Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 69


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Filia hanya terbaring di kamarnya dengan ditemani Nyonya Rini. Ia dipaksa kedua orang tuanya untuk kembali ke rumah, karena khawatir jika hanya tinggal sendirian di apartemen yang selama ini ditinggalinya.


Jika aku sakit seperti ini, apakah itu artinya aku tidak akan bisa menyusul Mas Grys ke Negara J? gumam Filia sambil menatap ponsel dan berharap mendapat informasi dari Alvin, selaku sekretaris pribadinya Gryson.


Setelah merasa tubuhnya sedikit lebih segar, Filia memutuskan untuk menemui kedua orang tuanya yang sedang berada di ruang keluarga. Namun, belum sempat ia sampai ke sana, pendengarannya tanpa sengaja menangkap pembicaraan Tuan Dean dan Nyonya Rini. Filia memilih untuk berdiri di samping tembok yang menjadi sekat ruangan itu.


"Apa Mama tidak keberatan jika aku mencari keberadaan anak Vera?" tanya Tuan Dean sambil menatap serius istrinya.


Nyonya Rini mengangguk pelan, nalurinya sebagai ibu menggerakkan hatinya untuk merasa khawatir pada anak dari masa lalu suaminya. "Aku mengijinkannya karena aku seorang Ibu, Mas. Lagi pula aku bukan wanita jahat yang tega membiarkan anak tidak bersalah menjadi sasaran amarah Ellena," jawabnya pelan.


Bukan hal mudah bagi Nyonya Rini untuk melakukan hal itu, tapi dia sedang berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


Aku yakin, apa yang kualami saat ini psti akan ada hikmahnya. Ya, semoga saja aku mengambil keputusan yang benar dengan merawat anak Vera dan suamiku, batin Nyonya Rini.


"Baiklah, aku akan meneruskan pencariannya. Semoga saja anak itu masih dalam keadaan sehat," sahut Tuan Dean yang sebenarnya ia juga merasa tidak sakin dengan ucapannya sendiri, apa lagi Ellena bukan tipe wanita yang bisa di ajak berbicara baik-baik.


"Hmmm ...." Nyonya Rini hanya menjawab sahutan Tuan Dean dengan deheman.


Oh, jadi Mama dan Papa memutuskan untuk mencari Kakakku, batin Filia saat sudah mengetahui pembicaraan kedua orang tuanya.


Setelah Nyonya Rini dan Tuan Dean terdiam untuk beberapa saat, barulah Filia menghampiri mereka.


"Ma, Pa, lagi apa? Sepertinya sedang membicarakan hal yang serius?" tanya Filia sambil duduk di samping Nyonya Rini.


"Kami memutuskan untuk melanjutkan pencarian anak Vera," jawab Tuan Dean sambil sesekali melirik sang istri yang masih terdiam.


"Oh." Filia mengangguk samar sebelum kembali bertanya, "Apa Papa sudah menunjukan petunjuknya?"


Tuan Dean hanya menjawabnya dengan gelengan, ia sendiri pun tidak punya petunjuk apa-apa, selain hanya kondisi anaknya yang mengalami keterbelakangan mental.


Filia memicingkan matanya, ia merasa heran dengan jawaban sang papa. "Lalu, bagaimana cara Papa untuk menemukannya?"


"Entahlah. Papa hanya bisa meminta para pengawal untuk mengawasi Tante Ellena. Papa yakin, Kakakmu masih ada bersamanya," jawab Tuan Dean.


"Ya, semoga saja, Pa."

__ADS_1


***


Di tempat lain, seorang pria tengah berjalan dengan tergopoh-gopoh. Jalanan yang dilaluinya sudah jauh dan menuju perbatasan kota, pria itu tampak ketakutan, badannya bergetar setiap kali melihat wanita paruh baya yang ditemuinya di jalan.


Rainer berhasil kabur dari apartemen Ellena, setelah pemiliknya teledor lupa mengunci pintu. Luka yang ada di kakinya tidak ia rasakan, demi bisa kabur sejauh mungkin. Tatapan sinis dari orang-orang yang dilaluinya, tidak membuat pria itu gentar untuk mencari sebuah perlindungan, hingga tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita dan membuat mereka sama-sama terjatuh.


"Aduh." Wanita itu merintih saat bokongnya mencium aspal yang keras dan membuat celananya kotor, bahkan telapak tangannya pun sedikit parut.


"Hei, kalau jalan itu hati-hati!" sergah gadis yang baru saja ditabrak oleh Rainer.


Rainer tidak menanggapi ucapan gadis di depannya, ia sibuk menutupi wajahnya sambil ketakutan.


"Hei, kamu kenapa ketakutan seperti itu?" tanya Gadis di depannya.


