Love After Agreement

Love After Agreement
Ban 72


__ADS_3

Pria yang merupakan anak buah Tuan Dean memperlihatkan segerombolan orang yang tengah terduduk dengan tangan yang berada di kepala, di belakang mereka juga ada petugas kepolisian yang membantu bawahannya.


"Lihat dan perhatikan saja, Nyonya!" perintah pria yang berada di samping Nyonya Ellena. "Mereka semua sudah kami lumpuhkan, Anda tidak bisa lagi kabur dari kami, Nyonya!"


Nyonya Ellena membulatkan matanya, ia tidak percaya jika anak buah yang selama ini dilatih keras olehnya, bisa di lumpuhkan dengan mudah oleh anak buah adik iparnya.


"Tidak. Ini tidak mungkin terjadi! Kenapa mereka bisa tertangkap semua seperi ini?" tanyanya dalam hati.


"Anda tidak perlu terkejut seperi itu, Nyonya. Kami bukanlah orang yang mudah untuk Anda taklukkan," ucap anak buah Tuan Dean dengan sombongnya.


"Cih, aku tidak akan tinggal diam! Kalian akan segera mendapatkan balasan dariku," jawab Nyonya Ellena dengan sengit. Tentu saja dia tidak terima jika anak buahnya kalah begitu saja dari anak buah adik iparnya.


"Sudahlah, Anda tidak perlu bersusah payah untuk merencanakan balas dendam pada kami. Majikan kami sudah mempunyai rencananya sendiri, yang pasti dia tidak akan membiarkan Anda kabur lagi." Pria itu langsung membekap mulut Nyonya Ellena dengan saputangan yang sudah diberikan obat bius. Terbilang kejam, tapi dia tidak ingin menanggung resiko jika Nyonya Ellena sampai kabur.


Nyonya Ellena sempat memicingkan matanya sebelum kesadarannya hilang, badannya yang tadi penuh dengan tenaga, kini mulai terkulai lemas karena sudah menghirup obat bius itu.


***


Gryson memerhatikan tempat yang kini sedang di pijaknya, ia tersenyum tipis sebelum kembali melangkah meninggalkan mamanya yang masih berjalan di belakangnya.


"Grys, kamu mau kemana?" tanya Nyonya Mona saat melihat anaknya hendak menaiki taksi yang berada di areal bandara.


"Tentu saja mau pulang, Ma," jawab Gryson sambil membalikkan tubuhnya agar bisa menatap mamanya yang sedang berjalan menghampirinya.


Nyonya Mona menggeleng pelan saat mendengar jawaban Gryson. Sepertinya ingatannya benar-benar belum pulih, buktinya dia tidak mengetahui kendaraan mana yang akan mengantarnya pulang, batin Nyonya Mona seraya tersenyum tipis.


"No, Grys. Kendaraan yang akan mengantar kita bukan sebelah sini, tapi sebelah sana." Nyonya Mona menunjuk ke arah lain dari tempatnya saat ini. "Ayo kita ke sana sekarang," ajaknya sambil menggandeng tangan sang anak.


Diam-diam Gryson tersenyum saat ia bisa mengelabui mamanya. Kondisi Gryson kini sudah sepenuhnya pulih, bahkan ingatannya pun sudah kembali normal. Hanya saja ia belum memberi tahukan kabar hal tersebut pada Nyonya Mona. Ia masih ingin melihat usaha mamanya yang ingin memisahkannya dengan Filia.


Gryson bisa mendapatkan ingatannya kembali dengan cara terapi yang ia jalani bersama dokter yang merawatnya tanpa sepengetahuan Nyonya Mona. Dia juga meminta dokter itu untuk merahasiakan kondisi yang sebenarnya dari sang mama. Jadi, sampai saat ini Nyonya Mona tidak tahu jika anaknya sudah memiliki ingatan lamanya kembali.


Nyonya Mona membawa Gryson menuju mansion keluarga mereka. Dia tidak akan membawa anaknya itu untuk tinggal di rumah yang sebelumnya di tempati oleh Gryson dan Filia. Nyonya Mona khawatir jika anaknya akan kembali mendapatkan ingatan lamanya saat tinggal di sana.


Kenapa Mama membawaku ke mansion? Kenapa Mama tidak membawaku ke rumah yang pernah di tempati Filia? tanya Grson dalam hatinya. Pertanyaan itu tidak ia utarakan pada Nyonya Mona.

__ADS_1


"Ma, kita mau kemana?" Gryson hanya bisa menanyakan hal itu untuk terus mengelabui mamanya.


Nyonya Mona tersenyum kecil sebelum menjawab, "Kita akan pulang ke mansion, Grys. 'Kan tempat tinggal kita memang di sana."


Gryson hanya tersenyum kecut sambil mengalihkan perhatiannya kembali ke jalanan. Ternyata Mama masih tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya padaku, batin Gryson.


Tatapan Gryson tidak sengaja menangkap seseorang yang sedang ia rindukan. Ya, dia melihat Filia yang sedang berdiri di depan sebuah gerobak dorong penjual es potong, dengan tangan yang sudah penuh oleh kantong seresek yang Gryson ketahui itu pasti berisi jajanan karena tampak dari luar kantong plastik berwarna transparan.


