
Filia merasa heran karena tidak biasanya Gryson bersantai saat ada di apartemen, tapi kali ini suaminya itu hidup seolah tidak pernah memikirkan persoalan perusahaan.
"Tu, emh, Mas, tumben sore ini terlihat lebih santai dari hari-hari sebelumnya?" tanya Filia yang tidak bisa tahan melihat Gryson hanya duduk diam sambil menonton TV.
"Hmmm, aku hanya ingin menikmati waktu santai saja. Mumpung saat ini tidak banyak kerjaan, jadi aku ingin bersantai sebentar saja." Gryson menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar TV di depannya.
Tidak mungkin jika ia harus berkata yang sebenarnya pada sang istri tentang masalahnya tadi siang, ia memilih untuk bungkam akan hal itu. Toh dia masih punya penghasilan dari restorannya, jadi tidak masalah jika mundur dari jabatan CEO perusahaan milik orang tuanya.
"Benarkah? Apakah sudah terjadi hal lain yang tidak ku ketahui?" tanya Filia merasa tidak enak hati.
Gryson tersenyum, hal inilah yang tidak ia inginkan dari Filia. "Jangan khawatirkan apapun, tidak ada hal besar yang terjadi padaku."
Meskipun sedikit curiga, tapi Filia mencoba untuk mempercayai pria yang kini sudah berstatus kan suaminya. "Hmmm, baiklah. Mungkin Mas Grys benar, aku hanya terlalu khawatir saja."
Gryson pun tersenyum dan mengangguk untuk menanggapi ucapan Filia. Saat Filia sudah berada duduk di sampingnya, ia pun dengan sedikit ragu memberanikan diri untuk mengajak Filia pindah ke rumah yang sudah ia miliki.
"Lia, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ucap Gryson.
Filia pun menoleh dan memfokuskan perhatiannya pada Gryson yang kini berada tepat di depannya. "Mas Grys mau bicara apa?"
"A–aku ... sebenarnya aku ingin mengajak pindah ke rumah sederhana yang berada tidak jauh dari sini, apa kau keberatan jika kita pindah dari sini?" Gryson harap-harap cemas mendengar jawaban dari sang istri.
Ia benar-benar ingin membangun rumah tangganya sendiri dengan utuh, maka dari itu semenjak pernikahan siri mereka terjadi, ia segera mencari rumah sederhana, tapi nyaman untuk mereka tinggali.
Filia menatap heran pada Gryson, pasalnya ia cukup nyaman untuk tinggal di apartemen ini. Lalu kenapa sekarang mengajaknya pindah?
"Kenapa ingin pindah dari sini, Mas?" tanya Filia tanpa mengalihkan tatapannya dari sang suami.
Gryson menarik nafasnya panjang, ia cukup bingung untuk menyampaikan alasan yang dimilikinya, karena ia tahu jika istrinya tidak pernah menginginkan pernikahan ini.
"Aku hanya ingin membuat kau nyaman saja untuk tinggal bersamaku, jadi aku pikir kau akan menyukai jika kita tinggal di rumah daripada di apartemen," jawab Gryson sambil menatap Filia dengan penuh harap.
__ADS_1
Filia tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak seolah berfikir untuk membenarkan pemikiran suaminya. "Memang lebih nyaman tinggal di rumah, sih," batinnya.
"Baiklah, aku akan ikut saja, Mas. Bukankah itu salah satu kewajiban ku sebagai seorang istri, yang mengharuskan untuk mengikuti kemanapun suami pergi?" tanya Filia, karena sebenarnya ia juga tidak merasa keberatan untuk tinggal di mana pun.
Gryson mengembangkan senyumnya, ia cukup senang saat Filia masih memikirkan tentang kewajibannya sebagai seorang istri.
"Baiklah, kita akan pindah esok hari. Aku yakin kau akan menyukai rumah itu," ucap Gryson sambil meraih tangan Filia untuk digenggamnya.
Filia ikut membalas senyuman suaminya dan ia pun tidak menolak saat Gryson menggenggam tangannya. "Hmmm, sebenarnya aku tidak masalah tinggal di mana pun, yang penting masih ada tempat untuk pulang dan berteduh dari panas matahari dan basahnya hujan."
Gryson sedikit menipiskan bibirnya saat mendengar jawaban Filia, ia tidak menyangka jika di jaman seperti ini masih ada gadis yang hanya berpikiran simpel seperti itu. Jika diingat saat pertama kali mereka bertemu, Gryson pikir akan sangat sulit untuk menghadapi Filia yang menurutnya sangat manja dan keras kepala, tapi semua pemikiran yang dulu itu sekarang mulai berkurang, karena nyatanya Filia mau mengikuti kemanapun ia pergi.
"Baiklah. Mulai saat ini, aku akan membawa kau ke mana pun aku pergi," ucap Gryson sambil mengecup tangan istrinya.
