
Sudah seminggu berlalu semenjak Gryson kembali masuk ke perusahaan. Dia sama sekali tidak bisa bergerak bebas karena Nyonya Mona selalu memata-matai semua kegiatannya, bahkan saat meeting di luar perusahaan pun Nyonya Mona tak pernah jauh-jauh darinya. Hal itu membuat ia jengah dan kali ini kesabarannya sudah habis, tak kala Nyonya Mona meminta Rachel untuk bekerja di perusahaanya.
Alvin juga tidak bisa berbicara berdua dengan Gryson, ruangan mereka seperti dipasangi penyadap suara, karena saat Alvin hendak menceritakan tentang keluarga Filia, dengan tiba-tiba Nyonya Mona selalu datang, hadir diantara mereka.
Gryson tak kehilangan akal, jika ponsel dan ruangannya disadap, maka ia akan memakai ponsel lain. Meskipun itu cukup merepotkan untuknya, tapi ia tidak punya pilihan. Gryson sebisa mungkin menyembunyikan ponsel itu agar tak diketahui oleh mamanya maupun Rachel.
Ya, wanita itu menjadi mata-mata Nyonya Mona. Gryson sendiri tidak mengetahui alasan mantannya itu kembali bersikap baik dan manis pada mamanya. Padahal saat di Negara J jelas-jelas Gryson bisa melihat wanita itu tak menyukainya.
Saat ini di ruangannya hanya ada dia sendiri, Rachel berhasil dia usir sementara dari ruang kerjanya.
Ya Tuhan, bisa-bisanya Mama menyuruh Rachel untuk bekerja di ruang pribadiku sendiri, batin Gryson sambil menatap pintu yang baru saja tertutup.
Gryson segera mengambil ponsel lain yang ia sembunyikan untuk mengirimkan pesan pada seseorang, ia secepat kilat melakukannya dan kembali bersikap seperti biasa saat Rachel sudah masuk ke ruangannya dengan membawakan minuman yang ia pesan.
"Silakan, Grys," ucap Rachel seraya menyimpan minuman di depan meja Gryson, jangan lupakan tingkahnya yang kadang membuat Gryson merasa ilfil.
"Maaf, sudah berapa kali saya katakan, jika sedang di area perusahaan, tolong hargai saya sebagai atasan kamu!" tegur Gryson untuk yang kesekian kalinya.
Rachel memangku tangan di depan dadanya serta memutar bola matanya dengan malas, sudah kesekian kalinya Gryson menegur dirinya dengan alasan seperti itu. Terkadang saat di luar perusahaan pun Gryson menjaga jarak dengannya.
Aku heran, jika memang ingatan dia masih belum pulih, kenapa setiap kali aku mendekatinya, dia selalu menolak dan menjauhiku? tanya Rachel dalam hati, ia terus memperhatikan Gryson yang masih berkutat dengan laptop dan kertas-kertas yang ada di hadapannya.
"Ayolah, Grys, memangnya kenapa jika aku memanggilmu dengan nama? Bukankan kita sepasang kekasih?" tanya Rachel yang langsung dihadiahi tatapan tajam dan dingin dari pria itu.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai? Jika 'Ya', segera berikan padaku!" perintah Gryson dengan tegas.
Rachel sedikit terkejut saat mendengar nada perintah Gryson yang dingin dan tegas. "B–baik." Ia segera berlalu menuju meja kerjanya yang ada di sudut ruangan itu.
__ADS_1
Bahkan wanita itu tak terlihat takut sama sekali, batin Gryson yang merasa frustasi sendiri. Hari-hari seperti itu sudah berlangsung selama lima hari dan itu cukup menguras emosinya, di mana dia tidak bisa marah atau berontak.
Saat Gryson dan Rachel sedang fokus pada pekerjaan mereka, tiba-tiba Nyonya Mona membuka pintu ruangannya dengan keras dan membuat Gryson serta Rachel terkejut.
"Ada apa, Ma?" tanya Gryson sambil melepas kaca mata anti radiasinya.
Nyonya Mona tak menjawab pertanyaan Gryson, tatapan tajamnya terarah pada Rachel yang masih menatap heran pada wanita paruh baya itu.
Tanpa basa-basi, Nyonya Mona langsung menampar pipi Rachel dengan keras. Hal itu membuat Gryson semakin heran dengan sikap sang mama.
"Tante?!"
"Mama, ada apa? Kenapa tiba-tiba menamparnya?" tanya Gryson seraya menahan tubuh Nyonya Mona agar tidak kembali menampar Rachel.
"Dasar wanita tidak tahu diuntung! Berani-beraninya kamu membohongiku! Perempuan murahan, dasar picik?!" Nyonya Mona tiba-tiba memaki Rachel dengan perkataan yang kasar.
"Ma, tenang dulu. Ada apa ini? Kenapa Mama tiba-tiba bersikap seperti itu padanya?" tanya Gryson yang masih merasa heran dengan perlakuan kasar mamanya.
