataran gedung kosong tadi.
__ADS_1
Nyonya Ellena langsung mengalihkan perhatiannya dari jalanan dan menatap tajam pria muda di sampingnya. "Apa yang kamu lakukan pada anak buahku?!" sergahnya saat ia mendengar penuturan dari anak buah Tuan Dean.
"Lihat dan perhatikan saja, Nyonya?!"