
Setelah berhasil kabur dari para pengejar, Disya kembali membujuk Reiner untuk ikut bersamanya. Mereka pulang ke rumah milik Disya dan abahnya. Abah Disya sempat heran karena melihat sang cucu yang datang bersama seorang pria. Namun, pria itu terlihat was-was dan tidak nyaman dengan lingkungannya.
"Abah, kenalkan, ini Rainer. Dia temanku," ucap Disya saat abahnya hanya menatap mereka dari ambang pintu.
Abah Disya yang bernama Bah Ija hanya mengangguk samar, ia tidak mengalihkan perhatiannya dari pria yang di bawa sang cucu.
Setelah terdiam dan menatapnya beberapa saat, akhirnya Bah Ija pun berkata, "Baiklah. Bawa dia ke dalam. Biarkan temanmu untuk beristirahat sebentar. Setelah itu susulah Abah di dapur," perintahnya yang langsung mendapat anggukan dari Disya.
Disya membawa Rainer masuk ke dalam rumah sederhananya dengan diikuti Bah Ija di belakang mereka. Mereka juga memberikan makanan untuknya dan membiarkan Rainer untuk istirahat di rumahnya.
"Rain, kamu tungguin di sini, 'ya! Istirahat aja dulu, aku mau nyusul Abah ke belakang. Kalau nanti kamu butuh sesuatu, panggil aku aja, 'ya!" ucap Disya sebelum meninggalkan Rainer di ruang tamu rumahnya.
Rainer hanya mengangguk pelan sebagai jawaban ucapan Disya. Pria itu kembali memakan makanannya yang tadi disediakan Disya dan abahnya.
Setelah melihat Rainer tenang, barulah Disya menyusul abahnya ke dapur.
"Ada apa, Bah?" tanya Disya saat ia sudah duduk di kursi meja makan di depan Bah Ija.
Bah Ija menatap mata cucunya serius, baru kali ini Disya mau berhubungan langsung dengan seorang pria. Biasanya gadis itu tidak pernah berteman dengan mahluk yang namanya laki-laki, lebih tepatnya setelah dia mengalami patah hati karena dikhianati oleh mantan tunangannya.
"Disya, Abah tahu bagaimana sifat dan juga kebiasaanmu–" Abah Ija menjeda ucapannya untuk menarik napasnya terlebih dulu sebelum kembali berkata, "Bagaimana bisa kamu membawa seorang pria asing itu bersamamu?"
Disya menatap heran Abah Ija setelah mendengar pertanyaan yang diajukan padanya. "Memang kenapa, Bah? Dia itu cuma pria yang tidak sengaja aku temui pulang kerja tadi. Dia juga sempat dikejar oleh seseorang yang berniat jahat padanya, Bah. Makanya aku memutuskan untuk menolong dan membawanya dia ke sini, gitu," jelas Disya. "Abah gak setuju, 'ya, kalau Disya bantuin dia?" tanyanya lagi.
Abah Ija menggeleng pelan untuk menampik pertanyaan sang cucu, beliau bukannya tidak setuju jika Disya mau membantu Rainer, tapi mereka belum tahu siapa Rainer sebenarnya. Hal itu membuat Abah Ija sedikit khawatir jika Rainer merupakan orang jahat dan berniat buruk pada cucunya.
"Abah bukan gak setuju kamu bantuin temanmu, tapi Abah khawatir kalau dia juga orang jahat. Nanti kamu malah diapa-apain sama dia," jawab Abah Ija.
"Disya yakin dia orang baik, Bah. Lagian kayaknya dia juga ketakutan gitu. Tadi pas Disya nemuin dia, dia lagi lari-larian dan sama sekali gak pakai alas kaki, Bah. Badannya juga penuh luka-luka," ucap Disya sambil menceritakan tentang pertemuan pertamanya dengan Rainer.
Abah Ija memicingkan matanya saat Disya mengatakan tentang luka yang ada di tubuh Rainer.
"Dari mana kamu tahu kalau badan dia luka-luka? Kamu gak macam-macam sama dia, 'kan?" tuduh Abah Ija seraya menunjuk wajah cucunya.
Disya menyingkirkan tangan sang kakek dari depan wajahnya sambil terkekeh geli. "Abah ini ada-ada aja. Emangnya aku berani macam-macam gimana? Tadi Disya sempat membawanya ke Puskesmas dan Disya melihatnya di sana karena dokter yang memeriksanya."
"Ya ... kali aja gitu, Dis. Abah 'kan cuma khawatir aja sama kamu. Kamu teh cucu Abah satu-satunya, jadi Abah gak mau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama kamu."
"Abah tenang aja, Disya pasti bisa jaga diri baik-baik."
