Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 83


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Filia terus terdiam. Selain karena tubuhnya yang terasa lelah, ia juga terus memikirkan sesuatu yang sedari tadi mengusik hatinya.


Apa aku hanya salah dengar saja? Tapi tadi itu aku seperti mendengar suara Mas Grys memanggil namaku. Tidak mungkin aku salah mengenali suara suamiku sendiri. Tapi kenapa saat aku menengoknya, aku tidak melihat keberadaannya? batin Filia terus bertanya-tanya.


Tadi Filia memang sempat mendengar seseorang yang memanggil namanya, tapi saat ia berbalik tidak ada seorangpun yang ia lihat. Saat bertanya pada Disya pun, gadis itu berkata jika dia tidak mendengar sesuatu.


Disya yang melihat keterdiaman Filia merasa heran, ia khawatir jika nonanya itu masih memikirkan gadis yang ditemuinya di rumah sakit.


Apa Nona masih memikirkan perlakuan wanita tadi, ya? Kenapa dia cuma diam saja? batin Disya sembari menatap Filia yang sedang memerhatikan jalan.


"Nona, apa Anda tidak apa-apa? Apa wanita tadi menyakitimu?" tanya Disya, ia tidak mau melihat Filia hanya berdiam diri, ia ingat pesan dokter yang mewanti-wanti agar wanita hamil itu tidak boleh stress.


"Aku tidak apa-apa, Mbak," jawab Filia sambil menatap kearah Disya. "Aku hanya sedang lelah saja dan ...." Filia menggantungkan perkataannya, ia kembali ragu untuk membahas seseorang yang tadi memanggilnya.


Disya memicingkan matanya saat Filia menggantungkan perkataannya. "Dan?" tanyanya meminta Filia untuk meneruskan ucapannya.


"Dan ... aku ... aku kepikiran orang yang tadi memanggilku, Mbak. Tidak mungkin aku salah mengenali suara suamiku sendiri," jawab Filia pelan sambil menunduk.


Disya menatap iba Filia, ia memang belum pernah jatuh cinta, tapi saat melihat Filia yang begitu merindukan suaminya, ia merasa kasihan. Apalagi menurutnya saat ini Filia benar-benar sedang membutuhkan figur seorang suami.


Kasihan sekali Anda, Nona. Pasti sekarang Anda begitu merindukan suami Anda, ya? Kata-kata itu tidak berani ditanyakan pada Filia, ia tidak ingin membuat nonanya semakin sedih.


Disya mengusap lengan atas Filia untuk memberikan ketenangan, ia sendiri pun tidak tahu harus berbuat apa-apa selain hanya kata-kata support yang bisa dia sampaikan.


"Sabar, 'ya, Nona. Aku yakin kalau nanti sudah waktunya, kalian akan kembali bersama," ucap Disya pelan.


Filia hanya menanggapi ucapan Disya dengan anggukan dan senyuman kecil yang ia paksakan. Kerinduan terhadap suaminya begitu besar, sehingga membuatnya terkadang membayangkan saat-saat kebersamaan mereka dulu.


Setelah obrolan itu selesai, suasana mobil pun kembali hening. Filia yang sibuk dengan lamunannya sedangkan Disya yang tidak berani mengusik ketenangan nonanya.


Sesampai di rumah, Filia langsung turun dan melangkah menuju kamarnya. Disya hanya bisa menatap iba pada nonanya, ia terus memerhatikan langkah Filia hingga wanita itu tidak terlihat lagi.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kasian banget Nyonya Filia. Aku gak tega lihat dia kayak gitu," gumam Disya. Ia pun melangkah menuju dapur untuk menyiapkan cemilan yang mungkin Filia inginkan.


Disya tahu jika Filia sulit menelan makanannya, setiap kali nasi yang masuk kedalam mulutnya, akan langsung keluar tak berapa lama setelah ditelannya. Akhirnya, Disya pun memutuskan untuk membuatkan Filia kue jahe, ia berharap makanan itu akan membantu Filia untuk memulihkan tenaganya.


Suasana rumah yang sangat lengang karena Tuan Dean dan Nyonya Rini sedang keluar kota bersama Rainer, membuat ia leluasa mondar-mandir di rumah itu. Bi Inah juga tidak melarang Disya untuk melakukan apapun yang ia inginkan, apalagi saat Bi Inah tahu jika Disya hendak menyiapkan makanan untuk Filia.


Disya sibuk dengan aktifitasnya sehingga ia tidak menyadari jika Filia sudah ada di belakang dan tengah memerhatikan semua kegiatannya.


Sepertinya Mbak Disya sedang sibuk, tpi dia sibuk ngapain? Dan aroma apa ini? tanya Filia dalam hatinya.


Tadi ia sempat beberapa kali memanggil Disya, tapi wanita itu tidak menghampirinya. Akhirnya Filia—lah yang mencari keberadaannya. Saat wanita hamil itu melewati ruangan dapur, indra penciumannya tak sengaja mengendus aroma kue kering berbau jahe, karena penasaran Filia pun melangkah ke dapurnya dan mendapati Disya yang tengah memasukkan loyang baru kedalan panggangan, sembari mengambil kue yang sudah jadi.


