
Setelah dirawat beberapa hari semenjak Gryson sadar, kini ia sudah diperbolehkan pulang. Saat di rumah sakit pun dia lebih sering sendirian, karena kehadiran Rachel juga tidak membantu apa-apa untuknya.
"Kamu sudah siap, Grys?" tanya Nyonya Mona yang baru melihat Gryson keluar dari kamar mandi.
"Sudah, Ma."
Setelah mendengar jawaban Gryson, Nyonya Mona pun segera bergegas membantu sang anak yang masih belum sepenuhnya pulih. Gryson memilih untuk rawat jalan dan sesekali datang ke rumah sakit untuk kontrol saja.
"Tante, apa kita kan langsung pulang ke Negara I?" tanya Rachel yang sudah tidak sabar ingin pulang dan bertemu dengan keluarganya.
Mendengar pertanyaan dari Rachel, membuat Nyonya Mona sedikit gelagapan, tadinya ia berpikir tidak akan mengajak Gryson kembali ke negara itu.
"Apa maksudmu bertanya seperti, Hel?" tanya Nyonya Mona sambil sedikit memberi kode pada Rachel untuk tidak bertanya ataupun berbicara lagi tentang Negar I.
Rachel mengetahui maksud dari kode yang ditujukan oleh Nyonya Mona padanya, tapi kali ini ia enggan untuk mengikuti kemauan dari wanita yang menjadi ibu mantan kekasihnya. "Please, Tan. Aku sudah rindu orang tuaku. Jika Tante dan Gryson belum mau pulang ke Negara I, aku akan pulang sendiri."
Nyonya Mona semakin membulatkan matanya saat mendengar ucapan Rachel. Apa wanita itu tidak mengerti maksudku? Kenapa dia malah sengaja membahasnya? Jangan-jangan dia sengaja melakukan hal itu? Awas saja Rachel, akan kuberi pelajaran kamu! batinnya sambil menatap tajam wanita muda itu, tapi yang di tatap malah bersikap acuh.
Kali ini aku tidak akan mengalah lagi, toh aku juga memiliki kekasih yang tidak kalah kaya dari keluarga Tante Mona. Dia pasti mau membantu keluargaku, jika Tante Mona sampai mencabut semua sahamnya dari restoran milik Mama, batin Rachel.
Nyonya Mona menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia kembali berkata, "Silakan saja jika kamu ingin pulang, kami masih akan disini sampai Gryson benar-benar sembuh, iya 'kan, Grys?" tanya Nyonya Mona pada sang anak.
"Hmmm," jawab Gryson tanpa menatap kedua wanita yang sedang berselisih dengan tatapan mereka.
Rachel tersenyum setelah mendengar jawaban Gryson yang seakan tidak memedulikannya, berbeda halnya dengan Nyonya Mona yang kesal atas jawaban Gryson terhadapnya, hal itu terlihat dari tatapannya yang tajam dan juga rahangnya yang mengeras.
Si*l dia benar-benar menantangiku sekarang, batin Nyonya Mona yang geram dengan sikap acuh Rachel.
Setelah mendapatkan persetujuan Gryson, Rachel pun segera membereskan barang-barangnya agar ia lekas pergi dari sana. Dari awal, sebenarnya Rachel tidak pernah ada niatan untuk kembali lagi pada Gryson, selain dia sudah mempunyai kekasih yang lebih kaya, dia juga tidak tahan dengan sikap arogan Nyonya Mona.
__ADS_1
Akh, akhirnya ... aku bisa kembali lagi ke Negara I dan terlepas dari Nyonya Mona. Thanks, Grys ....
Tanpa menengok ke belakang, Rachel segera pergi dari ruang rawat Gryson. Senyuman lega dan perasaan senangnya tak lepas dari wajah gadis itu.
***
Di tempat lain, Filia yang selama beberapa hari ini merasa tidak enak badan akhirnya memeriksakan diri ke dokter dengan ditemani kedua orang tuanya.
Nyonya Rini memilih mengalah dan belajar untuk memaafkan masa lalu Tuan Dean, walau bagaimanapun rasa sakitnya, ia tidak ingin jika keluarganya hancur hanya karena masa lalu dengan orang yang sudah tiada.
Di tambah lagi Nyonya Rini tidak tega saat melihat Filia yang terbaring lemah di kasurnya, Filia juga beberapa kali bulak-balik ke kamar kecil hanya untuk mem*ntahkan isi perutnya. Hingga akhirnya, ia memutuskan membawa Filia ke rumah sakit dan mengesampingkan rasa sakit hati yang ditorehkan oleh Tuan Dean padanya.
"Ma, apa Mama benar-benar sudah memaafkan Papa?" tanya Filia yang saat itu sedang berdua dengan mamanya, beberapa hari berlalu setelah kejadian, Filia belum sempat berbicara berdua dengan Nyonya Rini.