Sedang apa dia di sana? Akh, andai saja tidak ada Mama yang mengawasiku, pasti aku sudah turun dari sini dan menghampirinya, batin Gryson sambil terus memerhtikan istrinya dari dalam mobil, tanpa sadar ia dibuat tersenyum karenanya.


"Grys apa di luar ada hal menarik? Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tanya Nyonya Mona saat melihat anaknya tersenyum lebar.


Gryson bersyukur saat mamanya tak sempat melihat Filia yang masih berdiri di pinggir jalan, karena mobil yang mereka tumpangi sudah kembali melaju.


"Tidak ada apa-apa, Ma. Aku tadi tersenyum karena melihat ada seorang anak kecil yang sedang menunggu makanannya dengan tidak sabar, bahkan dia sampai berjinjit," jawab Gryson sambil tersenyum geli saat melihat tingkah laku istrinya.


"Benarkah? Kenapa Mama tidak melihatnya?" tanya Nyonya Mona dengan penuh selidik.


"Tentu saja Mama tidak melihat karena anak itu sudah pergi dari sana dan kembali ke orang tuanya yang sedang dalam mobil," jawab Gryson dengan tenang, ia tidak ingin mamanya curiga dengan alasan yang ia berikan.


***


Beberapa saat sebelumnya, Filia merasa jenuh saat dirinya hanya terbaring setiap hari. Semenjak di ketahui jika dirinya sedang hamil, Nyonya Rini semakin memperketat pengawasannya terhadap sang anak, ia tidak membiarkan Filia untuk bepergian seorang diri.


"Sepertinya akan sangat enak jika memakan mangga muda saat ini," gumam Filia sambil mengelus perut yang mulai sedikit menonjol. Ia pun bangkit dari tidurnya secara perlahan dan mengikat asal rambunya.


Setelah merapikan penampilannya sesaat, Filia pun melangkah keluar untuk mencara mamanya.


"Ma, apa Mama sedang sibuk?" tanya Filia pada Nyonya Rini yang sedang membaca majalah di ruang keluarga.


"Ada apa, sayang?" tanya Nyonya Rini seraya mengalihkan perhatiannya dari majalah.


Filia melangkah dan menghampiri mamanya, setelah itu dia ikut duduk di sana. "Ma, aku ingin mangga muda," ucap Filia sambil menatap Nyonya Rini dengan pandangan memohon.


Nyoya Rini memicingkan matanya, menatap sang anak dengan sungguh-sungguh. Baru kali ini Filia mengutarakan keinginannya, biasanya bumil itu akan menolak papapun makanan yang di tawarkan padanya.

__ADS_1


"Tumben? Ada apa?" Nyonya Rini malah bertanya alasan kenapa Filia baru menginginkan hal itu sekarang.


"Mama ... ayolah, Ma. Aku sangat ingin mangga muda itu," jawab Filia merajuk, keinginannya kali ini benar-benar tidak bisa ditahan lagi.


"Baiklah, baiklah. Mama akan meminta Bi Inah untuk membelinya, kamu tunggu di sini, oke?" tanya Nyonya Rini hendak bangkit dari duduknya dan langsung tahan oleh Filia.


"Tidak, Ma. Aku ingin membelinya sendiri. Aku selalu lihat gerobak mangga itu di jalan Y. Jadi aku akan ke sana sendirian, boleh, ya?"


Kini giliran Nyonya Rini yang menggeleng dan menolak keinginan Filia. "Tidak, Mama tidak mengijinkanmu pergi sendirian."


"Tapi, Ma–"


"No, Lia. Kalau kamu memaksa, ayo kita pergi bersama."


Senyuman Filia langsung mengembang sempurna saat Nyonya Rini mengajaknya untuk pergi bersama. "Benarkah, Ma?"


"Hmmm, tentu. Ayo, Mama yang akan mengantarmu," jawab Nyonya Rini.


Filia segera bangkit dan menghambur ke pelukan mamamnya, suasana hatinya begitu cepat berubah-ubah semenjak hamil.


"Terima kasih, Ma. Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang."


Nyonya Rini meminta salah satu supir untuk mengantar kemana pun Filia ingin pergi, dia dengan sabar menemaninya.


"Kamu mau beli mangga muda di mana, sayang?" tanya Nyonya Rini seraya mengusap lembut surai anaknya yang terikat asal.


"Hmmm, di salah satu pasar tradisional saja, Ma. Di sana pasti masih pada segar buahnya, di sana juga ada beberapa makanan yang aku inginkan," jawab Filia dengan semangat.


"Baiklah, kalau begitu kita akan pergi ke sana."


Filia mengangguk setuju dengan usulan sang Mama.


Sesampai di pasar, Nyonya Rini segera meminta sopir yang bersamanya untuk mencarikan mangga muda. Sedangkan dirinya dengan Filia menunggu di luar pasar, sembari berkeliling mencari makanan lain yang diinginkan oleh bumil itu.


Ada beberapa penjual makanan yang mereka datangi, salah satunya penjual es potong. Filia berdiri dengan tidak sabar saat menunggunya, ia beberapa kali menengok untuk mencari rasa yang diinginkan. Namun entah kenapa, dia merasa ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi, tapi saat ia berbalik dan menengoknya, tak ada siapapun yang mencurigakan.

__ADS_1


Sepertinya hanya perasaanku saja, gumam Filia. Setelah selesai, ia pun kembali menghampiri mamanya yang sudah menunggu di dalam mobil tak jauh dari tempatnya berdiri.


__ADS_2