Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 63


__ADS_3

Di sinilah mereka sekarang, tepatnya di rumah milik keluarga Filia. Suasana di sana begitu tegang dan kaku, udaranya pun terasa sangat minim. Padahal ruangan yang sedang mereka tempat ini sangat luas.


Tuan Dean duduk tegang dihadapan anak dan istrinya, seperti biasa. Namun, kali ini dia yang menjadi terdakwanya.


"Pa, bisakah jelaskan pada kami berdua?" tanya Nyonya Rini sambil menatap sang suami.


Filia hanya terdiam dan terus mengamati papanya yang terlihat gelisah. Ia tidak menyangka kejadian seperti ini akan menimpa keluarga kecilnya, sungguh mengejutkan.


Tuan Dean mulai menengadah, ia sendiri pun tidak menyangka jika dirinya mempunya anak dari wanita yang menjadi masa lalunya.


"Ma, Lia, Papa minta maaf sebelumnya. Papa tidak berniat untuk menyembunyikan apapun dari kalian, tapi Papa juga memang baru mengetahuinya tadi." Tuan Dean menjeda perkataanya, ia menarik nafasnya terlebih dulu untuk menghalau rasa sesak yang tiba-tiba datang menyergapnya, sebelum kembali berkata, " Papa akui. Dulu Papa pernah menjalani hubungan dengan satu wanita yang bernama Vera sebelum Papa tahu akan dijodohkan denganmu, Ma. Papa pernah tidur dengannya tepat seminggu sebelum kita menikah. Papa salah, Papa minta maaf pada kalian berdua."


Nyonya Rini tak dapat lagi membendung perasaanya, ia menangis sejadi-jadinya. Ia tidak menyangka jika suami yang sangat dicintai dan dihormatinya ternyata pernah melakukan hal yang sangat memalukan. Apalagi Bellina tadi mengatakan hal iyu didepan para tamu undangan, belum lagi mereka juga menyewa beberapa reporter yang pasti sudah meliput kejadian itu.


"Mama tidak tahu harus berkata apa, Pa. Kamu sudah sangat keterlaluan. Kamu melakukan hal itu dalam keadaan sadar, Pa!" Tanpa Nyonya Rini sadari, kini suaranya sudah meninggi akibat rasa kesal, marah dan kecewa yang menjadi satu pada suaminya.


Filia juga tidak bisa berkomentar apa-apa pada kedua orang tuanya. Ia hanya berusaha untuk menenangkan mamanya agar tak sampai terjadi masalah pada kesehatannya. Ya Tuhan, kukira hanya masalahku saja yang rumit, ternyata masalah kedua orang tuaku juga rumit, batin Filia sambil terus mengusap lengan Nyonya Rini dan menggumamkan kata sabar.


"Sabar, Ma. Mama dan Papa pasti bisa menyelesaikan masalah ini, ko'. Aku yakin," ucap Filia. Meskipun sedikit merasa ragu dalam hatinya, tapi ia hanya bisa berharap yang terbaik untuk kedua orang tuanya.


"Lia, Mama tidak menyangka jika Papa kamu pernah berbuat seperti itu, Nak. Sekarang apa yang harus Mama lakukan?" tanya Nyonya Rini sambil terus memeluk sang anak.


***


Di sebuah gedung apartemen. Seorang pria berusia dua puluh tahunan tengah dicambuki oleh Tante Ellena. WAnita paruh baya itu kesal karena rencana yang sudah disusun sejak awal menjadi berantakan dan kini putri yang ia andalkan untuk balas dendam pun malah harus tertangkap oleh pihak kepolisian.


"Dasar anak haram! Tidak berguna! Mati saja kamu!" teriak Tante Ellena tanpa menghentikan cambukannya. Bahkan ia juga tidak memedulikan darah yang terus menetes dari punggung pria yang ia siksa itu.


Pria yang sedang dicambuki oleh Tante Ellena itu bernama Rainier. Dia adah anak dari Vera, wanita yang menjadi masa lalu Tuan Dean. Rainier tumbuh di sebuah panti asuhan, ia memiliki sedikit keterbelakangan mental, sehingga tidak mampu melawan perbuatan Tante Ellena.