Nyonya Rini mengembuskan napas berat sebelum menjawab pertanyaan sang anak. Hatinya masih terasa sesak jika mengungkit masalah itu. "Mama masih berusaha untuk mengikhlaskan semuanya, Lia. Mama sadar, semua orang pasti mempunyai masa lalunya sendiri."
"Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan masalah kami. Fokuslah dulu pada kesehatanmu, sebentar lagi dokter akan keluar dengan membawa hasil laboratoriumnya." Nyonya Rini lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan dari pada harus kembali mengungkit masalah yang kemarin menghampirinya.
"Sebenarnya aku sakit apa, Ma? Kenapa rasa mual itu terus-menerus ada?" tanya Filia yang masih bingung dengan kondisinya.
Nyonya Rini terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan sang anak, tiba-tiba ia mengingat sesuatu yang belum ditanyakannya pada Filia. "Sayang, apa kamu ingat kapan terakhir kali datang bulan?" tanyanya.
Filia mengerutkan kening saat sang mama bertanya tentang jadwal tamu bulanannya, "Aku ... aku tidak terlalu mengingatnya. Memangnya kenapa?"
"Apa kamu sering berhubungan dengan Gryson? Apakah dia tidak pernah memakai pengaman? Dan kapan terakhir kali kalian berhubungan?" cecar Nyonya Rini dengan menatap serius Filia.
Lagi-lagi Filia tidak mengerti dengan pertanyaan sang mama. Kenapa Mama mempertanyakan hal itu? Membuatku malu saja, batin Filia sambil menangkupkan tangannya di wajah.
"Hey, Mama bertanya serius padamu. Kenapa tidak menjawabnya? Dan kenapa kamu malah menutupi wajahmu seperti ini?" tanya Nyonya Rini sambil menurunkan tangan Filia dari wajahnya. "Wajahmu memerah?" tanyanya lagi sambil tersenyum usil.
__ADS_1
"Mama ...."
"Ayo, jawab pertanyaan Mama, Lia," pinta Nyonya Rini lagi.
"Aku tidak ingat, Ma. Kami sering melakukan hal itu. Dan ... kami sempat melakukannya saat malam sebelum terjadi kecelakaan," jawab Filia pelan. Ia kembali mengingat tentang kebersamaannya dengan sang suami saat malam hari itu dan membuatnya kembali murung.
Nyonya Rini menghentikan perkataannya ketika melihat sang anak yang kembali murung karena mengingat Gryson, suaminya. "Maaf, Mama tidak bermaksud untuk membuatmu sedih, Lia. Mama juga berharap semoga dia cepat sembuh dan cepat kembali padamu," ucapnya sambil memeluk Filia.
Tak lama kemudian, dokter yang tadi memeriksa Filia pun kembali dari laboratorium dengan membawa hasil pemeriksaannya.
Nyonya Rini berbinar saat melihat kedatangan dokter itu. "Jadi, bagaimana dengan hasil pemeriksaannya, Dok?" tanyanya dengan tidak sabar. Ya Tuhan, semoga dugaanku benar, batinnya.
Dokter itu tersenyum sesaat untuk menanggapi pertanyaan Nyonya Rini, sebelum membuka amplop yang berisi tentang pemeriksaan medis Filia.
Perasaan Filia sudah sangat berdebar, ia sangat takut jika penyakitnya parah. "Dokter, apa penyakit saya parah?" tanyanya polos.
"Tidak, Nona. Anda sedang tidak menderita penyakit apa-apa," jawab dokter itu sambil menggeleng pelan, kemudian berkata, "Selamat, anda sedang mengandung. Usia kandungan Anda baru menginjak lima minggu."
Jawaban dokter itu membuat Nyonya Rini mengembangkan senyum bahagianya seketika, berbeda dengan Filia yang langsung terdiam saat mendengar jawaban sang dokter.
Filia refleks menyentuh perutnya yang masih rata. Benarkah ini? Benarkah sekarang aku sedang mengandung buah hatiku dengan Mas Grys? Aku ... aku bahagia. Terima kasih, Tuhan, batinnya. Tanpa terasa, air mata Filia menetes begitu saja karena terharu dengan kandungannya. Aku tidak menyangka akan menjadi seorang Ibu sebentar lagi. Aku harap Mas Gryson akan segera kembali pulang. Aku ingin melihat reaksinya, sambung Filia lagi.
Nyonya Rini segera memeluk sang anak dan menggumamkan kata selamat untuknya. "Selamat, Lia. Sebentar lagi kamu akan menjadi ibu, Mama dan Papa akan menjadi nenek kakek. Terima kasih, Lia," ucapnya dengan haru.
"Ma, aku benar-benar hamil?" tanya Filia lagi masih tidak percaya.
"Iya, sayang. Kamu sedang hamil," jawab Nyonya Rini seraya mengecup kening sang anak.
Setelah suasana haru itu kembali tenang, Nyonya Rini pun segera berpamitan dengan dokter untuk membawa Filia agar bisa beristirahat di rumahnya dengan tenang.
__ADS_1