
Gryson dan Nyonya Mona cukup lama beranda di kediaman Filia. Mereka memang berniat untuk menunggu kedatangan kedua orang tuanya.
Saat Filia, Disya, Gryson, dan Nyonya Mona sedang bercengkrama, terdengar dari luar suara deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan pintu rumah itu. Semua orang yang sedang duduk di sana, segera bangkit untuk menyambut kedatangan tuan rumah. Gryson mulai memapah istrinya untuk menghampiri sang mertua yang baru saja sampai.
Pandangan Nyonya Rini dan juga Tuan Dean tampak terkejut ketika mereka sudah turun dari mobil. Mereka tidak menyangka jika di rumah saat ini sedang ramai karena kedatangan besan dan juga menantunya.
Lain halnya dengan Tuan Dean, Nyonya Mona bisa melihat ada setitik rasa kesal pada mata pria itu saat tak sengaja menatapnya. Memang tak akan mudah untuknya mendapatkan maaf dari besannya, setelah apa yang pernah dia lakukan terhadap menantunya, pasti itu akan membuat kedua orang tua Filia sulit memaafkannya.
"Mama, Papa ...." Filia menyapa kedua orang tuanya terlebih dulu.
Nyonya Rini segera merentangkan tangannya untuk menerima pelukan dari Filia. "Kamu baik-baik saja 'kan, sayang?" tanyanya dengan khawatir. Dia khawatir jika Nyonya Mona sampai menyakiti putrinya lagi.
"Aku baik-baik saja, Ma. Mama tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu," ucap Filia saat mengetahui sang mama tengah mengkhawatirkannya.
Nyonya Mona segera menghampiri pasangan itu untuk meminta maaf, meskipun dia sedikit tersinggung dengan nada bicara Nyonya Rini saat menanyakan kabar Filia, tapi dia mengerti dan memakluminya.
"Jeng Rini, Mas Dean, saya minta maaf. Saya tahu, kesalahan saya sangat besar pada Filia. Tapi, tolong maafkan semua itu. Sekarang saya sudah sadar," ucap Nyonya Mona sambil menundukkan kepalanya, dia terlalu malu untuk menatap wajah kedua orang tua menantunya.
Tuan Dean tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menghela napas dan memalingkan wajahnya menatap kearah lain. Rasanya masih sulit untuk memaafkan orang yang sudah melukai hati putrinya.
Gryson mengenal nafasnya sesaat, dia mengetahui jika kedua mertuanya sangat kesal pada sang mama. Namun, dia sendiri tidak tega melihat mamanya yang sudah mengiba untuk meminta maaf pada mereka, akhirnya ia pun melangkah kedepan dan menghampiri orang tua Filia.
__ADS_1
"Mama, Papa, aku tahu kalian pasti sangat kesal pada mamaku. Tapi, aku hanya bisa memohon agar kalian bisa memaafkannya. Aku juga minta maaf karena sudah menghilang beberapa bulan terakhir ini," ucap Gryson sambil menatap kedua orang tua Filia dengan pandangan memohon.
"Iya, Ma. Bukankah tuhan paling tidak menyukai orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain?" Filia ikut menimpali perkataan suaminya, ia mencoba untuk merayu orang tuanya agar mau memaafkan Nyonya Mona. Walau bagaimanapun, Filia menginginkan keluarga yang utuh dan baik.
"Sayang ...."
"Ma ... Pa ...."
Helaan napas berat kembali dikeluarkan oleh Tuan Dean, dia paling tidak bisa menolak tatapan sang anak yang memohon padanya.
"Baiklah. Aku akan mencoba untuk memaafkannya," ucap Tuan Dean akhirnya.
"Terima kasih, Ma, Pa," ucap Gryson dengan senyum haru di wajahnya.
"Ayo, Ma. Tapi ... tunggu! Abang Rain kemana, Ma?" tanya Filia saat ia sadar jika kakak laki-lakinya tak datang bersama kedua orang tuanya.
"Abangmu masih di sana, Lia. Mungkin akan kembali pulang saat lusa," jawab Tuan Dean.
Baik Filia maupun Disya langsung mematung seketika. padahal mereka sudah sangat menantikan kedatangan Rain bersama orang tuanya, tapi ternyata pria itu tidak ikut pulang.
"Oh, baiklah." Filia dan Disya pun mengikuti langkah Tuan Dean dan Nyonya Rini untuk masuk ke rumahnya.
__ADS_1
Tuan Dean, Nyonya Rini, Nyonya Mona, Disya dan Gryson pun duduk di sofa ruang keluarga. Suasana di sana terasa sedikit kaku dan canggung. Hanya saja Tuan Dean merasa heran karena melihat Nyonya Mona yang tidak membiarkan Disya menjauh darinya.
Tunggu, kenapa rasanya wajah Nyonya Mona dan Disya begitu mirip? Apa jangan-jangan mereka .... Tapi, itu tidak mungkin, batin Tuan Dean sambil bertanya-tanya. Namun, dia tidak berani untuk berspekulasi sendiri.
Gryson menyadari tatapan bingung dari kedua mertuanya, dia juga belum memperkenalkan Disya sebagai adik tirinya. Karena Nyonya Rini dan Tuan Dean masih mengira jika Disya hanyalah cucu dari Kakek Ija saja.
"Oh, ya .... Ma, Pa .... Sebenarnya Disya merupakan adikku," ucap Gryson pada kedua mertuanya.
Sontak saja hal itu membuat Tuan Dean dan Nyonya Rini membulatkan mata karena terkejut setelah mendengar pernyataan dari Gryson, menantunya. Mereka tidak menyangka jika Disya adalah putri dari Nyonya Mona.
"Ta–tapi, bagaimana bisa?" tanya Nyonya Rini masih merasa heran.
"Dia ... dia adalah putri yang kutinggalkan dulu bersama Papanya, Irwan. Aku pernah menikah sebelum kembali lagi bersama Papanya Grys," jawab Nyonya Mona sambil tersenyum miris. Dia sadar, apa yang dilakukannya sudah lebih dari kata jahat. Jadi, dia sedikit malu akan dirinya yang sekarang.
"Ya Tuhan ...." Nyonya Rini sampai menutup mulutnya karena terkejut mendengar penuturan dari besannya. Dia tidak menyangka jika masa lalu Nyonya Mona ternyata cukup kelam. Sama halnya dengan masa lalu Tuan Dean.
"Aku sadar, apa yang kulakukan dulu sudah di luar batas kewajaran. Tapi, aku masih sedikit beruntung karena Disya mau menerimaku sebagai Mamanya," sambung Nyonya Mona lagi seraya memeluk putrinya dari samping.
Disya dan Filia tersenyum tipis ketika mendengar ucapan Nyonya Mona. Walau bagaimanapun, mereka tahu jika seseorang bisa saja berubah menjadi baik setelah mereka sadar dari kesalahannya.
Semoga Mama selalu bertambah baik seperti saat ini. Semoga sikapnya tidak akan kembali lagi seperti dulu, batin Filia seraya tersenyum haru dalam hatinya.
__ADS_1
Tidak ada kebahagiaan lain yang ia inginkan selain ketentraman yang ada dalam keluarganya. Apalagi, saat ini mereka tengah menantikan kehadiran dua malaikat kecil yang akan menjadi pemersatu dua keluarga itu.