Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 43


__ADS_3

Nyonya Rini dan Tuan Dean dibuat geram oleh keponakannya. Bagaimana tidak, menjelang waktu subuh, keponakannya itu baru pulang ke rumah dalam keadaan setengah sadar, alias mabuk. Bau alkohol yang sangat menyengat menguar begitu saja dari mulut Bellina.


"Pah, Mama sudah tidak tahan lagi untuk terus mendiamkan dia seperti ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Nyonya Rini pada suaminya saat mereka sudah membantu Bellina untuk berbaring di atas tempat tidurnya.


"Sabarlah dulu, sayang. Aku juga sudah lelah dengan semua tingkahnya. Tapi untuk sekarang kita tidak bisa melakukan apa-apa karena kita belum mengetahui tempat persembunyian Ellena." Tuan Dean memijit pelipisnya yang terasa pening. Ia sudah berusaha keras untuk mencari keberadaan istri dari kakak iparnya itu, tetapi hingga saat ini masih belum juga menemukannya.


"Apa Papa masih belum menemukan keberadaan Kak Lena?" tanya Nyonya Rini.


"Belum, Ma. Papa sudah mengutus salah seorang detektif untuk mengikuti Bellina, tetapi masih belum menemukannya sampai sekarang."


"Hmmm, bagaimana jika kita meminta bantuan Gryson, barangkali dia bisa membantu kita?"


Tuan Dean terdiam sejenak dan memikirkan ucapan sang istri, sebenarnya ia merasa malu jika harus melibatkan menantunya untuk membereskan masalah keluarganya. Hanya saja, ia juga ingin masalah itu cepat selesai. "Baiklah. Besok siang Papa akan mencoba untuk menemuinya."


Bellina sangat pandai sekali untuk menutupi keberadaan Mamanya itu. Hingga tidak ada seorang pun yang bisa mengetahuinya, Nyonya Ellena sendiri sangat pandai dalam melakukan penyamaran, sampai-sampai jarang ada orang yang mengetahui kebenaran tentang dirinya.


Suami Nyonya Ellena merupakan kakak tiri Nyonya Rini. Awalnya persaudaraan mereka sangatlah dekat, tetapi pada saat kedua orang tua Nyonya Rini meninggal, kakak tirinya tidak terima jika harta milik kedua orang tua Nyonya Rini hanya diberikan padanya sebesar 40%, sedangkan yang 60% nya diberikan pada Nyonya Rini yang memang merupakan anak kandung mereka. Tanpa mereka sadari, harta membuat sebuah keluarga itu berpecah belah. Nyonya Rini pernah hendak memberikan 10% hartanya untuk sang kakak, tapi kakak tirinya tidak terima dan ingin 60% harta Nyonya Rini itu menjadi miliknya.


***


Keesokan harinya.


Tuan Dean duduk berhadapan dengan sang menantu, setelah ia menceritakan semua keadaannya pada Gryson, kini mereka pun berpikir bersama untuk mencari jalan keluar itu bersama-sama.


Gryson awalnya merasa heran karena mendengar bahwa mertuanya berkunjung ke perusahaan dan ingin bertemu secara pribadi dengannya.Tanpa berpikir panjang, ia pun menerima kunjungan mertuanya itu. Ia mendengarkan semua cerita yang disampaikan oleh Tuan Dean padanya, hingga akhirnya ia pun mengerti bagaimana posisi istrinya saat ini.

__ADS_1


"Jadi, apa sekarang kamu bisa membantu keluarga kami?" tanya Papa Dean saat selesai udah selesai menceritakan tentang masalahnya.


"Aku akan usahakan untuk membantu Papa dan Mama sebisaku. Tapi, mengenai masalah ini, apa tidak sebaiknya dibicarakan juga dengan Filia? Aku khawatir Filia akan semakin merasa sedih jika dia tidak mengetahui hal yang sebenarnya." Gryson mengutarakan isi hatinya yang sedari tadi ia pendam.


"Hmmm, kamu coba sampaikan saja padanya. Tapi, maaf ... untuk sementara ini kami belum bisa menemuinya secara terang-terangan. Papa hawatir jika Bellina akan mencurigai gerak-gerik kita nantinya," jawab Tuan Dean.


Gryson pun mengangguk mengerti, ia cukup paham posisi mertuanya saat ini. "Baiklah. Aku akan menceritakan semua yang terjadi padanya. Filia pasti bisa mengerti keadaan kalian berdua."


