
Setelah pulang dari perusahaan, Nyonya Mona memutuskan untuk menemui Filia. Hatinya mulai terketuk saat dia bertemu dengan gadis yang sedang bersama Filia saat di taman. Entah kenapa sejak hari itu dirinya merasa selalu dihantui oleh masa lalu dan ketakutan di masa mendatang.
Aku sadar, apa yang sudah kulakukan selama ini terlalu kelewatan. Perlakuanku pada Filia sudah sangat keterlaluan, semoga saja dia mau memaafkanku. Apalagi saat ini dirinya sedang mengandung anak Gryson, aku tidak ingin apa yang aku lakukan saat ini berimbas pada cucuku dan membuat dia membenciku karena sudah memaksa memisahkan kedua orang tuanya, batin Nyonya Mona sembari menggenggam ponsel yang baru saja ia gunakan untuk mengirim pesan pada menantunya.
Nyonya Mona mengetahui kabar kehamilan Filia dari wanita yang ia suruh untuk memata-matai menantunya itu. Di tambah, bukti-bukti dari dokter yang memeriksa Filia semakin membuatnya yakin jika Filia memang mengandung anak dari putranya.
"Pak, antarkan saya ke restoran yang ada di simpang depan sana," pinta Nyonya Mona pada sang sopir.
Tanpa banyak bertanya, sopir itu pun mengangguk sembari berkata, "Baik Nyonya." Tidak lupa, sopir itu juga memberitahukan pada Gryson ke mana arahnya ia akan pergi bersama nyonya—nya.
Gryson meminta sopir itu untuk selalu melaporkan semua aktivitas sang mama padanya. Bahkan, sopir itu juga memberitahukan pada Gryson jika beberapa hari yang lalu Nyonya Mona pernah melabrak Filia yang sedang berada di taman bersama kakak dan perawatnya.
Sesampai di tempat yang Nyonya Mona inginkan, ia segera melakukan reservasi dan memesan ruangan VIP. Dia ingin berbicara serius dengan menantunya tanpa ada orang yang mengganggu.
Filia dan Disya terdiam menatap bangunan restoran yang menjadi tempat di mana mertuanya mengajak dia bertemu. Disya memaksa untuk ikut serta karena khawatir jika mertua nonanya akan melakukan hal yang berbahaya. Jadi, sebagai antisipasi dia pun mengikuti kemana Filia pergi.
Awalnya Filia menolak untuk dikawal oleh Disya, apalagi setelah tahu jika gadis itu sedang tidak enak badan, tapi bukan Disya namanya jika ia tidak bisa membujuk Filia.
"Nona, apa Nona yakin akan menemuinya?" tanya Disya untuk kesekian kalinya, gadis itu benar-benar khawatir. Apalagi saat ini dirinyalah yang bertanggung jawab untuk terus menjaga Filia, sementara Nyonya Rini dan Tuan Dean belum kembali dari luar kota.
__ADS_1
"Entahlah, Mbak. Sebenarnya aku sedikit ragu. Tapi tidak mungkin jika aku mengabaikannya juga," jawab Filia seraya tersenyum kecil pada Disya.
Meskipun saat ini hatinya tengah dilanda kegelisahan, tapi ia masih berusaha untuk tetep tenang. Filia tidak ingin sampai Disya kembali melarangnya hanya karena alasan keselamatan saja.
"Kalau sekiranya masih ragu, mending kita pulang aja, Non. Biarin tu Nenek lampir nungguin di dalam sana." Disya kembali teringat akan perbuatan Nyonya Mona saat di taman tempo hari, itulah yang membuatnya tidak menyukai wanita yang berstatuskan mertua dari nonanya.
Filia menatap Disya sekilas, ia merasa lucu karena wanita itu berani mengatai Nyonya Mona dengan sebutan 'Nenek Lampir'.
"Jangan gitu donk, Mbak. Mau bagaimanapun buruknya Nyonya Mona terhadapku, selagi statusku masih istri Mas Gryson, maka dia akan tetap menjadi mertuaku, orang tuaku juga," jawab Filia, ia tidak ingin membuat Disya dalam masalah, khawatir jika ada anak buah Nyonya Mona yang tak sengaja mendengar percakapan mereka.
Disya membuang pandangannya ke arah lain saat ia melihat tatapan Filia yang sedikit berbeda dari saat ia mengatai mertuanya.
"Oke, aku ngerti. Tapi, lain kali Mbak tidak perlu berkata seperti itu lagi. Akan lain urusannya jika sampai ada orang yang melaporkan ucapan Mbak saat ini padanya."
Ucapan Filia hanya ditanggapi dengan anggukan serta senyuman kecil oleh Disya. Disya selalu berfikir jika Filia merupakan orang yang terlalu baik dan kurang teliti sehingga membuatnya rugi.
Disya menarik nafas panjang terlebih dahulu, sebelum ia mengikuti langkah Filia yang memasuki bangunan restoran itu.
Saat Filia dan Disya hendak memasuki rumah makan itu, mereka di sambut langsung oleh pelayan yang sedang berdiri di depan pintu, lalu mengarahkannya ke ruang VIP tempat di mana Nyonya Mona berada.
__ADS_1
Filia bisa melihat siluet Nyonya Mona dari dinding kaca yang berwarna gelap itu, begitupun dengan Disya.
"Nona, aku tunggu di sini saja, ya. Gak enak juga kalau dengerin obrolan kalian," ucap Disya saat mereka masih berdiri di depan pintu masuk ruang VIP itu.
"Baiklah, aku akan segera menghubungi Mbak, jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan." Filia mengangguk dan membiarkan Disya untuk mencari tempat duduknya sendiri, sedangkan dirinya segera masuk ruangan VIP dan menemui Nyonya Mona.
Filia membuka pintu ruang VIP itu dengan gugup, bahkan tangannya pun sedikit bergetar. Namun, ia berusaha untuk menyembunyikan kegugupan itu dengan menampilkan senyuman tipis di wajahnya.
Nyonya Mona sudah menunggu kedatangan Filia, sama halnya dengan Filia, Nyonya Mona pun merasa cemas dan gugup.
Ceklek
Pintu ruangan yang sedari tadi tertutup pun, kini terbuka. Orang yang sedari tadi ia tunggui sudah hadir di sana, dengan segera Nyonya Mona bangkit dari duduknya dan menghambur memeluk Filia. Perasaan bersalah yang ia rasakan di hatinya begitu besar, hal itulah yang membuat Nyonya Mona menangis di bahu Filia.
Sedangkan Filia sendiri masih mematung, bahkan napasnya tertahan tanpa ia sadari. Perlakuan Nyonya Mona yang berubah secara tiba-tiba, membuat Filia heran sekaligus waspada. Filia masih meragukan perubahan sikap mertuanya, ia khawatir jika itu hanyalah bagian dari sandiwara yang tengah dijalaninya.
Filia mendorong pelan tubuh Nyonya Mona yang masih memeluk dirinya.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Filia setelah pelukan itu terlepas.
__ADS_1
"Lia, maafkan Mama. Sikap Mama terhadapmu sudah sangat keterlaluan. Mama sadar, semua yang Mama lakukan padamu pasti akan membuatmu ragu untuk memaafkanku. Tapi, Mama mohon, Lia. Maafkan Mama."