Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 51


__ADS_3

Hati Filia yang tadinya tidak mood, tiba-tiba berubah kala ia menerima pesan dari Nyonya Rini, sang Mama yang memintanya untuk bertemu di salah satu hotel pinggir kota. Setelah mengantarkan Clara pulang ke rumahnya, ia segera menyetujui permintaan mamanya itu.


Ya Tuhan, aku sudah sangat merindukan Mama dan Papa. Mudah-mudahan saja Bellina tidak mengetahui pertemuan kami ini, batin Filia sambil memeluk erat ponsel yang digenggamnya.


Sesampai di tempat tujuan, ia segera keluar dari mobil dan membayar taksi online yang sudah mengantarkannya itu. Hati Filia kembali berdebar tak kala langkahnya semakin mendekati ruangan kamar yang menjadi tempat di mana keberadaan kedua orang tuanya saat ini.


Filia berjalan dengan penuh waspada, sebelum masuk ke kamar itu terlebih dulu ia menengok ke kanan dan kiri. Sepertinya sudah aman, batinnya sambil melangkah masuk ke kamar hotel itu.


Nyonya Rini segera menghampiri sang anak yang sudah berada di dalam kamar, ia segera menutup kembali pintu kamar hotel itu sebelum ada orang yang melihat keberadaan mereka.


"Mama, Papa." Filia langsung memeluk Nyonya Rini dengan erat, begitupun dengan Tuan Dean yang sudah sangat merindukan anak semata wayangnya itu.


"Ya Tuhan, Nak. Mama dan Papa sudah sangat merindukanmu, maafkan kami yang sudah melukai perasaanmu," ucap Tuan Dean sambil ikut memeluk istri beserta putri tercinta mereka.


"Lia kira, Mama dan Papa benar-benar membenciku karena sudah melakukan kesalahan besar. Lia juga minta maaf karena sudah membuat kalian malu saat itu." Filia menangis dalam dekapan kedua orang tuanya. Ia tidak mengira jika Nyonya Rini dan juga Tuan Dean akan memintanya untuk bertemu hari ini.


"Semua itu bukan kesalahanmu, Sayang. Bellina dan Tante Ellena sudah mengatur semuanya, mereka merencanakan hal itu untuk menjebak mu," ucap Tuan Dean sedikit menjelaskan permasalahan saat itu.


"Apa alasan mereka melakukan hal itu, Pa?"


Tuan Dean dan Nyonya Rini mengajak sang anak untuk duduk di sofa kamar itu.


"Kamu ingat Paman Mellano?" tanya Papa Dean setelah mereka duduk. Mama Rini tidak melepas pandangannya dari sang anak, ia terus menerus mengusap kepala Filia dengan sayang.


"Apa maksud Papa suaminya Tante Ellena?"


Tuan Dean mengangguk dan membenarkan pertanyaan sang anak, kemudian ia menjawab, "Iya. Paman Mellano ingin menguasai harta Mama. Namun, usaha pertamanya gagal dan membuat ia dipenjara. Sekarang giliran Tante Ellena yang menjalankan rencana mereka berdua, dengan melibatkan Bellina yang menjebakmu dan membuatmu terikat pernikahan dengan Gryson. Awalnya mereka menjualmu pada seorang pria botak, tapi suamimu tahu dan menyelamatkanmu."


Filia menutup mulut karena terkejut, ia tidak menyangka jika kejadian di klub malam itu adalah ulah dari sepupunya sendiri yang menjual dirinya.

__ADS_1


"Ke–kenapa mereka setega itu padaku, Pa, Ma?" tanya Filia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Paman Mellano tidak terima karena Kakek dan Nenekmu hanya memberikan 40% harta mereka dan 60% untuk Mamamu."


"Ya Tuhan ... jadi, ini semua karena harta? Bukankah dulu Paman Mellano sangat menyayangi Mama?"


"Hmmm, Mama juga tidak menyangka mereka akan melakukan hal seperti ini. Untuk sekarang, kamu yang sabar dulu, ya. Kami sedang berusaha secepatnya untuk menyelesaikan semua masalah ini," jawab Nyonya Rini.


Filia tertegun mendengar jawaban sang mama. "Apa itu artinya kita akan terus bertemu secara sembunyi-sembunyi seperti ini untuk beberapa saat ke depan?"


