
Disya mematung sejak beberapa menit lalu, ia menyambut kedatangan mertua Filia dalam diam. Disya tidak tahu kenapa hatinya bisa merasa sakit juga dadanya terasa lebih sesak, saat melihat wanita paruh baya yang bersama Gryson, suaminya nonanya.
Begitupun dengan Nyonya Mona dan Gryson yang sama-sama terdiam sejak pintu yang ia ketuk itu terbuka oleh wanita yang Gryson tahu itu adalah adiknya. Berbeda halnya dengan Gryson yang terlihat biasa-biasa saja karena ia sudah mengetahui yang sebenarnya, Nyonya Mona terlihat sangat terkejut.
"Mbak, siapa yang datang?" tanya Filia dari dalam rumahnya seraya melangkah menghampiri Disya.
"Anu ... Nona ... ini ...."
Belum sempat Disya melanjutkan perkataannya, Filia sudah berdiri di dekatnya. Ia masih belum menyadari kedatangan mertua serta suaminya.
"Mbak kenapa, perasaan hari ini Mbak lebih aneh dari biasanya," ucap Filia seraya terkekeh pelan melihat Disya yang terbata-bata saat menjawab pertanyaannya.
"Sayang."
Filia mengalihkan tatapannya dari Disya, wanita hamil itu mematung seketika saat mendengar suara yang selama ini sangat dirindukannya, tatapannya pun langsung mengedar dan melihat Gryson yang sedang berdiri bersama Nyonya Mona di depan pintu.
"M–mas ...." Filia benar-benar merasa seperti mendapat kejutan yang sangat besar tak kala melihat sang suami sudah berdiri dengan tegak di depannya.
Sorot mata tajam yang biasanya hanya bisa Filia bayangkan, kini tengah menatapnya hangat. Filia segera berjalan cepat dan menghampiri suaminya, Gryson dengan sigap langsung menyambut tubuh sang istri yang sangat ia rindukan.
Filia melonggarkan dekapannya sesaat, kemudian ia mengalihkan tatapannya pada mata sang suami.
"Mas ... ini, ini sungguh kamu, kan?" tanya Filia sembari membingkai wajah Gryson dengan tangannya.
"Iya, sayang. Ini aku," jawab Gryson sambil menggapai tangan Filia yang di wajahnya untuk dikecup.
Nyonya Mona, Disya dan Aramon menatap haru sepasang suami istri itu. Meskipun Filia usianya jauh di bawah Gryson, tapi itu tidak menjadi halangan bagi cinta mereka.
"Maaf karena aku terlalu lama meninggalkanmu, sayang," ucap Gryson lagi.
Mata Filia kembali berkaca-kaca saat mendengar ucapan suaminya, ibu hamil itu kembali memeluk sang suami yang sangat ia rindukan.
__ADS_1
"Mas, aku sedang tidak bermimpi, kan?" tanya Filia untuk yang kesekian kalinya.
"Tidak, sayang. Ini sungguh aku, kamu tidak bermimpi," jawab Gryson yang kembali mengecup kening sang istri.
Lain Gryson, lain pula Nyonya Mona. Wanita paruh baya itu terus menerus menatap gadis di belakang Filia yang menunduk seakan tak ingin menatapnya. Sedangkan Aramon memandang Disya dengan tatapan memicing, ia mencoba untuk mengingat sesuatu yang mungkin terlupakan dalam ingatannya.
"Hei, apa namamu Disya?" tanya Aramon pada gadis yang sedari tadi menunduk di belakang tubuh Filia.
Disya langsung menengadah dan menatap pria yang baru saja memanggil namanya.
"Kak Ara, kan?" tanya Disya sambil menunjuk pada Aramon.
"Kamu ini, namaku Aramon atau Ramon, bukan 'Ara'," jawab Aramon tidak suka.
Disya hanya menanggapi ocehan Aramon dengan terkekeh pelan. "Terserah Kakak aja, deh."
Nyonya Mona terus memperhatikan interaksi antara Aramon dan juga Disya. Meskipun di sudut hatinya ia merasa penasaran dengan gadis itu. Namun, untuk saat ini ia memilih memendamnya.
