Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 62


__ADS_3

Senyuman yang sejak tadi tersungging di bibir Bellina kini telah sirna saat ia membuka gulungan yang di kiranya surat pengangkatan status anak, tapi ternyata bukan. Kertas itu adalah surat penangkapan dirinya.


"Ma, Pa, apa yang kalian lakukan? Bukankah kalian berjanji akan mengangkat ku sebagai anak?" tanya Bellina pelan, setengah berbisik dan mencengkram tanya Nyonya Rini.


Nyonya Rini melepaskan cengkraman tangannya dari Bellina, ia tak lagi menunjukkan sikap ramah dan hangatnya pada sang keponakan.


"Lepaskan tanganku! Dan jangan memanggilku dengan sebutan Mama. Aku tidak pernah mempunyai anak sepertimu!" ucap Nyonya Rini sambil menghempaskan tangannya secara kasar hingga hampir membuat Bellina terhuyung ke belakang.


Para tamu undangan dibuat terkejut oleh pemandangan yang tengah mereka saksikan di atas panggung. Rata-rata mereka melihat sambil berbisik pada sesama tamu lainnya. Sedangkan, Filia hanya terdiam tanpa mau mengindahkan bisikan para tamu dan hanya fokus melihat mama, papa serta Bellina yang masih berdebat di depan sana.


"Apa-apaan dengan sikap kalian?" Bellina meradang saat mendapat perlakuan kasar dari Nyonya Rini.


"Apa-apaan? Kamu yang apa-apaan, hah? Kamu menjebak anakku dan menjualnya pada pria hidung belang." Nyonya Rini melangkah mendekati Bellina sebelum akhirnya ia menampar wajah mulus dan terawat milik keponakannya dan kembali berkata, "Aku tidak sudi menganggapmu sebagai anakku, silakan pergi dari sini!" sambung Nyonya Rini sambil menunjuk wajah Bellina.


Rasa terkejut Bellina tak hanya sampai di sana, saat masih ada dalam rasa terkejut, tiba-tiba datang segerombol polisi yang naik ke atas panggung dan segera menangkapnya.


"Ma–Mama?" Bellina menatap Nyonya Rini dengan pandangan iba dan penuh permohonan. "Mama tolong jangan lakukan ini padaku, aku mohon," ucapnya sambil mengibas-ibaskan tangannya dari cekalan para polisi.


"Tidak ada alasan bagiku untuk tidak menjebloskanmu ke dalam penjara, Bellina! Sikapmu sudah keterlaluan pada anakku, sehingga membuatnya menderita. Kamu sudah memanipulasi semua uang perusahaan suamiku, juga sudah mengambil sebagian keuntungan dari salon dan butik yang aku miliki tanpa sepengetahuanku." Nyonya Rini tidak lagi menunjukkan tatapan lembutnya pada sang keponakan, ia sudah terlanjur marah dan kecewa terhadap Bellina.


"Pa ...."


Kini giliran Tuan Dean yang dihampiri oleh Bellina, wanita muda itu berharap Papa sepupunya masih mau untuk menolong dan membebaskannya dia dari polisi yang masih mencengkram tangannya.


"Jangan panggil aku dengan sebutan 'Papa'. Kamu bukan anakku dan tidak akan pernah menjadi anakku." Tuan Dean membuang wajahnya ke arah lain, agar ia tidak menatap Bellina yang sedang mengiba padanya.

__ADS_1


"Pa, Ma, kalian tidak bisa lakukan ini padaku." Bellina masih kukuh untuk melepaskan diri dari para polisi itu.


"Cepat, bawa dia dan semua antek-anteknya!" perintah Tuan Dean pada beberapa polisi yang berada di sana.


"Baik, Tuan."


Polisi itu segera berlalu sambil membawa Bellina di tangan mereka. Namun, baru beberapa langkah mereka pergi, tiba-tiba Bellina berteriak, "Om Dean, aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini! Aku tahu rahasia besarmu!"


Suasana yang tadinya sempat ricuh, kini mendadak sepi. semula tatapan para tamu undangan yang tadi terarah pada Bellina, kini tatapan itu mengarah pada Tuan Dean. Begitupun dengan Nyonya Rini yang langsung menatap ke arah suaminya.


"Apa yang dimaksud Bellina tadi, Pa? Apa yang Papa rahasiakan dariku?" tanya Nyonya Rini sedikit berbisik pada suaminya.


Tuan Dean menggeleng sambil menatap heran pada Nyonya Rini, ia merasa tidak mempunyai rahasia apapun. "Papa tidak mempunyai rahasia apapun, Ma."