Pengurus panti awalnya tak memberikan ijin pada Bellina untuk membawa Rainier bersamanya karena khawatir jika mereka akan menyiksa pria malang itu. Namun, setelah Tante Ellena memberikan bukti tes DNA yang menunjukkan bahwa Rainier adalah salah satu anggota keluarganya, barulah pengurus panti itu percaya dan memberikan Rainier pada Tante Ellena dan Bellina.


"Sia-sia kami membawamu kemari, tapi tidak ada hasil seperti ini!" Tante Ellena menghentikan cambukannya karena merasa lelah, ia melempar cambuk itu ke sembarang arah dan meninggalkan Rainier begitu saja tanpa menoleh lagi padanya.

__ADS_1


Rainier yang kini penuh dengan luka pun hanya bisa merintih kesakitan, ia terlalu takut untuk melawan wanita paruh baya itu. Meskipun badannya tinggi tegap, tapi nyatanya ia tak mampu melawan seorang wanita tua yang sudah menganiayanya.


***


Kembali ke rumah kedua orang tua Filia. Setelah Nyonya Rini merasa lebih tenang, Tuan Dean mulai kembali bercerita tentang wanita masa lalunya yang bernama Vera.


Flashback on


Sore hari itu, Tuan Dean mengajak Vera untuk bertemu. Setelah sekian hari ia memikirkan bagaimana cara untuk menjelaskan keadaanya pada wanita itu, kini ia memutuskan untuk segera mengakhiri hubungan mereka.


"Ada apa, Mas Dean mau bertemu denganku? Tumben?" tanya Vera yang saat itu baru pulang kerja dari sebuah pabrik kecil. Bahkan Tuan Dean pun menungguinya di luar pabrik.


"Ada sesuatu hal yang harus aku sampaikan padamu, Ver. Ayo naik, kita bicarakan ini sambil cari makan," ajak Tuan Dean pada Vera sambil membukakan pintu mobil untuknya.


Vera memang kerap di perlakukan manis oleh Tuan Dean, jadi ia tidak pernah sungkan karena merasa hal itu sudah biasa.


"Baiklah. Tapi aku ingin makan di kosan saja, Mas. Badanku sudah lelah," ucap Vera dengan sesekali memijat tengkuknya yang merasa sudah pegal.


Vera merupakan gadis yang baik, ia merantau dari kampung halamannya ke kota untuk merubah nasib dan sangat beruntung karena tepat seminggu setelah ia bekerja, ia bertemu dengan Tuan Dean. Pertemuan yang cukup manis, singkat cerita, keduanya pun memutuskan untuk menjalin hubungan setelah berkenalan tiga bulan lamanya. Hubungan mereka berlanjut hingga hampir dua tahun lamanya. Vera sendiri pun tahu jika kedua orang tua Tuan Dean tak terlalu menyukainya. Meskipun mereka memang tidak melarang untuk menjalin hubungan, tapi mereka juga tidak merestui hubungan itu.


"Ayo masuk, Mas. Katanya tadi ada yang mau di sampaikan?" tanya Vera saat melihat Tuan Dean yang hanya duduk terdiam di depan kemudi.


"Bisakah kita berbicara di sini saja?"


Vera mengerutkan keningnya, ia merasa sedikit heran karena tingkah laku Tuan Dean yang sedikit lebih pendiam dari biasanya.


"Kita bicara di dalam saja, yuk! Aku sudah lapar, Mas." Vera melangkah terlebih dulu dan meninggalkan Tuan Deanyang masih terduduk.


Ya Tuhan, apa yang harus ku katakan padanya nanti? aku tidak ingin membuat kekasihku kecewa, tapi aku juga tidak mungkin jika harus membantah Ibu dan Bapak, gumam Tuan Dean sambil mengusap kasar wajahnya, ia sangat bingung dengan keadaannya sekarang.


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Tuan Dean pun turun dari mobilnya dan melangkah menyusul Vera yang sudah masuk terlebih dulu ke kosannya..


