
Filia dan Gryson memutuskan untuk berbincang sebelum tidur seraya menunggu rasa kantuk mereka datang.
"Mas, ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Filia sambil menatap suaminya yang sedang duduk bersender di kepala kasur.
"Ada apa, sayang?" tanya Gryson sambil membenarkan posisi duduknya.
"Aku sedikit penasaran, apa kamu sudah mengenal Clara lama?" tanya Filia, sebenarnya ia sangat was-was dengan jawaban suaminya, tapi rasa penasaran yang besar membuatnya memberanikan diri untuk menanyakan hal itu.
Gryson mengangguk, ia tidak menampik jika dirinya memang sudah mengenal Clara sejak lama. "Iya, aku sudah mengenalnya saat aku berteman dekat dengan Gio. Dia anak yang baik dan juga periang, sama sepertimu."
Filia membenarkan jawaban suaminya, Clara yang di kenalnya dulu memang anak yang baik dan periang, tapi itu sudah beberapa tahun yang lalu dan dia tidak mengenal Clara yang sekarang. 𝐵𝑢𝑘𝑎𝑛𝑘𝑎ℎ ℎ𝑎𝑙 𝑤𝑎𝑗𝑎𝑟 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑎𝑘𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑓𝑖𝑘𝑖𝑟 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝐶𝑙𝑎𝑟𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑒𝑑𝑎?
"Bukankah kamu berkata jika kalian adalah teman lama?" tanya Gryson saat melihat Filia yang hanya terdiam setelah ia menjawab pertanyaannya tadi.
"Iya, kamu benar, Mas. Kami memang sudah saling mengenal lama," jawab Filia sambil mengangguk samar.
"Lalu, apa yang sekarang kamu fikirkan?"
"Bolehkah aku Berpendapat?" tanya Filia, Gryson mengangguk sebagai jawaban. "Aku merasa jika Clara menyukaimu, Mas."
Gryson tergelak mendengar pendapat istrinya. "Kenapa kamu bisa beranggapan seperti itu?"
Filia mengkedikkan bahunya dan berkata, "𝐹𝑒𝑒𝑙𝑖𝑛𝑔 mungkin. Aku selalu percaya dengan perasaanku dan kali ini aku ngin mempercayainya kembali. Setelah apa yang kualami kemarin karena tidak mengikuti kata hatiku, hingga akhirnya aku ada di sini."
"Apa kamu menyesal karena sudah menikah denganku?"
Filia terdiam kembali. 𝐵𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑛𝑖𝑘𝑎ℎ𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑢𝑠𝑒𝑠𝑎𝑙𝑖, 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑒𝑚𝑢𝑎𝑛 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑎𝑙𝑎𝑠𝑎𝑛 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑘𝑎ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑢𝑠𝑒𝑠𝑎𝑙𝑖.
"Tidak ada gunanya aku menyesali apa yang sudah terjadi saat ini, Mas. Aku hanya berharap yang terbaik untuk kita berdua," jawab Filia. Tentu saja, mungkin jika seandainya mereka saat malam itu tidak bertemu, Filia tidak akan menikah dengannya, tapi di sisi lain ia juga berfikir, jika seandainya Gryson tidak membantunya bebas dari pria tua, gendut dan botak malam itu entah apa yang kan terjadi pada dirinya saat ini.
"Lia, jawablah dengan benar. Apa kamu menyesal karena sudah menikah denganku?"
"Tidak, Mas. Aku bersyukur karena saat itu kamu yang sudah membantuku untuk bebas dari pria tua itu. Aku berterimakasih banyak," jawab Filia sambil memberikn senyum manisnya.
__ADS_1
Gryson merasa lega mendengar jawaban Filia. 𝑀𝑢𝑛𝑔𝑘𝑖𝑛 𝑖𝑛𝑖 𝑡𝑎𝑘𝑑𝑖𝑟 𝑘𝑖𝑡𝑎, 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑒𝑚𝑢 𝑠𝑒𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑡𝑖𝑏𝑎-𝑡𝑖𝑏𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑘𝑎ℎ, 𝑖𝑡𝑢𝑝𝑢𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑑𝑖𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑗𝑎𝑛𝑗𝑖𝑎𝑛.
"Terima kasih karena sudah menerima pria tua ini untuk merasakan indahnya membangun rumah tangga bersama wanita muda sepertimu." Gryson memeluk Filia dan mengecup kepalanya singkat.
"Siapa yang mengatakan kamu tua, Mas?" tanya Filia penasaran, lantaran ia tak pernah mengatakan hal itu pada suaminya.
Gryson tersenyum dan mencubit pelan hidung istrinya. "Memangnya kamu kira usiaku ini berapa, hmmm?"
