
"Dia adalah tunanganmu." Nyonya Mona memilih untuk mengatakan jika Rachel adalah tunangan Gryson.
Rachel yang masih berdiri di ambang pintu pun sontak membulatkan matanya. Ia tidak menyangka jika Nyonya Mona akan mengenalkannya sebagai tunangan Gryson.
Apa-apaan ini? Kenapa Tante Mona mengakuiku sebagai tunangan anaknya? tanya Rachel dalam hatinya.
Lain halnya dengan Gryson, ia sama sekali tidak terkejut atau menunjukkan reaksi aneh, melainkan hanya wajah dingin yang ia tunjukkan.
"Tunangan?" tanya Gryson pelan.
Nyonya Mona sedikit heran dengan reaksi sang anak yang seakan tidak peduli apa yang dikatakan olehnya. Hal itu membuat ia sedikit cemas.
Aku harap Gryson tidak curiga, jika memang benar dia amnesia, batin Nyonya Mona, sebelum ia menjawab, "I–iya, Grys," jawab Nyonya Mona sedikit kaku.
Saat mereka masih berbicara, datanglah dokter yang tadi memeriksa Gryson, ia meminta Nyonya Mona untuk menemuinya di ruang praktek miliknya.
"Maaf mengganggu kalian. Nyonya, bisakah kita berbicara di ruangan saya?"
Nyonya Mona sempat menoleh pada sang anak, setelah Gryson mengangguk pelan, barulah ia menjawab, "Baik, Dokter."
Dokter itu pun kembali ke luar ruangan, sedangkan Nyonya Mona mengikutinya dari belakang.
"Rachel, tolong temani Gryson dulu. Tante akan segera kembali," ucap Nyonya Mona sebelum ia keluar dari ruangan itu.
"Baik, Tante," jawab Rachel pelan.
Setelah kepergian Nyonya Mona yang menyusul dokter ke ruangannya, kini tinggallah Rachel dan Gryson.
__ADS_1
Rachel mendadak canggung sendiri, walau bagaimanapun ia mengingat kisah masa lalu mereka dengan jelas, berbeda dengan Gryson yang sama sekali tak mengingatnya, bahkan terkesan tak memedulikan keberadaannya.
"G–Grys, apa ... apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Rachel sambil mendekati pria yang masih berbaring di brankarnya.
"Tidak," jawab Gryson pelan, tapi lugas.
Rachel sedikit meringis saat mendengar jawaban Gryson, ia sedikit merasa tak nyaman atas reaksi yang di tunjukkan oleh pria yang dulu sangat mencintainya.
Dulu, Gryson tak pernah berbicara dingin pada Rachel. Sikap Gryson sangat hangat padanya, bahkan saat terakhir kali membujuk dia untuk menikah pun, Gryson sangat lembut. Namun sekarang, semua itu sudah terbalik. Rachel seakan tak lagi mengenal sosok pria di depannya.
Setelah mendapat jawaban ketus dari Gryson, Rachel memilih untuk duduk kembali di sofanya sambil memainkan ponsel. Ia tak ada niatan untuk mengajaknya berbicara atau menanyakan hal lain.
Apa benar dia tunanganku? Kenapa aku bersikap dingin padanya? Bukankah seharusnya aku berdebar atau bahagia saat melihat dia di sampingku, menemaniku? Kenapa rasanya hambar sekali? tanya Gryson dalam hatinya, ia lebih memilih untuk memejamkan matanya dari pada harus berbicara dengan seseorang yang tidak ia senangi.
Rachel sempat melirik ke arah Gryson yang kembali tertidur, tadinya ia ingin sedikit berbicara pada pria itu. Namun, kini ia urungkan saat melihat Gryson yang sudah kembali terlelap.
Setengah jam kemudian, Nyonya Mona kembali dari ruang praktek dokter dan melihat Rachel yang sedang asik cekikikan sendiri, sedangkan anaknya sudah tertidur.
"Rachel, kenapa kamu malah asik sendiri?" tanya Nyonya Mona yang sudah berdiri di hadapan Rachel, bahkan wanita muda itu tak menyadari keberadaanya.
