Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 80


__ADS_3

"Tolong jangan pergi dari sini, Mona. Anak kita masih membutuhkan kasih sayang darimu. Tidakkah kamu menyayanginya juga?" tanya seorang pria yang sedang menggendong bayi merah yang baru beberapa hari lalu dilahirkannya.


"Aku tidak mau, Wan. Aku tidak bisa meneruskan pernikahan kita, mantan suamiku sudah kembali. Aku ingin kembali padanya, lagipula aku juga memiliki anak lain." Wanita yang dipanggil Mona itu melenggang pergi meninggalkan seorang pria yang masih berdiri memohon dengan menggendong bayi merah di tangannya.


"Mona, aku mohon jangan meninggalkan Disya. Dia juga anakmu?!" teriak pria itu.


'Degh'


Nyonya Mona langsung terbangun dari tidurnya dengan nafas yang tersengal-sengal dan keringat sebesar biji jagung menetes di dahinya, ia segera menyambar air minum yang ada di atas nakas dengan tangan bergetar.


Kenapa ... kenapa aku harus mengingat hal itu lagi? Tidak mungkin jika gadis yang kutemui di taman itu adalah anakku, batin Nyonya Mona sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Wajah gadis itu tidak bisa ia hilangkan dari bayangannya, rasa bersalah yang selam ini ia pendam kembali terasa di hatinya. Meskipun waktu sudah berlalu berpuluh tahun, tapi nyatanya ia tak bisa menghilangkan perasaan itu.


Dulu, Nyonya Mona sempat berpisah dengan suami pertamanya, Ayah Gryson. Mereka berpisah karena suaminya pernah berkhianat dan menjalin hubungan dengan wanita lain, sehingga membuat Nyonya Mona menggugat cerai. Setelah bercerai dengan Ayah Gryson, Nyonya Mona menikah dengan seorang pria biasa dari perkampungan, kehidupan mereka cukup harmonis untuk beberapa bulan, sebelum akhirnya mantan suami pertamanya membujuk Nyonya Mona agar kembali padanya. Nyonya Mona yang saat itu masih memiliki perasaan pada mantan suaminya pun memilih untuk meninggalkan bayi merah yang baru seminggu ia lahirkan dan kembali ke kota bersama ayah dari anak pertamanya. Apalagi saat itu Nyonya Mona di iming-imingi harta yang melimpah sehingga membuatnya tega meninggalkan bayi perempuannya bersama suami yang sangat mencintainya.


Setelah beberapa saat terdiam, Nyonya Mona memilih bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju balkon. Ia berharap angin malam bisa membuatnya mengantuk dan melupakan kejadian yang sudah berlalu sekitar 21 tahun itu.


Namun harapannya tak juga terkabul, semakin ia merasa sepi, semakin besar pula rasa bersalah yang kian ia rasakan terhadap anak dan mantan suami keduanya dulu.


"Wan, apa kamu sengaja menyuruh anakmu untuk mengusik kehidupanku sekarang?" tanyanya pada embusan angin.


Nyonya Mona tidak tahu jika mantan suami keduanya itu sudah meninggal, semenjak mereka bercerai dan Nyonya Mona kembali menikah dengan Ayah Gryson, ia tidak lagi mengetahui bagaiman kabar keduanya.


Nyonya Mona menebak Disya adalah anaknya karena paras mereka yang tak jauh berbeda saat ia masih muda dulu, hanya saja gadis itu memiliki tinggi badan yang melebihinya dengan rambut hitam, lurus dan panjang, mirip ayahnya, Irwan. Sedangkan dia sendiri memiliki rambut berwarna coklat gelap dan sedikit curly bagian bawahnya.


Setelah puas menyendiri di balkon, Nyonya Mona kembali masuk dan merebahkan tubuhnya di kasur, ia memilih untuk memaksakan matanya agar terpejam dan melupakan masa lalunya, lebih tepatnya memaksa untuk lupa.

__ADS_1


***


Di tempat lain, Disya juga mengalami hal yang sama. Entah kenapa hatinya merasa sesak tanpa sebab setelah ia bertemu dengan wanita paruh baya yang sudah mengusik Filia sore tadi.


Ada perasaan sakit yang tak bisa Disya ungkapkan saat mengingatnya. Gadis itu memilih untuk bangun dan duduk di kasur sembari mengeluarkan secarik foto yang ia dapat dari neneknya dulu.


Di sana ada foto dirinya saat masih kecil sedang dipangku oleh sang ayah. Sedari kecil ia tak pernah mengetahui ibunya, nenek dan kakeknya pun seolah selalu menutupi hal itu sehingga membuat Disya tak pernah lagi bertanya tentang sang ibu dan menganggapnya sudah meninggal. Namun, saat setelah bertemu dengan sosok yang ia ketahui sebagai mertua nona—nya, pertanyaan itu kembali muncul. Disya sangat penasaran, tapi ia tak bisa bertanya pada Bah Ija karena Disya tahu kakeknya itu ta akan pernah menjawab pertanyaannya.