Setelah cukup berpelukan dengan Gryson, Filia pun mempersilakan suami serta mertuanya untuk masuk ke dalam rumah.
"Ma–mama, Mas Grys, Bang Ramon, silakan kalian masuk dulu. Tapi maaf, Mama dan Papaku sedang tidak ada di rumah. Mungkin sebentar lagi mereka juga akan sampai," ucap Filia sedikit terbata karena merasa masih canggung terhadap mertuanya.
Kelima orang itu pun masuk ke rumah Filia, mereka duduk di sofa yang sudah tersedia di ruang tamu. Akan tetapi, Disya memilih pamit dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Hatinya terlalu sesak jika harus bersatu dengan wanita paruh baya yang merupakan ibu mertua nonanya.
Setelah kepergian Disya, Nyonya Mona pun mulai bertanya tentang gadis yang tadi bersama Filia. Rasa penasarannya sudah tidak bisa lagi ia tahan.
"Lia, apa Mama boleh mengetahui, siapa gadis yang tadi bersamamu?" tanya Nyonya Mona pada sang menantu.
"Dia adalah Disya, cucu dari Kakek Ija. Apa Mama mengenalnya?"
'Degh'
__ADS_1
Pertanyaan itu bukan terlontar dari Filia, melainkan dari Gryson anak laki-lakinya sendiri.
Ka–kakek Ija? Tunggu, bukankah nama B**apaknya Irwan itu, bernama Pak Ija? Jangan-jangan?! Ti–tidak mungkin, batin Nyonya Mona sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Gryson tersenyum tipis saat melihat reaksi sang mama. Sedangkan Filia yang tidak mengetahui apa-apa hanya menatapnya dengan pandangan bingung.
Ada apa sebenarnya? Kenapa wajah Mama langsung terlihat pucat pasi setelah mendengar jika Mbak Disya adalah cucu dari Kakek Ija? Dan, dari mana Mas Grys tahu tentang Mbak Disya? tanya Filia dalam hatinya.
"Lia, bisakah Mama berbicara dengan Disya sebentar?" tanya Nyonya Mona, ia hanya ingin memastikan sesuatu.
Meskipun Filia awalnya ragu, tapi akhirnya ia pun mengangguk dan mengijinkan sang mertua untuk berbicara berdua dengan perawat kakak laki-lakinya.
"Baiklah, akan kupanggilkan," jawab Filia sambil bangkit dari duduknya.
Diam-diam Gryson mengulas senyum tipis, lain halnya dengan Nyonya Mona yang sudah tampak gelisah. Bahkan telapak tangannya sudah dibanjiri oleh keringat dingin, jantungnya pun berpacu dengan cepat. Gelisah, senang dan takut ia rasakan saat bini.
Tak lama kemudian, Filia pun membawa Disya bersamanya untuk duduk di sana. Namun, sebelum Disya mendudukan tubuhnya di sofa, Nyonya Mona meminta gadis itu untuk berbicara berdua di taman samping rumah Filia. setelah mendapat anggukan dari Disya, keduanya pun bergegas keluar.
Filia, Gryson, serta Aramon duduk di sofa ruang tamu. Banyak hal yang Filia tanyakan pada suaminya, termasuk insiden tentang kecelakaan yang sempat menimpanya.
"Ja–jadi itu semua ulah Mama?" tanya Filia dengan nada yang terkejut, ia tidak menyangka jika saat itu Nyonya Mona bisa berpikir untuk menyingkirkannya.
Aramon pun tak kalah terkejutnya dari Filia, wanita paruh baya itu sudah ia anggap layaknya ibu sendiri, tapi sampai saat ini Aramon tidak benar-benar mengenalinya.
"Grys, kamu tidak sedang menjelek-jelekkan ibumu, kan?" tanya Aramon.
"Tidak, Ram. Mama sendiri yang mengakuinya," jawab Gryson dengan cepat.
"Ya Tuhan, Mas, aku tidak pernah berfikir jika Mama akan setega itu padaku," ujar Filia.
Gryson segera mendekap Filia, ia tahu istrinya pasti akan sangat kecewa. "Maafkan Mamaku, sayang."
__ADS_1
"Kamu juga harus mengetahui, Lia. Disya adalah adikku."