
Tanpa terasa, hati ini tepat empat puluh hari pernikahan Gryson dan Filia. Gryson berniat untuk mengajak istrinya makan malam romantis. Saat ini ia sudah kembali ke rumahnya dan tinggal bersama Nyonya Mona.
"Grys, apa hari ini kamu sibuk?" tanya Nyonya Mona pada Gryson yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
"Ada apa, Ma?" tanya Greyson sambil menghentikan aktivitasnya dan menatap sang Mama yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Temani Mama menjemput Rachel, ya!" Itu bukan permintaan, melainkan perintah.
"Lebih baik, mulai sekarang Mama jangan terlalu berharap pada wanita itu. Aku sudah bukan lagi Gryson yang dulu, Ma. Dia hanya masa laluku." Gryson sudah bisa membaca niat mamanya yang ingin kembali mendekatkan dia dengan mantan kekasihnya.
"Ayolah, Grys. Mama hanya memintamu untuk menemani menjemputnya saja. Jangan langsung menerka sesuatu yang tidak kamu ketahui," kilah Nyonya Mona yang sebenarnya perkataan Gryson itu adalah kenyataan.
"Aku sibuk hari ini!" Gryson langsung menolak permintaan mamanya. Ia benar-benar sudah tidak ingin lagi berurusan dengan Rachel.
"Grys, kenapa kamu selalu beralasan sibuk? Bahkan setiap kali Mama mengajakmu untuk berkunjung ke rumah Tante Lucy, kamu selalu beralasan sibuk dan harus lembur. Sekarang pun kamu sibuk lagi?" tanya Nyonya Mona tidak suka.
Gryson kembali berbalik dan menatap mamanya dengan serius. "Ma, apa Mama masih tidak mengerti dengan semua tolakan yang kulakukan?"
"Mama tidak akan pernah menerima penolakanmu. Mama tidak mau tahu, kali ini kamu harus ikut mama untuk menjemput Rachel di bandara." Nyonya Mona berbalik dan pergi meninggalkan Gryson yang sudah kesal.
Akh, sampai kapan Mama akan bersikap seperti itu? Di mana Mama yang dulu selalu mementingkan perasaanku? Kenapa Mama sekarang lebih egois? tanyanya dalam hati. Hampir saja ia melukai tangannya dengan menonjok cermin yang ada di hadapannya. Jika saja ia tidak mengingat Filia, mungkin hal itu sudah dilakukannya.
"Sudahlah, lebih baik aku segera pergi." Gryson melangkahkan kakinya dengan cepat dan menyambar tas kerjanya. Ia segera keluar dari rumah itu tanpa memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh Nyonya Mona. Rasa laparnya hilang begitu saja setelah mendengar perintah mamanya.
Nyonya Mona yang sudah duduk di meja makan merasa heran, lantaran sudah hampir setengah jam semenjak ia keluar pergi meninggalkan kamar anaknya, tapi Greyson belum juga muncul.
Kemana anak itu? Sudah hampir telat, kenapa dia belum juga muncul? batinnya bertanya-tanya, karena sudah terlalu lama menunggu, Nyonya Mona pun berniat untuk menyusul Gryson. Ia bangkit dari duduknya dan mulai melangkah menuju kamar sang anak.
Namun, saat sampai di sana ia melihat pintu kamar sang anak sudah tertutup rapat. Terkunci? Apa Gryson sudah pergi? Kenapa dia tidak pamit padaku?
Sepagi ini Nyonya Mona sudah dibuat kesal oleh sang anak. Bahkan Gryson juga pergi tanpa memberitahu padanya terlebih, sungguh itu bukan suatu kebiasaan anaknya.
__ADS_1
"Sepertinya aku benar-benar harus melakukan sesuatu," gumam Nyonya Mona sambil mencengkram erat handle pintu kamar sang anak. Lantas ia pun masuk kedalam kamarnya dan mengambil ponsel untuk orang hubungi seseorang yang akan menjadi pesuruhnya.
Cukup lama ia menunggu, hingga panggilan itu dijawab oleh sang pemiliknya.
"Kenapa lama sekali menjawabnya?" tanya Nyonya Mona dengan kesal.
"Maaf, Nyonya. Ada hal penting apa sampai-sampai Anda menghubungiku sepagi ini?" Seseorang itu kembali bertanya karena merasa heran saat menerima panggilan telepon pagi-pagi dari majikannya.
"Tentu saja aku mempunyai tugas untukmu. Jalankan rencana yang sudah kita atur seminggu lalu. Aku tidak mau tahu, pokoknya kali ini harus berhasil. Jika sampai gagal, kamu sendiri yang akan menanggungnya," perintah sekaligus ancaman dari Nyonya Mona itu langsung terlontar begitu saja untuk orang suruhannya.
