
"Berhenti di sana, Nona!" Seseorang menghentikan langkah Disya dan Rainer.
"Anda siapa, Tuan?" tanya Disya sambil menatap tajam pria yang yang sedang berdiri di depan mereka.
"Maaf, Nona. Kami hanya ingin membawa Tuan Rainer untuk pulang," jawab pria di depannya.
Tuan Rainer? Kenapa orang ini memanggil Rain dengan embel-embel 'Tuan'? tanya Disya dalam hatinya. "Maaf sebelumnya, Tuan. Ada hubungan apa anda dengan Rainer?" tanyanya, ia tidak ingin jika pria yang berdiri di hadapannya merupakan salah satu dari orang-orang jahat yang sudah menyiksa Rainer.
"Saya adalah ajudan Nyonya Ellena–"
"Ellena?" tanya Rainer pelan, ia segera berlari kabur setelah mendengar nama Tante Ellena dan menghentikan ucapan pria yang masih berdiri di depan mereka.
"Lho, lho, kenapa dia pergi gitu aja? Pasti ada yang gak beres ini." Disya segera berlari untuk mengejar Rainer yang sudah lari terlebih dulu.
Tak hanya mereka berdua yang lari, ternyata pria yang mengaku ajudan itu pun ikut mengikuti langkah mereka.
"Hei, berhenti!" teriak pria ajudan dengan terus berlari.
Rainer tidak mendengarkan ucapan pria di belakangnya, ia sangat takut jika kejadian kemarin sampai terulang lagi. Rainer sangat takut karena harus bertemu dengan Nyonya Ellena, ia meninggalkan Disya begitu saja.
Sebenarnya ada apa ini? Kenapa dia tiba-tiba lari seperti itu? tanya Disya dalam hatinya sambil terus berusaha mengejar Rainer yang ada di depannya.
__ADS_1
Setelah berlari beberapa kilometer, Rainer memilih untuk beristirahat sejenak sambil terus memperhatikan keadaan sekeliling. Saat ia memastikan hanya tinggal sendirian, barulah ia duduk dan mengambil nafas.
"Hei! Kenapa kamu lari gitu aja dan ninggalin aku sendirian?" tegur Disya sambil mengatur kembali nafasnya yang masih terengah-engah.
Rainer hanya melirik gadis yang masih berdiri di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan, dia tidak bisa mempercayai siapapun, karena menurutnya Disya—lah yang sudah memancing orang-orang itu untuk menemukannya.
"Kamu ... kamu gak boleh ikut aku lagi!" ucap Rainer dengan mendorong pelan bahu Disya.
Disya mengernyitkan keningnya ketika mendapat perlakuan seperti itu dari Rainer, jelas-jelas tadi ia mengajak Rainer untuk pulang ke rumahnya, tapi kini malah mengusirnya.
"Kenapa kamu ngusir aku, Rain? Tadinya aku mau ngajak kamu buat pulang ke rumahku, lho! Kamu enggak lupa 'kan?" tanya Disya sambil menghentikan tangan Rainer yang terus-menerus mengusirnya.
"Gak, aku enggak mau ikut kamu, pergi! Tinggalin aku sendirian!" Rainer kukuh menyuruh Disya untuk pergi meninggalkannya.
"Aku ... aku nggak mau percaya?! Pokoknya Disya harus pergi. Disya nggak boleh dekat-dekat dengan Rain!" teriak Rainer lagi.
Akh, sudahlah. Sepertinya dia memang tipe orang yang susah untuk dibujuk, lebih baik aku tinggalkan saja dulu, batin Disya. Ia memilih untuk pura-pura meninggalkan Rainer sendirian, dengan bersembunyi di balik salah satu tembok rumah warga yang dilewatinya.
Setelah kepergian Disya, Rainer kembali termenung, wajahnya yang tampan itu terlihat sendu.
"Ibu ... tolongin Rain!" ucap Rainer pelan.
__ADS_1
***
Saat Tuan Dean tengah bekerja, ia kedatangan salah satu anak buah yang diutuskannya untuk mengawasi gerak-gerik Tante Ellena.
"Maaf jika kedatangan saya mengganggu Anda, Tuan. Saya membawa kabar, anak Anda ternyata sudah melarikan diri dari apartemen Nyonya Ellena," ucap salah satu anak buah Tuan Dean.
"A–apa?! Bagaimana dia bisa kabur dari apartemen Ellena?" tanya Tuan Dean terkejut. Ia tahu bagaimana perangai Ellena, tapi ia juga merasa sedikit lega karena anaknya sudah terbebas dari wanita itu.
"Saya tidak tahu pasti bagaimana kejadiannya, hanya saja tadi saya sempat mendengar, jika Nyonya Ellena sedang mencari keberadaan anak Anda yang melarikan diri darinya."
"Kalau begitu, segera temukan anak itu sebelum Ellena menemukannya." Tuan Dean bangkit dari duduknya dan menghampiri anak buahnya yang masih berdiri. "Apa kamu punya foto anak itu?" tanyanya. "Siapa tahu aku nanti berpapasan dengannya, jadi aku bisa mengenalinya. Dan ingat, jangan sampai ada orang lain yang mengetahui tentang pencarian kita ini," sambungnya lagi sambil menerima ponsel yang diberikan oleh anak buahnya itu.
"Silakan, Tuan. Namanya adalah Rainer, saya juga mendapat beberapa informasi dari panti asuhan yang selama ini ditinggalinya. Tuan muda Rainer tidak sepenuhnya memiliki gangguan mental, tapi jiwanya yang pernah terguncang karena saat masih kecil ia selalu menjadi bahan bully-an teman-temannya. Hal itulah yang membuat Tuan muda lebih agresif terhadap orang-orang yang mendekatinya. Tidak jarang ia juga bersikap layaknya seperti orang yang ketakutan." Anak buah Tuan Dean berusaha untuk menjelaskan kondisi yang sebenarnya dialami oleh Rainer.
"Apa maksudmu ... dia tidak benar-benar mengalami keterbelakangan mental?" tanya Tuan Dean, yang ingin mengetahui kondisi yang sebenarnya tentang sang anak.
"Benar, Tuan. Menurut kepala panti asuhan, Tuan muda Rainer bisa saja disembuhkan dengan menghadirkan psychiater. Tapi karena biayanya yang cukup tinggi, jadi kepala panti hanya bisa menenangkannya dengan caranya sendiri," jawab anak buah Tuan Dean lagi.
"Baiklah, aku mengerti. Sekarang bantu aku untuk menemukan anak itu terlebih dahulu," perintah Tuan Dean yang langsung diangguki oleh anak buahnya.
Setelah dia mendapat foto yang diinginkannya, barulah anak buah itu pergi dari hadapan Tuan Dean.
__ADS_1
Tuan Dean menatap foto seorang pria yang hampir mirip dengannya saat muda dulu, hanya saja pria yang di foto itu terlihat sangat ketakutan dan badannya lebih kurus.
Ya Tuhan, anak yang tidak pernah kuketahui keberadaannya. Maafkan Papa, Nak. Papa tidak bisa menjaga amanahnya dengan baik. Semoga kamu cepat ditemukan, agar kita bisa berkumpul, batin Tuan Dean sambil terus menatap foto yang ada di ponselnya. Ada sudut hatinya yang terasa sesak saat menatap foto itu.