Bellina tersenyum miring sambil menahan rasa kebas yang menjalar di pipinya. "Aku sama sekali tidak mencoba untuk menghasutmu, Tante. Yang aku katakan itu adalah kebenaran. Om Dean mempunyai seorang anak dari perempuan lain, sebelum ia menikah dengan Tante. Jika Tante tidak mempercayaiku, silakan saja. Sekarang anak itu ada di sini bersama mamaku dan mungkin sebentar lagi dia akan mati."


Baik Nyonya Rini, Tuan Dean, maupun Filia dibuat terkejut oleh ucapan yang baru saja dilontarkan keponakannya. Filia yang sedari tadi hanya terdiam diri, kini melangkah ke depan menuju kedua orang tuanya yang sedang berhadapan dengan Bellina.


"Apa maksud perkataanmu itu, hah?" tanya Filia dengan geram.


Bellina menyunggingkan senyum sinis kala melihat raut wajah Filia yang sedang geram padanya. "Aku benar-benar tidak sedang berbohong, Filia. Kamu memang mempunyai seorang kakak laki-laki dari Papamu. Hanya saja Ibunya sudah meninggal karena papamu saat itu tidak mau menikahinya dan malah memilih Ibumu."


Lain halnya dengan Tuan Dean, pria paruh baya itu terdiam kaku sambil terus mengingat-ingat wanita yang pernah menjadi masa lalunya. Tidak mungkin jika Vera sampai melahirkan, kan? tanyanya dalam hati.


Nyonya Rini menatap tajam suaminya, ia masih tidak percaya dengan bualan yang dilontarkan oleh keponakannya. "Pa, itu semua tidak benar, kan? Papa tidak pernah mengkhianatiku, kan?" tanya Nyonya Rini sambil mengguncang bahu suaminya yang masih terdiam.

__ADS_1


"A–ku ... aku ... aku memang tidak pernah menghianatimu, Ma. Tapi ...."


Tuan Dean menggantungkan ucapannya, ia masih ragu jika anak itu adalah anaknya.


"Tapi apa, Pa?" tanya Nyonya Rini tidak sabar.


Filia juga ikut menatap dan menunggu perkataan yang akan meluncur dari papanya. Tuan Dean menunduk dalam sebelum berkata, "Kamu tahu, kan, Ma. Dulu kita menikah karena dijodohkan dan saat itu kamu juga tahu aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang?"


Nyonya Rini terdiam mendengar pertanyaan dari sang suami. Ia memang ingat, dulu saat mereka menikah suaminya tidak terlalu mencintainya seperti saat ini, karena masih terbayang wanita yang menjadi masa lalunya.


"La–lalu, a–apa yang sudah terjadi diantara kalian?" Nyonya Rini bertanya dengan terbata-bata. Suaranya seakan tercekat di antara tenggorokan, ia masih syok karena tidak mengetahui masalah ini.


"Aku dan Vera ... kami ...." Tuan Dean tidak mampu melanjutkan perkataannya, ia sendiri pun tidak menyangka jika mantan kekasihnya dulu sempat hamil anaknya.


Nyonya Rini yang sudah terlanjur emosi langsung menarik tangan suaminya agar menjauh dari para tamu, dalam hatinya sungguh kecewa akan sikap sang suami yang tidak jujur dari awal padanya. Padahal pernikahan mereka sudah berlangsung sekitar hampir dua puluh satu tahun, tapi selama itu Tuan Dean tak pernah mengatakan apapun.


Filia yang melihat kedua orang tuanya pergi, ia bergegas meminta maaf pada para tamu karena menyaksikan hal yang tak mengenakan di acara itu. Setelahnya, ia juga meminta pengawal yang ditugaskan kedua orang tuanya untuk membubarkan mereka semua.


"Pak, tolong bubarkan para tamu itu, ya! Saya harus menyusul Mama dan Papa," perintah Filia yang langsung diangguki oleh para bodyguard orang tuanya.


"Baik, Nona."


Bellina tersenyum menyeringai saat melihat acara yang ia adakan hancur dan tidak hanya dirinya yang di permalukan. Namun, kedua orang tua sepupunya pun berhasil ia seret dan menanggung rasa malu, sama seperti dirinya..


See, sekrang tidak hanya aku yang menanggung malu di sini. Tapi mereka juga meresakan apa yang kurasakan sekarang, batin Bellina sat ia melihat wajah cemas Filia yang sedang berbicara pada para pengawal.

__ADS_1


__ADS_2