Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 61


__ADS_3

Satu minggu berlalu setelah Bellina mengunjunginya di apartemen. Malam ini Filia sudah bersiap-siap untuk berangkat ke hotel tempat acara itu akan berlangsung. Filia sekali lagi mematut penampilannya di depan sebuah cermin yang berukuran cukup besar, ia harus memastikan penampilannya cantik dan anggun terlebih dulu.


Andai kamu ada di sini bersamaku, Mas. Pasti acara ini akan sangat meriah, bukankah kamu sudah membantu Papa menyiapkan acara ini? batin Filia terdiam sambil terus menatap bayangan cerminnya. Biasanya jika ada Gryson, pria itu akan usil dengan berebut kaca dengannya, hal sepele memang, tapi Filia begitu merindukannya. Aku harap kamu di sana baik-baik saja, Mas. Aku janji, setelah masalah keluargaku selesai, aku akan segera mengunjungimu di sana, sambung hati Filia.


Wanita itu mulai melangkah menuju pintu apartemen setelah ia siap, kedua orang tua Filia juga sudah mengirimkan seseorang untuk menjemputnya, tapi tentu saja tanpa sepengetahuan Bellina.


"Silakan masuk, Nona." Sopir itu membukakan pintu mobil untuk putri tuannya.


Filia tersenyum sambil mengangguk samar dan mulai memasuki mobil jemputan itu. "Terima kasih," ucap Filia saat ia sudah duduk di bangku penumpang. Sedangkan sopir itu hanya membungkuk sesaat sebagai tanda hormat, sebelum ia mulai masuk dan menjalankan mobilnya.


Mobil yang mereka tumpang mulai meninggalkan kawasan apartemen, hati Filia tiba-tiba bergejolak dan jantungnya berdetak sangat cepat. Entah karena hal apa, tapi ia merasa begitu cemas.


Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba perasaanku tidak tenang seperti ini? tanya Filia dalam hatinya.


Sopir yang mengemudikan mobilnya melirik sekilas dari kaca spion, ia melihat penumpangnya terlihat gelisah, lantas bertanya, "Nona, apa anda baik-baik saja?"


Filia sempat terperanjat saat mendengar pertanyaan sopir itu, tadi ia sedang melamun dan membuatnya tidak fokus. "Saya ... saya baik-baik saja, Pak."


"Silakan anda minum dulu," ucp sopir itu samil memberikan sebotol air kecil yang selalu tersedia di dalam mobil.


"Terima kasih,' jawab Filia, lantas ia membuka tutup botol yang masih tersegel itu sebelum meminumnya.


Sopir itu kembali menjalankan kendarannya di kecepatan sedang setelah tadi sempat memelankan lajunya.


Mobil berhenti tepat di depan sebuah hotel, di sana juga sudah tergelar karpet merah untuk menyambut kedatangan para tamu, tak lupa para reporter juga sudah berkerumun di sana.


Bellina benar-benar menyiapkan acara yang sangat mewah dan megah. Tapi sayang, dia hanya akan mempermalukan dirinya nanti, batin Filia sambil menatap para reporter yang tengan mencari infofmasi tentang para orang-orang terkenal itu.


Saat Filia mulai menapaki kakinya di atas red carpet, para reporter segera mengerumuninya dan mengajukan berbagai macam pertanyaan.


"Nona, kenapa Anda datang sendiri?"

__ADS_1


"Benarkah keluarga Anda berniat untuk mengangkat Nona Bellina sebagai putri pertamanya?"


"Bagaimana dengan perasaan Anda mengenai hal itu?"


Pertanyaan para reporter itu sedikit mengganggunya, Fillia tidah menjawab pertanyaan yang di lontarkan padanya. Bukan tanpa alasan Filia mengabaikan pertanyaan mereka, tapi karena orang tuanya yang melarang Filia untuk menjawab pertanyaan mereka, dengan mengatakan; agar menjadi suprise bagi semua orang. Jadi, Filia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya untuk menanggapi semua pertanyaan yang mereka lontarkan.


Filia segera mempercepat langkahnya agar segera meninggalkan para reporter itu. Untuk apa juga, sih, Bellina mengundang para reporter itu kemari? Menyusahkan saja. Aku jadi harus berjalan cepat untuk menghindari mereka, batin Filia sambil terus menggerutu.


Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya Filia sampai di Ballroom tempat acara itu di adakan. Senyumnya tersungging kala ia melihat kebereadaan kedua orang tuanya. Namun belum sempat ia menghampiri mereka, seorang wanita seksi segera menghadangnya dan membuat Filia meredupkan kembali senyuman yang sempat terpancar dari raut wajahnya yang cantik.


"Wah ... wah ... wah ... aku fikir kamu tidak akan datang ke acaraku, sepupu?" tanya Bellina sambil menyunggingkan senyum sinisnya.


Ya, wanita tadi adalah Bellina. Ia cukup di buat terkejut saat bawahannya memberi kabar bahwa Filia menhadiri acaranya. Padahal ia kira, Filia tidak akan sanggup untuk melihat acaranya nanti, tapi dugaannya salah karena ternyata Filia kini sudah ada di hadapannya dan sedang menatap dingin padanya.


"Tidak ada alasan untukku tidak menghadiri acaramu, sepupu." Filia menjawab ucapan Bellina tanpa rasa ragu atau sedih. Untuk apa juga ia harus takut dan ragu, tak ada alasan dia untuk mempunyai perasaan seperti itu.


