Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 47


__ADS_3

Pagi menyapa, Gryson dan Filia sedang menikmati pagi mereka dengan penuh canda tawa. Sepasang suami istri itu baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Filia memaksa suaminya untuk bangun dan ikut membantunya memasak, canda tawa itu masih berlangsung hingga tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah mereka.


"Siapa yang bertamu sepagi ini, Mas?" tanya Filia pada suaminya.


Gryson mengangkat bahunya dan menjawab, "Entahlah, aku juga tidak tahu. Sebentar biar aku lihat dulu." Ia pun melangkah menuju pintu rumah itu untuk membukanya.


"Aramon? Ada apa kamu datang kemari pagi-pagi seperti ini?" tanya Gryson saat mengetahui bahwa Aramon-lah yang bertandang ke rumahnya.


"Hey, kenapa kamu bersikap seperti itu padaku? Bukankah aku sudah berusaha untuk membantumu? Setidaknya biarkanlah aku masuk terlebih dahulu baru kau bertanya-tanya!"


"Ck, Ya sudah, Ayo masuk!"


Filia yang mendengar suara seseorang sedang bersama suaminya pun langsung menghampiri mereka. "Lho, ada Bang Ramon, toh? Tumben pagi-pagi datang kemari, ada apa?"


"Aku ingin memberitahukan sesuatu tentang Bellina." Aramon duduk di salah satu sofa ruang tamu yang ada di rumah Gryson.


Filia mengerutkan kening saat mendengar jawaban dari sahabat suaminya itu. Ia tidak mengetahui apa-apa tentang rencana yang dibuat oleh suami dan sahabat-sahabatnya saat di villa kemarin.


"Sudahlah, sayang. Kamu tidak perlu khawatir dan berusaha untuk balas dendam padanya, aku sudah terlebih dulu menyiapkan semua itu," ucap Gryson sambil menarik pelan tangan istrinya agar ikut duduk bersama mereka.


"Maksud kamu, Mas?"


"Aku dan Aramon sudah berencana untuk menjebak Bellina dan juga Ibunya. Aramon mau mendekati Bellina untuk mengorek informasi tentang tante Ellena," jawab Gryson.


Ya Tuhan, Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan suamiku saat ini, tapi aku mohon pada-Mu supaya dia tidak terlalu menjabarkan kondisi keluargaku pada orang lain, batin Filia yang merasa malu pada Aramon.


Bagi Filia, masalah keluarga cukup diketahui oleh keluarga saja, jangan sampai orang lain mengetahui masalah keluarganya. Akan tetapi kini Aramon pun sudah mengetahui tentang keadaan keluarganya.


"Mas, bolehkah kita bicara sebentar?" tanya Filia.


Gryson mengerutkan keningnya saat mendengar permintaan sang istri. "Ada apa, sayang?"


Filia bangkit dari duduknya dan segera berlalu meninggalkan kedua pria itu tanpa menjawab pertanyaan sang suami. Gryson yang melihat kepergian sang istri segera menyusulnya. "Ram, aku susul Filia dulu."


"Baiklah."


Aramon membiarkan sahabatnya itu untuk berbicara terlebih dahulu dengan istrinya, meskipun dia sedikit heran pada Filia, tapi ia berusaha untuk menghargai istri dari sahabatnya itu.

__ADS_1


Sesampai dikamar, Gryson langsung menutup pintunya dan menghampiri Filia yang sedang berdiri di dekat ranjang tempat tidur mereka. "Ada masalah apa, sayang? Kenapa kamu memintaku untuk berbicara berdua di sini?"


"Mas, maaf sebelumnya. Apakah kamu sudah memberitahukan semua masalah keluargaku pada Aramon?" tanya Filia dengan menatap serius suaminya.


Gryson mengangguk dan membenarkan pertanyaan Filia. "Iya, aku sudah memberitahukan semuanya pada Aramon. Ada apa, sayang?"


Filia mengusap wajahnya dengan kasar, ternyata Gryson sudah memberitahukan masalah keluarganya pada Aramon.


"Aku ... aku malu jika ada orang lain yang mengetahui tentang masalah keluargaku, Mas," gumam Filia pelan.


Gryson mendekati Filia, ia menggapai tangan istrinya dan mengecup sekilas, lalu berkata," Kamu tidak perlu khawatir. Aramon adalah sahabatku, dia bisa kita percayai untuk menjaga rahasia keluargamu."


"Benarkah? Aku takut jika suatu saat nanti dia akan membeberkan aib keluargaku."


"Dia tidak akan pernah melakukan hal itu. Percayalah padaku, sebelum dia melakukannya, aku yang akan terlebih dulu membuatnya tidak bisa berbicara lagi."


"Ish, bukan seperti itu, Mas. Aku ... aku hanya khawatir saja," jawab Filia.


