Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 76


__ADS_3

Gryson menatap nanar kamar di rumah yang pernah dia dan Filia tinggali, tak ada satu pun foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding sana. Bahkan kamar bekas Filia pun barang-barangnya sudah banyak di ganti.


Tadi Gryson berpamitan pada Nyonya Mona dengan alasan pergi ke perusahaan, tapi sebelum itu ia mampir ke rumah yang pernah mereka tinggali terlebih dahulu untuk mencari foto wanita yang selalu di rindukannya. Namun, sesampai di sana Gryson tak mendapatkan secarik pun foto Filia. Bahkan hanya kekecewaan yang didapatkannya karena nyatanya nyatanya Nyonya Mona sudah merubah 80% tatanan rumah itu.


"Kenapa Mama mengganti semua furniture kamar ini?" tanya Gryson pelan pada Alvin, asisten pribadinya.


"Maaf, Tuan. Nyonya Mona melakukan hal ini semua tanpa sepengetahuan saya. Andai pun saya mengetahuinya, saya tidak akan bisa mencegah keinginan beliau untuk merubahnya," jawab Alvin dengan rasa bersalahnya.


Gryson mendesah kasar setelah mendengar jawaban asistennya. Ia sendiri pun tidak bisa menentang keinginan mamanya sendiri, apalagi jika orang lain yang melakukan hal itu. Tentu saja Nyonya Mona tidak akan menggubrisnya.


"Sudahlah. Mama memang tidak main-main dengan ancamannya. Jangankan kamu, aku sendiri pun tidak bisa menentang keinginan Mamaku sendiri." Gryson berlalu keluar dari kamar itu dan menuju kamar utama, tempat ia dan Filia tidur bersama.


Di sana juga terlihat lengang, tak ada satupun barang milik Filia yang tertinggal, hanya ada kasur yang sudah polos dan lemari baju kosong.


Gryson tersenyum kecut, ia tidak pernah berfikir jika mamanya merupakan orang yang sangat keras kepala, bahkan terhadap anaknya pun tak peduli mau sakit hati ataupun tidak.


Ya Tuhan, bagaimana caraku untuk meluluhkan hati Mama yang keras lebih dari batu ini? Andai jika wanita yang sedang aku pertahankan ini bukan orang yang kucintai, pasti aku akan dengan senag hati menerima semua tindakan yang dilakukan olehnya. Tapi kali ini wanita itu adalah orang yang sangat aku cintai, tentunya setelah Mamaku sendiri, batin Gryson sambil duduk di atas kasur yang polos itu, ia juga mengusap wajahnya kasar untuk menghalau semua emosi yang ia rasakan terhadap mamanya sendiri.


Alvin menatap iba tuannya, ia sendiri merasa kasihan melihat cobaan yang sedang menimpa atasannya. Sebenarnya Alvin ingin memberitahukan kabar kehamilan Filia yang ia ketahui dari Bi Inah, tapi hatinya ragu. Ia khawatir jika Nyonya Mona sampai mengetahuinya, tidak menutup kemungkinan jika ibu dari majikannya akan melukai ibu hamil itu.


"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanya Alvin yang sedang berdiri di ambang pintu. Ia tidak berani masuk ke kamar milik Gryson, walau bagaimanapun Alvin hanyalah bawahan yang harus ingat posisinya.


"Aku ... aku tidak baik-baik saja, Vin. Aku ingin menyerah dan lari dari Mama. Tapi jika aku meninggalkannya, maka Mama akan sendirian dan itu bisa menimbulkan penyakit yang serius untuknya," jawab Gryson tanpa menatap sang asisten.


"Maaf karena saya tidak bisa membantu Anda, Tuan. Tapi Anda jangan menyerah hanya sampai di sini, Anda harus lebih bisa mempertahankan rumah tangga Anda dengan Nyonya Filia. Jika Anda sampai menyerah, maka bukan hanya Anda dan Nyonya Filia saja yang terluka," ujar Alvin. Dia benar-benar tidak berani mengatakan keadaan Filia yang sebenarnya.


