
Nyonya Rini bangkit bari duduknya tanpa mengindahkan panggilan sang suami, emosi masih terus menggelayuti hatinya. Tak mudah baginya untuk memaafkan kesalahan yang sudah diperbuat Tuan Dean, meskipun itu adalah masa lalunya, tapi tetap saja rasa sesak dalam dadanya tak hilang hanya karena sebuah alasan masa lalu.
"Ma, mau kemana?" tanya Filia cemas saat mamanya hendak keluar dari rumah.
"Mama mau cari angin." Nyonya Rini melanjutkan langkahnya setelah ia menjawab pertanyaan sang anak.
Namun belum sampai ia menggapai handle pintu, Tuan Dean sudah terlebih dulu memegang tangannya. "Ma, please. Don't be like this, I'm sorry for not being honest with you from the start."
Nyonya Rini langsung menghempaskan tangan yang tengah digenggam oleh sang suami, hatinya masih belum bisa menerima kenyataan, jika suaminya sudah pernah menyentuh wanita lain selain dirinya.
"Please just give me a minute. This is all too shocking for me."
Filia maupun Tuan Dean tidak bisa lagi mencegah Nyonya Rini pergi, mereka hanya bisa menatap punggung wanita yang menjadi ratu di rumah itu.
"Pa, bagaimana kalau sudah seperti ini?" tanya Filia pada papanya.
Tuan Dean mengusap wajahnya dengan kasar, ia sendiri pun merasa frustasi dengan keadaan saat ini. "Papa juga tidak tahu, Lia." Tuan Dean melangkah ke sofa dan menghempaskan badannya sebelum kembali berkata, "Papa tidak mengetahui jika ternyata Vera sempat hamil dan melahirkan anak. Papa tahu Papa salah dan Papa juga menyesali itu semua."
Filia terdiam, ia hanya bisa menatap iba kedua orang tuanya, tanpa bisa membantu mereka. "Maaf karena aku tidak bisa membantu apa-apa, Pa."
"Sudahlah, Lia. Ini semua salahku, Mamamu pasti sangat kecewa padaku, wajar jika dia bersikap dingin seperti itu," ucap Tuan Dean.
__ADS_1
***
Nyonya Rini keluar dari rumahnya dan meminta seorang sopir untuk mengantarkan ia pergi ke rumah almarhum kedua orang tuanya. Apa yang sudah terjadi malam ini, membuat hatinya sangat terguncang.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah almarhum orang tuanya pun ia lebih banyak diam, sambil sesekali mengusap air matanya yang merembes keluar.
Kenapa, kenapa harus dengan cara seperti ini aku mengetahui semuanya? Apa yang akan mereka fikirkan nanti tentang keluargaku? Bagaimana jika orang-orang memandang remeh keluargaku setelah melihat kejadian ini? tanya Nyonya Rini pada dirinya sendiri, ia merasa sakit kepala karena memikirkan keadaan rumah tangganya saat ini.
Sesampai di rumah almarhum kedua orang tuanya, Nyonya Rini segera melangkah masuk ke rumah itu. Ia bergegas menuju sebuah ruangan tempat di mana dulu ayahnya meminta dia untuk menikah dengan Tuan Dean.
Langkah Nyonya Rini begitu cepat, sehingga ia tidak memedulikan beberapa pelayan yang masih bekerja di sana. Beberapa pelayan menatap heran pada Nyonya Rini, pasalnya mereka tahu jika Nyonya Rini termasuk orang yang ramah pada pelayan dan saat berkunjung full selalu menyapa mereka.
"Ada apa dengan Nyonya Rini?" tanya salah satu pelayanan pada pelayanan lainnya.
"Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya beliau sedang menghadapi masalah yang cukup pelik. Sebaiknya kita jangan membuat beliau semakin geram. Biarkan dia istirahat disini kita hanya perlu melayaninya dengan baik." pelayan senior pun hanya memerintahkan bawahannya untuk melayani Nyonya Rini secukupnya dan jangan sampai menyinggung perasaannya.
"Baiklah, kami mengerti."
Setelah menerima arahan dari seniornya, para pelayan itu kembali membubarkan diri dan membiarkan Nyonya Rini untuk menikmati waktunya sendirian.
Nyonya Rini kembali menatap ruangan yang pernah menjadi saksi dia menerima perjodohan dari ayahnya. Di ruangan itu ia pernah mencoba untuk menolak perjodohan dan di ruangan itu juga ia akhirnya menerima perjodohannya.