"Sudah kukatakan, kamu tidak perlu khawatir, sayang." Gryson mengecup kening Filia sekilas dan mengajaknya untuk kembali ke ruang tamu. "Ayo, Aramon sudah menunggu kita."


Gryson dan Filia kembali ke ruang tamu dan menemukan Aramon yang sedang tidur di sofa mereka.


"Entahlah. Kupikir kita tidak pergi meninggalkannya terlalu lama tadi," jawab Gryson sambil mencoba untuk membangunkan sahabatnya itu.


"Ram, Aramon, bangun." Gryson menepuk pundak temannya itu pelan.


Aramon terlihat mengerjapkan matanya, tapi sedetik kemudian ia kembali terlelap lagi.


"Mas, lebih baik biarkan dia istirahat dulu. Sepertinya dia sama sekali tidak tidur tadi malam," ucap Filia menghentikan suaminya yang sedang membangunkan Aramon.


"Tapi, Yang–"


"Sudahlah. Lebih baik sekarang kita sarapan dulu, biarkan dia istirahat."


Filia mengajak suaminya untuk kembali ke dapur dan meninggalkan Aramon yang sedang tertidur lelap. Mereka menikmati sarapannya dengan tenang. Hingga setengah jam kemudian, Aramon datang karena ia merasa lapar dan membuatnya terbangun dari tidur


"Kenapa kalian makan tanpa membangunkanku?" tanya Aramon sambil mendorong kursi kosong untuknya duduk.

__ADS_1


"Maafkan kami. Tapi tadi Mas Grys sudah membangunkanmu, hanya saja Bang Ramon tidak bangun, jadi kami terpaksa meninggalkanmu," jawab Filia sambil menyiapkan kembali sarapan untuk pria yang sedang berusaha membantu keluarganya itu.


"Iya, tadi aku sudah berusaha untuk membangunkanmu, Ram. Lagi pula kenapa kamu tidur di waktu pagi?" tanya Gryson. Setahunya, Aramon adalah pria yang sangat anti tidur di waktu pagi.


"Tadi malam aku tidak bisa tidur karena Bellina terus menggodaku," jawab Aramon, ia menggeleng pelan saat mengingat betapa sulitnya tadi malam untuk ia lewati.


Gryson tersenyum meremehkan saat mendengar ucapan Aramon, tentu saja ia tahu perangai sahabatnya dan baru kali ini Aramon harus menahan godaan dunianya.


"Sudahlah. Lagi pula kenapa kamu menahannya?" tanya Gryson.


"Mas, apa maksudmu bertanya seperti itu?!"


Gryson gelagapan saat Filia bertanya sambil menatap tajam padanya. "Ma–maaf, sayang. Aku tidak bermaksud seperti itu."


Diam-diam Aramon menertawakan Gryson yang menunjukkan tingkah kakunya di hadapan wanita.


Sepertinya dia sudah melupakan wanita itu. Syukurlah, Filia bisa menjadi obat hatinya Gryson. Aku harap mereka selalu dalam keadaan baik dan rumah tangga mereka pun adem ayem, batin Aramon menatap sepasang suami istri di hadapannya.


"Sudahlah, Lia. Lagi pula aku tidak mungkin melakukan hal itu pada sepupu kesayanganmu. Entah kenapa, tapi aku merasa Bellina seorang wanita berpengalaman. Apa sebelumnya dia sudah pernah menikah?" tanya Aramon dengan penasaran akan seluk beluk kehidupan Bellina.


"Baguslah jika Abang tidak melakukan hal itu pada Bellina," jawab Filia tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari sang suami, lalu ia pun kembali berkata, "Aku tidak terlalu mengetahui kehidupan Bellina. Yang aku tahu, dia hanyalah wanita yang selalu berpenampilan cantik dan juga glamour."


Aramon mengangguk dan membenarkan maksud Filia. "Baiklah aku mengerti maksudmu."


Gryson sangat penasaran dengan kabar yang akan disampaikan oleh sahabatnya itu. Selepas sarapan, mereka pun kembali duduk di ruangan tamu.


"Ada hal apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Gryson saat mereka sudah duduk di sofa sana.


Aramon mengeluarkan sesuatu dari kantong jaket dan memberikannya pada Greyson, lalu berkata, "Kalian bisa mencoba mendengarkan apa yang Filia ucapkan lewat alat perekam ini."


"Bolpoin?" tanya Filia dengan penasaran saat ia melihat se


buah tulis yang dikeluarkan oleh Aramon.


"Ini bukan bolpoin biasa, sayang. Ini adalah alat perekam yang berbentuk pen," jelas Gryson.


"Oh, aku belum pernah melihatnya."

__ADS_1


"Ya sudah, aku akan pulang ke rumah. Kalian bisa merencanakan hal lain dan beri tahu aku nanti." Aramon bangkit dari duduknya, ia pamit sebelum akhirnya pergi dari rumah sahabatnya itu.


__ADS_2