Disya dan Abah Ija hanya tinggal berdua, mereka merupakan perantau dari kampung dan berharap untuk merubah nasib di kota yang kini mereka tinggali. Disya gadis yatim piatu, ia besar bersama kakek dan neneknya, tapi belum lama ini sang nenek sudah meninggalkan mereka, tepat setelah Disya memutuskan hubungan dengan tunangannya.
Abah Ija tidak bisa lagi menentang apa yang menjadi keinginan sang cucu, bila hanya berharap jika Rainer benar-benar merupakan orang baik-baik dan bisa dipercaya untuk tidak macam-macam pada cucu kesayangannya.
"Terserah kamu saja, Dis. Abah hanya titip pesan supaya kamu tidak sembarangan percaya pada orang yang baru kamu kenal," ucap Bah Ija sebelum beliau bangkit dari duduknya dan keluar dari dapur itu.
Abah Ija menghampiri Rainer yang sedang tertidur di atas sofa, beliau memperhatikan raut wajah pria muda di depannya dengan dahi yang berkerut.
__ADS_1
Sepertinya dia sedang bermimpi buruk, batin Abah Ija saat melihat kelopak mata Rainer yang bergerak gelisah, beliau juga sempat menyeka keringat yang menetes di dahi pria yang sedang tertidur itu.
Tak lama kemudian, dia datang menghampiri sang kakek yang sedang duduk di samping Rainer. Ia melihat Abah Ija yang menatap dalam teman prianya.
"Abah kenapa ngeliatin Rainer sampai segitunya?" tanya Disya yang merasa heran dengan tingkah sang kakek.
"Tidak ada. Abah cuma lihat dia karena kayaknya tidurnya gak nyaman gitu," jawab Bah Ija sambil menunjuk wajah Rainer dengan dagunya. "Keringatnya aja sampai netes-netes," sambungnya lagi.
Disya mengalihkan perhatiannya, ia menatap wajah Reiner yang terlihat gelisah dengan dahi yang sudah dipenuhi oleh buliran keringat sebesar biji jagung.
"Kayaknya keadaan dia gak baik, 'deh, Bah. Apa kita perlu panggil mantri buat periksa dia lagi?" tanya Disya pada Abah Ija seraya menyentuh kening Rainer yang terasa hangat dengan punggung tangannya.
"Bukannya tadi kamu sudah bawa dia ke puskesmas? Mana obatnya? Pasti belum kamu kasih, 'kan?" Bah Ija menengadahkan tangan meminta obat milik Rainer yang masih di simpan oleh cucunya.
Disya menepuk jidatnya, ia melupakan hal itu. "Maaf, Bah. Aku lupa kasihin tadi," jawabnya sambil tertawa cengengesan.
Abah Ija hanya menggeleng pelan melihat tingkah cucunya yang pelupa. "Kebiasaan kamu, Dis. Ya udah, cepat ambil obatnya kasih Abah, biar Abah yang ngobatin dia."
Disya berlari masuk ke kamarnya untuk mengambil obat milik Reiner yang ia simpan di dalam tas miliknya. Setelah itu, ia pun segera kembali menghampiri Abah Ija dan memberikan obat milik Reiner.
"Nih, Bah, obatnya."
Abah Ija menerima bungkusan obat yang baru saja diberikan oleh cucunya, kemudian beliau membangunkan Reiner dengan cara menggoyangkan bahunya pelan.
"Nak, bangun. Minum dulu obatnya," ucap Bah Ija saat melihat Rainer yang mulai mengerjapkan matanya.
Rainer terkejut saat bangun tidur dan melihat orang yang tidak dikenalnya, ia mundur beberapa centimeter dari jangkauan Abah Ija. Rainer juga menyembunyikan wajah dibalik kedua tangannya.
Disya yang melihat hal itu pun hanya menggeleng pelan, ia juga tidak tahu kenapa Rainer bisa bersikap seperti itu pada sang kakek.
"Aku juga gak tahu, Bah," jawab Disya sembari mendekat ke arah Rainer yang masih menekuk tubuhnya.
"Pelan-pelan, Dis. Kayaknya dia ketakutan banget," ujar Abah Ija pada cucunya.
"Iya, Bah." Disya menjawabnya dengan setengah berbisik agar tidak membuat Rainer semakin ketakutan.
"Rain, ini kami, Disya sama Abah Ija. Kamu gak perlu takut," ucap Disya pada Rainer seraya menyentuh bahu pria itu dengan pelan.
Rainer menepis sentuhan tangan Disya bahunya, tapi Disya tidak menyerah dan kembali menggenggam tangan Rainer agar mau menatapnya.
