Love After Agreement

Love After Agreement
Bab 78


__ADS_3

Tak terasa seminggu telah berlalu semenjak Rainer tinggal di rumah Tuan Dean. Kini pria itu sudah mulai bisa diajak berinteraksi meskipun belum terlalu lancar, Disya juga tidak pernah sekalipun meninggalkannya, bahkan kini mereka terlihat lebih akrab.


Filia juga merasa cocok dan bisa berteman dengan gadis yang menjadi perawat kakak laki-lakinya itu. Seperti saat ini, setelah Rainer bertemu dengan dokter psikiaternya, mereka berencana untuk pergi ke taman yang berada tak jauh dari rumah. Kebetulan jika sore hari, taman itu akan ramai pengunjungnya.


"Nona, apa sudah siap?" tanya Disya saat ia melihat Filia yang baru saja keluar dari kamarnya.


Filia tersenyum dan mengangguk. "Iya, Mbak. Aku sudah siap," jawabnya. "Abang Rain, di mana, Mbak?" tanya Filia saat ia tak melihat Rainer bersama Disya.


Filia memilih memanggil Disya dengan sebutan 'Mbak' karena usia gadis itu memang ada tiga tahun di atasnya. Meskipun awalnya Disya menolak dipanggil 'Mbak', tapi Filia tetap kukuh dengan panggilannya itu.


"Tuan Muda ada bersama Bapak, Nona. Tadi dokternya nyaranin buat bawa Tuan Muda ke RS. Katanya sih buat pemeriksaan lanjutan ... pokoknya yang kayak gitulah, Non," jawab Disya.


Jawaban Disya membuat Filia terkekeh geli, gaya bicara gadis itu berbeda dengannya dan hal itu membuat Filia merasa lucu saat mendengarnya.


Disya mengernyitkan keningnya heran, saat melihat Filia yang terkekeh setelah mendengar jawabannya. "Nona, apa perkataanku ada yang lucu? Anda tertawa renyah kayak gitu bikin saya bingung," ucapnya seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal dan tersenyum kaku.


Filia menanggapi pertanyaan Disya dengan gelengan. Setiap kali berbicara dengan Disya, selalu membuat Filia terkekeh geli. Gadis itu tidak berusaha untuk membuat kesan baik yang dipaksakan, tapi justru itulah yang membuat Filia nyaman dengannya.


"Aku tidak bermaksud untuk menertawakanmu. Maaf, tapi setiap kali berbicara denganmu, aku selalu merasa terhibur." Filia mengusap bahu Disya, sebelum mengajak wanita itu untuk menghampiri Rainer yang sedang bersama Tuan Dean.


Disya menunduk malu saat mendengar penuturan Filia, ia memang sudah terbiasa dengan gaya bicaranya saat ini, jadi cukup sulit baginya jika harus mengikuti gaya bicara Filia maupun kedua orang tuanya.


"Sudahlah, jangan terlalu difikirkan. Buat diri Mbak senyaman mungkin, kami sama sekali tidak keberatan," ucap Filia saat ia melihat Disya yang tengah menunduk.


Filia dan Disya melihat interaksi Tuan Dean dan Nyonya Rini bersama Rainer, ia merasa lega karena kini kakanya sudah jauh lebih baik dari seminggu yang lalu. Bahkan terkadang Rainer juga mau bersapa—ria dengannya.


"Aku senang melihat Abang Rain sudah mulai sembuh, mudah-mudahan saja ia bisa secepatnya sembuh dan menjalani hari-harinya dengan normal," gumam Filia pelan, yang tanpa sengaja terdengar oleh Disya.


"Ya mudah-mudahan saja, Non," sahut Disya.


Filia menatap Disya dengan pandangan heran, ia merasa gumamannya itu pelan, tapi ternya masih di dengar oleh Disya.


"Mbak mendengar ucapanku?" tanya Filia.


Disya mengangguk sebelum menjawab, "Tentu saja aku dengar, Nona. Anda 'kan bergumam tepat di sampingku."

__ADS_1


"Oh, iya juga, 'ya?!"


Percakapan mereka terhenti kala Nyonya Rini memanggil mereka berdua, sontak saja Filia dan Disya segera menghampiri sepasang suami istri itu.


"Ada apa, Ma?" tanya Filia saat ia sudah duduk di samping mamanya, sedangkan Disya berdiri tepat di belakang Filia.


"Bukankah tadi kamu meminta ijin Mama untuk pergi ke taman bersama Abang Rain?" tanya Nyonya Rini sambil memicingkan matanya.


Filia menepuk keningnya pelan, ia lupa dengan tujuan awalnya karena tadi sempat melihat mama dan papanya sedang bercengkrama dengan anak sulung mereka dan hal itu membuat Filia terkesima.


"Maaf, Ma. Tadi aku sempat lupa karena melihat Mama dan Papa sedang berbicara dengan Abang," jawab Filia seraya mengedarkan pandangannya pada Rainer dan Tuan Dean.


"Kamu ini seperti dengan orang asing saja, Lia. Padahal biasanya juga kamu selalu ikut bergabung, tanpa peduli kami sedang membahas apa," sindir Tuan Dean sambil mengusap pucuk kepala putrinya, Filia langsung mengerucutkan bibirnya saat mendengar sindiran sang papa.


Nyonya Rini dan Disya tergelak karena melihat bibir Filia yang sudah mengerucut, mereka lupa jika mood ibu hamil itu mudah berubah.