Filia mencoba untuk menerka usia suaminya, ia menatap lekat wajah suaminya. "Jika tebakanku benar, aku ingin minta sesuatu. Apa kamu siap?"
"Oke, tapi jika kamu kalah, aku juga ingin meminta sesuatu. Masih berani?"
"Hmmm, boleh. Tapi jangan mahal-mahal, aku tidak punya uang banyak."
"Tidak akan. Sekarang, jawablah."
"Aku tebak usiamu sekitar dua puluh lima, iya, kan? Apa jawabanku benar?" tanya Filia dengan semangat, ia sudah sangat yakin jika jawabannya itu benar.
Gryson menggeleng dan menjawab, "Salah, Nona. Menyerah atau coba tebak lagi?"
Lagi-lagi Gryson menggeleng. Filia mengerutkan keningnya, sedangkan Gryson mengangkat sebelah alisnya.
"Mas, kamu tidak sedang mengerjaiku, kan?" tanya Filia yang mulai kesal karena dua kali tebakannya salah.
"Maaf, Nona. Suamimu ini tidak pernah berbohong."
"Lalu, berapa usiamu yang sebenarnya? Kenapa kamu berkata sudah tua?"
Gryson mengambil dompet dan memperlihatkan KTP-nya pada sang istri, Filia menerima KTP suaminya itu, dia menatapnya dengan seksama seraya menatap suaminya secara bergantian.
"Dua puluh delapan?" cicitnya pelan.
"Hmmm, sekarang kamu percaya jika aku ini adalah pria tua?" tanya Gryson.
__ADS_1
Filia tidak langsung menjawabnya, ia terus memperhatikan KTP dan juga suaminya itu. Rasanya aku masih tidak percaya jika Mas Gryson ternyata usianya sepuluh tahun lebih tua dariku.
"Entahlah, Mas. Aku masih tidak percaya, aku yakin kamu pasti membohongiku," jawab Filia.
Mendengar jawaban istrinya Gryson tersenyum dalam hati Bukankah itu artinya penampilan dan wajahku ini masih sangat muda, sampai-sampai istriku sendiri tidak percaya dengan usiaku yang sebenarnya.
"Berarti aku harus bersyukur dong, jika kamu saja tidak percaya bahwa aku ini sudah tua."
"Jika hanya sebatas dewasa, aku masih percaya, Mas."
Gryson memeluk kembali Filia, ia merasa gemas pada istri kecilnya itu.
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi tentang usia. Mau setua apapun aku saat ini, tetap saja kamu yang menjadi istrinya."
Perlakuan Gryson membuat Filia berdebar kembali, tiba-tiba saja ia mengingat perbuatan mereka tadi malam, pipinya kembali memanas dan mungkin saja sudah memerah karena ingatannya itu.
"Sayang, apa kamu tiba-tiba demam? Wajahmu memerah seperti kepiting rebus." Gryson berucap sambil menggoda istrinya itu ia tahu saat ini Filia sedang blushing dan menurutnya itu sangat lucu hingga dia menyukai saat-saat seperti ini.
Aku bersyukur karena kamu yang menjadi istriku, Lia.
"A–aku ... aku tidak apa-apa, Mas. Aku juga sedang tidak sakit," jawab Filia dengan cepat.
"Berarti aku bisa menagih perjanjian kita tadi?" tanya Gryson sambil mengedipkan sebelah matanya pada sang istri.
Mendengar pertanyaan suaminya, Filia lagi-lagi dibuat blushing kini wajahnya entah sudah semerah apa. Tentu saja dia mengetahui maksud dari pertanyaan suaminya, yang pasti itu berarti akan membuatnya terjaga kembali sepanjang malam.
"Mas ... bukankah kita harus beristirahat?" tanya Filia yang sebenarnya hanya untuk mencari alasan agar mereka langsung segera tidur.
Gryson mengerti jika istrinya itu sedang menghindar, tapi dia masih tetap ingin menagih janji Filia saat mereka main tebak-tebakan tadi.
"Ayolah, sayang. Aku janji tidak akan lama seperti kemarin," bujuk Gryson.
Mendengar janji suaminya, dengan malu-malu Filia pun mengangguk pelan karena sebenarnya ia juga ingin melakukannya kembali. Akhirnya mereka pun kembali melakukan hal yang membuat ikatan pernikahan mereka semakin kuat.
__ADS_1
𝐍𝐲𝐚𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤𝐥𝐚𝐡 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐬𝐮𝐥𝐢𝐭 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐡𝐚𝐥 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐥𝐞 𝐩𝐮𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐤𝐚𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚, 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐡𝐚𝐥 𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐢𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐭𝐮𝐥𝐮𝐬.