Gadis itu memerhatikan penampilan Rainer yang tampak berantakan dan penuh luka memar, serta bekas cambukkan di dekat lehernya.


"Ni orang kenapa, sih?" tanyanya sedikit bergumam.


Rainer yang merasa di perhatikan oleh seseorang itu kembali merasa was-was dan ketakutan. Namun, saat ia hendak lari, tiba-tiba gadis itu mencekal tangannya.


Rainer berusaha berontak, tapi gadis itu bisa mencegah tindakan Rainer dan membuat pria itu patuh untuk mengikutinya.


"Bu, beli sandal jepit satu," ucap gadis itu.


Tanpa menunggu lama, ibu pemilik warung segera memberikan barang yang di minta oleh pembelinya. Gadis itu juga membeli minuman dan beberapa roti.


Rainer sangat senang saat gadis itu memberikan roti padanya. Selama Tante Ellena menyekapnya, Rainer hanya diberi makan sehari sekali, itupun hanya setengah porsi tanpa lauk pauk.


"Kenalin, aku Disya. Nama kamu siapa?" tanya Gadis yang bernama Disya itu.


"R–Rain," jawab Rainer tanpa mengalihkan perhatiannya dari roti yang sedang ia pegang.


"Oh ... Rain. Salam kenal deh," ucap Disya sambil tersenyum memerhatikan pria di sampingnya. Setelah dari warung tadi, mereka singgah dulu di sebuah pos ronda yang berada dekat dengan warung itu.


"By the way, kamu kenapa sampai lari-lari kayak tadi?" tanya Disya lagi.

__ADS_1


"A–aku ... k–kabur dari Tante jahat," jawab Rainer pelan.


"Kayaknya kamu bukan orang sini, deh." Disya mencoba untuk menatap mata pria itu. Namun, Rainer tidak mau di tatap secara langsung dan segera mengalihkan perhatiannya sambil menunduk.


Disya mendesah kasar saat menyadari jika Rainer tidak ingin bertatapan langsung dengannya. "Gimana mau balikinnya 'nih anak orang? Liat mukanya aja dia gak mau," gerutu Disya sambil membenarkan tas kecil yang di pakainya. "Kayanya aku bawa aja pulang ke rumah, deh. Kasian juga kalau dibiarin keluyuran sendirian. Mudah-mudahan aja Abah gak marah," sambungnya lagi.


Setelah melihat Rainer menghabiskan makanannya, Disya pun mengajak Rainer pulang ke rumah.


"Udah selesai?" tanya Disya sambil menerima plastik sampah bekas roti dari Rainer.


Rainer hanya mengagguk beberapa kali sebagai jawabannya.


"Ikut pulang ke rumahku, yu! Di sana ada Abahku, kamu gak usah takut, kami gak akan berbuat jahat padamu." Disya mencoba untuk membujuk Rainer agar ikut dengannya. Anggap aja aku sedah beribadah karena sudah menolong seseorang, gumamnya.


Rainer sedikit ragu dengan ajakan Disya, tapi setelah ia melihat kesungguhan gadis di depannya, barulah Rainer setuju untuk ikut dengan Disya. Namun, sebelum mereka sampai rumah, Disya mengajak Rainer untuk mampir ke puskesmas yang ada dekat dengan rumahnya.


Dokter sempat tertegun saat melihat kondosi Rainer yang penuh luka, bahkan punggungnya dan sebelah betisnya sudah sangang parah.


"Nona, kenapa Anda tidak melaporkan tersangkanya pada p*lisi? Ini sudah termasuk penganiyaan lho," ucap dokter yang memeriksa Rainer.


"Maaf, Dok. Saya juga baru menemukannya tadi, Dok. Sebelumnya saya tidak mengenalnya," jawab Disya sambil menatap iba pria yang sedang berbaring di atas brankar itu.


Dokter Puskesmas itu mengernyit heran setelah mendengar jawaban yang terlontar dari pengantar pasiennya.


"Lalu, jika kamu sendiri tidak mengenalnya, kenapa kamu menolongnya?"


"Memangnya saya harus mempunyai alasan untuk menolong seseorang?" tanya Disya acuh.


"Hmmm, tidak juga. Ya sudah, silakan tebus obat ini, jangan lupa untuk mengoleskan salep pada luka-luka yang ada di badannya," pesan dokter itu sambil memberikan secarik kertas resep yang baru saja ia tulis.


Disya segera membantu Rainer untuk turun dari brankar dan melangkah keluar ruangan dokter, setelah sebelumnya ia mengucapkan terima kasih.


"Yuk, sekarang kita pulang," ucap Disya sambil memapah Reiner.


Namun, baru beberapa langkah mereka keluar dari area parkir Puskesmas, tiba-tiba seorang pria tinggi besar menghentikan langkah keduanya.

__ADS_1


"Berhenti Nona!"


__ADS_2