
Setelah acara sarapan bersama selesai, Gryson pamit untuk pergi bekerja. Filia tidak menyadari jika penampilan suaminya sedikit berbeda dari biasanya, tetapi saat mobilnya sudah berangkat barulah ia sadar.
"Tumben Mas Grys tidak memakai pakaian formal seperti biasanya?" gumam Filia sambil terus menatap mobil yang dikendarai oleh suaminya itu sebelum menghilang dari pandangannya.
Ya, Gryson sama sekali tidak menceritakan keadaannya pada Filia, bukan niat untuk menutupinya, hanya saja ia tidak ingin Filia menjaga jarak lagi karena merasa bersalah padanya.
Gryson menjalankan mobilnya ke arah restorannya berada, mulai sekarang ia akan bekerja dan mengawasinya sendiri di sana, mungkin kapan-kapan ia akan membawa Filia datang ke sana.
Para staf yang ada di sana sudah berjejer rapi untuk menyambut kedatangannya.
"Selamat datang, Tuan," sapa sang manager.
"Pagi juga. Seperti yang sudah saya bicarakan kemarin sore, mulai saat ini, saya akan ikut bergabung bersama kalian. Jadi, mohon bantuannya dan mari bekerja sama untuk menjalankan restoran ini," ucap Gryson saat ia sedang melakukan briefing pagi.
"Baik, Tuan." Para staf di sana kompak menjawab ucapan atasan.
Setelah briefing itu selesai, barulah mereka membubarkan diri dan menjalankan tugasnya masing-masing, sedangkan Gryson berjalan menuju ruang pribadinya, diikuti oleh manager dengan membawa beberapa berkas pembukuan yang harus ia periksa.
"Silakan, Tuan." Manager itu menyimpan berkas di atas meja yang sudah disiapkan milik atasannya.
"Terima kasih, Toni," ucap Gryson pada managernya yang bernama Anthoni.
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu, saya permisi undur diri." Anthoni membungkuk sedikit sebagai tanda hormat sebelum ia pergi meninggalkan ruangan Gryson.
"Ya, silakan."
Sepeninggalan Anthoni, Gryson mulai membuka berkas pembukuan yang ia terima tadi. Ia memang biasa datang ke sana dan rutin seminggu sekali untuk memantau perkembangan restorannya itu.
***
Filia sendiri di rumah itu, ia juga belum tahu tentang daerah ini. Rumahnya ada di kawasan perumahan menengah ke atas. Jadi suasana di sana cukup sepi karena orang-orang mungkin sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Filia bingung harus berbuat apa, pekerjaan di rumah itu pun sudah selesai sejak tadi pagi.
"Akh, bosannya ...!"
__ADS_1
Ia pun mengambil ponsel yang berada di kamar dan mencoba untuk menghubungi kedua orang tuanya.
Tut ... tut ... tut ....
Cukup lama menunggu, tapi panggilan itu tidak terjawab.
"Apa Mama sedang sibuk?" gumam Filia sambil memutar-mutar ponsel yang ia genggam.
"Aku coba chat dulu, deh."
Ia pun mengetikkan beberapa kata sebelum mengirimnya pada sang mama.
Me 📨
Hallo, Ma. Apa kabar?
Mama sibuk tidak?
Lia rindu dan ingin telpon ...
Mama 📩
Ada perlu apa kamu menelpon Mama?
Mama sedang sibuk, tidak bisa diganggu!
Filia menatap sedih ponselnya, tadinya ia berharap bisa berkomunikasi dengan Mama Rini, tapi jawaban yang diberikan oleh mamanya membuat Filia sesak dan sakit secara bersamaan.
Tidak putus asa, ia pun kembali mengirimkan pesan lagi.
Me 📨
Lia rindu Mama.
Mama sedang sibuk apa?
__ADS_1
Filia terus menatap ponselnya, pesan itu langsung terbaca, tapi tidak mendapat tanggapan. Beberapa menit berlalu, Filia tidak juga mendapatkan balasan pesan dari mamanya.
Sebenarnya kenapa Mama dan Papa berubah? Sikap mereka menjadi dingin terhadapku, apa alasannya? Kenapa mereka menjauhiku? batin Filia bertanya-tanya atas perlakuan kedua orang tuanya.
