
Filia menatap foto yang pernah ia ambil bersama sang suami, Gryson. Satu-satunya foto yang ia miliki karena yang lainnya sudah diambil oleh Nyonya Mona. Wanita paruh baya itu tidak mengizinkan Filia untuk memiliki selembar pun foto sang anak dan ia hanya bisa menyembunyikan selembar foto yang berada di bawah bantal saja.
"Mas, bagaimana keadaanmu di sana? Apakah kamu sudah sadar?" tanya Filia pada foto itu.
Wanita muda itu sedang berdiri di balkon apartemennya sambil menatap luas lampu-lampu kota. Malam yang terasa begitu ramai jika dilihat dari bawah tidak membuat rasa sepi di hatinya menghilang. Ingin berbagi cerita dengan mamanya pun tak bisa ia lakukan. Bellina semakin membelit kedua orang tuanya dan tidak membiarkan mereka memiliki waktu luang sendiri.
Saat Filia masih asyik dengan lamunannya, tiba-tiba pintu apartemennya ada yang mengetuk dari luar.
"Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini?" gumam Filia pelan sambil berjalan menuju pintu apartemennya.
Sebelum membuka pintu itu, Filia sempat melihat seseorang dari celah kecil yang terdapat di sana. Bellina berdiri dengan angkuh di depan pintu unit apartemennya.
Dari mana Bellina mengetahui tempat ini? Seingatku, tidak ada yang mengetahuinya selain Mama Mona, batin Filia sambil membelakangi pintu apartemen, ia masih ragu untuk membukakannya.
"Filia, aku tahu kamu sedang ada di dalam. Cepat buka pintunya!" Bellina mulai berteriak di balik pintu itu.
Filia masih mendiamkannya Bellina yang mulai menggedor pintu apartemen. Padahal ada bel, tapi masih saja digedor, batin Filia sambil menggeleng pelan.
Bellina semakin geram saat Filia tidak juga membukakan pintu untuknya. "Filia, cepat buka pintunya! Jika kamu tidak membukakan pintunya juga, aku akan memanggil keamanan untuk mendobraknya."
__ADS_1
Filia terpaksa membukakan pintu untuk Bellina, ia tidak ingin membuat keributan bagi penghuni unit apartemen lain yang satu lantai dengannya.
Bellina tersenyum sinis saat Filia membukakan pintu untuknya. "Akhirnya. Kenapa harus kuancam dulu baru menurut?"
"Ck, siapa juga yang nurut padamu. Aku terpaksa membukakan pintu untukmu karena takut mengganggu penghuni lain, jika kamu membuat keributan di sini." William menjawab dengan menatap tajam sepupunya.
Sikap Bellina kini tidak lagi manis seperti dulu, sekarang Bellina bersikap layaknya seorang antagonis yang memerankan perannya. "Cih, alasan. Kamu takut, kan, jika aku bersikap buruk padamu?"
Filia menarik sebelah sudut bibirnya, ia sama sekali tidak merasa takut ataupun lemah di hadapan Bellina. "Takut? Untuk apa? Aku tidak mempunyai masalah denganmu. Bukankah sebaliknya, kamu yang harus merasa takut padaku?"
Bellina tercengang saat mendengar ucapan sepupunya Filia. Dari mana dia mempunyai keberanian untuk melawanku seperti itu? Bellina bertanya-tanya dalam hatinya tentang perubahan sikap Filia. Wanita itu sudah banyak berubah semenjak menikah dengan Gryson.
Setelah beberapa saat hanya terdiam, akhirnya Bellina pun menjawab, "A–aku ... aku juga tidak mempunyai masalah denganmu." Bahkan kata-katanya pun terbata-bata.
"Benarkah?" Filia melangkah dan mendekati Bellina, ia berdiri tepat dihadapannya sambil menatap tajam sang sepupu dengan tangan yang ia lipat di depan dada. "Lalu, kenapa sikapmu seperti itu? Lebih tepatnya, seperti pencuri yang sedang kepergok."
Bellina mendorong bahu Filia hingga wanita muda itu mundur beberapa langkah dari hadapannya. "Apa maksudmu berbicara seperti itu padaku?"
Filia memalingkan wajahnya, ia terlalu muak melihat wajah menor sepupunya. "Kamu pasti mengerti maksudku, atau apakah kamu sudah berubah menjadi wanita bod*h?" tanya Filia sedikit menyindir Bellina.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu, Filia. Kata-katamu sudah keterlaluan!" Bellina merogoh tasnya sebelum dia melemparkan sesuatu tepat di wajah Filia. "Aku datang kemari untuk memberikan undangan ini padanya," sambungnya.
Filia mengambil sepucuk undangan yang baru saja dilemparkan Bellina padanya untuk ia baca. Matanya seketika membulat saat melihat acara yang tertera pada undangan itu. Namun, sedetik kemudian, ia kembali mengubah mimik wajahnya seperti biasa lagi.
"Kamu pasti terkejut, kan, Filia melihat surat undangan itu?" tanya Bellina dengan angkuh saat ia melihat Filia yang terdiam, ketika membaca surat undangan yang ia bawa.
Filia kembali mengalihkan perhatiannya pada Bellina sebelum menjawab, "Aku sama sekali tidak terkejut."
"Benarkah? Jika seperti itu, sebaiknya kamu nanti datang dan jangan sampai terlambat!" Bellina meninggalkan Filia dalam apartemennya ia berjalan anggun sambil tersenyum sinis. Lihat dan saksikanlah acara pengangkatan dan penyerahan hak waris yang akan segera kumiliki. Menyedihkan sekali nasibmu, sepupu, batinnya tersenyum puas.
***
Filia menggenggam erat undangan yang baru saja diberikan Bellina padanya. Meskipun ini adalah rencana mama dan papanya, tetap saja membuatnya sesak.
Sabar Filia, ini hanya sekian perangkap yang dibuat oleh Mama dan Papa. Kamu jangan terbawa emosi. Filia berusaha meredam gejolak emosi yang tiba-tiba datang menyerangnya.
"Kita lihat saja, Bell. Siapa yang akan menangis esok," gumam Filia saat ia sudah meredakan emosinya.
Bellina datang kali ini untuk pamer pada Filia. Bellina akan mengadakan ulang tahun mewahnya yang kedua puluh. Acara itu akan digelar di sebuah ballroom hotel terkenal di kota itu. Di acara itu juga ia akan meminta kedua orang Filia untuk mengesahkan statusnya menjadi anak pertama kedua orang tua Filia.
__ADS_1