
Bellina pulang ke rumah orang tua Filia dengan hati yang gembira setelah ia bertemu dengan mamanya, ia dan mamanya sudah sepakat untuk bertemu dengan Nyonya Mona esok hari.
Saat ia melewati ruang tamu, ia melihat sepasang suami istri itu sedang duduk bersantai di temani minuman hangat milik mereka, Bellina menghampiri mereka dan menyapanya.
"Mama, Papa, Aku pulang," ucapnya sambil duduk di tengah-tengah kedua sepasang suami istri itu.
Nyonya Rini dan Tuan Dean sebenarnya sudah merasa sedikit jengah dengan perlakuan keponakannya itu. menurut mereka Bellina lebih manja dari pada pada Filia. Bahkan Nyonya Rini sempat memutar bola matanya dengan malas sebelum akhirnya dia kembali memasang ekspresi senyum pada Bellina. Tuan Dean sedikit mengulas senyum tipis saat melihat raut istrinya yang sudah muak dengan kelakuan sang keponakan.
"Kamu habis dari mana, Bell? Mama khawatir saat kamu tiba-tiba pamit pergi sendiri tadi," ucap Nyonya Rini sambil mengusap kepala Bellina.
"Maafkan aku, Ma. Tadi aku mendapat kabar dari temanku bahwa usaha yang kami jalani itu sedang ada sedikit masalah." Bellina memasang tampang sedih dan murung.
Nyonya Rini menoleh pada suaminya, sedangkan Tuan Dean hanya mengangguk samar.
"Benarkah? Apa yang sedang terjadi pada bisnismu itu?" tanya Nyonya Rini lagi.
Ia melihat Bellina mulai terisak, menangis.
"Bell, ada apa?" tanya Tuan Dean. Ia juga sedikit penasaran dengan drama yang sedang dimainkan oleh Bellina kali ini.
"Aku ... aku kena tipu, Ma, Pa. Orang yang aku percayai untuk memegang keuangan sudah membawa kabur semua hasil dari bisnisku." Belinda menumpahkan tangis buayanya di depan Tuan Dean dan Nyonya Rini.
__ADS_1
Nyonya Rini dan Tuan Dean saling pandang, jelas mereka sangat mengetahui Bellina yang memang tidak memiliki usaha apapun. Meskipun selama ini Bellina selalu mengaku bahwa dirinya memang sedang merintis usaha bersama temannya, tetapi bukan Tuan Dean namanya jika ia tidak menyelidikinya. Saat ini Nyonya Rini sedang menahan diri agar tidak tertawa di depan Bellina, ia juga menyadari bahwa keponakannya itu sedang berusaha untuk menipu mereka.
"Bagaimana itu bisa terjadi, Bell? Bukankah kamu sendiri yang berbicara saat itu, bahwa kamu sudah benar-benar mengenal orang yang kamu percayai untuk memegang keuangan?" tanya Tuan Dean sambil menatap serius sang keponakan.
"Aku tahu, Pah. Aku juga tidak menyangka jika dia akan melakukan hal ini padaku," jawab Bellina sambil terus menyeka air mata buayanya.
Nyonya Rini menarik nafas panjang nya sebelum ia berkata, "Makanya kamu jangan mempercayai seseorang meskipun dia adalah orang yang sangat kamu kenal, tetapi yang namanya hati seseorang itu tidak akan pernah bisa kamu kenali."
Mendengar ucapan Nyonya Rini, seketika itu juga tangis Bellina berhenti. Entah kenapa, dia merasa jika Nyonya Rini sedang menyindirnya.
I**tu pasti hanya perasaanku saja, Tante Rini tidak mungkin mencurigaiku, kan? Ya, itu pasti hanya aku saja yang terlalu merasa was-was, batin Bellina sambil mengusap air matanya.
Nyonya Rini tersenyum tipis saat mendengar ucapan keponakannya, ia yakin jika sindirannya tadi memang mengena di hati Bellina, hanya saja gadis itu terlalu keras kepala dan juga tidak tahu malu, makanya sindiran tadi tidak mempan padanya.
"Ma, bolehkah aku meminjam uang padamu? Aku ... aku membutuhkan uang itu untuk membangun kembali bisnisku." Bellina tanpa tahu malu ingin meminjam uang pada ada Nyonya Rini dan Tuan Dean.
Tuan Dean mengangkat sebelah alisnya, ia tidak menyangka jika kini Bellina juga mulai memoroti harta mereka.
"Ayolah, Ma, Pa. Boleh, ya." Bellina terus membujuk Nyonya Rini untuk meminjamkannya uang.
Nyonya Rini melirik suaminya terlebih dahulu sebelum ia mengambil keputusan. Setelah mendapat anggukan dari Tuan Dean, barulah ia menjawab, "Baiklah. Kami akan memberikan uang itu padamu. Hanya saja, kamu harus bisa mengembalikan uang itu dengan segera. Bagaimana?"
__ADS_1
"Oh, harus dikembalikan, ya?" tanya Bellina sedikit ragu-ragu. Kenapa juga harus dikembalikan? Biasanya juga mereka akan memberikan uang berapapun yang aku mau tanpa harus mengembalikannya, batin Bellina mulai kesal.
"Iya, Bell. Kamu tahu kan usaha Papa sekarang sedang mengalami penurunan konsumen?" tanya Tuan Dean sambil menyimpan kembali tab-nya di atas meja.
"Tapikan, Pah ... Mama masih ada usaha butik dan salon yang sedang dijalaninya. Apa tidak bisa jika memberikan sedikit uangnya padaku?"
Nyonya Rini menggeleng samar saat mendengar ucapan Bellina. Ia semakin tidak menyukai sikap Bellina yang tamak dan keras kepala.
Untung saja yang menjadi anakku itu Filia, jika aku mempunyai anak seperti dia, mungkin aku akan mati muda, batin Nyonya Rini sambil bergidik ngeri.
Setelah itu, ia pun kembali bersikap normal dan mencoba membujuk keponakannya itu kembali.
"Bell, Mama memang mempunyai usaha itu. Tapi, Mama sudah memberikan hak sepenuhnya pada Filia saat dia ulang tahun yang kedelapan belas lalu. Jadi, yang saat ini memegang usaha itu adalah Filia, bukan Mama," kilah Nyonya Rini. Ia sama sekali sudah tidak ingin memberikan kesempatan apapun pada keponakannya itu.
Bellina terdiam setelah mendengar penjelasan Nyonya Rini. Ia segera bangkit dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata dan berlalu menuju kamar yang ditempatinya di rumah itu.
Tuan Dean dan nyonya Rini ber—tos—ria setelah melihat Bellina yang sedang kesal.
"Sepertinya rencana kita berjalan dengan lancar, Ma." Papa Dean berbisik tepat di telinga istrinya.
"Iya, Pah. Semoga saja dia cepat menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar."
__ADS_1