Nyonya Rini dan Tuan Dean mengangguk membenarkan pertanyaan sang anak, mereka juga merasa berat hati karena harus bersikap seperti ini. Namun, untuk menyelesaikan semua masalah, mereka harus mengalah dan bersabar.


"Baiklah, aku mengerti."


Meskipun dengan berat hati, Filia akhirnya mengangguk dan menyetujui permintaan kedua orang tuanya.


Nyonya Rini berinisiatif untuk kembali bertanya setelah keheningan beberapa saat yang melanda mereka.


"Sayang, bagaimana dengan hubunganmu dengan Gryson?"


Filia menunduk malu dan menjawab, "Hubunganku dan Mas Grys sudah selayaknya sepasang suami istri, Ma, Pa."


Nyonya Rini dan Tuan Dean mengembuskan nafasnya lega.


Berarti yang Gryson katakan beberapa hari lalu adalah kebenaran. Jadi sekarang aku tidak perlu mengkhawatirkan Filia lagi, batin Tuan Dean sambil tersenyum hangat pada anaknya.


"Syukurlah, Mama senang mendengarnya, sayang." Nyonya Rini mengecup kening Filia sesaat.


Keluarga kecil itu menghabiskan waktu hingga menjelang sore di dalam kamar hotel. Filia bercerita tentang banyak hal, termasuk tentang rencana yang sedang dijalani oleh Nyonya Mona, Tante Ellena, Bellina serta Clara. Filia menyadari bahwa Clara juga termasuk orang yang menginginkan ia berpisah dengan Gryson.

__ADS_1


Sekarang, hatinya merasa lebih tenang karena, ia sudah bisa bercerita kembali pada mamanya. Meskipun waktu yang mereka habiskan cukup singkat, tetapi itu tidak membuat Filia sedih.


Saat sore hari, Filia pamit pulang terlebih dahulu pada kedua orang tuanya. Ia lupa jika dirinya tidak menghubungi Gryson siang tadi.


"Ma, Pa, Lia pamit pulang terlebih dulu," ucap Filia sebelum ia membuka pintu kamar hotel.


"Iya, sayang. Hati-hati di jalan dan ingat pesan Mama yang tadi siang." Nyonya Rini mengedipkan sebelah matanya sebelum Filia benar-benar pergi dari kamar itu.


"Baik, Ma. Aku mengerti."


Filia berjalan keluar dari hotel itu dengan senyum riang gembira, langkahnya terasa ringan setelah bertemu dan bercerita pada kedua orang tuanya. Filia segera masuk ke dalam mobil taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya.


Sepanjang perjalanan, senyuman Filia terus tersungging. Beberapa kali ia memegang dadanya yang masih berdebar karena merasa hatinya sangat plong.


Sesampai di rumah, Filia segera masuk. Ia melihat Gryson dan Nyonya Mona sedang duduk di sofa, dengan cepat, ia menghampiri mereka berdua.


"Bagus. Suami pulang ke rumah tanpa sambutan dari istri. Karena istrinya sibuk bertemu dengan selingkuhannya," ucap Nyonya Mona dengan sinis sambil menatap Filia dan mencibirnya.


Filia mematung di depan suami dan mertuanya, ia tidak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Nyonya Mona.


"A–apa maksud Mama berbicara seperti itu padaku?"


"Ck, kamu masih berani bertanya? Hentikan semua sandiwara yang sedang kamu jalani itu! Kami tidak akan tertipu lagi oleh wajah dan tingkah polosmu!" teriak Nyonya Mona di depan wajah Filia.


Filia langsung tersungkur saat mendengar teriakan mertuanya, ia benar-benar tidak mengerti dengan situasi saat ini.


"Ma–mas, ada apa? Kenapa kamu memandangku seperti itu?" tanya Filia pada Gryson saat melihat suaminya yang menatap tajam dirinya.


"Aku sudah terlalu percaya padamu dan melupakan jika kamu hanya wanita yang kutemui sesaat. Aku tidak benar-benar mengenalmu." Greyson menarik nafasnya sesaat, sebelum kembali berkata, "Sekarang aku mengerti alasanmu membuat perjanjian menikah empat puluh hari. Aku menyerah, tidak akan pernah menghalangimu lagi. Aku melepaskanmu. Kamu bebas melakukan apapun."

__ADS_1


__ADS_2