Rachel terkejut mendengar suara Nyonya Mona dan segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. "T-tante? Kapan datang?" tanyanya sedikit gugup.
Nyonya Mona sedikit memicingkan matanya saat mendengar pertanyaan Rachel. "Bahkan kamu juga tidak menyadari kedatanganku?" tanyanya tidak suka.
"Ma–maaf, Tante. Aku tidak bermaksud seperti itu, tapi tadi ... tadi ...." Rachel sendiri tidak mempunyai alasan untuk menyangkal pertanyaan Nyonya Mona karena dia sendiri memang tidak menyadari kedatangannya.
"Tadi apa, hmmm?" tanya Nyonya Mona.
__ADS_1
"Ti–tidak, maaf ... maafkan aku." Rachel memilih untuk meminta maaf saja ketimbang harus memperpanjang pertanyaan Nyonya Mona.
"Sudahlah. Apa Gryson tidur sejak tadi?" tanya Nyonya Mona lagi sambil berjalan ke arah ranjang mendekati sang anak yang tengah terlelap.
Rachel bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Nyonya Mona, sebelum kembali menjawab, "Iya, Tante. Gryson tertidur lagi tak lama setelah Tante pergi menyusul dokter tadi."
"Oh. Tadi kamu kemana? Kenapa membiarkan Gryson sendirian di sini?" tanya Nyonya Mona tanpa menatap Rachel.
Sedangkan yang ditanya tidak langsung menjawabnya, Rachel sebenarnya enggan untuk menunggui Gryson. Jika bukan karena mamanya yang meminta dia untuk ikut ke Negara J, Rachel lebih memilih pulang dan diam di rumahnya.
"A–aku ... aku ... aku ikut Tante keluar. Kebetulan ada salah satu temanku yang tinggal di daerah sini dan aku memutuskan untuk mengunjunginya, karena aku juga merasa suntuk berdiam diri di sini." Rachel mencoba untuk mencari alasan lain agar Nyonya Mona tidak terlalu marah padanya.
Nyonya Mona membalikkan kepalanya dan menggeleng pelan, ia menatap Rachel dengan pandangan tidak percaya. Calon menantu yang ia idam-idamkan, ternyata tega meninggalkan calon suaminya saat tidak sadarkan diri.
"Ya Tuhan, Hel. Jika hanya untuk berkunjung ke salah satu temanmu, kamu bisa mengunjunginya saat aku sedang di sini. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi, kalau sampai hal seperti ini terjadi lagi, keluargamu yang akan menanggung akibatnya," ucap Nyonya Mona dengan penuh ancaman. Dia selalu tahu apa yang menjadi kelemahan lawan bicaranya dan selalu menggunakan kelemahan itu untuk mengancamnya.
Rachel hanya bisa mendesah pasrah saat mendengar ancaman Nyonya Mona, hal inilah yang membuat dia enggan untuk kembali berhubungan dengan Gryson dan memilih pergi. Meskipun Nyonya Mona dan Nyonya Lucy berhubungan baik, tapi tak banyak yang tahu jika keluarganya Lucy sebenarnya berada di bawah tekanan keluarga Nyonya Mona.
"Baiklah, aku mengerti." Rachel memilih kembali mengalah dan membiarkan Nyonya Mona melakukan apapun yang ia inginkan, dari pada harus mempertaruhkan keluarganya.
Nyonya Mona tersenyum puas mendengar jawaban Rachel. "Bagus jika kamu sudah mengerti. Selanjutnya lakukan yang terbaik."
Rachel hanya mengangguk pelan saat Nyonya Mona selesai berkata seperti itu padanya. Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan selain mengangguk pasrah dan membiarkannya melakukan hal apapun yang dia inginkan. Jika sampai aku menjadi menantunya, tentu saja aku tidak akan tahan, gumam Rachel sambil mencibir dalam hatinya.
Gryson sebenarnya tidak tidur, dia mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh dua orang wanita berbeda generasi yang ada di ruangannya.
Sepertinya ada yang mereka tutup-tutupi dariku, tapi apa? Aku harus mencari tahu hal itu sendiri, ternyata tidak ada yang bisa aku percayai di antara mereka, batin Gryson sambil memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.
__ADS_1
***