
Hari mulai sore, Nyonya Mona memilih pulang setelah seharian tadi ia berdiam diri di ruang kerja anaknya. Rasa kesal pada Rachel di hatinya masih terasa, hingga ia memilih untuk tinggal di sana sembari mengawasi Gryson.
Bagaimanapun ia belum sepenuhnya percaya jika Gryson belum mendapatkan ingatan lamanya, apalagi ada salah satu anak buahnya ada yang pernah tanpa sengaja melihat Gryson berkeliaran di dekat rumah yang pernah ditinggalinya bersama Filia. Meskipun saat itu sedang bersama Alvin, tapi ia tidak memercayainya apa yang dikatakan oleh Gryson dan memilih untuk berjaga-jaga.
"Grys, Mama mau pulang sekarang. Kamu jangan pulang terlalu larut," pesan Nyonya Mona sebelum ia menutup pintu ruang kerja sang anak.
"Tentu, Ma. Hati-hati di jalan," ucap Gryson, ia mengangkat tangannya sesaat.
Nyonya Mona hanya mengangguk samar setelah mendengar ucapan anaknya. Langkah kakinya mulai menjauh dari pintu itu menuju lift yang akan membawanya ke lantai bawah.
Hah, rasanya sangat menyesakkan. Pengkhianatan Rachel membuatku benar-benar marah dan kecewa. Bagaimana bisa dia tega memanfaatkan kebaikanku selama ini, batin Nyonya Mona sambil mencengkram erat tas yang ia genggam.
Sesampai di lobby, Nyonya Mona segera berjalan menuju mobil jemputannya yang sudah menunggu di luar pintu masuk, bahkan ia tak membalas sapaan pawa pegawai. Namun, bagi yang sudah tahu perangai Nyonya Mona, mereka tak ambil hati karena hal itu sudah biasa.
"Silakan, Nyonya," ucap sopir pribadinya seraya membukakan pintu mobil.
Nyonya Mona tak menanggapi ucapan sang sopir, ia langsung duduk dengan anggun. Setelah nyonya—nya duduk dengan nyaman, sopir itupun segera menutup pintunya sebelum ia naik dan duduk di belakang kemudi.
Mobil berjalan dengan kecepatan rata-rata, tatapan Nyonya Mona terus terarah ke luar mobil, ia melihat pemandangan jalanan dengan pikiran yang melanglang buana. Pengkhianatan Rachel benar-benar membuat Nyonya Mona seolah terpuruk dan sulit untuk kembali percaya.
Saat melewati taman kota, pandangan Nyonya Mona terarah pada sepasang sejoli yang tengah bersenda gurau dengan riang sambil memainkan blok yang mereka susun. Tak jarang keduanya saling menggelitiki satu sama lain sehingga membuat orang-orang yang menatapnya mengira mereka adalah sepasang kekasih. Begitupun dengan Nyonya Mona, ia mengira Filia sedang bermesraan dengan pria lain.
Amarahnya kembali tersulut karena melihat Filia yang sedang tertawa riang dengan pria asing yang tak diketahuinya. Lantas ia pun meminta sang sopir untuk menghentikan laju kendaraan mereka. Meskipun sedikit heran, tapi sopir itu tak ambil pusing dan segera menuruti perintah majikannya.
Setelah mobil yang di tumpangi Nyonya Mona berhenti, ia segera turun tanpa menunggu sopir membukakan pintu untuknya. Dada Nyonya Mona tampak jelas naik turun dengan ritme yang cepat, emosi yang kini dirasakannya amatlah besar, sehingga membuat Nyonya Mona tak bisa lagi membendung amarahnya.
Dengan langkah lebar, Nyonya Mona segera menghampiri Filia. Wajahnya sudah tampak memerah karena emosi, ia tidak terima jika anaknya lagi-lagi dipermainkan oleh perempuan.
__ADS_1
"Wah ... wah ... wah ... jadi ternyata begini, 'ya kelakuan istri dari seorang Gryson? Bermain bersama laki-laki dan bersenang-senang di tempat umum." Nyonya Mona berkata dengan nada yang cukup tinggi, sehingga membuat beberapa orang yang berada dekat mereka seketika menoleh dengan pandangan herannya masing-masing.
Filia membatu seketika saat mendengar sapaan kasar sang mertua, ia belum mengetahui jika Nyonya Mona sudah kembali dari Negara J. Berbeda halnya dengan Rainer yang langsung bangun dan berdiri mencari keberadaan Disya, ia masih takut dengan orang-orang yang berbicara dengan nada tinggi.
Filia segera bangkit dan memeluk tangan Rainer untuk menenangkannya, ia seakan lupa jika Nyonya Mona sedang berdiri di depannya.
"Abang jangan takut, Lia ada di sini," ucap Filia sambil terus mengusap lengan atas Rainer.
Nyonya Mona semakin meradang saat melihat perlakuan Filia pada pria yang sedang berdiri bersamanya. Tanpa basa-basi, Nyonya Mona menarik tangan Filia dengan kasar dan membuat wanita itu hampir terjatuh jika tidak ditahan oleh seseorang.