"Ya udah, maaf deh, lain kali aku tidak akan mengganggu pembicaraan kalian lagi," ucap Filia yang langsung bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamar.


Nyonya Rini dan Disya segera menghentikan tawa renyah mereka saat melihat Filia yang merajuk.


Tuan Dean mendesah kasar karena melihat putrinya yang merajuk, ia segera menatap sang istri dan berkata, "Mama sih, ketawa sampai segitunya. Jadi sekarang Filia merajuk."


Disya semakin menunduk dalam, ia merasa tak enak hati karena sudah membuat Filia sampai merajuk seperti saat ini. Ia segera menyusul nona—nya setelan ijin pada kedua majikannya, hati Disya tidak akan tenang jika Filia masih merasa kesal padanya.


Setelah sampai di pintu kamar Filia, Disya merasa gugup, ia khawatir Filia kan marah besar padanya. Namun, jika ia tidak minta maaf, maka Filia mungkin akan semakin tidak menyukainya.


Sudahlah, Dis. Terima aja resikonya kalau nanti Nona Filia beneran marah sama kamu, batin Disya sebelum ia mengetuk pintu yang ada di depannya. Setelah beberapa saat hanya berdiam diri, Disya pun mulai mengetuk pintu kamar Filia.


Ketukan pertama tak mendapatkan sahutan dari sang pemilik ruangan, begitupun dengan ketukan yang kedua, Filia masih tidak juga membuka pintu kamarnya.


Apa Nona Filia beneran masah, 'ya? Gimana ini? Ya Tuhan, aku jadi bingung sendiri, batinnya lagi.


Disya kembali mengetuk pintu kamar Filia untuk yang ketiga kalinya, tapi kali ini pintu itu langsung terbuka dan menampakkan Filia yang menatap heran dirinya.


"No–nona, maaf, aku udah salah karena nertawain Anda. Tolong jangan marah lagi, 'ya?!" ucapnya dengan menunduk dalam.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, lagipula kalian hanya sedang bergurau saja. Tidak perlu merasa bersalah seperti itu, aku juga tidak marah padamu. Tadi aku pergi dari sana karena sedang ingin ke kamar kecil," jawab Filia sembari tersenyum tipis dan mengusap bahu Disya.


Disya tersenyum setelah ia mendengar ucapan Filia, ia sudah berburuk sangka karena mengira Filia marah padanya, karena pergi secara tiba-tiba.


"Terima kasih, karena Nona gak marah sama aku." Disya mengangguk sekilas dan membalas senyuman Filia.


Saat Disya dan Filia masih berdiri di depan pintu kamar, Nyonya Rini datang menghampiri mereka.


"Hey, kenapa masih di sini? Bukankah kalian berencana untuk mengajak Rain pergi ke taman?" tanya Nyonya Rini saat ia sudah berdiri di depan anaknya.


"Iya, Ma. Tadi aku ke kamar kecil dulu. Terus Disya menyusulku," jawab Filia.


"Ya sudah, jika kalian ingin berangkat sekarang, lekaslah. Rain juga sudah menunggu kalian di depan," ucap Nyonya Rini sembari menengok di mana Rainer sedang berdiri.


"Iya, Ma. Ya sudah, kami berangkat sekarang." Filia menarik pelan tangan Disya agar segera berangkat.


"Permisi, Bu," ucap Disya berpamitan pada Nyonya Rini sebelum ia benar-benar melangkah jauh karena ditarik oleh Filia.


"Iya, hati-hati dan cepat pulang." Nyonya Rini setengah berteriak karena Filia dan Disya sudah menjauh darinya.


Filia dan Disya menghampiri Rainer yang masih berdiri bersama Tuan Dean, ia menunggu adik dan perawatnya.


"Berangkat sekarang, Bang?" tanya Filia yang langsung mendapat anggukan dari Rainer.


Setelah mendapat persetujuan dari kakak laki-lakinya, mereka pun berangkat bersama dengan berjalan kaki. Jarak yang tidak jauh membuat mereka enggan untuk menaiki kendaraan.


Di taman itu banyak pengunjungnya, bahkan ada juga yang berjualan makanan, minuman, maupun mainan untuk anak-anak. Rainer disarankan dokternya untuk sering keluar rumah dan berinteraksi dengan orang, itulah sebabnya Filia mengajak Reiner dan Disya untuk berjalan-jalan di taman kota.


Mereka bertiga bersenang-senang bersama, hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Rainer yang merasa haus hendak membeli minuman sendiri, tapi langsung dicegah oleh Disya.


"Nona, aku mau beli minuman dulu. Nona gak keberatan 'kan kalau temenin Tuan Muda?" tanya Disya sebelum ia beranjak dari tempat duduknya.


"Tentu saja, Mbak. Ya sudah, Mbak tolong belikan minuman untuk Bang Rain. Sekalian aku titip jajanan juga," ucap Filia sambil menyodorkan uang untuk membeli makanan yang ia inginkan.


"Iya, Nona."

__ADS_1


Sepeninggalan Disya, Rainer dan Filia pun kembali memainkan permainan blok yang tadi dibawanya dari rumah. Namun, saat mereka sedang asik tertawa, tiba-tiba datang seseorang yang tidak Filia sangka-sangka.


"Wah ... wah ... wah, ternyata begini, 'ya kelakuan istri dari seorang Gryson? Bermain bersama laki-laki dan bersenang-senang di tempat umum."


__ADS_2