__ADS_1
Ayah, andai waktu itu Mas Dean berbicara terus terang padaku dan lebih memilih kekasihnya, mungkin aku tidak akan terlalu merasa sakit hati dan malu seperti saat ini. Pantaskah sekarang aku merasa kecewa terhadapnya? tanya Nyonya Rini sambil menatap Foto yang kedua orang tuanya, di dalam ruang kerja tempat ayahnya dulu.
Wajah wanita paruh baya itu terlihat bingung, marah, sedih dan kecewa. Tak ada binar cerah yng terpancar dari sana. Para pelayan rumah juga benar-benar membiarkan ia larut dalam kesendirian. Ruangan tempat ayahnya bekerja dulu, masih sama sampai saat ini. Meskipun kepergian mereka sudah lama, tapi karena selalu dijaga dengan baik oleh para pelayan, jadi ruangan itu tetap terasa nyaman.
Nyonya Rini kembali mengedarkan pendangannya menyusuri setiap penjuru ruangan itu. Ia berharap menemukan secercah jawaban untuk masalah yang tengah dihadapi oleh keluarganya, hingga tatapannya tertuju pada sebuah laci yang berada samping kursi kerja sang ayah. Entah kenapa, tapi rasanya ia sangat penasaran dengan isi laci tersebut.
Parlahan, ia pun mulai membukanya. Tak ada yang spesial di sana, hanya beberapa berkas yang memang sudah terlihat usang. Namun, saat ia mengambil berkas itu, tiba-tiba pandangannya teralihkan pada sebuah buku catatan yang ia ketahui adalah milik sang ayah.
Buku milik ayah, gumam Nyonya Rini seraya mengambilnya. Ia mendudukan dirinya dan mulai membuka-buka buku catatan dan membacanya. Kalimat demi kamimat yang tersusun di sana sudah ia baca. Masih tak ada yang aneh ataupun spesial dari buku itu.
Nyonya Rini kembali mendesah kecewa karena tak menemukan apa-apa dalam buku catatan milik mendiang ayahnya. Saat hendak menyimpan kembali, tanpa sengaja ia menemukan sebuah kertas yang terjatuh dari selipan buku, karena penasaran, ia pun memungut dan kembali membacanya.
Tatapannya Nyonya Rini membulat sempurna saat ia membaca kertas itu. Tanpa disadari tangannya mengepal erat dan mencengkram secarik kertas yang baru ia baca. Air matanya langsung meluruh seketika, sesak dalam dadanya kian bertambah satelah membaca surat itu.
Surat yang berisikan permintaan maaf ayahnya yang ditujukan padanya.
Untuk anakku tersayang, Rini.
"Maaf karena Ayah sudah memaksa kamu untuk menikah dengan Dean. Ayah tidak mengetahui jika kekasih Dean saat itu tengah hamil. Wanita itu juga di usir oleh kedua orang tuanya di kampung karena sudah mencemari nama baik keluarga. Maafkan Ayah kerena tidak langsung memberitahukanmu. Ayah tidak mau menghancurkan pernikahan kamu dengan Dean. Akhirnya sebagai bentuk pertanggung jawaban, Ayah mengambil anak itu dan menitipkannya di sebuah panti asuhan di pinggir kota. Terakhir kali Ayah mengetahui anak itu mengalami keterbelakangan mental. Jika kamu berkenan, tolong terima anak itu dalam rumah kalian, sayang. Di sini Ayah yang salah karena sudah memaksakan keinginan mendiang Kakek kalian, tanpa memikirkan perasaanmu. Maaf karena membuatmu harus terpaksa menerima kehadiran anak dari masa lalu suamimu."
Salam sayang, Ayah.
__ADS_1
Itulah isi dari kertas yang di baca oleh Nyonya Rini. Kini wanita itu hanya bisa pasrah, meskipun dadanya terasa sangat sesak, tapi ia harus bisa belajar menerima masa lalu sang suami.
Mendiang Ayah Nyonya Rini mengetahui seluk-beluk sang menantu, beliau juga yang meminta Vera untuk menjauh dari Tuan Dean saat itu. Namun, beliau tidak menyangka jika ternyata menantunya pernah berbuat hal yang memalukan sebelum mereka berpisah. Dan, pada saat Vera bertemu lagi dengan Ayah Nyonya Rini, wanita itu meminta untuk dipertemukan dengan Tuan Dean, tetapi Ayah Nyonya Rini menolaknya karena tidak ingin membuat pernikahan sang anak hancur. Jadi, beliau mengambil anak itu dan menitipkannya di panti asuhan.