"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya orang itu.
Filia segera menegakkan tubuhnya kembali dan berdiri di depan Nyonya Mona, ia menatap dingin mertuanya.
"Saya baik-baik saja. Terima kasih," jawab Filia tanpa mengalihkan tatapannya dari Nyonya Mona.
Pria yang baru saja menolong Filia tidak berani ikut campur. Setelah ia menjawab ucapan Filia, pria itu pun segera berlalu dari sana meninggalkan Filia, Nyonya Mona dan juga Rainer yang masih berdiri ketakutan di samping adik perempuannya.
Nyonya Mona menatap menantunya dengan pandangan yang tak kalah tajam, dagunya terangkat dan tangan yang ia lipat di depan dada. "Apa peduliku? Syukur-syukur jika kamu lenyap dari muka bumi ini, agar anakku tidak pernah mengetahui bagaimana sikap istrinya di belakang dia," ucapnya.
Filia menggelengkan kepalanya samar saat ia mendengar kata-kata kasar yang baru saja keluar dari bibir mertuanya, ia tidak pernah menyangka jika mertuanya bisa berucap seperti itu padanya.
"Saya tidak mengerti maksud Anda, Nyonya. Tapi jika Anda mengira pria ini selingkuhan saya, maka Anda salah besar," ucap Filia.
Meskipun emosi dan sakit hati karena perkataan kasar Nyonya Mona dirasakannya, Filia masih mencoba untuk meredamnya, ia tidak ingin sampai emosinya terpancing hanya karena kata-kata kasar sang mertua.
"Cih, sudah kepergok juga ... masih saja membantah. Apa kamu segitu kesepiannya, sehingga dengan cepat-cepat mencari pria pengganti anakku?" tanya Nyonya Mona sambil menatap Filia dengan sinis.
__ADS_1
Filia mendesah kasar seraya menggeleng pelan. Mau bagaimanapun dia membantah, tetap saja Nyonya Mona tidak akan mempercayai kata-katanya.
"Nyonya, saya tidak pernah sekalipun berfikir untuk menghianati suamiku sendiri. Anda sudah salah paham," ucap Filia dengan menekankan kata-katanya.
"Salah paham? Salah paham di mana? Jelas-jelas aku melihat sendiri kedekatan kalian seperti apa? Mana lagi yang mau disebut salah paham?" tanya Nyonya Mona setengah membentak Filia.
"Nyonya, pria ini adalah Kakakku. Kami baru bersama seminggu yang lalu," jawab Filia, ia berusaha untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara ia dan mertuanya.
"Kakak? Sejak kapan kamu memiliki seorang Kakak? Apa kamu kira aku tidak mengetahui tentang keluargamu, hah?" sergah Nyonya Mona.
Tak lama kemudian, Disya datang menghampiri Filia dengan tergopoh-gopoh. Dari kejauhan ia melihat kerumunan orang-orang di tempat Filia dan Rainer berada, hal itu membuatnya khawatir jika sudah terjadi sesuatu pada Nona dan Tuan mudanya.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?" tanya Disya dengan memerhatikan Filia dan Rainer bergantian, ia juga sempat menyerobot Nyonya Mona sehingga membuat wanita paruh baya itu menatap kesal pada Disya.
"Heh, gadis kampung, apa-apaan kamu jalan main serobot saja, hah?!" bentak Nyonya Mona sambil berkacak pinggang menatap kesal pada Disya.
Disya membalikkan tubuhnya dan menatap Nyonya Mona. Gadis itu tertegun beberapa saat setelah melihat wajah wanita paruh baya yang baru saja membentaknya.
Begitupun Nyonya Mona, ia sempat terkesima saat melihat mata wanita muda di depannya.
"Maaf karena saya udah berperilaku kurang sopan," ucap Disya tanpa menatap Nyonya Mona.
Setelah meminta maaf pada Nyonya Mona, Disya pun kembali membalikkan tubuhnya dan bertanya tentang keadaan Filia. Gadis itu tidak lagi menghiraukan Nyonya Mona yang masih menatap dirinya.
"Aku baik-baik saja, Mbak," ucap Filia yang melihat kekhawatiran di wajah Disya.
"Syukurlah. Nona, Tuan, sebaiknya kita pulang saja dari sini. Lagian sebentar lagi sudah mau magrib, gak baik buat ibu hamil," ucap Disya yang langsung diangguki oleh Filia.
__ADS_1
Lagi-lagi Nyonya Mona di buat terkejut oleh penuturan gadis muda yang masih memunggunginya. Namun, saat ia sudah tersadar dari rasa terkejutnya, ketiga orang itu sudah melangkah jauh dari hadapannya.
Apa dia berkata ibu hamil? Jangan-jangan gadis kecil itu sedang hamil? tanya Nyonya Mona sambil menatap kepergian tiga orang itu.