
Semenjak pulang dari pasar, Filia lebih banyak termenung. Hal itu membuat Nyonya Rini sedikit khawatir, setelah makanan yang dibelinya tandas, bumil itu kembali ke kamarnya dan mengurung diri di sana.
"Kamu kenapa, Ma?" tanya Tuan Dean saat ia melihat sang istri sedang menatap pintu kamar anaknya yang tertutup rapat.
"Papa?! Sejak kapan kamu sampai?" tanya Nyonya Rini yang baru menyadari kehadiran suaminya, sejak tadi ia hanya terdiam tanpa mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
Tuan Dean tersenyum saat melihat reaksi istrinya yang sedikit terkejut. "Papa belum lama sampai, Ma. Mama kenapa memerhatikan pintu kamar Filia? Sampai-sampai Papa pulang pun tidak menyadarinya."
"Mama sedikit khawatir, semenjak Filia pulang dari pasar, dia lebih banyak diam termenung. Tadi pun setelah makanan yang diinginkannya habis, dia kembali masuk ke dalam kamarnya." Nyonya Rini sedikit menjelaskan tentang tingkah laku sang anak pada suaminya.
"Mungkin Filia hanya lelah, Ma. Kamu tidak perlu khawatir, toh dia juga tinggal bersama kita. Kita bisa terus memantaunya bersama-sama," ucap Tuan Dean sambil mengusap punggung sang istri untuk menenangkannya.
"Oh, iya, Ma. Ellena sudah berhasil dibekuk oleh anak buah yang Mama perintahkan kemarin dan sekarang dia sedang ada di lapas yang sama dengan Bellina." Tuan Dean mengalihkan perhatian Nyonya Rini dengan sedikit menjelaskan perihal anak buahnya yang sudah berhasil menangkap Nyonya Ellena.
"Benarkah? Syukurlah." Nyonya Rini mengusap wajah dengan kedua tangannya sebagai rasa syukur. "Lalu, bagaimana dengan anakmu yang disekapnya? Apakah kalian sudah menemukannya?"
Tuan Dean menggeleng pelan, raut wajahnya berubah menjadi sendu saat ia memikirkan anak yang sekarang masih entah di mana. "Aku belum menemukannya, Ma. Dia berhasil melarikan diri dari apartemen yang selama ini menjadi tempat persembunyian Ellena."
Nyonya Rini mengusap tangan atas Tuan Dean. Ia juga ikut prihatin atas apa yang sudah menimpa anak dari suami. Walau bagaimanapun rasa sakit hatinya, ia lebih memilih untuk bersabar dan belajar menerima semua jalan pernikahannya. Nyonya Rini yakin, jika dirinya bisa melakukan hal itu.
"Kamu yang sabar, ya, Pa. Mudah-mudahan dia cepat ditemukan, kasihan juga dia di luaran sana sendirian," ucap Nyonya Rini.
"Terima kasih, Ma. Ya, Papa harap dia segera di temukan," jawab Tuan Dean.
Setelah perbincangan itu selesai, Nyonya Rini pun segera menyiapkan semua keperluan sang suami. Ia menggandeng tangan Tuan Dean untuk masuk ke kamar mereka.
"Papa segera bersihkan badan dulu. Aku akan membantu Bi Inah untuk menyiapkan makan malam kita," ucap Nyonya Rini setelah ia membantu Tuan Dean melepas jas yang dipakainya.
"Hmmm, baiklah, Ma." Tuan Dean berlalu masuk ke kamar mandi, sedangkan Nyonya Rini keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang dapur.
Sesampai di dapur, ternyata Filia sudah ada di sana. Ia membantu Bi Inah yang sedang menggoreng ikan, sedangkan Filia sendiri membantu mengiris sayuran dan bumbu yang akan mereka gunakan.
__ADS_1
"Lia, kamu ada di sini, Nak?" tanya Nyonya Rini sambil mengusap pelan kepala sang anak.
"Iya, Ma. Aku jenuh jika harus terus menerus berada di kamar. Jadi, aku memutuskan untuk membantu Bi Inah memasak," jawab Filia seraya menengadah untuk menatap mamanya.
"Baiklah. Hati-hati mengiris bawangnya, nanti bukannya bawang yang kamu iris, tapi malah tanganmu." Nyonya Rini duduk di samping sang anak.
Nyonya Rini tahu betul bagaimana anaknya dulu. Sebelum Filia menikah dengan Gryson, anak gadisnya itu tak pernah sekalipun masuk ke dapur untuk membantunya memasak, tapi setelah Filia menikah, kebiasaan itu mulai hadir. Filia—nya kini sudah banyak berubah, wanita muda itu benar-benar menjalani statusnya sebagai seorang istri.
"Mama kenapa melihatku seperti itu?" tanya Filia saat menyadari jika mamanya sedang memerhatikannya.
"Tidak ada. Mama hanya merasa bangga padamu, sayang. Anak Mama sudah benar-benar beranjak dewasa. Padahal dulu kamu paling enggan jika di ajak ke dapur, sekarang tanpa disuruh pun, kamu ke dapur sendiri," jawabnya hari ini sambil menatap haru sang anak.
