
Setelah berhasil menyelinap pergi dari para mata-mata yang diutus mamanya, Gryson dan Alvin kembali ke kantor.
Sepanjang perjalan, Alvin menceritakan semua kejadian yang ia ketahui, termasuk pelaku yang berusaha untuk melakukan percobaan pembunuhan terhadap Filia, istrinya. Alvin juga menceritakan tentang Bellina dan Tante Ellena yang berakhir di kantor polisi, Alvin juga tidak lupa menceritakan kebenaran Rainer yang merupakan anak dari mertuanya, Tuan Dean.
"Dari mana kamu mengetahui tentang semua informasi itu, Vin?" tanya Gryson saat Alvin sudah selesai menceritakan semua yang ia ketahui.
Alvin memicingkan matanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan yang ada di depannya, ia merasa sedikit heran karena tuannya bertanya seperti itu.
"Tuan, bukankah Anda pernah berpesan agar saya selalu mengawasi Nyonya Filia, termasuk keluarganya? Jadi, dari sana saya mencoba untuk berbicara dengan Bi Inah, agar beliau mau memberikan semua informasi tentang keluarga Tuan Dean. Beruntung Bi Inah percaya jika saya melakukan itu semua untuk melindungi Nyonya Filia," terang Alvin.
Seakan mengingat sesuatu, Gryson langsung menepuk keningnya sendiri. Ia melupakan fakta bahwa dirinyalah yang meminta Alvin untuk selalu mengawasi sang istri kapanpun dan dimanapun.
"Oh, iya, 'ya. Aku melupakan hal itu," ujarnya pelan.
Alvin menggeleng pelan saat melihat tuannya yang menepuk kening, tapi ia tidak banyak berkata dan memilih untuk kembali fokus pada jalan raya. Akhirnya suasana mobil itu pun kembali hening dengan Gryson yang sibuk dengan pemikirannya sendiri, sedangkan Alvin yang sibuk dengan jalanan yang dilaluinya.
***
Filia dan Disya menatap haru layar monitor yang menunjukkan dua janin yang sedang berada di dalam perut Filia, mereka benar-benar tidak menyangka jika ternyata Filia Tengah mengandung dua bayi kembar.
Disya bahkan sampai meneteskan air matanya saat layar monitor itu mendeteksi detak jantung sang janin yang terdengar saat nyaring, entah perasaan apa yang tiba-tiba hinggap di hatinya, tapi yang pasti ia sangat bahagia saat melihat dan mendengar kedua janin nonanya itu.
Begitu pula dengan Filia, ia merasa sangat bersyukur karena dirinya sudah dipercaya amanah yang lebih besar dengan kehadiran dua janin yang sedang bersemayam dalam tubuhnya.
"Selamat, Nyonya. Bayi-bayi Anda sehat dan normal. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya saja Anda harus lebih banyak beristirahat dan mengurangi aktivitas berlebih. Kandungan Anda masih muda dan janinnya masih lemah. Jadi, sebisa mungkin Anda juga jangan terlalu stress karena hal itu bisa berakibat fatal." Dokter itu berpesan pada Filia dengan panjang lebar, ia hawatir jika wanita muda itu terlalu stres karena sudah mengandung di usia muda tanpa seorang suami. Dokter itu salah mengira jika Filia adalah korban lelaki hidung belang.
Filia sendiri mendengarkan pesan dari dokter itu dengan serius. Meskipun tak ada suami tercinta mendampinginya, tapi ia tidak mau hal itu sampai membuatnya sedih hingga berdampak pada kedua janinnya.
"Terima kasih atas penjelasannya, Dokter. Saya mengerti, saya akan lebih berhati-hati dan lebih memperhatikan lagi semua aktivitas yang saya jalani," jawab Filia sambil mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang.
Disya juga berjanji akan selalu mendampingi Filia, ia akan selalu memastikan ibu hamil muda itu untuk menjalani hari-harinya dengan nyaman tanpa ada pengganggu.
__ADS_1
Setelah selesai menjalani pemeriksaan, Filia dan Disya pun keluar dari ruangan dokter itu. Filia diminta Disya untuk menunggunya sesaat, ia akan menebus resep vitamin yang baru saja didapatkannya dari dokter kandungan.
"Nona, biarkan aku aja yang menembus vitamin itu. Anda tunggu di sini sebentar, aku akan segera kembali," ucap Disya sebelum ia pergi dari hadapan Filia, Disya juga sempat menuntun Filia agar duduk disalah satu bangku yang berada di ruang tunggu.
"Kalau begitu, maaf karena aku harus merepotkanmu, Mbak," ucap Filia yang merasa tidak enak hati.
"Aku sama sekali gak kerepotan, 'ko." Disya tersenyum dan mulai melangkah pergi meninggalkan Filia yang sudah terduduk sendirian.
Filia memainkan ponselnya sembari menunggu kedatangan Disya, ia juga sedikit merasa lelah karena tubuhnya kini tidak sesehat dulu. Setelah mengetahui dirinya hamil, tubuh Filia lebih cepat merasa lelah, meskipun ia tidak banyak melakukan aktivitas.
Saat Filia sedang berselancar di dunia maya, tiba-tiba ponselnya direbut oleh seseorang. Filia menengadah untuk melihat orang yang sudah berperilaku tidak sopan padanya.
"Kamu?!" Filia tersentak saat menatap wanita yang kini sedang berdiri di depannya dengan memandang sinis.
"Apa? Kenapa kamu terkejut seperti itu?" Wanita itu melipat tangannya di depan dada, ia memandang Filia dengan bibir tersenyum tipis dan sebelah alis terangkat. "Bukankah kita sudah lama tidak bertemu? Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan di depan ruangan dokter kandungan?" tanyanya lagi saat Clara menyadari jika dia dan Filia sedang berada di ruangan tunggu depan dokter kandungan.