Filia yang di perlakukan seperti itu merasa tersanjung. "Jika perlakuan Mas Grys seperti ini, akankah aku tetap bertahan dengan pendirianku, menjalani pernikahan selama empat puluh hari, atau lebih tepatnya tinggal tersisa tiga puluh tujuh hari dari sekarang?" batin Filia bertanya.
Baru beberapa hari tinggal bersama Gryson, sudah membuat Filia merasa nyaman berada di sisi pria itu, akankah pernikahan mereka terus berjalan sesuai dengan keinginan Gryson atau Filia? Entahlah ... yang pasti saat ini mereka hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk kedepannya.
Hari mulai menjelang malam, Gryson juga sudah menyuruh bibi untuk pulang ke mansion, sedangkan bibi pulang tadi belum sempat menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Lia, untuk makan malam ... apa kamu mau makan malam di luar bersamaku?" tanya Gryson.
Filia tersenyum dan mengangguk. "Boleh, terserah Mas saja. Tapi apa tidak lebih baik jika kita memasak sendiri? Lagipula bahan-bahan di kulkas juga masih banyak yang bisa diolah," ujar Filia yang sebenarnya ingin kembali menikmati masakan suaminya.
Gryson tampak berfikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan menjawab, "Boleh juga, ide bagus. Bagaimana jika kita masak bersama?"
Filia menunduk, ia bukannya tidak ingin memasak bersama, tapi dirinya masih belum mahir memasak.
Gryson mengerti dengan pemikiran Filia yang insecure terhadap dirinya. Dengan segera, ia pun menenangkan istrinya itu agar tidak berkecil hati dengan kemampuannya. "Jangan khawatir, aku akan mengajarkan memasak sampai kau benar-benar mahir."
Terbukti, ucapan Gryson langsung membuat Filia kembali tersenyum dan bersemangat. "Iya aku mau, Mas."
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita mulai sekarang!" ajak Gryson sambil menarik pelan tangan istrinya untuk berdiri dari sofa yang mereka duduki tadi.
Mereka pun berjalan beriringan menuju dapur yang ada di apartemen itu. Gryson mulai menyiapkan bahan-bahannya, sedangkan Filia menyiapkan semua peralatan masak yang mungkin mereka butuhkan.
Filia mulai mencuci semua bahan masakan yang sudah di siapkan oleh suaminya dan tugas Gryson untuk mulai mengiris. Saat telah selesai mencucinya, Filia pun mengambil pisau yang lain untuk membantu Gryson mengiris sayuran serta bumbu yang sudah dicucinya tadi.
Dengan perlahan, ia mulai mengiris mengikuti contoh yang sudah di perlihatkan oleh suaminya. Akan tetapi, saat Filia mulai mengiris bawang merah tiba-tiba jarinya sedikit tergores oleh tajamnya pisau.
"Aww." Filia meringis pelan.
Gryson segera menghampirinya dan refleks menghisap jari Filia yang teriris itu. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya ia sudah membuang darah yang tadi dihisapnya.
"A–aku baik-baik saja, Mas. Kenapa tadi Mas malah menghisap darahku?" tanya Filia tidak enak hati atas perlakuan Gryson terhadapnya.
"Entahlah, aku melakukannya dengan refleks. maaf jika itu membuatmu tidak nyaman."
"Ti–tidak, Mas. Tidak apa-apa, terima kasih."
"Mari ku obati lukamu dulu. Setelah itu, kau tunggulah di bangku, biar aku yang selesaikan masakan untuk makan malam kita," ujar Gryson sambil menarik pelan tangan Filia dan mendudukkannya di kursi meja makan, sementara ia segera berlari ke ruang tengah untuk mengambil kotak obat.
Dengan telaten ia mulai mengobati luka Filia dan menempelkan plester pada luka itu. Filia diam-diam tersenyum saat memperhatikan apa yang dilakukan Gryson terhadapnya.
"Terima kasih, Mas. Maaf lagi lagi aku membuat kekacauan di dapurmu," sesal Filia sambil menunduk saat Grysonn sudah selesai mengobatinya.
"Tidak apa-apa, lagi pula kau masih belajar. Aku menghargai usahamu," ucap Gryson sambil tersenyum dan mengusap pelan pucuk kepala Filia.
Setelah selesai mengobati luka Filia, ia pun segera melanjutkan kembali untuk memasak makan malam mereka, sedangkan Filia hanya duduk dan memperhatikan semua yang dilakukan oleh suaminya itu sampai selesai.
"Ayo, makan malam kita sudah siap," ajak Gryson yang langsung diangguki oleh Filia.
"Iya, Mas." Filia ikut membantu menyiapkan semua masakan itu dan mereka pun akhirnya menikmati makan malam itu dengan tenang.
__ADS_1