
Hari ini di rumah Filia terasa sedikit sibuk, Bi Inah sejak tadi pagi tidak berhenti mengarahkan beberapa pelayan untuk membereskan rumah serta ia juga memasak beberapa hidangan berbeda dalam porsi yang cukup banyak.
"Mbak, sebenarnya ini ada acara apa? Kenapa sepertinya pagi ini orang-orang terasa sangat sibuk?" katanya Filia pada Disya yang selalu setia berada di sisinya.
Sepanjang hari ini ia merasa sangat pening ketika keluar dari kamarnya, bagaimana tidak orang-orang terus-menerus berseliweran saat ia melewati ruang tamu.
"Aku juga kurang tahu pasti, Nona. Coba Anda tunggu sebentar, biar aku tanya Bi Inah dulu," saran Disya seraya mulai menghampiri Bi Inah yang sedang membantu pelayan di dapur.
Filia pun mengangguk dan menyetujui saran Disya, ia duduk di sofa ruang tamu dan terus memperhatikan orang-orang yang masih berseliweran di sana.
Tak lama kemudian, Disya pun kembali menghampiri Filia yang sedang membaca majalah. Filia segera menyimpan kembali majalahnya dan menatap Disya dengan pandangan bertanya.
"Anu, Nona ...."
Disya menggantungkan ucapannya karena ia sendiri tidak diberitahukan alasannya oleh Bi Inah. Justru Bi Inah meminta dia untuk membawa Filia ke dalam kamarnya hingga ia mendapatkan perintah lanjutan.
"Anu apa, Mbak?" tanya Filia dengan penasaran.
"Itu ... itu, Non ... aku ... Bi Inah ...."
Filia semakin menautkan alisnya saat melihat Disya yang berbicara dengan gugup.
"Mbak, kenapa kamu seperti ini? Apa di rumah ini akan ada acara?" tanya Filia lagi.
Disya berdiri dengan tidak tenang, bola mata gadis itu terus bergerak kesana-kemari tidak menentu. Namun, Filia tidak bisa menebak apa yang sedang dirasakan oleh Disya.
"Anu ... Nona, Ibu dan Bapak yang memerintahkan untuk menyambut kedatangan beliau bersama Tuan Muda. Juga ...."
"Benarkah, Mbak? Ye!" Filia berseru senang. "Aku sudah sangat merindukan mereka bertiga," sambungnya.
Belum sempat Disya menyelesaikan ucapannya, Filia sudah lebih dulu bersorak kegirangan saat mengetahui jika kedua orang tua beserta kakak laki-lakinya ajan segera pulang. Sedangkan Disya hanya tersenyum kaku, ia juga senang saat mendengar ketiga majikannya akan segera pulang.
__ADS_1
Apalagi ia mendapat kabar bahwa Rainer sudah kembali normal, meskipun pria itu masih jarang untuk berbicara dan hanya berkata seperlunya saja. Disya melupakan sesuatu penting lainnya.
Hingga tak lama kemudian, seseorang datang mengetuk pintu rumah mereka.
"Biar aku aja yang buka, Non." Disya melangkah menuju pintu utama, sedangkan Filia menunggunya di sofa.
***
Setelah kemarin Nyonya Mona dan Gryson saling terbuka, hari ini mereka berniat untuk mengunjungi rumah Filia. Nyonya Mona sudah mempersiapkan semua yang akan dibutuhkannya nanti, ia akan meminta Filia untuk pulang kembali bersamanya.
Senyuman Gryson terus mengembang sejak pagi. Pria itu terlihat sangat bersemangat hari ini, apalagi Nyonya Mona mengajaknya untuk menjemput Filia.
"Grys, apa kamu sudah siap?" tanya Nyonya Mona pada anaknya yang sedang mematut diri di depan cermin.
Gryson mengalihkan perhatiannya pada sang Mama, sebelum menjawab, "Sudah, Ma. Aku sudah siap."
"Ya sudah, ayo segera kita berangkat. Teman-temanmu juga sudah menunggumu di ruang keluarga," ucap Nyonya Mona yang memberitahukan kedatangan Gio dan Aramon.
"Bagaimana bisa ada Gio dan Aramon, Ma?" tanya Gryson sembari melangkah mendekati mamanya.
"Mama yang memberi tahu mereka untuk datang menemani kita," jawab Nyonya Mona seraya tersenyum hangat.
"Apa Mama sudah memberitahukan mereka jika aku sempat mengalami amnesia?" tanya Gryson lagi.
Nyonya Mona menggeleng pelan. "Tidak Grys, semalam Mama menelpon Clara untuk meminta Gio dan Aramon untuk pergi bersama kita ke rumah Filia."