"Rain, ini Disya. Kamu gak lupa, 'kan? Aku temanmu, lho!" ucapnya lagi.
Rainer terlihat mulai mengangkat wajahnya untuk menatap Disya. Saat pandangan mereka bertemu, tiba-tiba Rainer segera menerjang dan memeluknya, sehingga membuat Disya dan Abah Ijah tercengang melihatnya.
"Jangan pergi, jangan tinggalin aku sendirian." Rainer beberapa kali mengumamkan kalimat itu. Tubuhnya bergetar hebat, syarat akan ketakutan.
"Rain, kamu kenapa, hey?"
__ADS_1
Abah Ija merasa khawatir jika Rainer berbuat hal buruk pada sang cucu, ia hendak bangkit dan mendekat. Namun, Disya memberikan isyarat agar sang kakek tetap tenang karena Rainer hanya memeluknya untuk mencari ketenangan.
"Dis?!"
"Gak apa-apa, Bah. Dia cuma lagi ketakutan aja."
"Tapi dia peluk-peluk kamu, 'lho."
"Gak apa-apa. Mungkin dia memang lagi ketakutan, Bah."
Setelah beberapa saat mendiamkan Rainer memeluknya, Disya pun mulai menarik tubuhnya kembali agar terlepas dari pelukan Rainer dengan perlahan.
"Rain, kamu gak usah takut. Kami gak ada niat buruk sama kamu," ucap Disya dengan menggenggam tangan Rainer.
Rainer mulai melirik Abah Ija yang sedang menatap padanya, Abah Ija yang ditatap Rainer pun langsung tersenyum sedikit kaku.
"I–iya, Nak Rain. Maaf kalau Abah mengejutkanmu, Abah hanya berniat untuk memberimu obat supaya demammu cepat turun," ucap Bah Ija sambil menyampaikan maksud hatinya.
Rainer pun terdiam, tapi bola matanya bergerak gelisah seraya meperhatikan sekeliling tempatnya berada. Tempat itu masih asing untuknya dan Abah Ija yang tadi membangunkannya langsung membuat Rainer ketakutan. Namun, setelah beberapa saat kemudian, Rainer yang sempat ketakutan itu pun mulai tenang.
Disya dengan telaten memberikan obat pada Rainer, sedangkan Abah Ija membantunya dengan mengoleskan salep di beberapa tempat tubuhnya pria kurus itu.
Ya Tuhan, Nak. Ternyata bukan hanya mentalmu yang terluka, tapi tubuhmu pun terluka sangat banyak, batin Abah Ija seraya menatap nanar punggung Rainer yang banyak goresan bekas pecutan cambuk.
Selesai mengolesi punggung Rainer dengan salep, Abah Ija dan Disya pun kembali membiarkan Rainer untuk beristirahat, hari juga sudah semakin larut. Disya masuk ke kamarnya untuk beristirahat, sedangkan Abah Ija memilih untuk menggelar kasur lantai di ruang tamu dan menemani Rainer tidur di sana.
***
Esok paginya, Disya melakukan aktivitas rutin seperti biasa. Namun, kali ini dia tidak segera bekerja dan meminta ijin pada atasannya untuk berlibur satu hari, dengan alasan ada keluarganya yang sedang sakit.
"Kamu sudah ijin atasanmu, Dis?" tanya Bah Ija sambil duduk di samping sang cucu yang sedang menemani Rainer menonton televisi.
Disya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi. "Udah, Bah. Disya libur cuma satu hari ini, 'to."
"Ya udah, gak apa-apa. Nanti kalau Rainer sudah tenang, kamu bisa meninggalkannya bersama Abah di sini."
"Iya, Bah. Disya ngerti."
"Nanti siang kamu tolong Abah belikan pakan ayam di pasar, ya, Dis!" perintah Bah Ija pada cucunya sebelum ia beranjak dari sana.
"Iya, Bah. Boleh gak kalo aku ajak Rain juga ke pasar, Bah?" tanya Disya sebelum Abah Ija benar-benar pergi dari sana.
"Terserah kamu saja, Dis. Yang penting hati-hati di jalan," jawab Bah Ija tanpa membalikkan tubuhnya.
"Rain, kamu mau ikut aku ke pasar gak?" tanya Disya pada pria yang berada di sampingnya yang sedang menikmati acara kartun yang tayang di televisi itu.
"Pasar? Mau ketoprak, boleh?" tanya Rainer antusias.
__ADS_1
Biasanya Ibu panti selalu mengajak Rainer ke pasar untuk menikmati makanan kesukaannya, makanya dia sangat antusias saat Disya juga mengajaknya.
"Tentu," jawab Disya yang semakin membuat senyum Rainer mengembang.