"Apa Anda yakin akan melakukan hal itu, Nyonya?" tanya seseorang itu dari seberang sana yang terdengar ragu.
"Apa kamu akan menyerah begitu saja?"
"Tentu saja tidak, Nyonya. Hanya saja, saya fikir cara itu terlalu berlebihan."
"Tidak ada yang berlebihan untuk wanita jal*ng seperti dia! Kamu hanya perlu melakukan tugasmu dengan benar, setelah itu pergilah ke luar kota agar tidak ditemukan oleh orang lain."
"Baiklah, aku akan membantumu nanti." Nyonya Mona menyetujui keinginan suruhannya. Bagaimanapun saat ini dia tidak bisa membiarkan anaknya hidup bersama Filia, menantunya. Terdengar egois memang, tapi itulah kenyataan yang membuatnya terus berusaha memisahkan mereka berdua.
Nyonya Mona sudah bertekad akan melakukan segala cara untuk memisahkan mereka berdua, meskipun harus dengan menghilangkan nyawa seseorang, ia tidak peduli.
"Aku tidak akan membiarkan kamu mempengaruhi anakku lagi, Filia. Aku akan memisahkan kalian berdua bagaimana pun caranya," gumam Nyonya Mona sambil mencengkram ponsel yang ia pegang.
Setelah menutup telponnya, Nyonya Mona segera melancarkan rencana yang sudah ia susun dari seminggu lalu bersama seorang suruhannya.
***
Di tempat lain, Filia sedang menyiapkan semua persiapan yang untuk acara nanti malam bersama sang suami. Ia juga berencana pergi ke salon langganannya untuk membantunya bersiap-siap, ia ingin tampil sempurna untuk sang suami.
"Aku kan memilih baju yang ini saja," ucapnya sambil menyambar salah satu baju dengan model dress selutut dengan aksen renda di dada.
__ADS_1
Setelah selesai menyiapkan keperluannya, Filia segera keluar apartemen untuk pergi ke salon, ia sudah meminta Gryson agar menjemputnya di sana.
Saat hendak menyeberang, Filia tidak sengaja menabrak seseorang hingga orang itu jatuh tersungkur. Ia segera menolong dan meminta maaf padanya.
"Maafkan saya, Nek. Saya benar-benar tidak sengaja," ucap Filia pada nenek-nenek yang baru saja ia tabrak.
"Tidak apa-apa, Cu. Lain kali hati-hati." nenek itu tersenyum tulus pada Filia. Beliau sempat menengok ke belakang Filia sebelum berkata, "Seharusnya untuk beberapa hari kedepan, kamu jangan keluar rumah."
Filia mengerutkan keningnya, ia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan nenek itu. "Apa maksud nenek berbicara seperti itu?"
Nenek itu menggeleng dan tersenyum ramah. "Tidak apa-apa, Jangan pikirkan ucapan dari tadi jika kamu merasa tidak nyaman. Sekali lagi terima kasih karena sudah menolongku." Nenek itu pun pergi tanpa berpamitan lagi pada Filia.
Filia masih berdiri mematung sambil menatap punggung ringkih milik nenek yang tadi sempat ia tabrak. Apa maksud ucapan Nenek itu? Kenapa aku tiba-tiba merasa tidak enak hati? Apa semuanya baik-baik saja? batin Filia terus bertanya-tanya.
"Sudahlah. Mungkin itu hanya omong kosong saja, sebaiknya aku cepat ke salon, sebelum Mas Grys datang menjemputku." Filia tidak lagi memikirkan ucapan sang nenek, ia terus meneruskan langkahnya menuju salon yang ada di seberang jalan.
***
Filia menatap kagum pada dirinya sendiri, ia terlihat tampil lebih fresh dan lebih cantik dari biasanya setelah didandani oleh pihak salon.
Tepat setelah Filia membayar biaya salon, ponselnya berdering dengan nyaring, ia tersenyum menatap ID pemanggil yang ternyata dari sang suami, dengan segera ia pun menjawab panggilan telepon itu.
"Ya, Mas?"
"Kamu di mana? Aku sudah berada di seberang jalan."
"Aku di salon, Mas. Ini sudah selesai, aku akan segera keluar. Tunggulah dulu."
Filia keluar dari salon dan benar saja ia melihat Gryson sudah berada diri di sana di samping mobil miliknya. Ia melambaikan tangannya pada sang suami. Setelah itu, ia menutup panggilan telepon itu dan mulai menyebrang jalan.
Namun, saat sedang berada tepat di tengah jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang menerobos lampu merah. Filia sempat mendengar suara keras yang diakibatkan oleh benturan mobil, ia beserta para penyebrang lain ikut terkejut oleh kejadian itu. Hingga beberapa saat kemudian Filia mulai kehilangan kesadarannya.
__ADS_1