Filia tersenyum menanggapi ucapan mamanya, ia memang merasakan bagaimana perubahannya sendiri. "Iya, Mama benar. Aku yang dulu sudah berubah sedikit demi sedikit. Mungkin ini karena pengaruh dari Mas Gryson sendiri, dia membuatku berfikir bagaimana cara untuk menyenangkannya, membuat dia bangga atas usahaku dan bagaimana caraku untuk mengambil hati Mama Mona." Filia memelankan suaranya di akhir kalimat, ia masih sesak jika mengingat bagaimana perlakuan Nyonya Mona padanya.
"Sudahlah, Lia. Kamu yang sabar, setiap orang pasti bisa berubah seiring waktu. Begitupun dengan mertuamu. Yakinlah, suatu saat dia juga akan berubah sifatnya padamu," ucap Nyonya Rini sambil memeluk anaknya dari samping.
"Terima kasih, Ma. Ucapan Mama ada benarnya juga, mungkin aklu harus lebih bersabar lagi," jawab Filia sembari mengusap pipi yang sudah basah oleh air matanya.
Akh, aku sangat terharu saat mengetahui jika Nona Filia sekarang sudah benar-benar mencintai Tuan Gryson. Sepertinya besok aku perlu memberitahukan hal ini kepada Tuan Alvin, batin Bi Inah sambil terus memperhatikan kedua majikannya yang sedang menata makanan hasil memasaknya.
Setelah semua masakan itu selesai, Filia diminta oleh mamanya untuk memanggilkan sang Papa yang masih berada di dalam kamar.
"Pa, makan malam sudah siap," ucap Filia sambil melihat pintu kamar orang tuanyanya yang tidak tertutup rapat.
Tuan Dean seakan tak mendengar panggilan dari Filia, ia tetap fokus pada ponsel yang tengah digenggamnya, dengan tatapan sendu.
Papa kenapa? Tumben sekali aku panggil tidak mendengar, batin Filia.
Filia mulai membuka lebar pintu kamar orang tuanya, dengan perlahan ia melangkah menuju sofa tempat dimana papanya berada. Filia terdiam saat melihat foto seseorang yang tengah ditatap oleh Tuan Dean.
"Sepertinya aku pernah melihat orang itu," gumam Filia saat dia sudah berdiri di belakang papanya.
__ADS_1
Tuan Dean yang tengah melamun langsung terkejut saat ia mendengar suara Filia yang sedang berdiri di belakangnya.
"Ya Tuhan, Lia. Kenapa kamu mengagetkan Papa seperi itu?" tanya Tuan Dean sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang karena terkejut.
"Maaf, Pa. Lia tidak bermaksud untuk membuat Papa terkejut, tapi Lia hanya penasaran dengan foto pria yang ada di dalam ponsel Papa tadi," jawab Filia dengan cepat.
Tuan Dean memicingkan matanya saat mendengar jawaban Filia yang mengatakan jika dia pernah melihat pria yang ada di ponsel miliknya.
"Kamu pernah melihatnya di mana?" tanya sang papa.
Filia menengadah sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari. "Kalau tidak salah ... Lia tadi siang melihatnya sedang bersama seorang perempuan di sekitar pasar, Pa." jawabnya.
Tuan Dean segera memegang kedua bahu Filia dan bertanya dengan serius. "Kenapa kamu tidak mengatakannya, Lia? Dia ...."
"Dia siapa, Pa?" tanya Filia penasaran saat papanya tidak melanjutkan perkataannya.
"Dia ... dia adalah anak Papa. Dia Kakakmu yang sedang kami cari," jawab Tuan Dean sambil menunduk dalam.
Tuan Dean merasa lega setelah mengetahui jika anaknya masih berada di kota itu, tapi dia juga heran sekaligus khawatir karena tidak mengetahui siapa wanita yang dimaksud oleh Filia.
"Lia, apa kamu tahu siapa wanita itu?" tanya Tuan Dean dengan menatap Filia serius.
"Aku tidak tahu, Pa. Kami hanya melihatnya sekilas, tadi mereka sedang makan di sebuah tenda gerobak soto."
Tuan Dean melepaskan tangannya dari bahu sang anak, ia mengusap wajahnya dengan kasar sebelum kembali duduk.
"Tante Ellena sudah berhasil diringkus, sekarang dia ada di lapas tempat di mana Bellina berada. Dan saat ini Papa sedang mencari Kakak laki-lakimu itu, Lia."
Filia mendekat, ia ikut duduk di samping papanya dan mengusap lengan atas sang papa, "Papa harus sabar. Lia yakin, jika wanita yang bersama dengan Kakak itu adalah orang baik-baik."
Tuan Dean hanya mendesah kasar saat mendengar ucapan anaknya, dia terlihat frustasi atas masalah yang menimpa keluarganya. Meskipun Nyonya Rini mengatakan jika dia akan belajar untuk menerima semuanya, tapi tetap saja dia sangat merasa bersalah pada wanita yang sudah menemaninya selama 21 tahun terakhir ini.
__ADS_1