Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 49


__ADS_3

Gryson meninggalkan Filia dan Clara di depan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Mereka berdua hendak mengenang masa lalu yang pernah di lewati.


"Jadi ... kita mulai dari mana?" tanya Clara saat mereka sudah turun dari mobil milik Gryson.


Filia tampak memerhatikan sekitar, sebenarnya ia tidak terlalu tertarik saat tiba-tiba Clara datang ke rumah dengan alasan ingin mengajaknya untuk berbelanja, hanya saja ia merasa sedikit tidak enak hati jika langsung menolaknya.


"Terserah kamu saja, Ra. Aku akan ikut kemanapun kamu mengajakku," jawab Filia saat ia sudah melihat sekitar dan ternyata tidak ada yang membuatnya tertarik.


"Begitu, kah? Apa mungkin ada tempat yang ingin kamu datangi?" tanya Clara saat mereka mulai melangkah ke pintu masuk.


"Entahlah ... aku tidak berminat untuk pergi ke mana pun. Jadi, aku hanya akan mengantarmu saja," jawab Filia.


Clara tampak termenung saat mendengar jawaban sahabatnya itu. Dia juga merasa tidak enak hati karena sudah memaksa Filia untuk ikut bersamanya dan menemani ke pusat perbelanjaan, sedangkan Filia sendiri tidak berminat pergi.


"Maaf, aku terkesan sudah memaksamu, Lia." Clara menghentikan langkahnya dan membiarkan Filia untuk melangkah terlebih dahulu.


"Hei ... bukan seperti itu. Maksudku, saat ini aku tidak sedang membutuhkan ataupun menginginkan sesuatu. Jadi, aku juga bingung jika kamu memintaku untuk memilih."


Setelah beberapa saat terdiam, Filia pun mengajak Clara untuk pergi ke salah satu toko buku yang ada di sana.


"Ya sudah. Bagaimana kalau kita mengunjungi toko buku saja?"


"Toko buku? Untuk apa?" tanya Clara bingung.


"Bukankah kamu masih kuliah, Ra?" Filia bertanya karena Clara dan dirinya masih satu angkatan.


"I–iya juga, sih. Kalau begitu, baiklah. Mari kita ke sana saja." Clara mengalah dan menuruti ajakan Filia yang mengajaknya ke toko buku, ia memang paling enggan untuk datang ke tempat-tempat seperti itu.


"Oh, iya. Bagaimana dengan kuliahmu? Apakah kamu akan meneruskannya?" tanya Clara yang tiba-tiba ingat jika saat ini sedang diskors dari kampusnya.


"Aku tidak tahu. Saat ini aku belum memikirkan hal itu lagi, aku juga cukup malu atas tuduhan yang menimpaku," jawab Filia pelan sambil menunduk.

__ADS_1


"Hmmm, aku mengerti."


Sesampai di toko buku, Filia dan Clara berpencar untuk mencari buku bacaan mereka masing-masing. Filia senang saat ia menemukan salah satu buku novel yang sangat digemarinya.


Akh, ada untungnya juga aku mendatangi toko buku ini. Ternyata aku mendapatkan novel yang selama ini aku cari, gumam filya sambil memeluk buku novel itu.


Saat dirinya sedang melihat kembali buku-buku yang lain, tiba-tiba dari arah belakang datang seseorang menyapanya.


"Hai Lia, apa kabar?" tanya pria yang kini sedang berdiri menjulang di depan Filia.


Filia menatap laki-laki itu dengan mengerutkan kening sambil memicingkan matanya, ia tengah mengingat-ingat pria yang sekarang berdiri di hadapannya.


"Maaf, kamu siapa?" tanya Filia yang memang tidak mengetahui pria itu.


Pria itu tersenyum sebelum menjawab, "Aku Elouwis. Apa kamu sudah melupakanku?"


"Elouwis? Maaf, tapi aku tidak mengingatmu dan tidak mengenalmu," jawab Filia sambil menunduk.


"Apa kamu sudah benar-benar melupakanku, Lia?" Pria bernama Elouwis itu kukuh merasa dirinya mengenal Filia, sedangkan Filia sendiri tidak mengetahui dan tidak mengenali Elouwis.


"Lia, kamu jangan seperti itu. Aku benar-benar sedih jika kamu sudah melupakanku," ucap Elouwis dengan wajah sedihnya.


Dasar pria aneh, aku bahkan sama sekali tidak mengenalnya. Tapi, kenapa dia ngotot sekali untuk mengaku bahwa dirinya mengenaliku? batin Filia sambil menatap tajam pria yang masih berdiri di hadapannya.


"Tuan, jika anda tidak benar-benar pergi dari hadapanku saat ini, aku akan berteriak dan menuduh sudah melakukan pel*c*han terhadap!" ancam Filia yang mulai kesal.