"Dia–" Nyonya Mona menunjuk wajah Rachel dengan nafas memburu akibat emosi yang membuncah di dadanya. "–Wanita itu sudah berani menipu Mama, dia berdusta dengan mengatakan jika dirinya masih mencintaimu. Padahal dia sudah bertunangan dengan salah satu kolega bisnis kita dan pernikahan mereka akan digelar satu bulan lagi, Grys!" jelas Nyonya Mona dengan nafas yang kembang kempis.
Gryson hanya menanggapinya dengan senyuman tipis, dia sudah bisa memperkirakan jika Rachel hanya sedang memanfaatkan situasinya saja, untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Namun, ia masih akan terus berpura-pura tidak mengetahui maksud mamanya.
"Maksud Mama apa? Bukankah Mama mengatakan jika dia adalah tunanganku? Sekarang, bagaimana bisa dia sudah menjadi tunangan orang lain, bahkan sebulan lagi mereka akan menikah?" cerca Gryson.
"Mama mengetahuinya dari anak buah yang Mama tugaskan untuk menjaga kalian. Di belakang kita, Rachel secara sembunyi-sembunyi bertemu dengan tunangannya, mereka juga sering menginap di hotel bersama," jawab Nyonya Mona pelan, tadinya ia sudah sangat bahagia karena Rachel mau kembali bersama dengan anaknya. Namun, rasa bahagianya itu tidak berlangsung lama karena nyatanya Rachel hanya memanfaatkan dia beserta Gryson untuk mendapatkan keuntungan lain.
"Ta–tante, maafkan aku ... aku tidak bermaksud untuk membohongi kalian berdua. Aku memang masih menyayangi Gryson seperti dulu." Rachel masih mencoba untuk berdusta agar ia tidak semakin dibenci oleh Nyonya Mona, tapi perkiraannya itu salah karena Nyonya Mona sudah terlanjur kecewa dengan sikapnya.
__ADS_1
"Sudahlah. Kamu tidak perlu menjelaskan apapun lagi pada kami berdua. Sekarang kamu bisa pergi dari sini dan jangan pernah tunjukan lagi wajahmu di hadapan kami!" usir Nyonya Mona sambil menunjuk pintu ruangan Gryson yang terbuka lebar.
Rachel menggeleng pelan, ia menolak untuk pergi dari sana. "Tidak, Tante. Jangan usir aku. Aku ... aku masih membutuhkan pekerjaan ini," ucapnya dengan mengiba.
"Pergi sendiri, atau kupanggilkan petugas keamanan untuk menyeretmu keluar dari gedung ini!" tegas Nyonya Mona lagi.
Beruntung ruangan Gryson berada di lantai atas gedung itu dan hanya memiliki dua ruangan, jadi tak ada staf lain yang mengetahui kegaduhan di sana.
Rachel masih memandang Nyonya Mona dengan tatapan memohon, tapi wanita paruh baya itu tidak menanggapinya dan malah membuang muka kearah lain.
"Grys," Rachel mencoba untuk memanggil Gryson, ia berharap mantannya itu masih mau mempekerjakannya di sana karena restoran mamanya sedang membutuhkan suntikan dana, setelah kemarin mengalami kerugian akibat penipuan yang dilakukan oleh orang kepercayaan mamanya.
Gryson tidak menanggapi panggilan Rachel, ia juga memalingkan wajahnya ke arah lain. Akhirnya Rachel pun pergi dari sana dengan perasaan amarah. Ia tidak terima karena Nyonya Mona mengusirnya setelah menampar dirinya.
Awas saja kalian, aku tidak akan tinggal diam setelah kalian melakukan hal ini padaku. Akan kubuat kalian lebih menderita dari ini, batin Rachel sambil menghentakkan kakinya dan menggenggam tasnya dengan erat.
Orang-orang yang melihat kepergian Rachel saat masih jam kerja merasa sedikit heran, tapi tak ada dari mereka yang berani menanyakan hal itu karena mereka tidak mau ikut campur dengan urusan atasannya.
***
Setelah kepergian Rachel, Nyonya Mona mendudukan kasar tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan itu. Ia merasa sangat kecewa dan marah pada Lucy yang merupakan orang tua Rachel.
Gryson ikut duduk di samping sang mama untuk menenangkannya, ia memang bersyukur karena kini mamanya tak akan memaksa dia untuk berhubungan lagi dengan Rachel. Akan tetapi, hal itu tidak menutup kemungkinan jika mamanya akan menghadirkan Rachel yang lain di kehidupannya.
Sekarang, bagaimana caraku untuk membuat mama percaya, jika Filia adalah wanita baik-baik dan berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini ia suguhkan padaku? tanya Gryson dalam hatinya.
"Mama, sudahlah. Mungkin Rachel memang bukan wanita yang akan menjadi pendamping hidupku," ucap Gryson seraya memeluk mamanya dari samping.
__ADS_1
Nyonya Mona tidak menyahuti ucapan sang anak, ia masih sibuk dengan perasaannya. Kepercayaannya sudah disia-siakan begitu saja dan harapannya hancur oleh orang yang percayai.