Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 65


__ADS_3

Nyonya Rini menumpahkan tangisannya di ruang kerja milik mendiang sang ayah, ia tak keluar dari sana hingga waktu menjelang pagi. Sedangkan di luar rumah, Filia dan Tuan Dean baru saja sampai. Mereka memutuskan untuk menyusul Nyonya Rini ke rumah mendiang kedua orang tuanya.


"Selamat pagi, Tuan dan Nona muda," sapa pelayan senior yang bekerja di sana.


"Pagi juga, Bi. Apa Mama ada di sini?" tanya Filia saat mereka sudah berdiri di teras rumah.


"Nyonya ada di dalam ruang kerja mendiang Tuan besar, Non. Beliau dari semalam belum keluar dari sana." Terlihat raut wajah khawatir dari sang pelayan itu.


Tuan Dean yang sudah merasa khawatir pada istrinya tak menunggu lama lagi, ia menerobos masuk ke rumah itu dan segera menuju tempat yang di maksud oleh pelayan tadi.


Setelah sampai di depan pintu ruangan, Tuan Dean mulai mendorong pintu itu dengan perlahan. Ia tak mengetuknya karena khawatir Nyonya Rini akan mengusirnya. Setelah pintu terbuka sempurna, ia melihat sang istri tengah terlelap di meja kerja dengan posisi duduk.


"Ya Tuhan, Ma. Kamu demam," gumam Tuan Dean saat tangannya menyentuh wajah sang istri, tampak jelas di sana ada bekas air mata yang sudah mengering. Nyonya Rini tertidur setelah ia lelah menangis.


Tuan Dean dengan cekatan langsung menggendong istrinya untuk di pindahkan ke kamar, ia juga sempat meminta pelayan untuk mengambilkan air kompresan dan menyuruh Filia menelpon dokter pribadi keluarga.


"Pa, Mama kenapa?" tanya Filia sat ia selesai menelpon dokter seperti perintah papanya.


"Mama kamu demam, Lia. Semoga saja tidak terjadi apa-apa," jawab Tuan Dean khawatir sambil terus mengompres kening sang istri.


Ma, aku benar-benar minta maaf karena sudah membuatmu bersedih seperti ini, batin Tuan Dean. Walau bagaimanapun, kini hatinya sudah tertambat pada wanita yang menjadi pilihan orang tuanya dan ia tidak tega jika harus melihat wanita yang selama hampir 21 tahun ini menemaninya sakit, atau kecewa.


Filia bisa melihat dengan jelas jika papanya sangat menyayangi sang mama. Hal itu terbukti karena ia melihat Tuan Dean sesekali menyeka sudut matanya.

__ADS_1


"Tenanglah, Pa. Mudah-mudahan tidak terjadi hal buruk pada Mama," ucap Filia yang tidak tega melihat papanya menagis.


"Papa benar-benar menyesal, Lia. Papa harap Mama mau memaafkan semua kesalahan yang sudah Papa perbuat." Tuan Dean kembali mengusap sudut matanya.


Filia menatap iba pada sang papa, ia juga sedih karena melihat mamanya yang terbaring lemah seperti orang yang tidak sadarkan diri.


Tak lama kemudian, dokter yang dipanggil oleh Filia pun datang, beliau segera melaksanakan tugasnya untuk memeriksa kondisi Nyonya Rini.


"Bagaimana keadaan Mama saya, Dok?" tanya Filia saat melihat dokter itu sudah membereskan stetoskop yang digunakannya.


"Iya, Dokter. Bagaimana keadaan istri saya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Tuan Dean yang ikut menimpali pertanyaan Filia.


Dokter itu tersenyum pada Filia dan juga Tuan Dean sebelum menjawab, "Keadaan Nyonya Rini cukup baik, beliau hanya kelelahan dan sepertinya sedang stress. Jadi, asam lambungnya kumat. Tapi kalian tidak perlu khawatir, setelah beristirahat cukup dan stresnya berkurang, beliau akan kembali sehat."


Filia dan Tuan Dean mendesah lega setelah mendengar jawaban sang dokter. "Syukurlah," ucap keduanya.


Filia segera meminta pelayan untuk membawakan bubur ke dalam kamar, agar setelah mamanya bangun beliau bisa langsung makan dan minum obat. Sebenarnya keadaan Filia juga sedikit kurang enak badan, wanita muda itu wajahnya terlihat sedikit pucat.


"Nona, Apa Anda baik-baik saja?" tanya salah satu pelayan yang sedang membawakan bubur untuk Nyonya Rini.


"Saya baik-baik saja, Bi. Hanya sedikit pusing." Filia terus memegangi kepalanya yang terasa pening, tidak biasanya seperti itu. M**ungkin ini hanya efek karena tadi malam aku kurang tidur, batin Filia.


Bibi pelayan itu tidak terlalu mempercayai Nona—nya, ia bisa melihat jelas jika Filia sedang tidak enak badan. "Apa Anda benar baik-baik saja? Wajah Anda terlihat sangat pucat, Nona."

__ADS_1


Filia kembali tersenyum dan menjawab, "Mungkin ini hanya efek karena tadi malam aku tidur terlalu larut saja, Bi."


"Oh, baiklah. Jika ada yang Anda inginkan, silakan katakan saja. Saya pasti akan langsung mencarikan apapun yang anda inginkan," ucap bibi itu lagi sebelum ia kembali ke dapur.


"Baiklah. Terima kasih sebelumnya, Bi."


"Sama-sama, Nona."


Filia membawakan bubur yang baru saja diterimanya dari bibi pelayan. Tuan Dean segera mengambil alih bubur karena melihat Filia yang berjalan sedikit tertatih.


"Lia, apa kamu baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat seperti itu?" tanya Tuan Dean saat ia melihat sang anak yang sudah duduk di samping mamanya.


"Lia tidak apa-apa, Pa. Hanya sedikit pusing, mungkin karena tadi malam tidur terlalu larut," jawab Filia tersenyum sambil menatap sang papa.


"Benarkah? Sebaiknya sekarang kamu istirahat saja di kamarmu. Jika Mama sudah siuman, nanti Papa akan memberitahukanmu," perintah Tuan Dean yang sudah hawatir pada Filia.


"Hmmm, baiklah, Pa. Aku akan istirahat di kamar sebelah saja." Filia bangkit dari duduknya setelah mendapat anggukan dari Tuan Dean.


Sebelum masuk ke kamar yang ada di sebelah kamar mamanya, Filia menghampiri salah satu pelayan yang sedang ada di sana.


"Bi, jika nanti pergi ke pasar, tolong carikan buah muda, ya!" pinta Filia pada salah satu bibi yang hendak keluar rumah.


Pelayan yang dimintai Filia sedikit mengerutkan keningnya, tapi ia tidak berani bertanya lebih karena segan pada Nona muda—nya. "Baik, Nona," jawabnya sambil mengangguk.

__ADS_1


Setelah mendapat anggukan dari pelayan itu, Filia pun masuk ke kamar dan memilih untuk membaringkan tubuhnya. Sudah seminggu ini Filia selalu pusing dan mengantuk di pagi hari.


"Aku kenapa, ya? Tidak biasanya mengantuk di jam-jam seperti ini," tanya Filia pada dirinya sendiri sambil menatap jam yang baru menunjukkan pukul 7.30 pagi. Rasa kantuk itu semakin menderanya ditambah semalam ia yang kurang tidur. Tanpa menunggu lama, Filia sudah kembali terlelap dan terbuai dalam mimpinya.


__ADS_2