***
Disisi lain, Mama Rini dan Papa Dean sedang berbincang hangat dengan keponakannya, Bellina. Bellina duduk di tengah keluarga itu, bahkan ia tak segan-segan untuk bermanja-manja pada orang tua sepupunya itu.
"Tante, tadi Lia berkata apa?" tanya Bellina karena ia tadi melihat sekilas pesan yang diterima oleh Mama Rini.
"Biasalah, jangan hiraukan anak itu. Lagipula kamu yang saat ini bersama kami."
Mendengar ucapan Mama Rini, Bellina bisa menilai jika sekarang Mama Rini tidak memperdulikan anaknya itu, ia pun menyeringai. Puas kamu Filia ...! Orang tuamu tidak lagi mempedulikan mu ...!
Mama Rini dan Papa Dean benar-benar berubah total sikapnya pada Filia, yang biasanya kedua orang tua itu selalu menghawatirkan anaknya, kini mereka acuh seakan tidak pernah memiliki Filia, bahkan foto-foto Filia pun sudah digantikan dengan foto-foto milik Bellina.
Mereka mulai membenci Filia saat anaknya itu ketahuan oleh warga sedang berduaan di dalam mobil seorang pria, sehingga mereka dipaksa menikah. Ditambah lagi dengan hasutan Bellina yang mengatakan jika Filia-lah yang memintanya untuk pulang sendiri, padahal ia bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya. Dari hal itulah Mama Rini dan juga Papa Dean tidak menyukai Filia maupun Gryson sebagai menantunya.
"Tante jangan seperti itu, biar bagaimanapun Filia tetaplah anak Tante dan Om," ucap Bellina seakan-akan dia membela Filia.
"Sudahlah, sayang. Kamu tidak perlu memikirkan anak itu lagi. Oh ya, mulai saat ini anggaplah kami sebagai orang tuamu. Kamu akan segera menjadi putri angkat kami." Papa Dean memberikan kabar yang sangat mengejutkan, karena memang itulah yang diinginkan oleh Bellina selama ini.
Hal ini juga lah yang mendorongnya untuk melakukan penjebakan terhadap Filia. Tadinya ia berniat untuk menjual sepupunya itu pada seorang pria botak gendut yang ia temui di klub malam, sebelum akhirnya Filia ditemukan oleh warga dan dinikahkan secara paksa.
Sebenarnya ia merasa kesal karena rencananya tidak berjalan dengan mulus, tapi ia mencoba menerimanya saat melihat sosok Gryson yang dingin dan kaku di pernikahan Filia. Saat itu ia yakin jika pria yang menikahi Filia akan menyiksanya bahkan membencinya. Namun, tanpa diduga Bellina pernah melihat interaksi mereka berdua di swalayan dan mereka terlihat memiliki hubungan yang harmonis.
Bellina pun bertambah kesal akan hal itu, ia pun mulai kembali mendekatkan diri pada kedua orangtua Filia dan berusaha untuk mengambil hati mereka, sehingga sampai di titik inilah ia merasa berhasil karena sudah menghasut kedua orang tua sepupunya itu.
"Benarkah? Jadi mulai sekarang aku bisa memanggil kalian dengan sebutan Mama Papa?" tanya Bellina dengan girang.
"Tentu, Bell sayang," jawab Mama Rini sambil memeluknya, sedangkan Papa Dean mengusap sayang kepala Bellina.
"Aku harap kamu tidak akan membuat kami kecewa, seperti Filia yang sudah mengecewakan kami." Mama Rini memeluk sayang Bellina.
"Tentu, Ma. Aku tidak akan mengecewakan kalian berdua, karena aku bukanlah Filia," jawab Bellina sambil membalas pelukan Mama Rini dan menampilkan seringai liciknya di belakang Mama Rini.
__ADS_1
Kamu lihat Filia? Mama Rini dan Papa Dean sekarang adalah orang tuaku juga. Bagaimana dengan perasaanmu saat ini? Apa kau sakit hati? Kalau 'Ya' aku sangat puas.