Bellina terlihat mengepalkan tangannya kala melihat reaksi yang ditunjukan Filia padanya. Cih, dasar wanita penggangu! Tidak lama lagi kamu akan benar-benar di buang dari keluargamu. Setelah itu, akan kupastikan hidupmu menderita, batin Filia sambil mercibir dalam hatinya.


"Baguslah jika kamu datang dengan suka rela. Lihat dan saksikanlah apa yang akan menjadi acara puncaknya nanti dan saat itu tiba, kuharap kamu tidak sampai gila, Filia," ucap Bellina sambil menepuk pundak Filia pelan, sebelum ia berlalu dari hadapan sepupunya itu.


Tak lama setelah Bellina pergi, Nyonya Rini dan Tuan Dean menghampirinya. Mereka sangat ingin memeluk anak semata wayangnya di sana. Namun, tidak bisa ia lakukan karena ada beberapa orang yang mengawasi gerak-gerik mereka, orang-orang itu dalah anak buah Bellina. Jika ada salah satu anak buahnya yang melporkan pada Bellina, bisa-bisa rencana yang sudah disusun rapi ini akan hancur berantakan. Tentu saja mereka tidak ingin hal itu terjadi.


"Mama, Papa!" sapa Filia pada kedua orang tuanya saat mereka sudah duduk bersama. Sama halnya dengan Nyonya Rini, Filia juga harus menahan dirinya agar ia tidak memeluk kedua orang tua itu.


"Lia, kamu baik-baik saja, kan, Nak?" tanya Nyonya Rini pelan sambil sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan.


Filia bisa melihat raut khawatir yang tercetak di wajah kedua orang tuanya, ia tersenyum sebelum menjawab, "Aku baik-baik saja, Ma, Pa. Kalian tidak perlu khawatir. Kita harus segera melancarkan rencana ini, sebelum Bellina dan orang-orangnya menyadari apa yang akan kita lakukan pada mereka."


"Ya, kamu benar Lia. Mudah-mudahan Bellina tidk menyadari rencana kita ini. Tapi, apa kamu yakin Tante Ellena akan menghadiri acara ini?" Tuan Dean sedikit merasa khawatir jika tangkapannya lolos.


Filia tersenyum dan mengangguk pasti, ia sudah merencanakan semua ini jauh-jauh hari bersama Gryson. Ia yakin jik rencana yang dibut suaminya itu tidak akan gagal.

__ADS_1


"Mama dan Papa tenang saja. Aku yakin rencana yang sudah kita susun ini akan berjelan sempurna."


Setelah para tamu undangan berkumpul, Filia dan kedua rang tuanya kembali ke posisi masing-masing, saat Bellina datang dan ikut bergabung bersamanya.


Pembawa acara segera memulai sambutanya, Tuan Dean dan Nyonya Rini naik ke atas panggung menyampaikan sepatah dua patah kata untuk Bellina.


Bellina tidak henti-hentinya mengembangkan senyuman manis yang membuat Filia muak saat melihat kedua orang tuanya nnaik ke atas panggung.


Tersenyumlah, Bell. Sebentar lagi kamu akan hancur di acaramu sendiri, batin Filia. Ia sama sekali tidak memfokuskan dirinya pada kata-kata yang diucapkan Nyonya Rini dan Tuan Dean di atas panggung sana melainkan sibuk memperhatikan raut wajah Bellina.


Saat Nyonya Rini meminta Bellina naik ke panggung, wanita muda itu dengan semangat segera menghampiri calon orang tua angkatnya.


"Kemarilah, Bell," ucap Nyonya Rini sambil mengangsurkan tangannya untuk menyambuk si bintang utama.


Bellina tersenyum seraya menyambut uluran tangan mama angkatnya, ia sama sekali tidak merasa curiga sedikit pun dengan perlakuan Tuan Dean dan Nyonya Rini. Meskipun beberapa hari belakangan ini kedua pasangan itu terlihat cuek, tapi sekarang sikapnya sangat hangat.


"Selamat ulang tahun, Bellina. Semoga panjang umur sehat selalu." Tuan Dean mengecup singkat kening keponakannya. Tak lupa Nyonya Rini pun melakukan hal yang sma seperti sang suami.


"Seperti yang kamu minta, sayang. Ini adalah kado dari kami untukmu." Nyonya Rini menerahkan gulungan kertas yang di bawa oleh slah satu pelayan.


Bellina terlihat bingung saat Nyonya Rini memberikan gulungan kertas itu. Namun, sedetik kemudian ia kembali tersenyum karena mengira gulungan kertas itu merupakan hal yang selama ini ia incar.


"Terima kasih, Ma, Pa," ucap Bellina antusis.


"Sekarang, buka dan bacalah kerts tu di depan kami semua," perintah Nyonya Rini sambil mendorong tangan Bellina.


Bellina menautkan alisnya, ia tidak mengerti dengn ucapan tantenya. "Maksud Mama?" tanyanya sambil berbisik pelan.


"Baca kertas itu di sini!" perintah Tuan Dean.


"Tidak perlu, Ma, Pa. Nanti saja di rumah," tolak Bellina.

__ADS_1


Saat Bellina sedang menolak membacakan kertas itu, MC yang tadinya hanya diam pun ikut angkat bicara dan memintnya membacakan. Para tamu yang semula hening, mereka tiba-tiba berseru dan meminta Bellina untuk membacanya, hingga dengan terpaksa, ia pun menuruti keinginan mereka.


Bellina melangkah ke depan dengan penuh rasa percaya diri, dengan senyuman yang merekah Bellina membuka kerts itu. Saat hendak membacanya, seketika mata Bellina membulat dan. Sedangkan Nyonya Rini dan Tuan Dean tersenyum miring.


__ADS_2