Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 39


__ADS_3

Nyonya Mona mengajak Filia untuk menghadiri acara arisan yang biasa ia lakukan bersama para ibu-ibu sosialita yang lainnya. Selama dalam perjalanan menuju restoran, diantara mereka sama sekali tidak ada percakapan apapun keduanya sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing. Hingga saat mereka sampai di restoran diadakannya arisan, barulah Nyonya Mona menyeruakkan suaranya.


"Kamu jangan banyak tingkah dan jangan terlalu banyak menarik perhatian. Diam, ikuti saja ucapankan ku," pesan Nyonya Mona saat mereka tiba di pelataran restoran itu.


Filia yang tidak ingin banyak berdebat dengan mertuanya hanya menjawabnya dengan anggukan. "Baik, Ma. aku mengerti."


Mereka pun masuk setelah melihat beberapa teman arisan Nyonya Mona yang lain sudah hadir di sana. Teman-teman Nyonya Mona langsung berdiri saat kedatangan Filia dan dirinya.


"Hai Jeng!" sapa salah satu ibu-ibu yang badannya tambun, ia langsung menghampiri Nyonya Mona dan melakukan cipika-cipiki.


"Hai juga, Mbak. Apa kalian sudah menunggu lama?" tanya Nyonya Mona basa-basi.


"Tidak terlalu lama. Bawa siapa Jeng?" tanya ibu-ibu itu sambil menatap Filia dari atas sampai bawah.


"Asistenku."


Degh ....


Oh, jadi ini sebabnya Mama mengajakku untuk menemaninya dan menyuruhku diam. Mari kita ikuti alur permainan yang akan ia buat, batin Filia sambil tersenyum menatap ibu-ibu itu.


"Wah, anakmu sangat perhatian sekali ya terhadap mamanya? Sampai-sampai dia menyediakan asisten untukmu. Aku Fikir dia adalah menantumu," ucap ibu itu lagi sambil menatap remeh wanita muda di hadapannya.


"Jangan berpikir seperti itu. Anakku masih menunggu cinta sejatinya yang belum kembali." Nyonya Mona menjawab dengan ringan ia bahkan tidak mempedulikan tatapan dingin Filia.


"Oh, baiklah. Ayo kita mulai acaranya, semuanya sudah berkumpul, kan?" tanya ibu-ibu itu pada beberapa temannya yang sedang duduk di kursi mereka masing-masing.


"Sudah. Ayo mari silakan duduk." Salah satu ibu yang memiliki postur tubuh tinggi kecil menyuruh Filia untuk duduk di sebelahnya.


"Tidak perlu, Jeng. Dia sudah terbiasa untuk berdiri lama. Jadi, itu tidak masalah. Iya, kan, Lia?" tanya Nyonya Mona pada Filia. Ia bahkan menekankan setiap perkataannya.


Filia mengangguk pelan, ia harus lebih banyak bersabar untuk menghadapi ibu mertuanya itu.

__ADS_1


Sabar, Lia. Kamu pasti bisa menahan untuk berdiri dalam beberapa jam ke depan, batin Filia yang sudah berdiri disamping Nyonya mana.


Nyonya Mona tersenyum sinis melihat Filia yang hanya menuruti perkataannya, itu memang rencananya yang ingin mengerjai sang menantu.


Saat ia sedang berdiri di samping mertuanya, tatapannya tak sengaja melihat dua wanita yang sangat Filia kenali. Mereka memasuki area restoran itu dengan diiringi canda dan tawa.


Mama, Bellina? Mereka ada di sini? tanya Filia dalam hatinya, saat ia melihat mereka berdua duduk salah satu bangku yang tak jauh dari tempat mertuanya duduk.


"Maaf, bolehkah aku ke belakang sebentar?" tanya Filia pada mertuanya, ia ingin menghampiri mama dan sepupunya itu.


Nyonya Mona yang saat itu tengah sibuk menikmati acara mereka, tidak terlalu memedulikan ucapan menantunya, ia hanya mengangguk dan menyuruhnya pergi dengan kibasan tangan.