GRyson terdiam sesaat setelah mendengar penuturan Alvin. Apa yang dikatakannya memang benar. Aku tidak boleh menyerah, Aku tidak ingin kehilangan wanita yang kucintai, batinnya.


Setelah hatinya kembali tenang, Gryson pun bangkit dan berjalan ke luar kamar itu. Ia memutuskan untuk ke perusahaan seraya memikirkan cara halus untuk membujuk mamanya agar mau menerima Filia kembali, Gryson akan memanfaatkan amnesianya untuk mengelabui Nyonya Mona.


"Ayo, kita segera ke perusahaan. Aku yakin sekarang mata-mata Mama sudah ada di sana. Jangan sampai membuat dia curiga karena kita datang terlambat. Satu hal lagi, jangan sampai Mama tahu kondosiku yang sebenarnya," perintah Gryson sambil terus berjalan dengan di ikuti Alvin di belakangnya.


"Baik, Tuan. Saya mengerti, saya akan merahasiakan kondisi Anda dari Nyonya." Alvin menunduk hormat setelah ia membukakan pintu mobil untuk Gryson. Sekarang tujuan mereka adalah perusahaan.

__ADS_1


***


Rainer berhasil di bawa oleh kedua orang tuanya ke rumah mereka, tapi harus bersama Disya. Beruntung Abah Ija mengijinkan Disya untuk membantu Nyonya Rini merawat Rainer, meski hanya sampai pria itu lancar berinteraksi dengan keluarganya sendiri.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, di sinilah mereka sekarang, tepatnya di depan sebuah rumah yang cukup mewah dengan halaman yang luas.


Disya menuntun Rainer untuk turun bersamanya, pria itu sama sekali tak mau jauh-jauh dari Disya. Kedatangan mereka juga sudah di tunggu oleh Filia yang seag berdiri bersama beberapa pelayan di teras depan pintu.


Filia menatap iba pada kakak laki-lakinya, hanya saja keningnya sedikit mengernyit saat ia juga melihat gadis yang bersama kakaknya beberapa waktu lalu, kini ikut bersama kedua orang tuanya.


"Ayo, Rain, Disya, sekarang kita sudah sampai," ucap Tuan Dean pada sang anak dan Disya.


Gadis itu terlihat sungkan untuk ikut mengahampiri Filia, ia lebih banyak menunduk sambil sesekali meminta Rainer agar melangkah di depannya, sedangkan pria itu sendiri menggeleng enggan.


Filia melihat itu semua, ia akhirnya menghampiri mereka sambil tersenyum ramah.


"Abang, halo, apa kabar?" tanya Filia, ia mencoba untuk menyapanya terlebih dulu sebelum menyapa gadis yang ada di samping kakak laki-lakinya.


Rainer menyembunyikan wajahnya di balik punggung Disya dan hal itu membuat Filia tersenyum kaku.


"Maaf, Nona. Tuan Muda teh sepertinya masih rada asing, jadi dia kaya gitu. Harap dimaklum, 'ya. Jangan di masukin ke hati, nanti kalau udah terbiasa dia gak akan kayak gini," ucap Disya sambil tersenyum kecil.


Filia hanya membulatkan bibirnya tanpa bersuara, ia juga mengangguk beberapa kali. "Ya sudah, ayo kita masuk dulu. Pasti kalian sangat lelah, 'kan? Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua."


"I–iya, Nona. Terima kasih," jawab Disya segan.


Tuan Dean dan Nyonya Rini bersyukur karena Filia mau menerima kakak laki-lakinya dengan baik, tadinya mereka sangat khawatir jika Filia akan memberontak bahkan akan membenci saudara laki-lakinya.


"Ayo, kita masuk dan beristirahat dulu," ajak Tuan Dean sebelum ia meninggalkan muda-mudi itu.


"Iya, Pa. Kami datang." Filia menuntun Rainer yang masih berpegangan erat pada Disya.


Tuan Dean tidak meminta Disya secara cuma-cuma, ia juga membayarnya layaknya perawat. Meskipun awalnya Disya dan Abah Ija sempat menolak, tapi Tuan Dean kukuh dengan usulannya, akhirnya gadis itu pun keluar dari tempatnya bekerja dan menerima tawaran Tuan Dean.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah menyiapkan kamar untuk Kakakmu dan Disya, 'kan?" tanya Nyonya Rini pada Filia. Ia tadi sempat mengirim pesan pada anaknya, agar menyuruh pelayan rumah untuk menyiapkan dua kamar yang bersebelahan.