"Bukan urusanmu. Mau apa kamu menemuiku? Bukankah kita tidak ada masalah lagi, Clara?" tanya Filia tak kalah sinisnya pada Clara yang merupakan mantan salah satu temannya itu. Filia juga tidak berniat untuk memberitahukan kehamilannya pada Clara, ia khawatir jika wanita itu akan semakin menekannya jika mengetahui tentang kelemahan Filia.
"Cih, gayamu itu. Angkuh sekali kamu?!" Clara berdecih saat melihat Filia yang menatapnya dengan sinis.
Filia menarik nafasnya panjang, ia sungguh sudah sangat lelah, dirinya merasa enggan untuk meladeni emosi Clara terhadapnya.
"Ra, please. Saat ini aku benar-benar tidak berniat untuk berdebat denganmu. Jadi, bisakah kamu kembalikan ponselku dan kita berpura-pura saja tidak saling melihat satu sama lain?" tanya Filia pelan.
Clara mengernyitkan kening, ia tidak mengerti dengan ucapan Filia yang meminta dirinya untuk berpura-pura tidak bertemu, sedangkan saat ini mereka tengah berdiri berhadapan.
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Apa kamu kira aku akan melepaskanmu dan dengan mudah untuk memaafkanmu serta merelakan Mas Gryson bersamamu?" tanya Clara dengan sengit, ia tidak terima jika Filia ingin langsung pergi meninggalkannya.
"Aku tidak perlu maaf darimu karena aku tidak mempunyai salah apapun padamu," jawab Filia, ia mencoba untuk menggapai ponsel miliknya yang sedang berada di genggaman Clara.
Namun, belum ponsel itu direbutnya, tiba-tiba Clara mendorong Filia dan hampir membuatnya jatuh terjerembab, sebelum akhirnya Disya dengan berlari ke arah Filia dan menahan tubuh wanita hamil itu.
__ADS_1
Disya melotot kearah Clara, ia tidak terima jika nonanya disakiti oleh orang lain. Apalagi saat ini Filia tengah hamil muda dan hal itu membuatnya marah seketika.
"Hei, Nona. Apa yang Anda lakukan?" tanya Disya setengah berteriak hingga mengundang beberapa pasangan mata yang menatap kearah mereka.
"Siapa kamu? Kenapa kamu ikut campur urusanku?!" Clara tidak menjawab pertanyaan Disya, ia malah balik bertanya pada wanita yang baru saja menolong Filia.
"Ikh, dasar aneh. Di tanya, malah balik nanya." Disya menatap sengit Clara, ia juga tidak segan untuk menampakkan wajah tidak sukanya. Lantas, Disya pun beralih menatap Filia dengan cemas. "Nona, Anda gak kenapa-kenapa, 'kan?" tanyanya.
Filia tersenyum dan menggeleng, ia terharu saat melihat wajah cemas Disya yang ditunjukkan padanya. "Aku tidak apa-apa, Mbak. Terima kasih atas sudah menahanku tadi," jawabnya. Filia juga merasa terkejut saat Clara yang tiba-tiba mendorongnya. Andai Disya terlambat menolongnya, mungkin yang terjadi selanjutnya adalah mimpi buruk yang tidak berani ia bayangkan.
Disya mendesah lega setelah mendengar jawaban Filia, ia benar-benar khawatir jika Filia sampai terluka, apalagi jika sampai kehilangan janinnya.
Clara yang melihat pemandangan itu membuatnya bergidik jijik, ia tidak menyukai perlakuan Disya terhadap Filia.
"Dasar, kalian wanita kampungan."
"Gak apa-apa kampungan, yang penting saya gak sejahat kamu. Percuma besar di kota, kalau hanya bisa menindas orang yang lemah. Itu yang namanya gak berpendidikan," sengit Disya seraya menatap nyalang Clara.
Disya berani berucap seperi itu karena menurutnya usia Clara jauh di bawahnya. Jadi, ia tidak perlu merasa tidak enak hati saat melawannya.
Clara tidak terima dengan kata-kata kasar yang sudah diucapkan Disya padanya, ia hampir menjambak rambut panjang Disya, tapi segera dicegah oleh pemiliknya.
"Apa? Mau main jambak-jambakan? Hayu, siapa takut?! tantang Disya sambil memegangi tangan Clara yang ia kunci di belakang punggungnya.
Clara mencoba untuk memberontak, tapi alhasil tangannya malah semakin sakit, akhirnya wanita itu pun memohon agar Disya mau melepaskannya.
"Makanya, jangan suka menindas orang yang lemah." Disya langsung melepaskan tangan Clara sekaligus, hingga membuat wanita itu terhuyung ke depan dan hampir menabrak tembok.
Kurang ajar, berani-beraninya dia melakukan semua ini padaku, batin Clara sambil memegangi tangannya yang sedikit memerah akibat cengkraman keras Disya.
Disya segera mengambil ponsel milik Filia yang berada di saku celana Clara. "Makanya, lain kali jangan buat masalah lagi sama aku. Aku bisa melakukan hal lebih dari ini," ancam Disya sambil berkacak pinggang di depan Clara.
__ADS_1
Disya dan Filia meninggalkan Clara begitu saja, mereka juga melewati beberapa orang yang masih menatapnya dengan pandangan heran. Sementara itu, Clara merasa geram sekaligus malu karena orang yang perhatikannya cukup banyak.
Awas saja kalian, aku tidak akan tinggal diam. Kalian akan kubuat merasakan malu, lebih dari yang kurasakan saat ini, batin Clara sambil menatap punggung Filia dan Disya.