Melihat wajah Filia yang mulai marah, pria itu tersenyum tipis dan mencondongkan tubuhnya sebelum berkata, "Lakukanlah jika kamu memang berani melakukan hal itu."


Filia membulatkan matanya saat mendengar ucapan pria yang tidak dikenalnya itu. Ia tidak mengerti sama sekali apa yang sudah terjadi saat ini, dirinya memang benar-benar tidak mengetahui Elouwis. Bahkan, Filia juga sudah berusaha mengingat-ingat nama teman-temannya hingga nama teman masa kecilnya. Namun, tak satu pun dari mereka yang bernama Elouwis.


Sepertinya dia memang datang sengaja untuk menipuku. Tapi ... kira-kira siapa yang menyuruhnya? Apa alasan dia melakukan hal ini padaku? batin Filia bertanya-tanya. Ia mencoba mengingat siapa-siapa saja yang sedang berusaha untuk menyingkirkan dirinya.

__ADS_1


Saat dia masih terdiam, pria itu tiba-tiba mendekat dan hendak menciumnya. Namun, tidak berhasil karena Filia segera menghindar dan pergi dari hadapan pria itu. Bahkan ia juga sempat menendang bagian bawah pria itu hingga membuatnya berteriak kesakitan.


"Akh, s*al! Dasar wanita murahan." Pria yang bernama Elouwis itu menggerutu sambil menahan inti tubuhnya yang kesakitan.


Filia segera kabur menjauh pergi dari Elouwis, sebelum pria itu kembali mengejarnya. Ia sangat takut jika Elouwis sampai menangkapnya.


Ya Tuhan, aku harus segera pulang dari sini. Aku benar-benar ketakutan, tolong lindungi aku, batin Filia sambil berjalan cepat meninggalkan toko buku itu. Ia juga melupakan Clara dan pergi begitu saja setelah menyimpan kembali buku yang hendak ia beli tadi.


Saat Filia sudah berada di luar pusat perbelanjaan, ia berhenti sejenak untuk menarik nafasnya terlebih dahulu dan menetralkan detak jantungnya yang menggebu-gebu, seseorang datang dari arah belakang dan menggapai tangannya sehingga membuat Filia terjengkit kaget.


"Ya Tuhan, Ra. Kenapa kamu mengejutkanku?" tanya Filia saat mengetahui jika Clara—lah yang sedang menyentuhnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu terkejut. hanya saja tadi aku sempat melihatmu berjalan dengan terburu-buru, makanya aku segera menyusul mau kemari. Ada apa? Apa sudah terjadi sesuatu?" tanya Clara.


"Aku ... tidak ada apa-apa. Hanya sedang terburu-buru untuk pergi ke toilet," jawab Filia yang terdengar tidak masuk akal.


Clara mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan jawaban yang dilontarkan oleh sahabatnya. "Apa maksudmu?"


"Tadi ada seseorang yang hendak mencelakaiku." Filia memberitahukan alasannya ketika ia berlalu pergi dari sana tadi.


"Benarkah? sepertinya itu hanya perasaanmu saja, Lia. Dari tadi aku berada terus di belakangmu dan aku tidak melihat apapun, kecuali saat kamu sedang berbincang dengan seorang pria tentunya," ucap Clara sambil tersenyum penuh arti.


Filia menyadari arti senyuman Clara padanya, dia mengerti jika Clara mengiranya bahwa pria tadi adalah salah satu teman dekat Filia


"Ti–tidak, Ra! Bukan seperti itu. Aku juga tidak mengetahui siapa pria itu." Filia menyanggah perkiraan Clara dengan segera, ia tidak ingin jika sahabatnya itu mempunyai pikiran yang aneh-aneh tentang dirinya.


"Ayolah, Lia. Aku juga wanita, hal yang wajar jika kita banyak disukai oleh laki-laki," ucap Clara sambil mengedipkan matanya.


Filia menggeleng pelan, ia tidak terima jika Clara berpikir seperti itu tentangnya. "Tidak, Ra. Aku benar-benar tidak mengenal pria itu," tolaknya.


"Ya sudahlah, kalau kamu tidak mau mengakuinya. Tidak apa-apa. Sekarang, ayo kita pulang saja jika tidak ada yang kamu inginkan lagi." Clara langsung menarik pelan tangan sahabatnya itu.

__ADS_1


Filia yakin, Clara sekarang masih berpikiran bahwa pria tadi merupakan salah satu teman dekatnya, tapi ia tidak mempunyai cara untuk membuktikannya. Ya sudahlah, biarkan saja. Toh Mas Grys pasti akan percaya padaku.


Setelah perdebatan kecil itu, mereka pun meneruskan perjalanannya untuk pulang ke rumah dengan menggunakan taksi online yang sebelumnya sudah dipesan oleh Filia.


__ADS_2