"Terima kasih, Grys. Tolong jaga Filia baik-baik, dia adalah anak kesayangan kami satu-satunya."


"Tentu saja, Pah. Aku mohon doanya agar pernikahanku dengan Filia berjalan normal sampai maut memisahkan."


"Ngomong-ngomong, sudah sejauh mana pendekatan kalian? Apa Papa dan Mama sebentar lagi akan mendapatkan kabar bahagia?" tanya Tuan Dean dengan penuh harap.


"Semoga secepatnya, ya."


"Amin. Terima kasih doanya, Pah."


Setelah mereka selesai berbincang, Tuan Dean pun pamit dari sana, ia harus kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat ditunda demi menemui menantunya itu.


Kini tinggal hanya Gryson yang ada di ruangan itu. Ia masih terus memikirkan permasalahan yang sedang menimpa keluarga sang istri. Ia tidak mengira jika masalah yang sedang menimpa istrinya itu sangatlah rumit.


Kira-kira apa Lia bisa menerima semua alasan yang diberikan oleh keluarganya? Bagaimana cara aku nanti untuk menyampaikannya? Aku harap Lia bisa memaafkan kedua orang tuanya yang sedang berusaha untuk melindunginya, batin Gryson.


***

__ADS_1


Hari ini Filia bermaksud untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang ada di kota itu. Ada sesuatu yang perlu dibelinya. Setelah puas berkeliling sendirian, ia pun mampir ke sebuah stand makanan untuk makan siang. Namun, baru saja ia duduk di salah satu meja yang ada di sana, tak sengaja telinganya menangkap suara yang menurutnya tidak asing.


Seperti suara Mama Mona. Filia berbalik dan tak sengaja ia melihat tiga orang yang dikenalnya sedang duduk bersama, ketiga orang itu adalah Nyonya Mona, Bellina dan Tante Ellena.


"Sedang apa mereka di sini?" gumam Filia pelan sambil sesekali menengok ke belakang. Ia merasa penasaran dan mencoba untuk mendengarkan isi dari percakapan mereka.


"Bagaimana kabarmu, Jeng Mona?" tanya Tante Ellena saat mereka baru duduk di meja makan yang mereka pesan. Sebelumnya mereka sudah janjian untuk bertemu bersama di sebuah pusat perbelanjaan.


"Kabarku, baik. Apa alasan kalian meminta bertemu denganku?" tanya Nyonya Mona dengan nada angkuh.


Cih, andai saja bukan untuk menghancurkan pernikahan keponakanku, aku tidak akan pernah mau bersapa dengannya. Tingkahnya yang arogan membuatku enggan untuk berbicara lama-lama dengan dia, batin Tante Ellena sambil memaksakan wajahnya untuk senyum, sedangkan Bellina hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa, sebab dia juga tidak mengenalnya Nyonya Mona.


"Tidak ada apa-apa, Jeng. Kami hanya ingin mengajakmu makan siang bersama." Tante Ellena duduk di seberang kursi Nyonya Mona, sedangkan Bellina duduk di sebelahnya.


Nyonya Mona mendelik saat mendengar penuturan dari sesama teman arisan, tadinya ia yang menyanggupi untuk bertemu dengan Tante Ellena itu karena dia punya sesuatu yang serius untuk dibicarakan.


Nyonya Mona sekilas melirik Bellina, tapi ia tidak berniat untuk menanyakan dan menyapanya. "Katakan, hal apa yang ingin kamu sampaikan padaku?"


Tante Ellena dan Bellina sekilas saling tatap saat Nyonya Mona bertanya seperti itu, mereka sadar jika orang di depannya itu tidak suka basa-basi.


"Hmmm, sebelumnya ... Apakah Anda tidak ingin mengetahui siapa yang sedang bersamaku saat ini?" tanya Tante Ellena, ia mencoba untuk memperkenalkan Bellina pada Nyonya Mona.


Nyonya Mona melirik tajam pada teman arisannya itu. Dia tidak suka jika harus bertanya terlebih dulu, apalagi menurutnya hal itu tidaklah penting. "Apa kamu meminta aku bertemu hanya untuk berbasa-basi?"


Tante Ellena terlihat gelagapan saat ia mendengar pertanyaan dari Nyonya Mona. "Ti–tidak, bukan begitu, Jeng." Ia menegakkan punggungnya sebelum bertanya, "Apakah benar Anda sedang mencoba untuk memisahkan anak dan menantu Anda?"

__ADS_1


__ADS_2