Setelah mendapat izin dari mertuanya, Filia pun pergi untuk menghampiri mama dan sepupunya.


"Mama, Bel? Kalian ada di sini juga?" tanya Filia saat ia sudah berdiri samping meja tempat duduk mereka berdua.


"Ka–kamu? Ngapain kamu di sini?" tanya Mama Rini pada anaknya.


"Li–Lia sedang menemani Mama mertua yang mengadakan arisan di sini," jawab Filia pelan.


Bellina menarik sudut bibirnya sedikit, ia terlihat puas saat menatap sepupunya yang bersedih akibat perlakuan mama kandungnya sendiri.


"Ya sudah, kembali lagi ke tempatmu sana." Mama Rini langsung mengusir Filia begitu saja tanpa menanyakan kabar atau apapun pada anak semata wayang itu.


Filia menatap nanar mamanya. Entah kenapa, semakin hari mamanya semakin tak bisa tersentuh olehnya.


"Mama ngusir Lia?" tanya Filia dengan nada yang sudah bergetar.


"Ck, sudah sana pergi dari sini!"


Bellina diam-diam menyunggingkan senyumnya tipis, ia merasa puas saat melihat sepupunya sendiri diusir oleh ibu kandungnya. Rasain loe! cibirnya dalam hati.

__ADS_1


Filia tidak mampu lagi menahan air matanya, ia langsung bergegas pergi dari sana dan menuju toilet. Ia menumpahkan semua perasaannya sendirian di sana.


Kenapa? Kenapa Mama berubah drastis seperti itu padaku? Apakah kesalahanku sama sekali tidak bisa termaafkan olehnya? Ya Tuhan, kenapa rasanya menyesakkan sekali saat melihat orang tua sendiri mengusir anaknya dari hadapannya? batin Filia sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


Setelah merasa lebih baik Filia pun keluar dari bilik itu. Ternyata di sana sudah ada Bellina yang menunggunya.


"Apa kamu sengaja menunggu ku di sini?" tanya Filia dengan nada dingin dan menatap tajam sepupunya.


Bellina menampilkan smirk-nya sesaat, sebelum akhirnya ia mengubah mimik wajahnya kembali menjadi tampilan yang ceria dan hangat.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu, sepupu?" tanya Bellina tanpa rasa bersalah. Ia bahkan pura-pura sibuk dengan mengoleskan lipstik merah di bibirnya.


Filia melipat tangannya di dada, ia juga membuang pandangannya ke arah lain. Sangat memuakkan harus ada satu ruangan bersama wanita serigala, batinnya.


"Baguslah, jika kamu tidak melakukan hal itu. Silakan menikmati masa kejayaan, sepupu." Filia berucap sambil menekan setiap katanya. Setelah itu, ia pun pergi dari sana dan meninggalkan Bellina yang masih kesal terhadapnya.


Kurang ajar! Wanita itu! Lihat saja apa yang akan kulakukan padamu," gumamnya kesal menatap kepergian Filia dari hadapannya.


Filia kembali menemui mama mertuanya, setelah ia memperbaiki penampilannya agar tidak berantakan dihadapan para teman-teman arisannya.


"Dari mana kamu?" tanya Nyonya Mona saat Filia sudah berdiri di sampingnya.


"Maaf, bukankah tadi saya ingin untuk ke belakang?" jawab Filia.


"Cih, kamu jangan mulai berani berbohong padaku. Katakan kamu habis dari mana keluar dari ruangan VIP itu?" Ternyata Nyonya Mona melihat kepergian Filia yang masuk menuju ruang VIP restoran tadi.


"Tadi aku melihat seseorang datang seperti mama dan sepupuku, tapi ternyata bukan." Filia memilih berbohong karena ia tahu jika mertuanya tidak akan percaya dengan ucapannya.


"Oh."


Memangnya apa yang bisa kuharapkan dari Nyonya Mona dan Mama? Rasanya, mereka semua memang benar-benar tidak mengharapkanku ada. Andai Mas Grys tidak meyakinkanku untuk bersabar, mungkin aku sudah lebih memilih untuk pergi dari kehidupan mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2