Tuan Dean duduk lesehan sambil terus memperhatikan Vera yang sedang menikmati makananya. Sepertinya dia sangat kelaparan, aku tidak tega jika harus mengajaknya berbicara saat ini. Lebih baik aku menunggu sampai dia selesai dengan makanannya, batinnya.

__ADS_1


"Kamu tidak ikut makan, Mas?" tanya Vera saat menyadari jika Tuan Dean hanya memperhatikannya saja.


"Tidak, aku sedang tidak lapar, Ver. Kamu selesaikan saja makanmu, aku akan menunggunya." Tuan Dean kembali sibuk dengan ponselnya dan membiarkan Vera untuk kembali makan.


Mendengar jawaban Tuan Dean, Vera pun hanya bisa mengangguk sambil terus mengunyah makanannya. "Baiklah."


Setelah beberapa saat berlalu, Vera pun membereskan bekas makannya, sebelum ia kembali duduk di hadapan sang kekasih.


"Ada apa, Mas?" tanya veera yang sudah sangat penasaran dengan perkataan yang akan disampaikan oleh Tuan Dean.


"Kamu sudah selesai makannya?" tanya Tuan Dean saat ia melihat Vera yang sudah duduk di hadapannya.


"Hmmm, sudah. Sekarang giliranmu untuk menyampaikan sesuatu yang ingin kamu ucapkan padaku."


Sebelum menjawab pertanyaan Vera, Tuan Dean menarik nafasnya terlebih dulu untuk menghalau rasa sesak di dadanya.


"Aku minta maaf sebelumnya, Vera. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, ataupun memberikan harapan palsu padamu. Tapi, masa depanku sudah diputuskan oleh kedua orang tuaku," ucap Tuan Dean sambil menatap lurus sang kekasih.


Hati Vera sudah sangat berdebar saat menanti ucapan selanjutnya yang akan keluar dari mulut Tuan Dean. "Apa maksudmu, Mas?"


"Aku ... sebenarnya aku sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya, Ver. Pernikahan kami akan diadakan seminggu lagi," jawab Tuan Dean dengan pelan. Ia tidak tega menyampaikan hal itu pada kekasihnya, tapi ia juga tidak tega jika harus terus membohonginya.


Bagai petir di siang hari untuk Vera, ia tidak pernah menyangka jika kisah cintanya akan berakhir karena kedua orang tua sang kekasih tidak merestui hubungan mereka.


"Aku ... aku hanya gadis kampung, Mas. Wajar jika orang tuamu memilih wanita lain dibanding aku," ucap Vera dengan menundukkan kepalanya. Ia cukup sadar diri dengan posisinya saat ini.


"Bukan begitu, Vera. Aku tidak pernah menganggapmu gadis kampung. Kamu tetaplah kamu, Vera. Vera Yulia yang aku cintai." Tuan Dean langsung memeluk wanita yang sebentar lagi akan menjadi masa lalunya. Sungguh berat untuknya saat harus memilih antara cinta pada sang kekasih, atau masa depan keluarganya.


"Terima kasih karena kamu sudah menganggapku seperti itu, Mas. Aku sangat senang mendengarnya. Semoga pernikahanmu dan dia lancar. Aku yakin jika dia juga wanita yang baik." Vera membalas pelukan Tuan Dean. Ijinkan aku untuk memelukmu yang terakhir kalinya, Mas, batin Vera sambil menghirup aroma sang kekasih yang mungkin tak akan pernah ia rasakan lagi.


Mereka berpelukan cukup lama. Hingga tanpa sadar keduanya melakukan hal lebih, di dukung suasana yang saat itu dingin karena hujan yang turun dengan intensitas yang deras. Vera merelakan tubuhnya di jamah oleh sang kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suami orang lain.


Pada saat pagi hari, Tuan Dean hanya terbangun sendirian. Vera—nya sudah pergi terlebih dulu darinya hanya berpamitan lewat sepucuk surat yang ia tinggalkan sebelum pergi dan dari saat itulah mereka tak pernah bertemu lagi.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2