Gryson membulatkan matanya saat mendengar Nyonya Mona yang menelpon Clara. Apa Mama lupa jika Clara sedang berusaha untuk mendekatiku? tanyanya dalam hati seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Nyonya Mona merasa aneh pada anaknya saat Gryson mengusap wajah seperti sedang frustasi.
"Kamu kenapa, Grys? Apa ada yang salah jika Mama meminta Gio dan Aramon untuk mengantar kita ke rumah Filia?"
__ADS_1
"Bukan, tidak ada yang salah dengan itu. Tapi, apa Mama lupa jika Clara tidak menyukai Filia?"
Seperti tersadar dengan sesuatu, Nyonya Mona seketika terdiam, ia lupa anak buahnya pernah mengatakan jika Clara hampir saja membuat Filia jatuh mereka sedang berada di rumah sakit.
"Ya Tuhan, Grys. Mama lupa, waktu di rumah sakit juga Clara pernah hampir melukai Filia. Tapi, untung saja waktu itu gadis yang bersamanya cepat menahan tubuh Filia agar tidak terjatuh," ujar Nyonya Mona.
Kini mata tajam Gryson semakin memancar saat mendengar pernyataan bahwa suara pernah hampir melukai istrinya. Ia tidak menyangka jika adik perempuan sahabatnya bisa sampai hati melakukan tindakan rendahan seperti itu.
Kurang ajar, ternyata sikap Clara dan Gio cukup bertolak belakang. Berani-beraninya dia berniat untuk melukai istri dan calon anakku, batin Gryson seraya mengepalkan tangannya. Amarahnya seketika mencuat begitu saja mendengar orang yang disayanginya hampir dilukai oleh seseorang.
"Grys, maafkan Mama. Mama benar-benar lupa," ucap Nyonya Mona dengan lirih.
"Sudahlah, Ma. Sebaiknya kita segera temui mereka, kita juga harus terus memantau Clara. Harap-harap dia tidak melakukan tindakan bodoh lagi," ujar Gryson sambil mengusap bahu mamanya.
Setelah percakapan itu selesai, Nyonya Mona beserta Gryson pun mulai berjalan ke ruang tamu tempat dimana ketiga orang itu berada.
"Kak Grys!" Clara berseru seketika melihat Gryson yang muncul dari dalam kamarnya, ia tidak memedulikan tatapan tajam kakaknya. Gadis itu bersikap acuh dan langsung memeluk Gryson di hadapan Nyonya Mona beserta teman-temannya, bahkan Clara juga langsung memeluknya.
Seketika itu juga orang-orang di sana membelalakkan matanya saat melihat tingkah Clara yang menurutnya berlebihan terhadap suami orang. Terutama Gio, pria itu tidak menyangka jika adiknya bisa seagresif itu pada Gryson, yang merupakan suami dari sahabat sendiri. Lantas, ia pun segera bangkit dan menarik Clara secara paksa sehingga gadis itu melepaskan tubuh Gryson dari dekapannya.
"Ra, apa yang sedang kamu lakukan, hah?!" sergah Gio terhadap adik perempuannya, ia merasa malu sekali terhadap Gryson yang merupakan sahabatnya.
"Abang, apa-apaan, sih?! Padahal aku hanya memeluknya sebentar saja," ucap Clara seraya mengerucutkan bibirnya. Gadis itu bersikap seimbang mungkin untuk mencuri perhatian Gryson. Namun, Gryson tidak terpengaruh sama sekali, bahkan pria itu merasa ilfil sendiri ketika melihat tingkah Clara.
"Kamu yang apa-apaan, Ra. Sudahlah, lebih baik kita pulang saja. Maafkan tingkah Clara, Grys, Tante. Kami pulang saja, aku khawatir Clara akan membuat masalah di sana," ucap Gio yang merasa tidak enak hati pada Gryson dan Nyonya Mona.
Tanpa menunggu lama, Gio langsung berlalu dari hadapan ibu dan anak itu, sedangkan Clara meronta-ronta minta dilepaskan. Gadis itu menolak diajak pulang oleh kakaknya.
Gryson, Nyonya Mona serta Aramon masih terdiam. Mereka masih tercengang karena tidak menyangka Clara yang mereka kenal merupakan gadis baik serta lugu, sudah berubah menjadi wanita agresif dan tidak tahu malu.
"Ehmmm." Gryson berdehem untuk menghilangkan kecanggungan yang terjadi beberapa saat lalu.
__ADS_1
Maaf di gantung dulu ya 🙏🙏