Filia mengangguk dan menjawab, "Sudah, Ma. Semuanya sudah siap. Kamar yang akan di isi oleh Abang dan Mbak Disya ada bersebelahan denganku."


Nyonya Rini mengangguk, tapi tidak dengan Disya. Gadis itu merasa tidak nyaman jika dirinya diperlakukan layaknya tamu, padahal dia hanya perawat sementara anak majikannya.


"Maaf lancang, Nyonya. Tapi saya merasa gak pantas diperlakukan kayak tamu begini. Saya 'kan cuma perawat sementara Tuan Muda," ucap Disya pelan seraya menunduk sungkan.


Tuan Dean menggeleng pelan, ia tidak setuju dengan permintaan Disya. Bisa-bisa Rainer menganggapnya jahat karena sudah dipisahkan dari orang yang sudah membuatnya nyaman.


"Tidak, Dis. Kamu jangan berfikirseperti itu. Lagi pula pelayan di rumah ini tinggal di paviliun belakang. Jika kamu juga di sana, akan sangat sulit untuk Rainer kalau dia sedang membutuhkanmu," sahut Tuan dEan yang langsung diangguki oleh Filia dan Nyonya Rini.


Disya terdiam setelah mendengar penjelasan Tuan Dean. Iya juga, 'ya ... kalau nanti dia merasa gak nyaman di sini, pasti bakalan nyariin aku, batinnya seraya menatap Rainer yang masih menggenggam erat tangan bajunya. Akhirnya Disya mengalah dan mengangguk lesu sebagai jawaban atas keputusan majikannya. "Baiklah, saya mengerti, Tuan, Nyonya."


"Bagus. Kamu tidak perlu sungkan. Jika ada yang kamu butuhkan, katakan saja pada istri atau putriku. Mereka selalu ada di rumah, Nyonya hanya sesekali keluar dan Filia juga sedang mengandung, jadi dia tidak keman-mana," jelas Tuan Dean.


Disya sedikit mengernyit saat mengetahui jika Filia sedang mengandung, sedngkn sejak tadi ia tidak melihat pria lain selain Rainer dan Tuan Dean. Lantas Disya perlahan mengalihkan perhatiannya untuk menatap perut Filia yang masih belum terlihat besar karena ia sedang menggunakan dres longgar.


"Usia kandunganku baru menginjak delapan minggu. jadi belum terlihat jelas," jawab Filia sambil menampilkan senyum gelinya saat ia meliahat Disya yang menatap perutnya dengan seksama.


Disya langsung salah tingkah saat mendengar ucapan Filia, ia merasa tak enak hati karena sudah lancang memperhatikan perut wanita sedang duduk di depannya.


"Maaf, Nona. Sa–saya udah berprilaku gak sopan," ucap Disya pelan.


"Tidak apa-apa," jawab Filia dengan ramahnya sehingga membuat Disya semakin tak enak hati.


Ya Tuhan, andai aku bisa menghailang, aku ingin menghilang dan menghindar dari situasi saat ini, batin Disya.


Setelah mereka beristirahat dengan cukup, akhirnya Tuan Dean pun mengajak semua orang-orang itu untuk makan malam. Barang-barang milik Disya dan Rainer pun sudah di simpan di kamar mereka masing-masing oleh pelayan tanpa disadari oleh pemiliknya.


Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang makan, di sana sudah banyak hidangan yang tersaji. Disya tertegun sejenak melihat makanan yang ada di depannya, sesaat ia teringat Abah Ija.


Mudah-mudahan Abah di sana sehat, batinnya seraya mengusap kasar air mata yang hendak menetes di wajahnya. Beruntung tak ada orang yang menyadari apa yang ia lakukan. Jika ada, pasti mereka akan mengira Disya yang tidak-tidak.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya menikmati makan malam itu dengan tenang, tanpa ada percakapan di sana.


__ADS_2