Wah, ternyata Mbak Disya pintar membuat camilan, gumamnya dengan hati yang senang. Lantas, Filia pun menghampiri Disya yang kini tengah menata makanan itu ke dlam toples.


"Mbak Disya," panggilnya secara tiba-tiba, hingga membuat orang yang dipanggilnya itu terkejut.


"Ya Tuhan, Non. Kenapa datang tiba-tiba? Bikin aku kaget aja," ucap Disya sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang.


"Maaf, Mbak. Habis dari tadi kuperhatikan, sepertinya sangat fokus sehingga Mbak tidak menyadari kahadiranku."


Disya menggeleng pelan saat mendengar jawaban Filia, entah kenapa dia selalu merasa nyaman jika sedang berada di dekat wanita hamil itu. Ada sudut hatinya yang meminta dia untuk terus melindunginya.


"Aku 'kan sedang sibuk menata kue ini," jawab Disya sembari memberikan toples yang baru saja ia isi ke hadapan Filia. "Cobalah, aku sengaja membuatkannya untuk Nona."


Filia menatap haru toples kue yang ada di depannya, ia bisa merasakan kasih sayang Disya yang sangat tutus padanya.


"Terima kasih banyak, Mbak," ucap Filia seraya menyeka sudut matanya yang mulai berair.


Disya tertegun saat melihat Filia yang meneteskan air mata, ia tidak menyangka jika perasaan wanita hamil sangat sensitif sekali.


Padahal aku hanya membuatkannya kue agar dia bisa makan, tapi reaksinya sangat diluardugaan. Sukurlah kalau dia menyukainya, batin Disya seraya menatap Filia yang mulai menikmati kue buatannya.

__ADS_1


"Sama-sama, Nona. Mau sekalian aku butin teh tawar hangat?" tanya Disya.


Filia langsung mengangguk setuju. "Boleh, Mbak."


Siang itu Filia mengisi perutnya dengan kue jahe buatan Disya. Setelah selesai, ia pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat dengan perut yang kenyang.


***


Lain halnya di tempat Gryson berada, pria itu tengah mencengkaram erat kertas yang berisikan bukti-bukti masa lalu mamanya. Ia tidak pernah mengira jika ternyata mamanya pernah menikah dengan pria lain saat bercerai dengan papanya. Bahkan yang lebih membuatnya terkejut adalah; fakta di mana Nyonya Mona pergi setelah satu minggu melahirkan anaknya, yang berarti itu adalah adik Gryson sendiri.


Kenapa selama ini aku tidak mengetahui kebenaran ini? Kufikir, aku sudah sangat dekat dengan Mama, tapi ternyata aku salah, aku tidak pernah dekat dengannya. Mama bisa menyembunyikan fakta ini dengan sangat baik. Selama hampir dua puluh tahun ini aku tidak mengetahui apa-apa tentangnya, batin Gryson sembri mengeratkan genggamannta sehingga membuat buku-buku jarinya memutih.


Beberapa saat yang lalu, utusan Alvin menemuinya dan memberikan laporan tentang wanita yang menemani Filia saat di rumah sakit.


Awalny Gryson tidak memercayai bukti-bukti tertulis itu. Namun, setelah ia melihat potret lawas mamanya bersama pria lain dalam keadaan mengandung, barulah ia memercayainya.


"Sekarang, bagaimana caraku untuk menemui wanita?" gumam Gryson pada dirinya sendiri. Kini di ruangan itu memang hanya ada dia seorang, karena bawahan Alvin segera pergi setelah memberikan laporan yang diminta oleh atasannya.


Gryson masih terus berdiam diri sambil mencoba berfikir bagaimana caranya agar Nyonya Mona mau berbicara terus terang padanya. Meskipun saat ini hatinya di penuhi rasa kesal dsan kecewa pada mamanya, tapi nyatanya ia tidak bisa memberontak. Padahal, jika memang Gryson berniat seperti itu, bisa saja ia melakukannya. Namun, ia tidak melakukan hal itu karena tak ingin mamanya menderita sakit sendirian. Jadi, sebisa mungkin ia tetap bersabar dan berharap mamanya suatu saat nanti mau berubah.


Saat Gryson sedang membereskan bukti-bukti tentang mamanya, tiba-tiba pintu rungannya terbuka lebar dan menampilkkan Nyonya Mona yang tengah menatap sendu dirinya. Gryson secepat mungkin segera menyimpan kertas-kertas itu agar tak di ketahui oleh Nyonya Mona.


Sampai detik ini, Nyonya Mona belum mengetahui tentang ingatan Gryson yang sudah pulih, Nyonya Mona masih mengira jika anaknya itu masih mengalami amnesia.


Gryson sendiri tidak berniat untuk memberitahukan hal itu pada Nyonya Mona dalam waktu dekat, ia masih ragu jika mamanya benar-benar akan melukai Filia, apalagi saat ini istrinya itu tengah hamil.


"Mama, ada apa?" tanya Gryson sedikit khawatir.


Nonya Mona tidak langsung menjawab pertanyaan Gryson, justru wanita paruh baya itu langsung menambrakan dirinya pada sang anak dan menangis tersedu-sedu di sana.


"Maaf, mafkan Mama," gumamnya disela-sela suara tangisannya.

__ADS_1


__ADS_2