"Ayah, apa sebenarnya Ibu masih ada?" tanya Disya pada foto itu. "Tapi, kalau emang Ibu masih ada, kenapa dia meninggalkanku, seolah gak menginginkan aku?" sambungnya lagi.


Semakin ia penasaran, semakin takut juga ia mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Akan tetapi rasa penasarannya semakin bertambah, apalagi setelah ia bertemu dengan wanita yang berstatuskan mertua majikannya.


Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri, tidak mungkin jika Abah mau menjawab pertanyaanku, batin Filia.


"Ayah, tolong jaga aku dari sana, 'ya. Kalau nanti aku sakit hati, aku akan bilang sama Ayah. Maaf, aku sangat penasaran dengan Ibu, jadi aku akan mencari tahunya. Ayah jangan marah, 'ya." Disya mengecup foto itu cukup lama sebelum ia kembali menyimpannya di bawah bantal yang ia tiduri.


***


"Lia, kamu tidak apa-apa 'kan jika Disya yang mengantarmu?" tanya Tuan Dean saat mereka tengah sarapan.


Filia mengangguk dan tersenyum pada kedua orang tuanya. "Mama dan Papa tidak perlu khawatir, aku dan Mbak Disya pasti bisa jaga diri," jawabnya. "Lagipula kalian juga harus mengantar Abang untuk terapi 'kan? Mudah-mudahan saja setelah pulang dari sana, Abang Rain semakin sehat," sambungnya lagi.


Nyonya Rini dan Tuan Dean mengangguk menyetujui ucapan anak perempuannya. Tentu saja mereka sangat berharap Rainer bisa sembuh dan menjalani hari-harinya dengan normal, mereka ingin Rainer yang menjalankan bisnisnya karena Filia memilih untuk fokus pada kehamilan dan pernikahannya.


"Disya, kamu tidak keberatan 'kan jika mengantar Filia cek kandungan?" tanya Tuan Dean menatap gadis yang ia percayai untuk merawat anak laki-lakinya.


"Iya gak apa-apa, Pak. Saya pasti bisa menjaga Nona," jawab Disya sembari mengangguk dan tersenyum pada majikannya.

__ADS_1


"Baiklah, saya percaya kamu pasti bisa menjaga Filia dengan baik."


Setelah acara sarapan itu usai, Tuan Dean dan Nyonya Rini segera berpamitan bersama Rainer utuk memulai perjalanan mereka.


"Mama, Papa dan Abang hati-hati di jalan. Kabari aku jika kalian sudah sampai di tempat tujuan," ucap Filia sebelum mobil itu berlalu dari pekarangan rumahnya.


"Tentu, sayang. Kamu dan Disya juga hati-hati nanti. Kabari kami jika terjadi sesuatu," pesan Nyonya Rini yang langsung diangguki oleh Filia.


Disya dan Filia menatap mobil yang perlahan mulai menghilang dari pandangan mereka. Meskipun arah pandangan mereka sama, tapi tidak dengan pikirannya. Disya bertekad untuk mencari tahu tentang ibunya hari ini, tentunya setelah ia mengantar Filia memeriksakan kandungan.


"Mbak?!" Filia menyentuh bahu Disya dengan sedikit menggoyangkannya, sedari tadi ia sudah memanggil Disya. Namun, gadis itu hanya terdiam tak bergeming dengan tatapan kosong ke arah pagar yang sudah tertutup rapat.


Disya menatap Filia dengan pandangan terkejut, bahkan ia juga memegangi dadanya yang sudah berdetak cepat.


"Nona, kenapa mengagetkanku?" tanya Disya.


Filia menatap Disya dengan sebelah alis yang terangkat, ia merasa heran karena Disya sedari tadi hanya terdiam saat dirinya beberapa kali memanggil, tapi tidak ditanggapi olehnya.


"Mbak Disya melamun, 'ya?" tanya Filia sambil menunjuk wajah dan tersenyum usil pada Disya.


"Apa sih, Non. Aku nggak lagi melamun, ko'," kilahnya. Ia tidak ingin jika Filia mengetahui permasalahan yang tengah dihadapinya. Karena menurutnya, jika dia masih bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, maka tidak perlu ada orang lain mengetahui permasalahannya.


"Mbak kenapa melamun?" tanya Filia yang tidak menanggapi ucapan Disya. Ia yakin jika wanita yang ada di hadapannya itu tengah memiliki masalah.


"Aku gak ngelamun, Non," jawab Disya. "Udah, 'yu. Kita masuk ke dalam." Disya menarik pelan tangan Filia untuk diajaknya masuk ke rumah.


Filia mengikuti langkah Disya dengan malas, ia tahu jika Disya mungkin sedang memiliki masalah, tapi ia juga tidak bisa memaksanya untuk bercerita.

__ADS_1


__ADS_2